Unpredictable Life

Unpredictable Life
Worst Part



Sudah seminggu kepergian Abah masih meninggalkan luka yang mendalam dihati Dara dan Karel.


Setiap pulang sekolah Dara selalu berdiri memandangi kondisi rumah yang kini sepi dan kosong.


Kendati demikian, Dara tetap melanjutkan hidupnya dengan adik laki-lakinya. Ternyata Abah menyimpan cukup banyak tabungan di salah satu bank, mereka hidup dari hasil tabungan Abah. Malam hari suasana semakin sunyi..


"Untuk makan hari ini gimana kak?" Karel mendekat duduk disebelah kakaknya yang terlihat sedang melamun.


"Kakak udah masak sayur, nasi juga ada."


"Oh iya, tentang guru sekolah kakak yang suka kesini. Bu Citra kan namanya?" Karel mengubah posisi dan berhadapan dengan kakaknya.


"Iya, kenapa?"


"Sebetulnya, ibu itu langganan Abah di bengkel, mobilnya selalu bermasalah. Bu Citra tau kalo kak Dara itu anak Abah, suatu ketika Abah cerita kalo Bu Citra udah nikah lama sama suaminya tapi belum punya anak. Abah kasih satu ramuan jamu yang suka dibikin mendiang Ibu, dan 2 minggu kemudian dari setelah dikasih jamu itu Bu Citra bilang kalau dia hamil dan sekarang usia kandungannya 5 bulan. Makanya Bu Citra baik sama kita.. " Karel mengambil sesuatu dari laci tv. Sebuah amplop coklat yang lebar.


"Kemarin bu Citra ngasih ini, Form pendaftaran sekolah SMA Karel Gratis," lanjutnya membuat Dara tertegun, perlahan ia buka amplop coklat itu dan membacanya perlahan-lahan.


"Bu Citra baik banget.. " lirih Dara sambil berkaca-kaca.


"Iya, sekarang kita udah gak punya siapa-siapa lagi kak. Karel cuma punya kak Dara."


"Bisa kok Rel, kita pasti bisa ngelewatin ini semua. Oh iya, tau Mesya kan? Temen kak Dara dari SD" tanya Dara, ia merapikan amplopnya dan menyimpannya lagi ke laci.


"Tau.. yang gendut itu kan? kenapa?" Karel memeluk lututnya.


"Dia mau tinggal disini, orang tuanya juga katanya siap bantu kita.. gak apa-apa kan?"


"Iya.. gak apa-apa. Gak masalah"


Karel beranjak untuk makan malam, Dara mengambil handphonenya dan memeriksa pesan yang masuk.


*** Via Chat LENI ***


*Devan : Besok pelajaran olahraga jangan lupa bawa baju ganti ya..


Dara : Iyaa.. bawel banget deh haha


Devan : Berangkat sekolah bareng gimana?


Dara : Loh.. Billy juga ngajak berangkat bareng. Besok dia mau jemput katanya.


Devan : Oh gitu.. ya sudah syukur deh. Selamat tidur yaa..


Dara : Kamu juga..


(Read*.....)


Dara meletakan handphonenya dan bersiap untuk tidur, sedangkan Devan merenung dikasurnya dan memperhatikan Bimo asistennya yang sibuk main pes.


"Bim... Dara besok berangkat sekolah bareng Billy.. " ucap Devan dengan nada yang lemah.


"Ya terus...kenapa? Hiyaa... masuk gol gol.. " Bimo menjawab tanpa menoleh.


"Gak apa-apa cuman bete aja"


"Lo tuh suka gak sih sama Dara, katanya cuman kasian tapi gua liat-liat kok makin perhatian" Bimo berhasil membuat Devan membangunkan tubuhnya dan relfeks berkata.


"Kata siapa?!" tanya Devan dengan nada yang agak tinggi.


"Dih, santai bos ngegas amat.. waktu itu waktu beliin hp buat dia, lu kan bilang kasian dia gak ada buat komunikasi.. WOII!! SIAL!" Bimo menghentikan permainannya dan menoleh ke arah Devan.


"Gak tau Bim.. gak tauu!!!" Devan menjatuhkan tubuhnya dan menyelimuti wajahnya.


"Salting.. Kalo suka ya bilang ajaa daripada di rebut sama Billy"


"Dara marah gak ya kalo tau gua orang kaya?" Devan membuka wajahnya dari selimut yang pengap itu.


"Coba aja kasih tau.."


"Cari timingnya ah.. " ucap Devan.


Dentingan jarum jam merangkak perlahan-lahan menuju pagi yang tenang. Dara terlihat sibuk menyiapkan bekal untuk Karel dan untuk dirinya, sepeninggalan Abah ia jadi lebih mandiri.


TIDIIITT


Klakson motor Billy berbunyi tanda ia sudah didepan rumah Dara. Karel mengeluarkan sepedanya dan pamitan untuk berangkat sekolah ia pun tak sengaja bertegur sapa dengan Billy, sedangkan Dara sibuk memakai sepatu dan mengunci pintu.


"Udah siap?" Tanya Billy yang menunggu di depan pagar, Dara pun tersenyum dan mengangguk.


"Jangan kenceng-kenceng ya Bill!" Dara menaiki motor Billy, ini kali pertama ia di bonceng oleh Billy.


"Pegangan.." Dara pun memegang bahu Billy tapi begitu motor melaju ia terkejut dengan kecepatannya sehinga Dara memeluk Billy.


Sesampainya di sekolah, Dara turun dari motor dengan terburu-buru.


"Bill, makasih ya aku tunggu dikelas.." ucap Dara dan ia pun langsung berlari.


"Kenapa gak bareng aja sih? Aneh.. " gumam Billy dan ia langsung berjalan menuju koridor kelas.


Entah kenapa Billy menjadi lebih dekat dengan Dara, bahkan ia membelikan tas baru untuk Dara. Gadis lugu itu akhirnya menerima banyak barang baru pemberian dari guru dan teman-temannya. Meskipun demikian, ia tetap rendah hati.


"DEVAN!!" Dara berlari ketika ia melihat Devan di depannya, laki-laki itu melepaskan headsetnya dan menoleh ke belakang.


"Dara.. mana billy?" Devan mencari keberadaan Billy.


"Masih disana, hari ini pembagian nilai ulangan hufft.. degdegan takut nilainya jelek gimana dong?" Dara merengek seperti anak kecil, ia hanya bisa mengobrol leluasa dengan Devan karena merasa sangat dekat dan Devan adalah teman pertama yang berani menyapanya. Devan tertawa melihat tingkah lucu Dara.


"Kan udah dibantuin belajar.. ya paling... remedial! hahahah" Dara memukul bahu Devan dengan sebal.


Billy melihat itu dari belakang, ia berusaha untuk tersenyum dan mulai melangkah lagi. Billy adalah salah seorang siswa yang pemikirannya berbeda dengan yang lainnya. Menurutnya, kompetisi kasta tidak harus menghalangi rasa kemanusiaan. Dari awal Billy lah yang membantu Dara dari ejekan yang lain meskipun Dara memandang Billy sama saja. Ia baru merasa mempunyai teman ketika Devan mau sekelompok dengannya.


Flashback


*Hari itu hari selasa, tepat pelajaran olahraga tiba. Dara mengganti pakaiannya di kamar ganti sedangkan sepatu olahraganya ia tinggalkan dikelas, keisengan dimulai ketika anak-anak memasukan saos kedalam sepatu Dara. Billy adalah saksi dari keisengan itu, ketika Dara kembali dari ruang ganti dan hendak memakai sepatu. Billy menendang sepatu Dara hingga menabrak tembok, melihat itu Dara terkejut karena ada cairan merah yang keluar dari sepatunya. Billy pergi begitu saja tanpa sepatah katapun, ia memang dikenal sebagai laki-laki yang dingin terhadap wanita.


Kejadian terulang kembali dimana Billy menyelamatkan Dara dari tuduhan mencuri handphone Laura, Geng hits itu sengaja memasukan handphone Laura ke dalam tas Dara ketika jam istirahat. Se kembalinya Dara dari kantin, Billy menghampiri Dara dan mengambil tasnya, ia lantas mengeluarkan semua isi tas Dara hingga berantakan dan menemukan sebuah handphone. Melihat itu Dara terkejut dan sebelum geng hits masuk kelas handphone Laura sudah ada dalam tas Acha.


Dara masih tak mengerti kenapa Billy seperti itu dan ia selalu menangis jika Billy mulai melakukan hal aneh lagi. Hingga akhirnya, Dara terbiasa, lebih baik Billy mengganggunya tapi tidak memberikan kata yang menyakitkan seperti mereka pada umumnya*.


**FLASHBACK END


KRING... KRING**...


Bel masuk berbunyi, semua orang bersiap untuk ganti pakaian.


"WOY TAU GAK SIH! TADI BILLY BERANGKAT BARENG DARA LOH HAHAH CIEEE"


"CIEEEEE"


Semua orang menertawakan dan mengolok-olok Dara yang saat itu kebingungan dan tidak tau harus mengatakan apa.


"Eh.. e-engga gitu.. " Dara menatap Billy yang terlihat kesal dan langsung pergi begitu saja.


"JADI DARA SUKANYA SAMA BILLY ATAU DEVAN NIHH? "


"JANGAN MARUK DONG DARA!"


"APAANSIH SOK KECANTIKAN BANGET"


Semua orang meninggalkan kelas dan hanya beberapa yang ada disana.


"Aku harus gimana coba? serba salah kan Dev!" ketus Dara pada Devan.


"Ya udahah gak usah di dengerin"


"Kan kata kamu aku harus lawan.. ya gimana lawannya banyak banget!" Dara membawa pakaian ganti dan pergi meninggalkan Devan.


Di lapangan semua orang sibuk dengan posisinya masing-masing dan bercanda dengan teman. Dara berada dipaling belakang dan ia berusaha mencari Billy.


"Billy mana sih?" tanya Dara pada Devan yang sedang memegang bola basket.


"Bentar lagi juga dateng.."


"Gimana dong bilangnya? Aduh.. pasti Billy bete" gumam Dara.


Dara dan Devan selalu berdekatan dan hal itu selalu diperhatikan oleh Acha yang menyukai Devan.


Acha dan gengnya kerap kali membicarakan Dara, saat ini pun mereka menatap Dara dengan sinis.


"Hari ini main basket, jatuhin Dara ya" bisik Acha pada teman-temannya.


Dara akhirnya melihat Billy keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju lapang.


"Billy!!"


Dara berdiri dihadapan Billy sambil mengatur nafasnya, ia mencoba meminta maaf.


"Billy besok gak usah jemput aku ya, kamu kalau kesel bilang aja.. Aku pasti bakal jaga jarak kok, anak-anak benci sama aku jadi jangan sampe kamu deket-deket sama aku." ucap Dara tanpa jeda membuat Billy tertawa sedikit.


"Apaan sih? Gak apa-apa kok, gak usah dengerin mereka lah."


"Kamu gak marah kan bill?" Dara memastikan.


"Engga.. "


"Coba senyum yang tulus.. " ucap Dara dan Billy pun tersenyum namun memang terlihat aneh.


"Ih itu kepaksa! Yang bener dong kalau gak marah.." Dara mengoceh protes karena ekspektasinya tidak sesuai.


"Gimana dong? Kaya gini?"



Dara tertawa terbahak-bahak dan kembali ke lapang, Devan yang menyaksikan itu dari tadi merasa bahwa ada yang tidak nyaman dihatinya. Seperti kata Bimo, Devan tidak hanya kasian pada Dara tapi ia mulai menyukainya. Raut wajahnya nampak tidak seceria tadi, ia hanya melamun dan memalingkan wajahnya.


"Devan.. " Panggil Billy namun tak ada gubrisan darinya.


Devan pun menoleh.



"Kenapa?" Tanya Devan.


Billy dan Dara saling tatap dengan ekspresi yang sama.


"Kamu kenapa van? Ada yang bikin kamu bete?" Dara menghampiri Devan yang masih terlihat kesal.


"Tadi Billy mau ngomong apa bil?" Devan menghiraukan pertanyaan Dara.


"Acha ngeliatin kamu terus."


Devan dan Dara menatap Acha yang kebetulan sedang memerhatikan dan mata mereka pun saling bertemu.


Guru menyuruh mereka berkumpul dan akhirnya pelajaran olahraga dimulai, pembagian kelompok untuk tim basket putri dibagi menjadi 3 kelompok, 1 kelompok isinya 5 orang. Dara masuk kelompok 2 yang mana lawannya adalah kelompok 3 tim Acha dan Laura.


Pertandingan dimulai, tim basket putra terlihat duduk di pinggir lapangan menunggu giliran sedangkan tim basket putri yang belum main sibuk menyemangati tim yang sedang bermain.


Devan menatap Dara dari kejauhan, gadis itu cenderung mendominasi permainan karena ia dinilai jago bermain basket.


"Seandainya lo tau, gua suka sama lo Dar.." batin Devan. Di sebelah Devan, Billy juga menatap wanita yang sama dengan cara pandang yang sama pula.


"Dara cantik kalo lagi olahraga" batin Billy dengan ekspresi wajah yang sedikit tersenyum.



Saat permainan dimulai, Dara terlihat banyak disenggol dan berulang kali jatuh. Moodnya terganggu dan energinya kian menipis meskipun ia saat ini unggul dibanding kelompok lain.


BUGHHHH!!!


kelompok 3 terlihat sengaja menabrak Dara hingga jatuh, satu orang pun entah sengaja atau tidak, ia menendang kaki Dara begitu keras sehingga gadis itu berteriak.


"AAAHH!!"


"Jauhin Devan.. " Seseorang berbisik ditelinga Dara namun ia tidak bisa melihat siapa yang berbisik ditelinganya.


PRIIWIIIIIIIITTTTT


"HEY! HEY! "


Permainan dihentikan, guru berlari melihat kondisi Dara yang kesakitan.


"Dara gak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya pak Guru yang tidak dijawab oleh Dara karena ia kesakitan.


Siswa yang lain menghampiri Dara termasuk Devan dan Billy yang terlihay khawatir.


"Alah paling cuma pura-pura.."


"Caper doang itu pak... "


"Ada yang bisa bantu Dara ke uks?" tanya Pak Guru dan Devan langsung maju menjadi relawan.


"Saya pak.."


Devan menggendong Dara dipunggungnya dan membiarkan kakinya berlari kencang menuju UKS.


Billy yang melihat itu nampak terdiam dan sedikit tersenyum.


Di ruang UKS sudah terlihat bu Ana yang jaga untuk siap siaga membantu murid yang sakit dan sekaligus menjaga ruang konseling.


"Bu.. tolong teman saya" ucap Devan dengan panik. Dara terus meringis kesakitan.


"Aduh kenapa ini?"


Dara langsung diobati oleh bu Ana yang berjaga sedangkan Devan disusul oleh temannya karena kini giliran ia bertanding.


"Kok bisa ditendang?" Tanya bu Ana sambil mengobati kaki Dara yang nampak membengkak di area tulang keringnya.


"Saya ragu itu sengaja atau ngga bu," jawab Dara yang dibalas oleh ekspresi membingungkan bu Ana.


"Pasti gak sengaja, ibu disuruh ke ruang konseling dulu ada yang harus ibu siapkan sebentar ya.. ini sudah ibu obati, kalau gak kuat jalan disini dulu aja ya?" Bu Ana tersenyum setelah anggukan dari Dara.


Dara ditinggal sendirian di UKS tapi kelihatannya dia tidak sendirian, ada satu orang lagi yang berbaring di sebelahnya.


SREEETTTTT


Dara menggeser gorden pembatas dan mendapati seorang siswi sedang berbaring membaca buku sambil memasang headset.


Menyadari kehadirannya diketahui oleh Dara, siswi itu melepaskan headsetnya dan terduduk.


"Nadira? Kamu wakil KM kelas kan?" tanya Dara dengan ekspresi tekejut.


"Iya.. kamu yang suka di Bully itu kan?"


"Dan kamu yang suka menyendiri di kelas kan?"


Mereka saling bertukar pertanyaan. Nadira menatap kaki Dara yang dibalut perban dan kini matanya berpindah menatap Dara seolah bertanya ada apa dengan kakinya.


"Kecelakaan kecil, biasa terjadi di lapangan" ucap Dara dibalas anggukan oleh Nadira.


"Kamu kenapa gak ikut pelajaran olahraga?" tanya Dara, Nadira berdiri dan berjalan menuju dispenser.


"Punya penyakit." Nadira menuangkan air ke dalam cup yang ia ambil.


"Kalau aku kasih tau ke yang lain, aku takut jadi kaya kamu. di Bully karena lemah" lanjut Nadira membuat Dara berdecak tertawa.


"Di paksa untuk menjadi lemah tepatnya.."


"Kenapa mau dipaksa?" tanya Nadira dengan nada yang menekan dan membuat Dara terdiam berpikir.


"Karena gak punya pilihan."


"Bodoh! Pantes aja sering di Bully.." Nadira duduk berhadapan dengan Dara.


"Tau gak kenapa aku diem aja selama ini gak pernah punya teman dan gak mau bergaul sama yang lain."


"Kenapa?" Tanya Dara dengan ekspresi penasaran.


"Karena dikelas gak ada yang namanya teman. Kamu lihat Acha dan Laura akur? Mereka sama sekali bermusuhan. Arga dan Harun sahabatan? Orang tua mereka yang bermusuhan.. dikelas gak ada yang namanya teman.." jelas Nadira membuat Dara terkejut.


"Kamu percaya gak? Billy mau berteman sama kamu karena kasian bukan karena tulus.. Pasti gak percaya kan.. "


Dara terdiam dan berpikir bahwa ucapan Nadira ada betulnya.


"Devan?" Nadira melanjutkan lagi ucapannya, Dara terlihat menunggu kelanjutan Nadira.


"Devan sebenarnya bukan orang miskin... Dia orang kaya yang bahkan keluarganya adalah pemegang perusahaan terbesar ke 8 se Indonesia."


Dara membulatkan matanya tak percaya, selama ini yang ia tahu Devan selalu berjalan kaki ke sekolah maupun pulang sekolah. Bajunya selalu terlihat lusuh dan selalu menceritakan keadaan rumahnya.


"Kamu tau darimana?" tanya Dara dengan nada lemah.


"Setiap berangkat ke sekolah, aku pasti selalu ketemu Devan turun dari mobil mewah dan jaraknya jauh dari gerbang sekolah, akun sosial medianya pake nama samaran dan disana banyak foto-foto tentang kemewahan hidupnya.. jadi ngerti kan? Kamu selama ini percaya sama Devan dan mau berteman sama dia. Tapi dia udah bohongin kamu Dar. Gak ada yang namanya temen di dunia ini. Hati-hati aja." Nadira beranjak pergi dan meninggalkan Dara sendirian di UKS.


KRING..KRING..


Bel istirahat berbunyi, Dara tetap berada di UKS berpikir sendirian, suatu saat ia pasti akan menemukan jawaban yang pasti. Satu hal yang baru ia sadari adalah bahwa ia masih menjadi pecundang..


To be continued.....


Thank you for reading this amateur novel.


Thank you to Main Cast and Support Cast.


Main Cast :


Dara Seralia : Zhou Lu Si


Devan Brady : Wachirawit Ruangwiwat


Bimo


Abah


Karel


Support Cast :


Pak Reno


Billy : Frank Thanatsaran


Arga


Harun


Laura


Acha


Andra


Dll.


Cr cover and pict:


@Google


@Pinterest


@Canva


@Picsart