Unpredictable Life

Unpredictable Life
Camping 3 (A Confession)



“Aku cemburu?”


Singkat. Padat. Jelas. Pemandangan yang cukup menekan ketika benih-benih cinta mulai tumbuh namun ketidaksiapan hati membuat sudut pandang menjadi rancu. Billy yang menggendong Nadira kini telah melewati Dara yang masih tercengang sambil memegang tangan Devan yang terluka.


“Dar, kayanya udah selesai ya?” tanya Devan yang sedari tadi memandangi Dara dengan wajah sinis dan menyadari tangannya menganggur.


“Hah? Oh iya, tinggal diiket..”


Dara berhasil menyelesaikan misi kemanusiaan, membantu orang yang terluka dan ia pun segera mengikuti jejak teman yang lain.


Sesampainya di area perkemahan, suasana begitu ramai dan hari pun semakin gelap. Nadira dibawa ke tenda medical center sedangkan yang lain kembali berkumpul. Pak Reno memberi arahan agar sesama kelompok tetap fokus pada anggotanya masing-masing agar kejadian seperti Nadira tidak terulang kembali. Sebelum mereka bubar ke tenda masing-masing, Dara tidak bisa tenang sebelum menemui Nadira. Ia pun berinisiatif pergi ke tenda medical center untuk mengecek keadaan temannya itu.


“Saya.. mau cek keadaan teman saya pak..” ucap Dara pada seorang guru yang sedang berjaga dan tentu saja ia pun dipersilahkan untuk menemui temannya itu.


“Nad..” Panggil Dara pada orang yang sedang terbaring lemah diatas tandu, matanya terpejam dan wajahnya begitu pucat namun yang aneh adalah ekspresi Nadira seperti ketakutan.


“Nad, ini aku Dara..” Sekali lagi. Tak ada gubrisan dari Nadira.


“Orang tuanya sedang dalam perjalanan katanya mau jemput Nadira, kamu bisa tolong bawakan barang-barangnya?” tanya pak Guru sambil tersenyum, Dara pun mengangguk dan mengiyakan perintah guru tersebut.


Dara berjalan menuju tendanya untuk mengambil barang-barang Nadira, sebetulnya ia takut karena hari sudah gelap dan meskipun banyak orang lalu lalang tetap saja kejadian Nadira membuatnya semakin terngiang akan bahaya hutan dan makhluknya. Belum sampai ditenda, ia berpas-pasan dengan Billy. Rambutnya sedikit klimis karena berkeringat, ia sedang dirangkul oleh teman-temannya sambil tertawa.


“Eh, Dara..” panggil Billy membuat hati Dara menjadi sumringah.


“Duluan ya Bill..” ucap teman-teman Billy dan lalu pergi begitu saja.


“Tadi.. gimana caranya bisa nyusul Nadira?” tanya Dara yang penasaran atau entah ingin basa basi.


“Oh, gimana ya jelasinnya. Nanti aja gimana? Soalnya agak sedikit serem..” Billy menggaruk kepalanya.


“Oh iya gak apa-apa.. aku penasaran aja soalnya aku baru dari medical center liat muka Nadira kaya ketakutan gitu soalnya.” Pernyataan Dara membuat Billy mengangguk sedikit dan terlihat ada rasa khawatir di wajah Billy..


“Kamu mau kemana ngomong-ngomong?” Billy terlihat mengalihkan pembicaraan dan Dara pun menyadari ada hal yang tidak bisa diceritakannya.


“Mau ke tenda, Nadira katanya lagi dijemput jadi aku mau bawa barang-barangnya..”


“Mau di temenin?” Tanya Billy yang malah membuat Dara terdiam beberapa saat sebelum menjawab.


“Hah? Oh iya boleh..” Dara pun tersenyum dan memutuskan mengambil barang Nadira ditemani oleh Billy.


Hari ini entah kenapa Billy menunjukan hal-hal yang tidak biasa, membuat Dara takut salah paham terlebih ia masih mengingat bahwa satu-satunya yang membuat Dara memandang Billy berbeda adalah ketika puisinya disimpan oleh Billy.


“Dara? Eh Bill.. tumben barengan ada apa nih?” tanya Andra yang kebetulan muncul dari salah satu tenda.


“Aku disuruh buat bawain barangnya Nadira soalnya dia dijemput sama keluarganya..” ucap Dara.


“Oh, iya udah aku siapin kok tadi juga aku sempat ke medical center ini baru mau dianterin. Gak apa-apa kok sama aku aja..” Andra tersenyum dan pamit membawa barang Nadira.


“Oh iya oke makasih ya Ndra” balas Dara.


Dan Akhirnya tinggalah mereka berdua, iya, Dara dan Billy. Suasana canggung pun tercipta disana, kadang mereka saling tatap dan tertawa tidak jelas. Bukankah memang begitu rasanya jatuh cinta? Bahagia ketika dia ada di dekat kita.


“Ya udah, kalo gitu aku balik ke tenda ya?” Billy pamit dan dibalas anggukan oleh Dara.


“Dar, ini aku nemu di deket tasnya Nadira tadi. Siapa tau penting, kamu bisa kasihin ke dia gak?” tanya seorang teman sambil memberikan sebuah buku kecil.


“Oh iya nanti aku kasih deh,”


Dara pun hendak menyimpan buku kecil yang dicovernya tergambar tulisan “Mr. Bee” yang membuat Dara penasaran. Ia pun tak sengaja ingin tahu apa isi buku itu dan betulan saja dihalaman pertama terdapat gambar seorang laki-laki yang sedang tersenyum. Namun, Dara tidak dapat memastikan siapa laki-laki tersebut. Tanpa berpikir panjang, Dara menyimpan buku kecil milik Nadira di tasnya dan akan ia kembalikan disekolah.


Hari semakin gelap dan waktu menunjukan pukul 20.00 KST seluruh siswa tengah berkumpul ditengah area perkemahan untuk menikmati api unggun dan bermain games. Semula awalnya mereka tampak ceria hingga pada saatnya suasana menjadi mellow ketika guru memberikan waktu untuk break time. Artinya para siswa menikmati waktu mereka untuk bersenang-senang tanpa guru-guru.


“Teman-teman, sebentar lagi kita akan kelulusan sekolah artinya waktu kita buat sama-sama itu gak akan lama lagi. Jadi saya rencananya mau buat forum dimana semua orang bebas mengungkapkan perasaannya masing-masing sebelum terlambat.. jika ada yang ingin disampaikan silahkan..” ucap Andra sang ketua kelas dengan wibawanya.


“Wow rame nih ayo dong siapa yang mau confess ?!”


Semua orang saling tatap menatap berharap ada orang yang mau mengungkapkan perasaan mereka, hingga tibalah salah seorang perempuan diantara mereka memberanikan diri untuk berdiri dengan gagah.


“Wahh Acha nih.. ayo ayo kira-kira dia mau ngapain ya?!!”


“Teman-teman.. disini Acha mau mengungkapkan perasaan yang udah aku pendem selama beberapa waktu ini, seperti yang kita ketahui gak lama ini kita kedatangan murid baru dari Jakarta...” Acha mulai menunjukan sikap gugupnya.


“Huu.. Devan nih Devan..” Sorak semua siswa sambil menatap Devan yang tersipu malu namun ada kekhawatiran di wajahnya.


“Acha mau minta maaf sama orang itu karena aku sempet mikir kalo dia tuh datang dari kalangan bawah dan sempet juga kalian jadiin bahan lelucon seperti Dara. Dara, Acha juga minta maaf ya selama ini suka nyakitin Dara. Tapi bukan itu yang mau Acha omongin..” lanjutnya membuat para siswa semakin penasaran.


“Acha suka sama Devan..”


Sebagian orang nampak biasa saja karena mengetahui sikap Acha yang kentara menyukai Devan, sebagian lagi nampak terkejut termasuk Dara yang saat ini sedang tertawa. Berani sekali Acha? Mungkin itu yang ada dipikiran Dara.


“Tapi, baru-baru ini Acha sadar, gak selamanya cinta harus memiliki.. resiko orang jatuh cinta itu pastinya siap untuk sakit hati. Acha suka sama Devan, tapi Devan gak suka sama Acha. Aku ngerti, gak mungkin juga kita memaksakan seseorang untuk suka balik sama kita, tapi yang jelas Acha sekarang tau orang yang disukai Devan itu bukan dari orang-orang elit di kelas..” Acha berusaha menampung air matanya dan mencoba menatap Dara yang juga sedang menatapnya bingung.


“Yang disukai Devan itu Dara..bukan Acha!”


Acha akhirnya mmenjatuhkan air matanya dan kembali duduk dipeluk oleh teman-temannya, akibat pengakuannya itu seisi murid yang ada di area perkemahan dibuat tercengang dan sibuk membuat gosip baru. Dara saat ini sedang terkejut dan bingung, ia menatap Billy yang sedang tertunduk sambil memainkan batu. Devan? Tentu saja ia memperhatikan sikap Dara setelah mendengar pengakuan dari Acha.


Dara pun memutuskan untuk pergi diam-diam karena tidak mau terjebak pada suasana yang canggung. Menyadari itu, Devan memutuskan untuk mengikuti Dara.


Gadis itu berjalan ke arah toilet di dekat kaki puncak dengan modal senternya, namun dari belakang justru cahaya semakin terang dan membuat Dara berbalik arah melihat siapa yang memberi cahaya itu.


“Devan...”


“Kamu mau kemana?” tanya Devan sambil berjalan mendekati Dara.


“Aku mau ke toilet..”


“Bukannya mau menghindar? Sebenernya aku mau nanya sesuatu sama kamu, sampai kapan kita kaya gini? Jaraknya jauh-jauhan dan komunikasi kita terbatas..” jelas Devan membuat Dara terlihat bingung untuk menjawabnya.


“Hm? Emangnya yang diomongin Acha itu bener?” Dara mencoba bertanya balik, usaha untuk tidak tertekan.


“Bener.. bahkan dari awal masuk sekolah waktu kamu dihukum ditengah lapang.. aku udah suka sama kamu Dar..” jawab Devan dengan spontanitas.


To be continued...