Unpredictable Life

Unpredictable Life
Confused



*****


Dara sampai di sekolah dengan keadaan basah kuyup, perhatian penuh para siswa tetuju padanya. Banyak yang menertawakan, Dara memeluk tasnya karena ia takut seragamnya menjiplak. Ia berjalan perlahan dikoridor kelas sampai ia terkejut karena sebuah jaket menggontai dipunggungnya.


Seseorang telah melewatinya dan itu adalah pemilik jaket yang menggontai dipunggung Dara, Seorang laki-laki dengan rambut yang sedikit basah dan menggendong tasnya dibahu sebelah kanan. Ia menaruh jaketnya yang berwarna hitam dipunggung Dara tanpa mengatakan apapun dan lalu pergi begitu saja.


"CIEE... DEVAN... "


"ASYIK UDAH JADIAN NIH.. "


Seruan para siswa mengganggu telinga Dara, ia tampak bingung dan sedikit gelisah karena semua siswa terus mengolok-olok dirinya.


"Untung ada yang mau sama kamu Dar, Hahahah udah gak bau lagi ya sekarang?" goda Harun laki-laki nakal yang sepasang dengan Arga tapi tunggu... Arga tidak bersama Harun saat ini.


Dara melanjutkan langkahnya mengabaikan semua seruan siswa yang mengolol-olok dirinya. Dara pergi ke lokernya dan mengambil jaket sekolah, ia memakainya dan lanjut berjalan ke kelas. Sesampainya dikelas, Dara langsung mengembalikan jaket milik Devan.


"Makasih... " ucap Dara masih dengan ekspresi dingin, Devan yang menyadari itu merasa tak kuat ingin segera menyelesaikan masalah mereka.


SREEETTT


Tangan Dara ditarik oleh Devan dan membawanya keluar kelas, para siswa memperhatikan itu mengundang banyak seruan.


"Devan! Lepasin..mau kemana?" tanya Dara sambil berusaha melepaskan tangannya.


Mereka telah sampai dilantai 2 tepat di depan perpustakaan. Sepi, sunyi dan hanya suara hujan yang ada serta office boy yang sedang piket di dalam perpustakaan.


"Kenapa sih Dev? Kan bisa ngomong baik-baik... " ketus Dara saat tangannya berhasil lepas.


"Kamu yang kenapa? Dari kemarin kamu gak kaya biasanya, kalo aku punya salah bilang aja, aku bukan tipikal orang yang susah buat minta maaf.. " Jelas Devan membuat Dara menatapnya.


"Hey! Aku lagi gak mau debat ya hari ini.. masih pagi juga, udahlah kita bersikap biasa aja seperti sebelum kenal bisa?" Dara meninggikan suaranya membuat Devan terhenyak menelan saliva.


"Ya tapi kenapa? Kamu temen pertama aku di sekolah ini, aku perlu tau kenapa kamu berubah.."


Dara terdiam sambil bercaka-kaca, rambutnya basah dan ia menunduk seperti mengingat sesuatu.


**FLASHBACK***


UKS**#


Saat jam istirahat tiba Dara tidak berniat untuk makan, ia sibuk dengan handphonenya yang mencari tau informasi tentang Devan, Nadira memberitahu akun sosial media milik remaja laki-laki itu kepada Dara karena namanya memakai nama samaran dan langsung disidak saat itu juga.


Foto-fotonya banyak menunjukan kemewahan, mobilnya bagus, dan Devan pun memotret beberapa makanan hasil masakan ibunya. Ada satu video yang menunjukan betapa megahnya rumah Devan.


Dara menangis karena Devan mengaku bahwa ia datang dari golongan miskin, pulang pergi ke sekolah berjalan kaki dan rumahnya sempit, berantakan sampai tak bisa menyetrika seragam. Tapi kenyataannya dia melihat hal yang sebenarnya ada dalam diri Devan.


"Kenapa harus bohong sih van?"


FLASHBACK END***


Kini Dara mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap Devan penuh kebencian karena Devan, Dara pun di teror berkali-kali oleh orang yang menyukai laki-laki ini.


"Mulai sekarang jangan hubungi aku lagi, jangan pernah panggil nama aku, karena... aku benci pembohong!" Ucap Dara dengan nada gemetar sembari mengepalkan tangannya, ia hendak pergi namun Devan memegang kedua bahu Dara dari belakang.


"Tunggu.. aku bisa jelasin.. tolong kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya." Devan menunduk merasa bersalah karena ia paham betul apa yang dimaksud oleh Dara. Namun Dara, akhirnya menolak penjelasan dari Devan sehingga ia pergi begitu saja.


Devan terlihat kesal dengan dirinya, matanya berbinar seperti ada debu yang masuk ke matanya. Ia menjenggut rambutnya dan memukul angin dengan sebal.


Dara sampai di kelas, belum ada guru yang masuk disana. Belum sampai 5 menit gadis itu duduk dibangkunya, ia kembali beranjak dan berjalan terburu-buru menuju ruang guru.


Ada Andra rupanya, ia terlihat memberikan secarik kertas berisi daftar list kelompok untuk program kemah yang akan diselenggarakan 2 minggu lagi.


"Ini pak kelompok 1 jumlahnya 12 orang, kelompok 2 jumlahnya 13 orang.." ucap Andra pada pak Reno.


"Ya sudah, makasih ya.."


Andra pamit dan membalikan badannya ke arah pintu, Dara menatapnya datar dan langsung menghampiri pak Reno.


"Permisi pak.. saya mau bertanya, kalau saya tidak ikut program kemah apakah ada pengurangan nilai atau hukuman?" tanya Dara, sang ketua kelas pun belum beranjak dari tempat ia berdiri tadi.


"Hm.. tentunya tidak bisa ikut ujian akhir sekolah, kenapa tidak mau ikut Dara?" tanya balik pak Reno dengan wajah kebingungan.


"S.saya ikut tapi apakah boleh saya lihat daftar kelompok? Karena saya gak tau ada di kelompok mana.."


Pak Reno mempersilahkan Dara melihat daftar nama kelompok itu, Andra yang menyadari bahwa Dara tidak tahu ada dikelompok mana langsung mundur dan mencoba menjelaskan.


"Kamu sekelompok sama Billy dan Devan ada di kelompok 1. Kemarin Billy request untuk satu kelompok sama kamu.. " ucap Andra.


"Kalau begitu apakah saya boleh pindah pak?" Dara menatap kertas dan matanya berpencar mencari nama Nadira dan untungnya Nadira ada di kelompok 2.


"S.saya mau dikelompok 2 karena ada Nadira pak.. " ucap Dara yang mengundang ekspresi kecut dari Andra.


"Silahkan.. boleh pindah.. " balas pak Reno, Dara pun pamit disusul oleh Andra.


"Emang kenapa sama Nadira? Bukannya kamu gak berteman ya sama dia?" tanya Andra dikoridor menuju kelas, jaraknya hanya 2 meter dari Dara yang ada di depannya.


"Emang siapa teman aku dikelas? Ngga ada.. Nadira? Cuman alasan aja.." ucap Dara dan ia langsung menghiraukan Andra sang ketua kelas.


Dara kembali ditempat duduknya, ia dan Devan bersebelahan namun suasana dingin menyelimuti mereka. Devan yang terlihat kacau hanya bisa menatap Dara tanpa bisa bertanya dan mengobrol seperti biasa.


Guru masuk dan mengabsen para siswanya..


"Arga.. Arga? Kok kosong?"


"Arga udah 3 hari gak masuk kelas bu, sakit.." ucap Harun.


Dara jadi berpikir bahwa ia baru menyadari kehadiran Arga dipemakaman Abah. Padahal secara faktanya Arga adalah orang yang selalu mengganggu Dara. Entah ada apa dengan remaja laki-laki itu tiba-tiba saja sakit setelah ujian tengah semester.


Suasana kelas tidak seangker biasanya, Dara yang suka dibully dan diejek kini perlahan-lahan berkurang karena penampilannya tidak semerawut saat awal-awal masuk sekolah. Hanya saja yang tidak berubah ada pertemanannya yang bahkan ia tak percaya dikhianati oleh Devan, orang yang mau berteman dengan Dara dengan menjual kisah hidupnya yang mengaku miskin. Sedangkan Billy? Hari ini ia masuk.. namun terlihat lesu dibangkunya.


"Billy? Kamu sakit ya? Wajahnya pucat sekali.. " ucap Bu Guru ketika memanggil nama Billy untuk absen.


"Ngga apa-apa bu.. " Jawab Billy dengan nada lemah.


Pelajaran dilanjutkan, suasana tampak kondusif dan membuat Dara sedikit lebih nyaman.


KRING.. KRING..


Bel istirahat berbunyu, semua siswa sibuk dengan gengnya masing-masing.


"Dara..m-mau istirahat bareng gak?" Devan memberanikan diri bersuara padahal Dara sudah memperingati untuk tidak memanggil namanya.


"Ngga.." Dara membereskan bangkunya dan pergi meninggalkan Devan, ia menghiraukan semua orang yang bicara padanya.


Devan kemudian menghampiri bangku Billy yang terlihat pemilik bangkunya sedang tertidur.


"Bill..ngapa lu?" tanya Devan namun tak ada jawaban dari Billy.


"Billy!"


"Hmm. "


"Lo sakit, mau ke UKS gak? Atau makan dulu aja.. " ucap Devan sambil memijat pundak Billy.


Billy berbaring ditempat saat Dara terluka, gorden pembatas sama seperti biasa. Tertutup. Menandakan ada orang disana, menyadari itu Devan langsung membuka gordennya.


SREEERTT


Dan ya.. tidak lain tidak bukan, siswa yang selalu menyendiri dikelas sedang berbaring membaca buku dan mendengarkan lagu.


"Nadira?" Panggil Devan.


Nadira beranjak dari kasurnya, ia terduduk sambil menghela nafas yang sangat berat.


"Adaaa aja yang ganggu.. huhh" Nadira bersiap memakai sepatunya.


"Nad.. tau obat penurun demam ada dimana gak?" tanya Devan sebelum Nadira beranjak.


Gadis itu terlihat menatap Billy yang sedang berbaring sambil menutup matanya, Nadira berjalan menuju laci obat dan mengambil beberapa obat penurun demam.


"Kenapa bil?" tanya Nadira sambil memberikan obat penurun panas.


"Gak apa-apa" Jawab Billy yang sama sekali tidak membuka matanya.


"Cuaca hari ini lagi gak bagus, kayanya tadi lo keujanan ya Bill pas naik motor?" tanya Devan.


"Iya.. " Billy membuka matanya dan duduk, ia mengambil beberapa obat dari Nadira.


"Enaknya jadi kamu Van, ujan pun gak akan keujanan.. panas? gak akan kepanasan." ucap Nadira membuat Devan memasang ekspresi bingung.


"Maksudnya?"


"Gini deh mumpung disini cuma ada Billy, mending jujur aja.. kenapa sih kamu harus bohong soal status sosial kamu yang katanya kamu miskin tapi nyatanya orangtua kamu punya perusahaan terbesar ke 8 se Indonesia.." jelas Nadira membuat Billy menatapnya heran. Devan mengedipkan matanya tanda ia mulai sedikit panik.


"K.kamu kata siapa Nad?" tanya Devan berusaha membela diri.


"Turun dari mobil 200 meter sebelum gerbang, pulangnya minta dijemput diminimarket Alphard hitam D69*3 DV. Itu mobil kamu kan?" Nadira memeluk lengannya dengan wajah datar.


"Ternyata bukan saya doang yang nyadar.." ucap Billy yang membuat Devan semakin terpojok tak bisa berkata apa-apa.


"Kenapa harus bohong?" Nadira mempertegas pertanyaannya.


"Aku kaya gitu ada alasannya dan gak bisa dijelasin ke siapapun." jawab Devan.


"Apapun alasannya, pembohong, pengkhianat, gak jujur, gak tulus itu gak baik... Aku benci orang kaya gitu" ucap Nadira yang dibalas ekspresi mengejutkan dari Billy dan Devan. Kenapa tiba-tiba Nadira berucap seperti layaknya ia sudah berteman dengan Billy dan Devan.


"Itu yang aku denger dari Dara kemarin. Terima aja konsekuensinya.. " Nadira berdecak tertawa dan pergi meninggalkan mereka berdua, namun sebekum membuka pintu.


"Kamu ngomong apa aja sama Dara?" Tanya Devan dan Billy berbarengan.


"Hm? Cuman nasihat kecil, kalo dikelas ini gak ada yang namanya pertemanan sekalipun ada pasti palsu. Nasihat tentang cara-cara orang kasihan terhadap seseorang, tentang palsunya kehidupan banyak orang.. ya seputar itu lah.. bye." Nadira membuka pintu dan keluar dari UKS.


Devan dan Billy menunduk karena pasti ada kesalahpahaman antara Dara dan mereka.


"Sejak kapan lo nyadar gua bukan orang miskin?" tanya Devan.


"Dari awal masuk sekolah.." jawab Billy yang membanting tubuhnya ke kasur.


"Keliatan banget?"


FLASHBACK***


Hari itu Billy mendorong motornya yang terlihat bermasalah, untungnya jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Sebuah mobil mewah berhenti dihadapannya dan turunlah seorang laki-laki dengan seragam kusut semerawut, baju dikeluarkan dan rambut yang sedikit berantakan. Billy menyadari bahwa Devan adalah orang golongan atas, namun saat dikelas ia banyak diperbincangkan karena banyak yang menyangka Devan adalah orang miskin seperti Dara.


Billy mengajak Devan untuk istirahat bersama, ia memancing agar Devan mau mengeluarkan handphonenya. Karena itulah Billy meminta nomor handphone Devan dan miscall nomor tersebut.


Drrrt...Drrrt...


"*Eh, sebentar...." Devan mengambil handphone nya dari saku celananya.


"Itu nomor saya." ucap Billy dengan ekspresi wajah yang tampak puas.


"Oke.. gua save*.. "


Handphone mahal keluaran terbaru yang bahkan harganya bisa membeli 1 unit motor.


Dari situlah Billy menyadari bahwa Devan bukan orang miskin.


FLASHBACK END***


Billy dalam pikirannya banyak yang ingin ia tanyakan ke Devan namun karena kondisinya yang terlihat lemah dan pusing, ia mengurungkan niat untuk bertanya itu.


Devan dan Billy kini berpikir bahwa Dara memikirkan hal yang tidak sepatutnya dipikirkan, karena sesungguhnya dalam hati remaja laki-laki itu mereka berteman dengan Dara karena tulus. Bahkan Billy tidak habis pikir, selama ini ia bermaksud melindungi gadis itu namun nampaknya ada kesalahpahaman diantara mereka.


Dara kini berada diruang konseling, ia berniat untuk bolos mata pelajaran terakhit yaitu Seni Budaya. Bu Ana dan Dara duduk berhadapan, Dara bermaksud untuk konsultasi tentang dunia perkuliahan nanti.


"Jadi Dara minatnya dibidang apa nak?" tanya bu Ana.


"Saya berminat dibidang televisi dan film bu atau sastra," jawab Dara dengan perasaan gerogi.


"Oke kalau begitu, berarti Dara sudah familiar dengan dunia perfilman dan Sastra ya? Sudah tau apa saja yang akan ditempuh di dunia perkuliahan?"


"Saya masih cari-cari informasi tentang itu bu... " Dara tersenyum canggung.


Tak sampai 15 menit datanglah Bu Citra dengan perutnya yang semakin membulat mengingat cerita Karel bahwa Bu Citra berhasil hamil karena minum jamu dari pemberian Abah.


"Eh.. Dara, lagi konsul ya?" tanya bu Citra yang sedang mengambil beberapa berkas diruangan konseling.


"Iya bu.. "


"Mau ambil apa Dar?" tanya lagi bu Citra, kali ini guru baik itu duduk disamping Dara secara perlahan karena harus hati-hati dengan perutnya..


"Telivisi dan film atau sastra bu.. "


"Loh? Kok bisa samaan sama Billy yah? Kemarin juga dia mau pilih itu, bukan begitu bu Ana?" Tanya bu Citra memastikan.


Dara membulatkan matanya dan mengangguk dengan ragu.


"S.saya gak tau soal Billy bu.. " ucap Dara sambil tertawa tipis.


"Iya.. ini kebetulan sekali saya juga lagi ngurusin anak-anak yang minat dibidang itu soalnya kalau dilihat lagi mungkin cuma mereka berdua karena yang lain milihnya yang berpolitik gitu ya.. " balas bu Ana.


Dara tertawa dan menghabiskan waktu di ruang konseling hingga tiba saat bel pulang berbunyi ia masih disana keasyikan mengobrol.


"Eh kok udah waktunya pulang? Gak kerasa ya.. ya sudah Dara, nanti ibu daftarkan ikut program beasiswa dari sekolah ya untuk pengambilan jurusan tv & film atau sastra.. ditunggu aja ya Dara.. " ucap Bu Ana, Dara pun mengangguk dan pamit untuk ke kelas, sepanjang jalan menuju kelasnya, ia sengaja berjalan perlahan karena tidak mau bertemu dengan Billy dan Devan.


Sesampainya dikelas, suasana sepi dan tinggal tas Dara dan 1 orang yang terlihat sedang menunggunya..


Dara berjalan dengan perlahan namun pasti, ia cukup gugup karena seharusnya ia menghindari orang ini. Namun nampaknya orang yang ia hindari malah menunggunya.


"Aku mau ngomong sama kamu, malam ini di cafe tofi deket jembatan.. "


To be Continued...