
Everyone had a place to save they're story's. They're keep it saved.
But everyone have different place to save itu.
Everyone so different each others, and they're have so different story's and mind of they're happiness.
.
.
Park Chanyeol
Hai, kali ini cerita ini bakal gue yang ngebuka cerita ini, enggak masalah bukan?, jelas kalian juga tidak memiliki hak untuk menentangnya.
Hari ini gue ketemu sama gadis yang gue anggap sempurna, gadis cantik yang selalu buat gue berharap untuk sekali aja dia bisa melirik gue kayak perempuan lainnya, sisanya enggak bakal gue sia-siakan.
Sayangnya kenyataan enggak pernah sejalan sama kemauan gue.
Selama gue kenal dia, selama itu juga dia enggak pernah ngeliat gue.
Gue ngeliat dia kayak sebuah lemari, yang di dalamnya udah tersusun rapi.
Sama kayak hidupnya yang rapi. semuanya tersusun dengan baik, enggak acak.
Kadang gue mikir gimana bisa ada gadis yang sehebat dia.
Saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar sampai dia lulus sekolah menengah atas nya dua Selalu berada di tiga besar,. Dan selalu jadi most wanted di sekolah kami dulu
Tapi sebelum itu, gak baik juga kalau gue main asal nyamain dia kayak lemari tanpa tau apa arti yang sebenarnya.
Lemari:
le·ma·ri n peti besar tempat menyimpan sesuatu (spt buku, pakaian);
Iya dia bahkan juga menyimpan semua keindahan yang ada di bumi ini, she's so beautiful, so kind, smart girl, and she's so perfect.
Semudah itu gue ngertiin dia sebagai lemari.
Gue sering kagum sama hal-hal sederhana yang ada di sekitar gue, gue kagum bagaimana indahnya ukiran ukiran Jepara yang ada di lemari nyokap Baekhyun dan punya nyokap gue, gue kagum bagaimana indahnya urat kayu yang terpotong membentuk gambar abstrak yang enak untuk di pandang walaupun bentuk nya enggak pernah jelas.
Dan gue kagum bagaimana bisa cerita hidup orang lain saat di ceritain sama sepupu gue JongDae, penulis yang karyanya selalu masuk jajaran rak best seller.
Dan gue salut sama hidup mereka yang bisa begitu hebat di cerita itu.
Kadang gue sering maki sepupu gue yang lebaynya ngalahin anak perempuan di kampus kita, tapi gue jadi mikir. Apa alasannya?.
Sama kayak Apa alasannya gue bisa sesuka ini sama gadis yang bahkan sangat jarang bisa gue ajak ngobrol. bahkan hampir enggak pernah ngobrol sebenarnya.
Semua itu tanpa alasan dan syarat, gitu aja, muncul secara tiba-tiba.
Dan nama dia udah masuk ke dalam perasaan gue tanpa gue sadari dan tanpa izin gue. Gitu aja lagi, ****** kan.
Gue masih ingat gimana cara dia manggil nama gue saat itu.
"Park Chanyeol... " Sebuah suara lembut memanggil nama gue secara lengkap gitu aja. Tanpa di penggal dan dua juga nyebutin nama keluarga gue.
Tentu gue noleh, gue enggak budek buat enggak dengar suara nya ,walau suaranya lembut tapi jelas ada ketegasan di dalamnya.
"Ya" Mood gue yang jelek saat itu buat gue mikir kalau dia awalnya kayak anak perempuan lain di kelas gue bahkan senior di sekolah gue ini.
Tapi kayaknya gue terlalu ke geeran, beneran deh, dia manggil gue dengan alasan yang sangat logis dan bikin gue mau enggak mau jawab pertanyaan dia.
"Kamu Park Chanyeol kelompok 2 kan, kita satu kelompok, Lo tadi telat masuk jadi gue di suruh ngasih tau Lo barang-barang buat di bawa besok" ujar nya jelas, enggak bertele-tele sama sekali.
Dan juga iya, gue masih anak baru kelas sepuluh kala itu masih bocah kalau menurut gue sekarang. Tapi enggak kalau dulu gue ngerasa kalau gue udah dewasa sampai bisa bilang kalau gue suka sama perempuan sempurna bernama Song Naeun.
On the first sight.
Gila kan
"Ini udah gue salin biar Lo gampang enggak ribet lagi, dan salam kenal gue Song Naeun" ujar nya sambil ngulurin tangannya ke gue, nunggu sambutan tangan gue. Gue udah tau nama Lo , dari seragam Lo.
Jika kalian fikir gue bakal nyambut tangannya jawabannya. Iya tentu gue sambut. Setelah gue ambil kertas buku yang dia lipat dua itu.
"Chanyeol, dan terima kasih buat bantuan Lo" coba kalian tebak apa yang gue lakuin selanjutnya?, Gue ajak ngobrol?, Basa-basi?. Enggak!. Bodoh nya gue malah pergi gitu aja , kabur dari dia. Bodoh kan.
Yaudah, gue udah tau kalau gue bodoh.
Dan sampai sekarang gue masih ingat dengan sangat jelas itu semua.
Enggak tau kalau dia masih ingat gue atau enggak. Dan perasaan ini masih gue simpan dengan bodoh nya. Tanpa ada niatan buat gue ungkapin.
.......
Kata orang gue terlalu pendiam, dingin lah, kaku, bahkan sepupu gila gue sering nyamain gue sama es batu di kulkas nyokap nya.
Tapi sebenarnya gue diem karena gak ada hal penting yang harus di omongin, gue dingin?, Badan gue malah sering anget gue rasa, gue kaku?, Perasaan gue oke oke aja tiap di ajak ngobrol, mereka aja yang enggak tau.
Kadang gue juga bisa menjadi si **** versi gue sendiri, marah-marah sendiri gara-gara lupa naruh handphone ntah dimana. Bahkan hal bodoh lainya, termasuk mau untuk ngikutin Baekhyun sama gadis aneh yang pergi keliling kampus cuma buat beli jajanan anak esde.
Dan gue herannya, Iris mau-mau aja di ajakin sama bocah autis satu ini.
Sampe akhirnya gue kembali ketemu sama lemari tempat penyimpanan perasaan gue selama ini.
Gue ketemu lagi sama Naeun, gadis itu masih saja tetap cantik, dan terlihat luar biasa.
Posisi gue masih cukup memungkinkan buat gue ngedengar percakapan mereka.
Dan gue cukup terkejut ngeliat Naeun terlihat akrab dengan Iris,
Dan bisa gue tebak kalau sebenarnya mereka cukup dekat dulunya.
Tapi yang gue lihat dari wajah Iris ada yang aneh, dia keliatan senang tapi juga keliatan kayak enggak nyaman.
Dan semua persepsi bodoh gue jadi semakin menjadi kala Gue ngeliat Baekhyun jadi waras sesaat.
Jika kalian penasaran bagaimana Baekhyun sekarang saat ini, harus gue akui, dia cukup menyeramkan.
.......
Iris Moudi
Hidup itu kayak tanaman, awalnya dia muncul terus tumbuh, daun pertama nya muncul. Dia di sambut dengan bahagia dan dia terus berkembang dan bertambah tinggi, daunnya semakin lebat, makin lama tanaman itu jadi kuat dan kokoh, banyak orang yang duduk di bawahnya hanya sekedar beristirahat dan berteduh. lalu dia akan di terpa angin yang sangat kencang dan kuat, dia masih bisa bertahan. orang-orang mulai terbiasa dengan nya dan tergantung pada nya.
Tapi semakin lama Batang nya menjadi keropos dan rapuh. Bahkan dia sampai enggak mampu lagi menopang dirinya sendiri dan akhirnya dia tumbang, mati gitu aja.
Dan orang-orang akan berlalu begitu saja tanpa pernah mengingat bahwa dulu ada pohon kokoh yang berdiri di situ. Mereka melupakan bahwa mereka pernah bergantung pada si pohon dan berteduh pada si pohon.
Aku selalu kagum dengan orang-orang yang selalu bisa mengingat orang lain.
Maka dari itu aku selalu berusaha untuk tidak pernah di lupakan dengan selalu mengingat mereka.
Mengingat setiap sosok mereka yang pernah ada di hidup ku. Bahkan mereka yang hanya sekedar mampir sekali lalu pergi begitu saja.
Ingatan ku enggak terlalu baik tentang nama mereka, tapi aku selalu ingat apa saja yang pernah aku lakukan dengan mereka.
Apa hanya sekedar berpapasan dan tersenyum, bahkan mereka yang hanya sekedar lewat di jalan depan rumah ku dulu.
Jadi bagaimana bisa aku melupakan sosok dia yang sempurna walau kami hanya bertemu untuk beberapa waktu saja.
Dia dulu selalu ada di sana, bermain bersama seorang anak lelaki yang umurnya lebih tua dari kami. Dan aku tau dia adalah kakaknya dari Naeun, aku selalu memanggilnya dengan nama kak Suho karena artinya adalah pelindung.
Aku selalu bersama kakak ku karena kemampuan berbahasa ku yang buruk saat itu, dan bersyukur karena Naeun masih mau bermain bersama ku.
Kami berempat selalu bersama kala itu saat waktu liburan tiba. Dan aku tau, kalau kami jadi terlampau dekat dan saling menyayangi.
Aku menganggapnya sebagai sahabat ku, idolaku, panutan ku.
Tapi tidak dengan kakak ku, kak Galih ternyata memiliki perasaan lebih pada gadis cantik itu.
Bagaimana pendapat ku?. Aku sangat senang sekali saat itu. Bahkan aku berharap di saat kami dewasa nanti kami akan berjumpa lagi.
Dan saat itu kakak ku, kak Galih akan menikah dengan Naeun. Sahabatku yang akan jadi kakak ipar ku. Itu mimpi ku.
Lucu bukan?.
Sama seperti saat ini. Hidup ku jadi sangatlah lucu dan konyol seolah menjadi bahan lelucon garing bagi ku tapi tidak bagi orang lain mungkin.
Dia datang lagi. Tidak tepatnya aku yang datang lagi ke tempat nya. Mengusik hidupnya kembali. Menjadi si antagonis lagi tanpa aku sadari.
"Eohh.... Ne, Tapi kau salah Baek, kami bukan hanya sekedar teman. Benarkan Rin ?"
"Eoh.... Ne Naeun ah"
Iya Kita pernah menjadi lebih dari sekedar teman Naeunie
"Baiklah kalau begitu kajja kita lanjutkan perburuan choki-choki kita yang sempat tertunda" terima kasih banyak Baekhyun, kali ini kau menjadi penyelamat diriku.
"Kau ingin beli jajanan itu Baek?" Tanya. Naeun akrabnya.
Seperti nya ini akan terulang lagi.
Maaf Baekhyun....
"Iya, kenapa lo tau di mana ada yang jual?" Tanya Baekhyun menanggapi nya juga dengan akrab juga.
Ini sudah di mulai, Ris, kau hanya cukup melaluinya lagi.
"Eummm... Gue tau lo mau gue antarin juga?, Kajja ..."
"Aghh enggak perlu, gue bisa bareng maps berjalan ini aja, Lo cukup bilang aja di fakultas mana yang jual"
Baru kali ini ada cowok yang menolak ajakan dia, tentu aku langsung noleh ke Baekhyun. Tapi yang Ku dapatin hanya sebuah senyuman manis yang dia berikan ke aku
"Aghhh seperti itu ya yasudah, itu ada di fakultas teknik, kebanyakan anak-anak cowok di sana sering banget ngemutin itu jajanan " kekehan renyahnya terdengar sangat menyenangkan menurut ku dan akan selalu seperti itu.
" Kajja Ris.... Lo harus banyak olahraga biar sehat enggak gembul lagi kayak bayi panda gini" fiks Baekhyun ngibarin bendera perangnya. Aku tarik lagi pujian ku tentang senyuman nya tadi.
"Baek.... Gue ingetin ke elo, gue bisa bikin Lo yang jadi kayak bayi panda Baek" ancam ku, entah kenapa emosi ku selalu naik saat bersama dengan laki-laki satu ini.
"Enggak usah sok serem jatohnya elo malah keliatan imut peak" lahhhh malah di katain kan akunya pakai acara itu tangan ikutan noyor, sekiranya kepala gue jeli apa.
"Ighhh lo kok nyebelin sih baek!"
"Bodo, orang gue jujur juga" Kali ini tangannya dengan seenak jidatnya udah dia sandarin gitu aja kebahu ku
"Wahhh kalian kelihatan nya cocok deh"
"Ya kali cocok, dia ini mah cocok nya jadi babu gue atau enggak anak kucing yang minta di pungut, ya enggak Chan !!"
"Hah ... Chan?" Jujur aku terkejut tiba-tiba Baekhyun manggil nama Chanyeol gitu aja, padahal enggak ada orang nya.
"Makanya gue bilang elo udah kayak anak kucing minta di pungut enggak sadar sama sekitar elo ****"
"Enggak usah ngatain **** juga gila" sarkas ku
"Chan gue udah tau Lo dari tadi di situ elah , kalau elo mau ikutan beli choki-choki mah bilang aja kali, yok ah.... Gue pamit dulu ya Naeun, sampai jumpa lain kali, kajja babu ku dan pengawal ku" ini mah ciri-ciri orang sarap yang kabur dari rumah sakit jiwa ya gini ya mungkin.
"Gue bukan pengawal elo Gilak"
Hahahaha rasain dah itu jitakan, aku rasa jitakan Chanyeol tadi cukur kuat kalau di lihat gimana reaksi Baekhyun yang berlebihan itu.
"Aku pamit dulu ya Naeunie, sampai jumpa lagi nanti" pamit ku
"Iya, Iris, gue harap, waktu bisa gue ulang lagi buat waktu itu."
Tapi Naeun, aku enggak mau waktu terulang lagi, itu terlalu menyakitkan.
Cukup jalani hari mu yang sekarang saja Naeun.
...... TBC......