Uncontrolably

Uncontrolably
16. Lagi



Park Chanyeol


Kata yang mewakili sebuah pengulangan entah itu secara berulang kali atau pun hanya mengulangi sekali lagi saja.


Kata yang kadang memberi harapan pada mereka yang mengharapkan kesempatan kedua bagi mereka.


Sama seperti yang gue lakuin hampir setiap hari nya biasanya setelah kelas gue selesai. Gue bakal langsung keluar, ambil motor gue dan langsung ke fakultas kedokteran.


Entah itu untuk sekedar lewat untuk pulang atau menunggu sesuatu yang tidak pasti. Nungguin gadis berambut panjang indah yang selalu terlihat sempurna bagi gue itu untuk lewat dan pulang.


Tapi kali ini langkah gue jadi beralih lagi, belakangan gue selalu ngikutin hal aneh yang di lakuin cewe ajaib yang selalu duduk diam di samping gue, lagi-lagi gue bisa ngerasain perasaan terluka gadis itu hanya dengan ngeliat tatapan datanya yang selalu dia kasih ke setiap orang.


Belakangan juga gue tau ternyata dia enggak sedatar yang gue asumsikan, kadang dia bisa tersenyum dan tertawa walaupun pelan, kadang dia bakal nunjukin sisi lembut nya pada gadis yang gue anggap sempurna ini.


Dan kadang gue nemuin sisi manja nya dia yang cuma bisa gue lihat saat dia berada di sekitar kakak laki-laki nya. Lucunya gue menjadi hapal bagaimana ekspresi yang dia punya. Karena gue terlalu terbiasa dengan sisi diamnya dia.


Sama kayak sekarang ini, dia lagi-lagi hanya duduk di pinggiran kolam ikan di taman yang buat gue mikir ini yang gila Baekhyun atau dia sebenarnya. Entah kenapa gue selalu di keliling orang-orang yang menurut gue kelihatan palsu dan penuh drama sabun murahan.


"Kucel banget lo" ujar gue sambil nendang pelan kakinya yang bisa gue lihat ternyata dia cuma pakai sepatu Converse biasa dengan kaus kaki putihnya dan kayaknya sepatu itu terlalu sering gue lihat dia pakai.


Tendangan gue ternyata cukup buat dia terkejut dan nampilin wajah bingungnya yang kelihatan lucu menurut gue.


"Lo ngapain?" Tanya gue setelah udah hampir tujuh detik dia enggak ngasih respon apa-apa ke gue


"Duduk" ujarnya sambil menggedikan bahunya, yang sebenarnya tanpa dia kasih tau juga gue tau dia lagi duduk tapi... astaga dia sukses buat gue sedikit emosi.


"Gue tau lo lagi duduk, gue enggak buta"


Terus dia diem lagi setelah ngelirik gue gitu aja... ya ampun kayaknya spesies manusia aneh di sekitar gue itu terlalu banyak.


"Lo suka Naeun?" Tiba-tiba pertanyaan itu dia lantarkan guru aja. Gila nih anak.


"Bukan urusan lo" ketus gue, siapa dia sok tau perasaan gue.


"Dia baik, lo enggak salah orang kalau suka sama dia"


Jelas gue enggak salah pilih orang untuk gue sukai, karena gue bukan penganut cinta buta atau yang sejenis nya. Lo juga harus bisa berpikir secara rasional dalam nentuin pilihan hidup lo


"Ckk gue engga suka sama dia" tutur gue buat apa gue jujur sama cewe aneh ini.


"Oghhh ya?" Dan gue bisa lihat dia tersenyum sinis ke gue.


"Ne" tekan ku.


"Ough gitu" ujarnya sambil ngeliat ke arah lain.


"NAEUN YAA!!" Panggil nya cukup keras dan sontak saja gue langsung ngelihat ke arah yang dia tuju.


"Omong kosong" ada senyum di bibir nya kali ini senyuman terkesan lucu menurut gue setelah berhasil ngejahilin gue.


"Lo..."


"Naeunnie..." ujarnya bangkit dari duduknya.


"Gue enggak percaya sama lo lagi" cukup sekali aja gue di bodohin sama cewe ajaib ini.


"Hai Chan kita ketemu lagi"


"Ha hay..." jujur gue terkejut beneran kali ini ngelihat dia yang.. how can't I love you girl. Bahkan dia hanya menggunakan yang katakan saja sangat sederhana, dres dibawah lutut berwarna peach itu sungguh sangat cocok untuknya. Dan gue enggak pernah menyesal mengatakan kalau dia adalah gadis tercantik yang gue temui.


Mendadak gue jadi bandingin penampilan cewe di samping gue dengan Naeun.


Kemeja panjang yang lumayan besar menurut gue untuk badan kecilnya dan jeans panjang dengan sepatu Converse berwarna navy itu. Aghh jangan lupakan kucir satu gadis itu yang tak pernah berubah bahkan sepertinya ikat rambut nya selalu sama. Terlihat nyaman untuknya dan gue sangat jarang ngeliat dia pakai dress bahkan kayaknya enggak pernah sama sekali.


"Apa lo lihat-lihat" ujarnya ketus


"Gausah bandingkan penampilan kami" ujar Iris tiba-tiba seolah tau apa yang gue lakukan mendadak gue cuma bisa masang muka datar andalan gue.


"Ris, jangan asal nuduh gitu, siapa tau dia enggak maksud gitu"


'Tuhhhh dengerin!!'


"Aghhh iya, kau benar"


Dan gue bisa ngelihat gimana pandangan gadis itu meredup lagi.


......


Iris Moudi


Pernah enggak sih kalian ngalamin dimana posisinya kalian udah usaha setengah mati dan tiba-tiba kalian hanya di jadiin si nomor sekian?.


Dulu saat aku berada di sekolah menengah pertama, aku adalah anak pramuka dan paskibra, bayangkan betapa keras nya latihan ku setiap minggunya, hampir setiap hari aku akan pulang di sore hari menjelang malam, dan malamnya aku akan berusaha sebisa mungkin menjawab pertanyaan di LKS ku untuk besok, agar nilai-nilai ku tetap baik dan enggak memalukan keluarga ku, walaupun mereka enggak pernah menuntut apapun.


Tapi saat itu aku satuan ku mengikuti perlombaan dan you know what, aku sangat semangat kala itu, semua hal aku ikuti, di saat aku sadar, kalau aku adalah orang yang sangat sulit bersosialisasi dan tidak suka pada keramaian di waktu yang lama.


Alasannya apa?, karena aku ingin kayak kakak laki-laki ku, bagaimana tidak, dia sangat keren menurut ku, he so tall and many girls like him. Dan aku?.. kayaknya enggak ada.


Di satu sisi aku selalu mengikuti apa kata-kata nya mengikuti segala kegiatan yang dia ikuti di saat bahkan aku lebih menyukai berlama-lama berada di perpustakaan dengan novel picisan. Tapi mau enggak mau juga ada banyak dorongan yang menurut ku selalu tersirat dari segala hal yang berada di sekitar ku. And i hate to feel it.


Ketika di tanya kenapa aku hanya sebagai cadangan, nyatanya karena wajahku yang tidak secantik yang lainnya di saat aku bisa melihat wajah mereka yang di tutupi oleh berbagai jenis bedak atau apa pun kala itu, tinggi ku yang idak setinggi gadis lainnya. Kadang aku berfikir kenapa harus begini.


Sampai mereka mengatakan


"Kok kamu enggak kayak kak Galih sih? "


"Kamu beneran adiknya kak Galih? Aku engga percaya"


"Loh kok enggak mirip sih? Kak Galih kan, bla bla bla"


Dan aku bakalan cuma senyum aja, sambil mikir 'iya juga ya kok aku enggak mirip sama kakak'


Bodoh nya aku terus melanjutkannya hingga aku berada di tingkat kelas tiga dan berhenti saat di semester akhir kelas tiga. Dengan alasan aku harus fokus pada ujian ku.


Nyatanya aku hanya memperbanyak waktu tidur ku waktu belajar ku bahkan tidak bertambah, dan lambat laun kulitku kembali ke warna awal saat aku masih sekolah dasar dulu, tubuhku juga semakin tinggi, dan enggak tau kenapa pelatih ku menawarkan lomba lagi di saat dua bulan lagi ujian akhir akan berlangsung.


Sebuah tawaran yang sangat membuat ku terkejut dan merasa, how can?. Di situ aku mulai sadar kalau wajah dan penampilan seorang perempuan menjadi hal yang paling utama.


Dan entah kenapa aku marah akan itu, menurut ku semua perempuan itu pada dasar nya memang cantik, enggak bisa hanya berdasarkan kriteria kulit putih hidung mancung dan tubuh langsing saja.


Saat perpisahan angkatan kami, para pengurus OSIS ternyata membuat acara nominasi bodoh yang mengkategorikan setiap kakak kelasnya dan kelas ku sebagai kelas unggulan kala itu ternyata hampir mendominasi dan aku masuk tiga nominasi bodoh mereka dan memenangkan nominasi sebagai kakak tercantik, hahaha lucu bukan?.


Di situ aku mendadak menjadi terkenal dan menarik banyak perhatian dari orang-orang di saat aku tidak suka banyak orang yang memperhatikan ku. Mendadak semua menjadi menyeramkan dan hal itu terus berlanjut hingga aku berada di sekolah menengah atas.


Aku kembali menjadi pasukan pengibaran bendera lagi karena, jangan sampai ada lagi mereka yang mengenalmu hanya karena penampilan saja. Jangan, dan aku nyaman ketika di sana tidak banyak interaksi yang harus aku lakukan dengan mereka. Lamban laun aku menjadi tak terlalu menonjol lagi, and I'm so happy.


Teman-teman yang mendekati ku juga mereka yang benar-benar berteman dengan seorang Iris Moudi bukan karena hal lainnya.


Semakin hari aku semakin ingin menjadi diri sendiri yang engga harus sempurna seperti kak Galih lagi. Dan aku nyaman.


Tapi, setelah aku kembali lagi berada di sini, mereka yang kukira pikirannya tidak akan pernah membandingkan ku lagi dengan yang lain, kali ini aku juga di bandingkan lagi. Dan kau tau, enggak ada seseorang yang benar-benar suka di bandingkan dengan orang lain kecuali dialah pemenangnya.


Karena pada dasarnya kita semua sangat ingin di cintai dan berada di antara mereka yang tulus pada kita, bukan mereka yang akan menoleh pada mu sebagai si nomor sekian atau sebagai si cadangan.


Tapi beruntung nya aku memiliki orang-orang yang benar-benar tulus, aku memiliki appa dan eomma dan kak Galih, mereka saja sudah cukup bagi ku. Dan kehilangan orang-orang yang tulus pada mu, sama aja kayak kehilangan bagian-bagian dalam diri mu sendiri.


Dan aku tau kak Galih juga begitu sama seperti ku, tapi


"Coba aja kau kayak Naeun dek, pasti kau enggak bakal diginiin"


Kak Galih ngomong kayak gitu saat dia selesai marahin aku untuk sekian kalinya karena sifat ku yang menurut nya sangat tidak baik bagi diriku.


Dan dari situ aku tau, hidup dalam bayangan setiap orang yang kau kenal itu sangat menyakitkan.


.....


"Kak Galih...." pelan suara gadis berkucir satu itu.


"Kak Galih?.." tanya Naeun seakan paham yang Iris maksud gadis itu menoleh kebelakang menemukan sosok tinggi dengan setelan kantornya yang terlihat sangat pas di tubuh tegap pria itu.


"Jadi, sudah berapa lama kalian sudah bertemu?" Tanya pria itu pada Naeun yang menatap kagum.


"Wahhhh oppa sangat keren sekarang" ujar Naeun tak sungkan seolah mereka adalah teman akrab berjalan mendekati pemuda tinggi itu.


"Kau baru sadar" kekeh Galih sambil mengacak rambut gadis itu pelan.


"Kak, kakak sedang apa di sini?" Tanya gadis itu bingung.


"Pulang dan tidak sengaja menemukan mu disini, apa dia mengganggu mu?" Tanya Galih menunjuk Chanyeol dengan dagunya yang... aghhh sudahlah...


"Di.... a-" ucapan Ahrin terputus begitu saja saat Naeun megang tangan kakaknya,


"Kenalkan dia teman sekelas Ahrin oppa, dan dia teman sekolah menengah atas ku dulu oppa" sahut Naeun semangat dia tidak menyadari akan tatapan sendu temannya kala itu. Atau mungkin dia memang tidak perduli akan itu?.


"Aghhh begitu" ujar Galih sambil berusaha melepaskan pelukan di tangannya, jujur dia tidak nyaman di peluk oleh perempuan lain selain eomma dan adiknya, bahkan dia sudah lupa kapan terakhir kali gadis beruangnya itu memeluk nya manja lagi.


"Chanyeol" ujar Chanyeol sopan dan seadanya hanya mengarahkan tangannya dan di sambut oleh Galih dengan sopan juga.


"Wahhh kau berubah Naeun-ah, kau sekarang sangat cantik" tuturnya jujur. Ada senyum bangga mendengar pujian itu yang jelas di tangkap Ahrin.


"Saya permisi dulu" pamit Chanyeol dan langsung meninggalkan mereka, dia mendadak merasa asing diantar mereka tadi, dan ada perasaan cemburu yang muncul di hatinya.


Melihat Chanyeol melangkah jauh Ahrin bisa melihat kakaknya yang sangat nyaman berbincang dengan Naeun dan seakan mengabaikan dirinya, dia pun pamit dengan alasan ingin membeli minuman.


Dia tidak ingin berbohong pada kakaknya dan langsung saja menuju pinggiran taman dan membeli air mineral biasa, namun matanya malah menangkap satu ekor binatang menggemaskan yang mendekati nya.


"Aghhh hai" sapanya pada seokor anak kucing yang bergerak manja di sepatu lusuhnya.


"Kau sendirian?, dimana saudaramu hmmm?" Tanya Iris menggendong sayang anak kucing itu, jika dilihat lagi kucing itu sangat cantik dengan warna abu-abu nya dia jadi teringat kucingnya dulu.


"Saudara mu pergi ya?" Tak ada jawaban yang dia dapatkan namun ntah kenapa senyuman nya terbit ketika kucing itu bergetar nyaman di gendongan nya.


"Saudara ku sedang dengan teman ku, kau tau, hampir semua orang yang mengenalnya sangat menyukai dia, Naeun itu sangat beruntung bukan?" Tuturnya lembut entah kenapa dia merasa selalu memiliki teman dekat saat bersama dengan hewan-hewan lucu.


"Apa kau sudah gila?"


..... TBC......