Uncontrolably

Uncontrolably
0.0 Tak Berjudul



sama kayak judulnya kali, bagan ini juga bercerita tanpa judul yang jelas pula. sama kayak takdir dari seseorang, takdir yang seperti cerita misteri. Entah itu cerita romantis, Sad, Hurt, Funny, or anything. sesuai dengan yang sedang kita alami pula. Enggak ada yang namanya buku naskah dalam hidup kita yang bisa kita jadiin skenario lakon kita,, Enggak ada aba-aba apa yang akan ngasih tau biar kita bisa siappin diri dan mental dalam menghadapi situasi baru itu.


Tapi karena itu pula mungkin kisah hidup seseorang bisa jadi menarik. orang-orang semua melakukan akting tanpa di sadari. Berpura-pura dalam melakukan sesuatu. Dan setiap orang selalu memegang topeng nya sendiri. Entah itu topeng untuk sekedar menyakiti orang lain atau bertahan dari sakitnya perbuatan orang lain.


Byun Baekhyun


Ada yang kangen sama gue?, enggak ada? bilang enggak ada juga enggak masalah toh gue kan cuman aktor dari cerita khayalan dari orang lain. Tapi paling enggak gue ucapin terima kasih karena udah nerima kehadiran diri gue di hidup kalian.


Bukan kepedean,,,,elahhh .....Buktinya kalian bisa tau gue dalam cerita ini. Dan gue harap gue juga sama kayak kalian bisa jadi bagian dari cerita hidup orang lain dan gue tau apa yang mereka pikirkan tentang gue, karena gue juga butuh persiapin topeng gue di depan nya.


Tapi sebelum gue sempat buat nyiapin topeng gue, gue selalu ketahuan duluan sama mereka. lucunya topeng gue cuma bisa terpasang di saat gue tanpa niatan buat pasang topeng itu..


"Udah belajar lo?"


cuman satu orang selalu tanyakkin hal beginian dari jaman kita sekolah dasar sampee udah sekolah tingkat maha gini. Dan enggak ada orang yang tau juga kalau dia selalu lakuin itu.


"Hmmm"


"Ada yang susah enggak?, otak lo kan RAM nya kecil yang ada ntar otak lo berasep"


"Sialan lo" dan jawaban gue sukses bikin dia terkekeh enggak jelas sambil seenak jidatnya nendang pantat gue biar bisa ngasi ruang buat dia bisa ikutan rebahan di kamar gue.


Sejak kapan dia masuk kamar gue?, entahlah gue udah terlalu biasa untuk enggak terkejut lagi kalau ada orang yang badannya ketinggian tiba-tiba udah ada di rumah gue gitu aja kayak setan,,,


kadang gue suka heran sama ini tiang tower yang hobinya gangguin hidup gue mulu rasanya. Gue jadi mikir ini bocah sebenar gabut atau memang enggak ada yang mau temenan sama bocah sialan ini. dan berakhir hidupnya selalu ganggu ketenangan kamar gue hampir tiap malamnya. herannya nyokap bokap kita malah santai aja lihat kelakuan dia yang selalu menjajah kamar gue ini.


"Gue satu kelompok diskus sama Iris" ujarnya tiba-tiba enggak jelas ke gue, Dia enggak lagi buka sesi curhat kan ? gue noleh ke kanan gue dan dia lagi liatin langit kamar gue yang warna cat nya selalu sama. Abu-abu..


"Lah terus apa hubungan nya sama gue, toh gue juga udah tau kan ?"


"Entah, gue rasa, gue harus bilang aja ke elo "


"Eghhhh enggak jelas lo"


"Dari pada lo enggak guna" Licin bener kan itu bibirnya kalau ngomong, suka bikin oleng kepleset jadinya.


"Aghhh...Sakit setan!!!!"


"****** lo, hahaha" Dan tendangan gue enggak kalah kuatnya dari dia buat bikin dia jatuh dari tempat tidur gue


" Lo masih ingat enggak sama semestanya gue?" entah kenapa gue jadi teringat sama semestanya gue dulu.


"gadis bisu itu?"


" Dia enggak bisu ****, lo aja yang terlalu nyeremin"


"apaan, dia gue ajak ngomong malah masang muka bloon gitu"


"Serah lo Chan, susah ngomong sama manusia kulkas kayak lo"


"Gue anggap itu sebagai pujian, makasih" ujarnya sambil memberikan senyum miring di bibirnya


"Tapi entah kenapa gue kok rasanya enggak asing sama muka dia ya?"


"Siapa?... Iris?, atau manusia Tasya lo yang lain"


"Minggat sana Lo !!!!!!!!"


.......


Iris Moudi


kata mereka apa yang saat ini kita lakukan itu udah jadi takdir kita dan enggak ada yang bisa menyalahkan nya, karena ini memang sudah di tetapkan oleh yang di atas, tapi menurut ku enggak.


Karena aku pernah dengar dari seorang wanita yang mengagumkan menurutku. Dia yang mengajarkan aku untuk mengerti apa itu takdir dan kenyataan dalam kendali kita.


Lucunya aku ingin menganggap bahwa apa yang saat itu terjadi itu bukan takdir untuk ku, juga bukan untuk orang yang ada di sekitar ku. Kali itu aku menemui nya lagi dan dia mengatakan hal yang sama, the strengh women.


katanya


"Dan kenyataan dalam kendali mu itu, adalah semua yang kamu niat kan untuk terjadi, and you take a part to get closer with it"


"Mereka pergi bukan karena kehendak mereka, kamu sekarang bukan lah ketetapan dari yang diatas tapi kamu sendiri yang membuatnya menjadi luka mu saat ini"


Awalnya aku enggak pernah mau jalanin hidup gue hanya karena adanya kata 'takdir' yang jadi tiang sanggahan nya karena menurut ku, kita jadi termanjakan sama yang nanya 'takdir' itu, jadi orang yang enggak mau berusaha untuk mengubah kenyataan yang ada, mengubah masa depan yang kita sendiri enggak tau dalam waktu satu menit kedepan aja, kita enggak ada yang tau bakal ada kejadian apa yang bakal menimpa kita.


Tapi balik lagi saat melihat gimana pandangan hancurnya kak Galih hari itu, aku jadi tersadar bolehkah aku menganggap semua ini cuman mimpi atau ilusi semata?. Menolak takdir. Itu yang aku lakukan.


Hal-hal rancu yang menjadikan aku menutup semua kemungkinan yang ada. menolak lupa gimana hancur nya kak Galih yang harus mengurusi pemakaman Appa dan Eomma sendirian di negeri gingseng ini. Duduk disana sendirian menanti tamu yang tak akan datang. hanya beberapa relasi Appa yang datang.


Keluarga eomma?....


Mereka?


Aku tak bisa mengatakan apapun lagi, sudah memang nasibnya mungkin.


Tapi sekarang mungkin aku hanya sedang tidak bisa berdamai dengan takdir kata kak Galih, seperti malam itu, mungkin sebuah pengakuan yang menyakitkan kan bagi ku tapi setidaknya enggak buat kak Galih, setidak dia enggak harus menyimpan lukanya sendiri, hal baik bagi ku adalah tau setidaknya dia masih menjadi kakak yang sama.


Malam dimana hanya bau obat antiseptik yang bisa aku cium, dan hal yang aku bisa lakukan hanya berpura-pura bodoh. mencoba tetap terpejam di saat dia duduk di samping ranjang, dengan pandangan kosong.


"kau tau Ris, aku benci dengan kenyataan saat ini"


"Kenyataan sekarang hanya ada kita berdua, lucunya aku juga benci mengapa masih harus ada yang tersisa diantara kita ber-empat"


"benci kenyataan kita ada di sini karena permintaan konyolmu yang enggak jelas"


"Benci kenyataan kalau Appa mendapatkan pekerjaan di tempat sial ini"


"Benci kenyataan kalau aku enggak bisa lebih dari sebenci ini pada kau Ris, karena omong kosong ini kita jadi orang bodoh di tempat sial ini"


"Dan Iris, kakak benci karena kita jadi ngerasain kehilangan yang sial ini"


Aku tau malam itu, untuk pertama kalai aku mendengar seseorang menangis karena kebenciannya pada takdir yang membuat mu terlihat menyedihkan di mata orang lain.


"Kali ini mungkin kita harus memulai semuanya dari awal Ris"


Dan setelah mendengar kalimat itu aku tau bahwa setelah hari itu, enggak ada yang boleh sama lagi dari seorang Iris Moudi dan Kak Galih. Karena kita sama-sama terluka di malam itu. sama-sama menolak kenyataan walaupun kita udah berusaha sekuat tenaga pun, tetap saja percuma.


Dan esok paginya ketika aku membuka mata ku di pagi hari


"Adek Udah Bangun dek?" everythings has changed


Dan aku tau kali ini dia sedang memakai topengnya, topeng yang sisinya enggak pernah aku tau. Dan aku enggak tau harus meresponnya seperti apa selain mengikuti arah cerita ini, tanpa ada skenario yang telah di persiapkan. Membuatku tak memiliki persiapan apapun selain menjawab dengan satu kata.


"Iya kak"


.


.


.


.... tbc...


Hai... udah lama ya aku enggak buat catatan kayak gini?. Rasanya ada banyak hal yang ingin aku tuangin dalam chapter tanpa judul ini, tapi mungkin akan ada Chapter Tanpa Judul lainnya. yang mungkin akan datang dari sisi yang lainnya.


Aghhh aku cuman mau bilang...


Kadang kita itu enggak harus kecewa sama kenyataan yang nyakitin kita karena semua orang punya lukanya sendiri. mereka selalu punya topeng di setiap tangannya tanpa mereka dan kita sadari. Tapi hal itu yang membuat kita belajar tentang betapa kerasnya hidup saat ini.


Karena Takdir selalu datang tanpa bisa kita kendalikan, dan hal yang bisa kita lakukan adalah bagaimana cara kita menanggapi takdir yang sedang kita alami saat ini.



xoxo