Uncontrolably

Uncontrolably
11. Pulang



Galih Utama Marion


Saya tidak pernah tau apa makna pulang sampai sekarang selain frasa yang mengatakan pulang ya kembali ke tempat tinggal anda, sama seperti arti umumnya dalam kamus kitab umum bahasa appa kami, Pulang;


pulang/pu·lang/ v pergi ke rumah atau ke tempat asalnya; kembali (ke); balik (ke)


Tapi di sana ada kata kembali, kembali yang membuat saya berfikir kembali kemana yang di maksudnya, kembali ke tempat asal, mungkin.


Tapi saya jadi teringat dengan gadis kecil saya, dulu saat kita masih di sekolah tinggi akhir dia selalu jadi adik yang menurut saya terlalu sempurna untuk kakak seperti saya ini


Dia pernah bilang ke temannya saat kali terakhir sebelumnya kami ke negeri gingseng ini yang sampai sekarang masih selalu ada di pikiran saya juga, tapi hanya terkadang.


"Aku enggak mau kamu pulang ke Indo Ris" melas gadis berambut sepunggung yang dia biarkan terurai begitu saja


"Hahaha kenapa?, aku memang harus pulang Naeun-ie"


"Enggak seru enggak ada kamu Ris"


"Ya ampun, kan masih ada kak Suho yang bisa nemenin kamu setiap hari"


"Dia menyebalkan Ris, kamu saja yang tidak tau kalau dia selama ini hanya pencitraan di depan kamu"


"Hahaha kamu ada-ada saja, jangan seperti itu pada kakak mu sendiri Naeun-ie"


"Tapi aku serius Ris, tak bisakah kalian tinggal di sini saja, kalian kan bisa tetap tinggal di rumah nenek kalian,,, eummm?"


"Sama seperti yang aku katakan tadi Naeun-ie, tetap enggak bisa, karena selalu ada orang yang menantikan kamu pulang ke tempat mu, kembali lagi, kembali pada keadaan yang sama dan memang seperti seharusnya"


"Maksudmu Ris?"


"Di sana, juga ada orang yang menantikan kami kembali Naeun-nie, menyenangkan memang berada di sini, bersama kamu dan kak Suho, tapi kita tetep enggak boleh egois buat bikin mereka menunggu kita pulang untuk kembali Naeun-ie"


"Aku jadi enggak heran kalau kamu bisa jadi anak Akselerasi Ris, You always make me so amazed with you"


"Kamu berlebihan Naeun-ie"


Setelah saat itu, saya selalu punya pemikiran lain dari setiap kata pulang yang saya artikan dari pemikiran adik saya itu


She make everything too much special for her, dan saya selalu kagum padanya, walau saya tau, kadang dia menjadi sangat berlebihan pada sesuatu.


Dia membuat seolah kata pulang itu selalu punya makna tersendiri bagi hidup orang lain, dia selalu memikirkan orang lain dan perasaan mereka, tanpa sadar kadang sifatnya itu yang menyakitinya lebih dalam dari pada apa yang di lakukan oleh orang lain padanya.


......


Hari ini saya sengaja pulang lebih awal, saya ingin kembali menemaninya karena saya merasa cukup bersalah padanya meninggalkannya begitu saja tadi pagi, tapi saat saya sampai di rumah, rumah ini terasa terlalu kosong.


Sangat kosong malah, seperti dingin dan suram yang saya rasakan, tak ada kehangatannya sama sekali, walau rumah ini sama seperti rumah lainnya, rumah yang memiliki ruang tamu, namun tirai nya malah tertutup rapat, ada ruang keluarga yang terdapat TV, tapi saya tak yakin kapan terakhir kali dia duduk di sana melihat acara kartun kesukaannya, ada dapur yang hanya akan di isi bila sudah memasuki waktu makan saja, dan yang saya sangat sayangkan, di rumah ini terdapat taman bunga baby breath, bunga kesukaan Iris yang saya tak yakin, apakah dia tau kalau bunga- bunga itu sengaja ada di sana karena dirinya.


Dan saat saya melihat isi kulkas, yang saya dapati ada makanan tadi pagi yang belum sempat saya makan, dan sepertinya dia pun juga tak makan pagi ini.


"Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri Ris"


Hahhh.....


Kalian ingin tau bagaimana rasanya melihat prioritas dalam hidup kalian tidak menjadi bukan dirinya lagi?


Rasanya sangat menyakitkan.


Karena ketika kamu berusaha agar dia tetap baik-baik saja, tanpa sadar kamu membuatnya menjadi lebih terluka dari apa yang kamu rasakan.


saya bisa dengar suara seseorang yang membuka pintu pagar, rumah,tapi yang saya herankan, kenapa dia masih melakukan hal bodoh yang sama.


Saya yakin kalau dia pasti berjalan kaki ke rumah, dan saya tau... dia kembali menyakiti dirinya lagi untuk membuatnya berada lebih lama berada di luar rumah ini.


"Kau sudah pulang?"


"Kakak?"


"Hmm Wae(kenapa)?"


"Kakak sudah kembali?"


"As you can see little bear" i miss to call you like this, dan saya bisa lihat pandangannya seolah menerawang ke saya, seolah-sedang mencari sesuatu di mata saya, namun pandangan saya hanya fokus pada wajahnya yang saya sadari sudah sangat pucat itu.


"Sudah makan?"


"Eumm.. Sudah..." kamu bohong Ris, mata mu selalu melihat ke aah lain saat berbohong seperti saat ini


"Kalau begitu temani aku makan, aku lapar, oke"


"Tapi aku belum masak makan malam kak"


"tadi aku lihat di kulkas masih ada makanan tadi pagi itu saja kakak hangat kan, kamu mandi lah dulu, kau sungguh bau Ris"


"Aghhhh..... baiklah,,, tapi apa tidak sebaiknya kakak pesan makanan saja,, hehehe, aku sedang ingin ayam goreng"


"Ya ampunn,,, kau ingin menimbun lemak lagi malam-malam eoh?"


"Hehehe.... enggak jadi deh kalau begitu" dan saya bisa lihat dia berlari naik ke tangga dan hilang di balik pintu kamarnya.


"Semua permintaan mu akan kakak penuhi Ris cukup kembali seperti dulu saja eoh"


Dan yang saya siapkan malam ini adalah sup gingseng hangat dan juga ayam goreng permintaannya tadi untuk kita makan malam ini.


......


Park Chanyeol


Kata mereka gue terlalu cuek untuk segala hal, nyatanya gue enggak secuek itu, gue masih mikirin makanna apa yang gue makan hari ini, gue masih mikirin gimana kabar nyokap bokap gue, gue juga masih mikirin gimana gilaknya seorang Byun Baekhyun hari ini hanya karena seorang gadis bernama Iris.


Lucunya gue juga mikirin dia, tanpa gue sadar.


Sore itu, setelah gue pastiin kalau cewe yang dengan gilanya nekat jalan kaki pulang seperti orang gila di pinggir jalan, gue juga dengan bodohnya liat kedalam isi pagar rumah itu.


Ada mobil audi hitam di sana, mobil yang bisa gue anggap cukup pantas untuk rumah itu dan gue bisa lihat seorang pria yang gue kira mungkin masih seumuran dengan kakak laki-lakinya Baekhyun.


dan gue yakin kalau dia sama seperti Iris, wajahnya sangat jelas sangat mencolok kalau di bandingkan dengan wajah orang-orang di sekitar gue lainnya.


And my assume that he is her brother,


Wajah mereka jelas berbeda, dan gue bisa menangkap adanya sorot dingin dan tajam di ana, like as me, lucunya gue jadi ngerasa lagi ngeliat diri gue sendiri di balik diri dia.


She look so different and i don't know why she look so pretty


Gak ada yang spesial dari yang dia pakai, dia cuman pakai baju kaos kebesaran berwarna putih dengan celana training yang juga kebesaran di badannya, but in case she look so damn perfect t use it.


"Udah malem Ris yang ada ntar kamu jadi gemuk kayak galon ntar kalau gelinding siapa yang ngejer, kalau aku sih ogah"


"Ighhh kakak mah,,, aku enggak segemuk itu tau kak"


"Doesn"t fat but too much chuby, right" dan gue bisa lihat saat sosok yang di panggil nya kakak itu menarik pipinya, mendadak wajah gadis itu berubah merengut dan gue ngerasa lucu untuk itu.


.....


Hari ini gue main kerumah Baekhyun, dalam rangka apa?, ya karena gue pingin aja, sepupu gue juga, lumayan kan sekalian ngecek itu bocah udah belajar apa belom nih malam.


Kenapa tuh bocah harus di periksain dia belajar atau enggak, jawabannya ya karena dia enggak pernah bener-bener berjuang untuk apa yang dia mau dalam hidupnya, itu yang gue enggak suka dari sepupu idiot gue.


Dan yang gue liat pertama kali saat pas gue masuk ke kamarnya itu cuman pemandangan dia lagi duduk diem sambil mandangin layar PS nya kayak orang idiot beneran.


"Baek, gue tau lo gilak, tapi gue enggak pernah tau kalau elo beneran autis kayak gini"ujar gue sambil mainin rubik dia yang sampai sekarang enggak pernah bisa gue selesain, dan gue enggak pernah biarin dia buat nyelesain rubik itu sampai sekarang.


Alasannya kenapa?, karena enggak tau kenapa gue enggak mau aja itu di selesain sama dia.


Dan sat gue udah rebahan di kasur nya dia yang selalu rapi karena dia enggak mau nyokapnya ngomelin dia setiap hari, dia baru sadar kalau gue ada di kamarnya


Gue kira dia bakal maki gue atau ngelakuin hal **** lainnya, eghh dia malah ikut rebahan di samping gue sambil ngambil rubik punya dia itu, gue enggak perlu takut itu bakal dia mainin atau enggak, karena dia enggak bakal laukuin itu.


"Kenapa lo?" Tanya gue ngeliat dia mendadak jadi kalem gini


"Lagi kesel gue"


"Bukannya tiap hari lo selalu kesel ya" kekeh gue ngeliat dia yang malah di hadiahin tatapan tajam dia


"Gue lagi serius elah" and I know everytime he said like that, he so serious as long as he said


"Hahh... kenapa?"


"Gue sendiri juga enggak tau kenapa gue kesel"


"kalau gitu elo yang aneh ****" hening abis itu, dia keliatannya juga enggak mau nanggepin gue kalau udah gini


"Siapa yang bikin lo kesel?"


"Iris, mendadak gue kesel gara-gara gadis ajaib itu"


"Elo aja yang bodoh udah tau dari awal emang nyebelin, lo masih mau aja nempel ke dia kayak cicak nempel di dinding" dan gue lucu, saat dia cuman bisa berdecak gitu ja sambil ngelemper kepala gue pake rupik yang dia pegang


"Saki ****"


"****** aja lo, hidup kok cuman bisa bikin orang sebel aja"


"Itu lagi rubik dari jaman jebot sampai sekarang enggak kelar-kelar, mana gue udah gemes sendiri liat elo maininnya enggak bisa-bisa"


"Ya mana gue tau,,, gue aja heran nih benda kayak nya emang udah rusak aja kali"


"coba sini gue mainin"


"berani lo putar sekali aja, gue bakar kamar lo"


" Dihh,, psikopat, enggak tau diri yang punya siapa kok lo yang hak milikin" dan berakhir gue yang malas nanggepin nih bocah autis, terus kita cuman diem aja, gue yang sibuk sama rubik di tangan gue dan Baekhyun yang tetap dengan fikirian benang kusutnya


"Gue penasaran sama Iris"


..........


Iris Moudi


Udah hampir seminggu lebih aku sendirian di kampus ini lagi, dan lagi selalu perasaan menyesal yang membuatku harus terbiasa sendirian lagi, duduk di ujung kelas ini masih dengan orang yang sama, tapi dengan karakter yang berbeda.


Dan hari ini yang aku lihat ada sesuatu yang berbeda di wajah laki-laki yang mirip dengan appa.


Dia pucat.


Bukan sangat pucat hanya saja, menurutku wajahnya sangat jelass menunjukkan kalau dia sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Gak usah liatin gue"


"Lo udah mau mati ya?" dan entah kenapa aku mulai terbiasa mengatakan sesuatu yang enggak pernah aku maksudkan


"Lo doain gue cepet mati ya?" dan dia mendadak natap aku tajam, lagi,aku jadi merasa nyaman dengan pandangan yang mirip appa,


"Enggak, cuman nanyak aja" Dan bodohnya, im doing something crazy again in my life


"Biar loh enggak mati cepat" yang aku kasih ke fia itu permen cokelat appelible chokelat caramel yang selalu kak Galih kasih setiap kali ngeliat aku lemes atau pun pucat karena gula darah ku yang terlampau rendah kadang


"Lo mau bikin gue diabetes?"dan lagi aku yang di salah kan


"Mana gue tau kalau lo punya gula darah tinggi, kalau enggak mau yaudah" And when I'll take it back, he get it before I take it.


Dan kita jadi diem lagi, karena memang enggak ada lagi yang perlu dimongin dan harus diomongin.


"Baekhyun Marah sama lo"


"Oh gitu"


"Lo enggak mau tau dia marah kenapa?"


"Enggak"


"Cihh... gue kira lo emang orang baik makanya Dia mau nempel ke elo, ternyata enggak"


"Syukurlah dia sadar" dan lagi entah kenapa perasaan kehilangan ini muncul di saat aku cuman kehilangan dia yang sebenarnya enggak pernah jadi siapa-siapa nya aku.


Dia diem, aku diem,kita jadi diem,tapi aku tau aku enggak bakal bisa fokus dengan materi kuliah ini lagi


"Kalau elo memang enggak baik, lo enggak bakal pernah perduli dengan hal kecil yang ada di sekitar lo, you just need to back again of your self"


.........