
*pencet bintang dulu skuyyyyy*
Iris Moudi
Kata mereka embun itu buram..
Enggak seperti kabut yang hanya menutupi..
Mereka, kalian, kita, kamu, aku...
Semua kata ganti yang di gunakan hanya untuk menunjukkan pada sebuah subjek..
Subjeknya apa?..
Manusia...
Orang-orang yang memang tumbuh untuk jadi manusia yang sebenarnya..
Enggak cuma terlahir gitu aja...
Karena kita semua lahir dengan tujuan yang sama...
Belajar,
Sadar enggak sadar setiap hari kita selalu ketemu sama orang-orang baru.
Ada yang hanya sekedar datang, lalu lewat begitu saja. Tanpa kesan yang berarti di hidup kita.
Ada juga mereka yang datang tanpa kita sadari mereka singgah gitu aja dalam hidup kita, tanpa permisi dan izin...
Dan, ada juga mereka yang datang untuk tinggal, Dan juga tanpa kita sadari pula kehadirannya...
Sama seperti hidup ku, kalian juga, orang-orang datang selalu dengan cerita berbeda yang mereka punya.
Sometimes, buta itu bukan berarti mati rasa, malah mungkin mereka yang melihat itu yang enggak peka sama sekali. karena kalau di lihat lagi baik-baik, kadang kita bahkan mendadak berpura-pura tuli hanya untuk melindungi perasaan kita dari tajam nya perkataan orang-orang yang bisa nyakitin kita tanpa mereka sadari.
"Kak, kakak enggak benci aku lagi kan kak?" satu pertanyaan yang selalu ingin aku tanyakan pada kak Galih... apa dia masih membenci ku?, atau dia hanya sedang berusaha menutupi perasaannya yang dingin itu?
"mikirin apa sih dek, dari tadi melamun terus ada cogan di samping malah di anggurin" ujar nya santai banget sampai membuat ku tak habis pikir bagaimana bisa ada orang dengan tingkat percaya diri yang terlalu tinggi seperti dirinya.
"Enggak mikirin apa-apa kok kak"
"Enggak bakat kamu jadi pembohong Dek"
"Pura-pua percaya aja dong kak, kepo banget deh kakak"
"Oghhh ya jelas dong, dan bahkan harus" ujarnya dengan cengiran anehnya, mungkin jika orang lain yang melihatnya akan menganggap apa yang dilakukannya itu manis, tapi bagi ku enggak sama sekali.
Tau apa yang membuatku tidak bisa bersikap sama seperti dulu padanya?, jawabannya karena dirinya sendiri yang bahkan berubah kepada ku.
Lucu bagaimana dulu dia selalu memanggil aku dan kau, kini berubah menjadi panggilan adek dan kakak. awalnya terdengar menjijikkan bagi ku, namun semakin lama terdengar manis dan lucu. tapi membuatku jadi kepikiran, kenapa harus berubah?.
"Coba cerita sama kakak" ujarnya lembut sambil mengelus rambut , nyaman dan tenang itu yang bisa aku rasakan.
"Kak, menurut kakak tujuh keajaiban dunia itu apa aja sih kak?" mendadak aku jadi teringat dengan ungkapan lucu pria aneh yang selalu membuat ku kesal itu.
"Ya sama yang kayak kamu tau dong dek sama kayak yang lainnya juga"
"Hmmm... Gitu ya kak, tapi ada seseorang punya versinya sendiri kak"
" Oghh ya?"
"Eummm,,, mau tau apa katanya?" tawar ku padanya dan di jawab dengan anggukan ringan
"Katanya, kita ini harus bersyukur kak sama apa yang kita punya sekarang kak, karena kita punya ketujuh keajaiban dunia di diri kita kak" dan yang bisa aku tangkap ada kerutan sama di dahinya, jelas dia sedang bingung mendengar ungkapan ku.
"kita masih punya mata untuk melihat semua yang ada di sekitar kita kak baik buruknya hidup ini, kita masih bisa dengerin apa pun yang ingin kita dengar atau pun enggak, kita masih isa nyentuh apa pun yang menarik perhatian kita" jeda ku sambil memainkan ilalang tinggi yang ada di sekitar kaki ku
"terus katanya kita masih bisa ngerasain yang namanya kasih sayang dari orang lain, masih bisa makan apa pun yang kita inginkan juga kak sampai kita bisa merasakan yang namanya rasa pahitnya obat, terus kita masih bisa ketawa di saat kita mau ketawa kak, walaupun ada beban yang sedang kita bawa kak"
"Dan juga perasaan cinta yang semoga kakak bisa merasakannya juga kak, Lucu enggak sih kak?" dan kita setelah aku selesai ngomong kayak tadi kak galih ternyata dengerin aku dengan serius ternya, terlihat jelas dari caranya yang merhatiin omongan ku tadi.
"Temen kamu lebay banget pasti ya" ujarnya, sama kayak pikiran ku awalnya tentang betapa lucunya keajaiban dunianya Baekhyun itu,
"Tapi dia cukup keren" kali ini ada kekehan lucu dari kak Galih yang membuatku jadi ikut tertawa pelan bersamanya.
Kayak kakak ya kan kak.....
......
Park Chanyeol
"Yeol, lo sudah lihat pembagian dosbing skripsi lo?, pembagian nya sudah keluar" ujar Jessica salah satu mahasiswi di kelas gue yang seringkali menjadi pengingat di kelas kami. Gue sendiri engga mempermasalahkan dengan siapa dosen yang akan jadi dosen pembimbing tugas akhir gue, karena pada akhirnya hasilnya juga akan sama kan?.
"Makasih"
"Eummm, santai saja, aghh ya sepertinya kalian berdua berjodoh yeol" kekeh gadis ini yang buat gue jadi bingung dengan maksud nya.
"Mending lo lihat sendiri deh"
Dan gue langsung pergi ke masing jurusan buat ngelihat jejeran kertas yang udh di tempel rapi sesuai dengan abjad nama mahasiswa yang tahun ini sudah mengajukan tugas akhir nya.
Engga susah buat nyari nama gue karena gue udah langsung bisa nangkap nama gue sendiri lembaran-lembaran kertas depan gue. Tapi yang buat gue terkejut adalah teman kelompok diskusi gue itu sendiri.
Kebetulan atau engga gue dapat pasangan tugas gue bareng Iris, enggak ada masalah memang dengan gadis itu tapi, entah kenapa gue jadi merasa lucu sama keadaan gue.
"Lo sekelompok sama Iris ya" dan gue enggak pernah terbiasa dengan kehadiran Baekhyun yang selalu muncul secara tiba-tiba yang bikin gue selalu jantungan hampir setiap saat kalau dia mendadak muncul dekat gue.
"Kaget gue ******"
"Eughh, Elo aja yang lebay" acuh Baekhyun.
"Lo ngusulin sekarang juga baek?" Tanya gue ketika gue nemuin nama dia di salah satu kertas jurusan nya.
"Hmmm, gue udah bosen di kampus ini, lagian kalau elo udah enggak ada di kampus ini gue enggak ada temennya, kesepian gue" bohong kalau gue bilang gue engga percaya sama apa yang dia bilang tadi.
Nyatanya sepupu gue ini terlalu bodoh menurut gue dalam menunjuki perasaan nya. Sampai gue sendiri susah harus gimana ke dia kalau dia lagi serius, karena dia selalu, make something like a nothing but indeed it's so important to him.
Dan sampai sekarang gue masih belum terbiasa dengan itu semua.
"Iris, dia apa kabar?" Tanya nya ke gue, gue yang bukan bapaknya ya mana gue tau.
"Mana gue tau" ujar gue acuh.
"Aghhh gitu, gue cabut dulu ya" dan untuk beberapa alasan gue bisa lihat dia kelihatan nyimpan sesuatu dari gue. Tapi saat gue mau nanya ke dia, dia udah enggak ada di samping gue, dan gue bisa lihat dia baru aja belok ke lorong fakultas.
"Sudahlah, paling dia lagi stres mikirin TA"
.....
"Habis makan siang kita konsultasi pertama ke Choi saem" ujar gue yang bikin dia terkejut karena tiba-tiba ngomong gitu ke dia.
hampir lima belas detik gue nunggu respon dari dia, tapi sama sekali enggak ada yang ada dia cuman nunjukin muka datarnya yang kelihatan banget kalau dia lagi bingungnya. And she's look cute for a moment.
"Kita satu kelompok diskusi buat ngerjain tugas akhir kita" dan dari situ gue bisa lihat kalau dia mulai faham maksud gue dan dia cuman ngangguk aja gitu doang.
Aghhh yahh, gue jadi keinget kalau belakangan ini dia udah mulai enggak bisa ngomong lagi sama sekali kayaknya, hampir setiap saat dia cuman diem aja kalau deket gue,. berbeda dari yang dulu, entah kenapa gue bisa rasain itu.
dan pas kita konsul dia bahkan ninggalin gue jalan duluan kayak orang yang enggak kenal gue sama sekali dan itu bikin gue kesel. Tapi mendadak rasa kesel gue berubah jadi perasaan marah tanpa gue sadar pas lihat dia mengabaikan orang-orang yang sedang senyum sama dia. heran gue sama manusia sejenis dia.
Iris Moudi, lo itu sebenarnya kenapa?..
gue bukan orang yang secuek yang orang lihat sebenarnya, dan gue juga bukan orang yang bakal blak-blakan bilang kalau gue peduli sama orang lain. karena enggak ada gunanya sama sekali.
"Halo Moudi... apa kabar!!" mendadak gue kaki gue jadi berasa kaku dan enggak bisa di gerakin buat jalan. hal yang nunjukkin seberapa berpengaruhnya dia buat gue.
"aghhh... Na Eunie" she's smiling, untuk beberapa saat gue harap waktu bisa berhenti sebentar aja.
"Dia cantik pas senyum bukan..?" entah sejak kapan sepupu bodoh gue udah berdiri di samping gue sambil sok keren dengan kedua tangannya yang dia lipat di depan dada, enggak pantes kalau menurut gue.
dan gue enggak tau hal apa yang mereka omongin , tapi gue bisa lihat kalau Na Eun kelihatan bahagia banget untuk beberapa waktu.
"Aku akan usahakan untuk mampir saat renggang ya " enggak kayak yang biasanya, kali ini dia bisa ngerespon orang lain dengan baik, dan gue heran, kenapa dia enggak gitu juga ke orang lain?. Bodoh.
"kita sudah telat"
.... tbc....