Uncontrolably

Uncontrolably
13. Mandiri



Iris Moudi


Jadi tadi aku habis di beri masukan tentang yang namanya "MANDIRI",


Bukan salah satu nama Bank..Tolong..


Biar kita bisa tetap hidup dimana pun tanpa yang namanya merepotkan orang lain. dan bikin kita jadi punya yang namanya "HUTANG BUDI"


Dan tadi aku habis dapat gambaran tentang betapa kita harus BERSYUKUR dengan apa yang kita punya.


Karena, kamu enggak harus jalan bersama mereka dengan mengikuti seperti apa langkah mereka, yang membuat mu menjadi buruk di hadapan diri kamu sendiri nantinya kelak.


Kamu cukup berjalan beriringan bareng mereka dengan apa adanya kamu di samping mereka....


Tapi kali ini mandiri yang ingin aku bagi itu bukan tentang dia yang bisa hidup dengan uang yang dia hasilkan sendiri, atau pun bisa bertahan hidup tanpa bantuan keluargamu.


Sama kayak mimpi,


Awalnya mimpi kita itu sederhana banget.


Tanpa kita sadari dulu kita cuman pingin bisa main bareng temen kita lagi besok harinya, setelah itu kita jadi mau kayak orang-orang hebat yang kita denger ceritanya dari kedua orang tua kita atau enggak temen main kita itu, entah itu jadi dokter lah, pilot lah, astronot lah, bahkan presiden.


Mimpi aja terus, karena ketika kita bermimpi kita jadi sekalian berkhayal. dan aku pernah baca dari salah satu cerita, kalau kita enggak boleh ganggu orang yang lagi berkhayal karena selalu ada 1 dari 1000 kesempatan buat jadiin khayalan kita itu jadi nyata akhirnya kelak.


Dan aku percaya dengan itu...Tapi .. ketika mimpi mu enggak kesampaian dan enggak sesuai dengan harapan mu awalnya, kamu jadi ngerasa bete dan menyesal....


Karena aku juga seseorang yang terlampau banyak bermimpi yang berujung pada khayalan semu di dunia nyata milik ku.


Tapi, salah satu mimpi ku itu jadi kenyataan bukan? kayak sekarang, aku dulu pernah bermimpi untuk bisa tinggal menetap dia tempat ibu ku dulu dilahirkan, and here i am, tapi sama kayak kalimat terakhir ku, kali ini mimpi ku yang jadi kenyataan membawa ku pada penyesalan.


Kalau kata mereka Mandiri itu :


mandiri/man·di·ri/ a dalam keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain:


Tapi entah kenapa aku punya pemikiran lain tentang kata mandiri ini,


Bagi ku, mandiri itu sama saja seperti saat kamu udah enggak jadi beban pikiran dan jadi kekhawatiran dari orang yang punya tanggung jawab sama kamu. Bukan cuman masalah kamu bisa berdiri sendiri atau pun udah enggak ngerepotin orang lain...


Tapi ketika kamu udah enggak jadi beban fikirannya bukan beban fisiknya, mereka bakalan ngerasain sesuatu yang kurang dari kamu, karena kadang orang-orang yang sayang sama kita selalu ingin di repotin dengan hal sederhana yang dia bisa dan cukup berarti buat kita.


Sama kayak kak Galih, dia paling enggan jika di mintai bantuannya untuk ngelakuin sesuatu, tapi selalu marah jika kita menolak perhatiannya.


Contohnya seperti saat dulu ketika dia marah karena aku menolaknya untuk membantu ku membawa tas ku setiap kali dia menjemputku saat aku masih di sekolah menengah dulu.


He is always pick me up on time, never let me waiting for him... Dan selalu membuat ku merasa how lucky i am to having him in my life..


Kadang aku selalu bertindak bodoh dengan sengaja, ya walau pun lama kelamaan aku merasa jadi bertindak bodoh beneran tanpa aku sadari.


Karena..... aku ingin dia selalu mikirin aku, adiknya.


Egois?,,,


Iya, aku akui itu, tapi.... kadang kamu juga harus jadi si Egois pada orang yang sangat berarti buat kamu, untuk bisa menjaga perasaan kamu sendiri.


Dan entah mengapa menurutku, tak akan ada seorang pun saat ini yang layak untuk di sebut mandiri... Karena semua orang masih memiliki satu penyakit di hatinya yaitu Ego.


Ego yang membuat mu ingin selalu memiliki sesuatu atau mempertahankan pendapat mu dengan tanpa sadar menyakiti hati orang lain, membuat diri mu menjadi salah satu beban di hidup mereka bahkan menjadi salah satu alasan mengapa mereka menjadi terluka bahkan bersedih.


Lucu memang bila memikirkan bagaimana definisi mandiri versi ku, aku sendiri bahkan malu untuk menceritakan ini. Tapi setidaknya kau harus bersyukur, paling enggak kau sudah menjadi salah satu bagian dari sebuah cerita hidup orang lain, sehingga tandanya kau pantas untuk di ingat oleh mereka.


Walaupun kita enggak pernah tau, di dalam cerita hidup mereka itu kita berperan sebagai si antaganis atau protagonis baginya.


Tapi menurut ku enggak apa-apa untuk jadi tokoh apa pun bagi orang lain.


Karena kadang kalanya kamu enggak harus menjadi pahlawan di dunia atau negara bahkan buat orang lain, setidaknya dengan kau hadir sebagai warna di hidup mereka kau sudah menjadi salah satu cat warna yang akan selalu membekas di hidupnya, enggak bakal bisa di pungkiri oleh mereka bahkan siapapun.


Nyatanya juga hidup kita ini kayak lagi nulis buku sejarah, tapi ini versi sejarah dari sisi pandang kamu, beda lagi mungkin bagi mereka yang membuat mu sebagai tokoh yang memerankan peran apa, entah itu si baik kah?, si jahat kah?,atau mungkin si dua muka...


......


Normal Side


Dulu mimpi kita saat masih kecil itu sederhana banget, ingat enggak sih dulu kalian pernah cepat-cepat tidur biar bisa bangun di esok harinya terus main bareng temen kalian lagi.


Karena dulu mimpi kita Cuma mau bisa tetep ketawa lagi kayak hari kemarin.. bercanda lagi sama orang yang sama bahkan melakukan hal yang sama lagi gak apa, asal tetap ketawa bareng lagi.


Tapi lama-lama semakin kita bertambah umur, kita jadi punya mimpi baru di setiap tidur kita bahkan sebelum kita tidur biar bisa merasakan bagaimana rasanya memimpikan hal yang kita dambakan.


Mimpi baru yang di wakilin sama satu kata aja sebagai tujuan semua mimpi kita, yaitu kata "sukses".... Tapi sukses apa?... Ya sukses, sukses sama materi yang kita akan capai, udah gitu doang...


Enggak jelas apa yang akan kita capai, enggak ada target yang bisa kita buat dan kita mulai ...karena kita sendiri enggak tau sukses itu kayak apa...


Tapi makna itu sendiri ada satu definisi sukses yang bisa di dapatkan, kalian tau apa?..


Nyatanya Sukses yang sebenarnya adalah saat target yang kita buat berhasil tercapai...sudah gitu saja ....


Tapi bedanya dulu saat kita memiliki sebuah masalah dan kita jadi gampang banget yang namanya terpuruk sama keadaan kita saat itu merenggut gitu aja kebahagiaan yang kita punya, melupakan betapa harusnya kita bersyukur sama keadaan kita dan apa yang kita punya.


Kasar?, itulah kenyataannya.


Kebanyakan dari kita sekarang justru berpura-pura seolah-olah masalah itu enggak pernah terjadi.


They're just keeping it to themselves , dan nunjukinnya saat enggak ada satu pun orang yang ngelihat.


"Dek, udah berapa kali kakak bilang jangan kebiasaan pikun nya dek, itu kenapa pintu depan enggak kamu kunci, nanti kalau ada orang jahat masuk bahaya dek" terdengar nada tak suka dari pria itu saat melihat adiknya duduk di depan televisi yang menyala menampilkan acara komedi itu.


"Kakak udah pulang?" semangat, ada nada gembira di sana.


"Jawab dulu, kamu kenapa enggak kunci pintu tadi huh?"


"Maaf kak tadi kelupaan, beneran deh, lagian enggak ada juga orang yang bakal jahatin kita kok kak"


"Tau dari mana kamu dek sampai bisa ngomong kayak gitu" ujar laki-laki itu sambil duduk menyadarkan punggung lelahnya di sofa single di ruangan itu. kenapa tidak di samping adiknya?, karena posisi duduk adiknya sudah mengkorupsi satu kursi panjang itu dengan kaki pendek miliknya.


"Mereka takut sama kakak, hehehe" kekeh adiknya sambil menunjukan gigi gingsulnya itu, Aghhh sudah lama sekali rasanya dia tidak melihat senyuman milik adiknya yang seperti itu.


"Kamu udah lama banget sih dek enggak senyum gini dek, kakak kira kamu udah lupa caranya senyum" ujar Gilang lucu.


"Apaan sih kak, kakak aja yang jarang bisa ngobrol bareng aku"


"Iyaa juga ya, kakak sekarang udah sibuk banget di sini gantiin ayah"


"Hmmm iya kak"


"Adek sering-sering senyum gini lagi ya dek, kamu cantik deh kalau senyum nampak giginya gitu lagi, kayak beruang lepas dari kandang gitu dek" kekeh Galih sambil mengacak kepala adiknya sayang yang di balas dengusan sebal adiknya.


"Minggiran dong dek, kaki kamu pendek-pendek gini bisa juga menuhin satu kursi"


"Ighhh apaan sih kak, tu perasaan kursi kakak kosong loh, jangan rusuhin adek.." rajuk Iris pada kakaknya.


"Dihhh, kumat nih manjanya udahan".


"Biarin dong kak".


"Iyaa dek iya..." ujar Galih sambil memainkan kaki adiknya yang berada di pangkuannya itu.


"Dek, apa kabar?"


"Hahhh???, pertanyaan kok kayak orang yang jarang ketemu banget sih kak?"


"Udah jawab aja, lagian kan emang iya dek, kita udah jarang banget ketemu terus ngobrol kayak gini lagi dek" Tidak ada tanggapan yang di berikan oleh Iris cukup lama sampai dia menjawab dengan nada pelan, berbeda dengan beberapa saat yang lalu.


"Baik"


"Iya juga ya kak, sekarang bahkan aku lupa sama kebiasaan kita kak, this feeling so bad, kakak bagaimana kabarnya?"liriknya.


"Enggak pernah sebaik dulu, tapi lebih baik dari hari kemarin dek" kekeh laki-laki itu terus memainkan jari-jari kaki adiknya.


"Dek kaki adek kok kecil banget sih dek?, ini lagi kok jadi gini tapak kakinya, kok kayak ada bekas lukanya, kamu abis maratonan ya kok enggak ngasih tau kakak?"


"Aghhh itu,,, hehehe" hanya kekehan yang di berikan adiknya sebagai jawaban.


"Besok kakak antar ya dek"


"Enggak aghh kak..."


"Gak boleh nolak dek, kakak besok libur, sekalian kakak jemput deh dek, abis itu kita main" ujar Gilang menaik turunkan alis sebelah kanannya.


"Kalau mau main ya sama temen atau pacar kakak dong kak jangan sama aku mulu" tolak Iris sambil mencari siaran televisi yang lain.


"Shutt enggak boleh nolak dek, ini hukuman dari kesalahan kau yang ngebiarin pintu enggak di kunci tadi ya dek" ujar kakak nya sambil berdiri dengan cepat sehingga Iris yang saat itu tidak siap dengan apa yang dilakukan kakaknya mendadak terjatuh akibat ulah laki-laki itu


"Kakak ighhhhh, sakit tau..." hanya kekehan yang di berikan laki-laki itu dan meninggalkan adiknya naik ke atas menuju kamarnya


..............


.


.


.


tbc


.....


Kadang kita sering banget punya target untuk bisa hidup mandiri, baik itu di depan keluarga ataupun orang yang kita sayang.


Padahal sebenarnya kita enggak bakalan pernah bisa yang namanya bener-bener mandiri, karena kita selalu butuh orang-orang di sekitar kita untuk selalu bantu kita, walaupun kadang lisan ini terlalu berat untuk mengucapkan.


Gimana hari ini?