Truth Or Lie

Truth Or Lie
Kirana dan Aradella



Seorang gadis menatap gadis di sampingnya dengan tatapan sendu, ia menawarkan segelas susu putih hangat yang ia punya di tangannya kepada gadis tersebut**.


Dan kini keduanya duduk berdampingan di taman belakang rumah. Menikmati malam tanpa kata. Dengan suara yang saling mengisi kepala masing - masing.


Kini keduanya saling terdiam, seraya menikmati kehadiran masing-masing dengan dinginnya semilir angin malam yang ikut menemani. Hening dan penuh dengan kesunyian. Hampa dan sirat akan luka.


"Udah malem, kita masuk yuk," ajaknya pada si gadis, namun yang diajak menggelengkan kepalanya pelan. Ia menolak, masih menikmati suasana malam yang kian lama kian mendingin.


"Enggak dulu deh ran. Papa masih sama keluarga barunya di ruang TV, gue gak mau ganggu. Lo duluan aja, ntar gue nyusul, " ujar gadis itu seraya tersenyum simpul.


Senyum yang indah namun begitu menyiratkan banyak luka.


Mendengar penuturan gadis itu, Kirana menghembuskan nafas pelan lalu kembali duduk di bangku taman yang nampak mulai mendingin karena cuaca.


"Del, mau sampe kapan lo kayak gini. Lo juga berhak bahagia Aradella," lirihnya pada si gadis. Yang tak lain adalah Della.


Namun yang diajak bicara hanya memalingkan wajahnya, seolah menolak untuk membahas hal sensitif tersebut.


Benar, sekarang ini Kirana dan Della sedang berada di rumah Della, Kirana menawarkan diri menginap setelah kejadian pembullyan yang dialami Della di sekolah tadi.


Papa Della, Cornelius tidak masalah dan tidak begitu perduli dengan itu dan mengijinkan Kirana untuk menemani Della malam ini.


Dan berkat itu pula, Della bebas dari gangguan kedua saudari tirinya, yang tampak geram karena kehadiran Kirana di mansion tersebut.


"Gue berhak bahagia ya ran?," tanya Della dengan terkekeh kecil, yang malah tampak seperti sedang mengejek. Mengejek dirinya sendiri. Ia bahkan tidak yakin dengan pertanyaan yang baru saja ia ajukan.


"Iya. Lo berhak. Makanya lo harus berubah. Keluarga yang dari dulu lo pertahanin udah gak ada Della," Kirana mencoba memberikan Della pengertian. Namun Della menggeleng lemah.


"Enggak ran, gue masih punya papa. Walaupun dia gak pernah merhatiin gue dan selalu fokus sama dua saudari tiri gue. Tapi sebenarnya dia sayang kok. Sama gue,"  ujar Della panjang lebar.


"Gue yakin ran, papa pasti mikir gitu,"


Kali ini Della berujar bukan karena ia yakin, tapi karena ia sedang meyakinkan dirinya sendiri, bahwa papanya masih menyayanginya, jauh di lubuk hatinya.


"Del," panggil Kirana, tampak mata Della yang sudah memanas dan mengeluarkan butirannya. Gadis bernama Aradella itu menangis. Runtuh sudah pertahanan yang telah ia bangun untuk menutupi perasaan kecewanya.


"Iyakan ran?, coba deh lo bilang ke hati gue sebentar, bilang kalo papa masih sayang banget sama gue. Bilang gitu biar dia gak sakit lagi ran," Della mengucapkan kalimat itu dengan bibir yang tersenyum dan mata yang mengeluarkan air.


Ia menepuk dadanya berulang kali, seolah tepukan itu akan setidaknya mengurangi rasa nyeri dan sesak yang ia rasakan. Matanya nampak berusaha mencari pembelaan di dalam netra milik Kirana.


"Del," kini runtuh sudah pertahanan Della, tangisnya sudah pecah dengan sempurna, Kirana langsung menarik Della ke dalam pelukannya dan mengelus surai hitam milik Della lembut.


"Lo gak perlu bersikap baik-baik aja Aradella, lo bukan robot, lo manusia. Dan manusia punya ambang batas kesabarannya masing-masing. Jadi stop untuk maksa diri lo buat terima semua perlakuan yang gak adil ini,"


Kirana terus mengelus surai milik Della, memberinya kenyamanan dan keleluasaan untuk menumpahkan segala emosi yang sudah lama dipendamnya.


"Kalo papa ninggalin gue, nanti gue sama siapa?, gue udah gak punya siapa-siapa lagi ran," lirih Della padanya, Della hanya punya papanya untuk saat ini.


"Lo masih punya gue. Lo punya Thania. Opa sama Oma juga bakalan ada buat lo. Di luar sana, lo juga masih punya orang yang sayang tulus sama lo, cuman ya belum ketemu aja,"


Kini gadis itu sudah melepas pelukannya.


"Sialan lo," maki gadis itu, hingga membuat Kirana tertawa.


Keduanya kini kembali menikmati semilir angin. Setelah suasana haru biru yang cukup menguras emosi, keduanya kembali larut dalam ketenangan yang tidak berujung itu. Hingga sebuah suara memecahkan keheningan.


"Gue juga ngalamin hari yang berat Del, tapi gue gak pernah nyerah sama hidup gue," ujar Kirana sambil menatap ke arah Della tersenyum.


Mendengar ucapan itu untuk pertama kalinya keluar dari bibir mungil Kirana, membuat Della memiringkan kepalanya menunggu kelanjutan dari kalimatnya.


"Gue... udah dilecehin sama pak Darwin Del. Sering banget malah," ucapan spontan yang keluar dari mulut Kirana sontak membuat Della terpaku.


Untuk pertama kalinya, ia mendengar penuturan jujur yang mampu menyayat hatinya hingga bahkan emosinya terpacu sampai ke ubun-ubun.


Ia menatap gadis itu lama. Ada rasa kasihan juga penyesalan di dalam netra indah itu.


"Udah Del, gak usah ditatap gitu. Gue gak bisa ngasih tau mama papa karena takut mereka kecewa, pak Darwin juga ngancam beasiswa gue bakalan dicabut kalo ngadu," jelas Kirana.


Penjelasan yang Kirana paparkan malah semakin membuatnya emosi.


'Udah aki-aki masih aja gak sadar diri. Mana bau tanah lagi' batin Della kesal.


"Tapi kan, lo bisa ngaduin ini ke komnas perlindungan anak ran. Jangan diem aja," akhirnya Della menyuarakan pikiran yang sedari tadi ditahannya, membuat Kirana tersenyum.


"Kalo gitu, mau bareng?," tanya Kirana pada Della, hingga membuat gadis itu mengernyit tak paham. Ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini melangkah.


"Apa?," Ulang Della bingung.


"Ke komnas perlindungan anaknya. Gue tanya mau barengan gak?, kan om Cornel juga kadang suka mukulin lo. Jadi ayok barengan, buat laporannya."


Mendengar jawaban Kirana, Della mendadak terdiam. Ah, benar juga. Ia tidak memikirkan tentang hal itu tadi.


Melihat Della yang tak kunjung menyahutinya , lagi-lagi membuat Kirana tersenyum, sesayang itu ternyata Della ke papanya.


"Kalo gitu jawabannya udah diputusin," ujar Kirana, menawarkan jari kelingkingnya pada Della. Yang mau tak mau Della kaitkan dengan jari kelingking miliknya.


"Kita buat janji," Kirana diam sebelum akhirnya melanjutkan.


"Sekeras apapun kehidupan yang kita jalanin, kita janji gak bakalan nyerah sama kehidupan kita," ujar Kirana, dan Della yang mendengar ikut tersenyum.


"Iya, janji," sahut Della. Lalu melepas kaitan jari keduanya dan kembali menikmati udara malam. Kini juga masih tanpa suara.


Tapi di sisi lain, gadis yang memulai janji itu tersenyum kecut seraya memegang perutnya yang tampak rata itu.


"Maaf Del, gue duluan yang akhirnya ingkarin janji ke lo. Maaf juga, gue jadi salah satu pemberi luka buat lo," bisik gadis itu dalam hati.


Tanpa Aradella sadari, malam itu akan jadi malam terakhir hari penuh kenangannya bersama dengan sang sepupu, Kirana Sadewa.