
...Hi!...
...Jangan lupa...
...like and comment ...
...Happy Reading...
......................
Bel berbunyi, menandakan waktu istirahat telah tiba. Della yang sedari tadi sudah menahan rasa laparnya langsung merangkul bahu sahabatnya untuk mengajaknya ke kantin bersama.
Sebenarnya, Della adalah siswi berwajah cantik dengan prestasi yang begitu membanggakan.
Sederet piagam penghargaan dan beberapa medali emas pernah ia raih berulang kali ketika ia mengikuti perlombaan mewakili nama sekolah.
Tak hanya cerdas dan pintar, gadis ini juga terlahir cantik dengan kepribadian yang begitu lemah lembut. Mungkin ini berasal dari gen ibunya.
Bulu matanya lentik, dengan lesung pipit di pipi sebelah kanan menghiasi kulit putihnya yang juga tak kalah menggoda.
Hidungnya mancung dengan bibir tipis pink alami serta alis yang rapi bagai wajah dewi yunani.
Tentu saja dengan segala kesempurnaan yang ia miliki, Della juga tumbuh dengan mempunyai kekurangan.
Seperti ia yang terlalu lemah lembut, hingga tak bisa untuk membela dirinya sendiri. Bahkan ketika dirinya direndahkan oleh orang lain, ia tak berkata apapun.
Padahal jika dipikir, apa salahnya sedikit menaikkan nada suaranya untuk membela diri sendiri yang tidak bersalah itu. Namun Della tak pernah melakukannya.
Entahlah, Della sepertinya berpikir dengan cara yang berbeda.
Diberitahupun, percuma. Della adalah gadis naif. Pikirannya hanya diisi dengan kalimat - kalimat kuno yang perlahan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Gue gak bisa naikin nada suara gue jadi tinggi, even satu oktaf. Gue takut lawan bicara gue bakalan sakit hati dan kecewa. I know how that feels - naif nya berulang kali.
Sebenarnya, Della sedikit munafik juga. Ia sudah mengumpati hampir seluruh orang yang pernah ia temui di dalam hatinya.
Tapi di lain sisi, ia juga bersikap seolah begitu bermasalah dengan hanya sedikit menaikkan intonasi suaranya.
Pikirannya yang naif justru terkadang juga menjadi tidak tertebak. Dan karena hal itulah, ia hanya memiliki seorang sahabat, gadis dengan mata bulat dan pipi chubby itu adalah sahabat Della.
Thania Agatha, gadis dengan tinggi semampai itu sudah menemani Della sedari smp. Bahkan selalu menjadi teman sebangkunya. Tapi untuk tahun ini, mereka tidak sebangku.
Thania bahkan sudah hafal betul dengan segala tingkah laku absurd milik Della. benar-benar definisi teman sefrekuensi.
"Thania, kuy ke kantin," ajak Della untuk yang kesekian kalinya tapi malah terus ditolak oleh gadis berpipi chubby itu.
"Males," kalimat itu terus menerus diulangi oleh Thania sebagai jawaban pada setiap ajakan yang Della tawarkan.
"Lo mah gitu, gerak aja males. Kebiasaan banget, gue udah laper tau. Buruan!"
Della menarik lengan Thania yang kini kembali menggelengkan kepalanya. Posisinya sudah siap untuk kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda.
"Sendiri aja sono," tolak Thania kembali.
"Gue traktirin deh," begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh Della, Thania buru-buru bangkit dan langsung menggenggam lengan Della cepat.
Langkahnya sengaja ia percepat untuk segera mengajak Della ke kantin yang mulai tampak dipadati oleh para siswa.
"Giliran denger yang gratisan aja, itu lo cepet," gerutu Della sembari memutar bola matanya malas melihat sahabatnya yang hanya menyengir kuda.
"Ya kali Dell, ada rejeki dateng gue tolak. Kalo ada sugar mommy yang mau bayarin gue, ngapain coba gue harus repot - repot ngeluarin uang sendiri,"
Thania berujar dengan santai dan hanya bisa membuat Della tambah geleng-geleng kepala. Sahabat satu - satunya itu benar-benar penyuka gratisan.
Langkah keduanya terhenti tepat di depan pintu kantin. Kehadiran mereka dicekal oleh beberapa anak perempuan, yang tampaknya sudah sangat rindu dengan Della.
Ya. Mereka rindu untuk membully gadis manis itu.
Dengan kedua sudut bibir yang terus terangkat, gadis yang sudah membully Della dari semenjak kelas 10 itu menatapnya remeh.
Thania yang menyadari hal itu segera menarik tangan Della untuk membelah benteng yang dibuat oleh si tukang bully beserta genknya.
Si tukang bully atau yang kerap disapa Angel itu menatap ke arah Thania tak suka. Sahabat dari Della itu selalu saja ikut campur dengan urusannya.
Ia mencekal tangan Thania, menahannya agar tak membawa Della masuk lebih jauh lagi ke dalam kantin.
Perempuan yang bernama Angel Rowsine itu belum menyelesaikan urusannya dengan Della, dan ia tidak boleh melewatkan kesempatan ini untuk menyiksa gadis naif itu.
"Lo bisa gak sih, sehari aja gak ikut campur urusan gue sama Della?" Tanya Angel kesal. Sedang yang ditanya hanya memutar bola matanya malas.
"Sekarang, gue tanya balik deh ke lo. Lo bisa gak sih, sehari aja gak usah gangguin Della? Heran, kayak ga punya kerjaan lain aja jadi orang,"
"Urusin noh, genk katrok lo itu biar gak bikin onar terus," balas Thania tak kalah sengit, membuat Angel menggeram kesal.
"Yang di bully juga bukan lo, kenapa sewot banget. Pengen jadi pahlawan kesiangan lo? "
Kini suara Angel benar-benar terdengar kesal. Ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Tangannya juga sudah ikut terkepal.
"Gak bisa ngeliat apa gimana? Maksud lo, gue harus diem aja gitu ngeliat sahabat gue sendiri di bully. Sorry to say ya, gue bukan lo. Udah ah minggir, ganggu orang mau makan aja lo,"
Ujar Thania sembari menghentakkan pergelangan tangannya yang dicekal oleh Angel dan menyeret tangan Della pergi.
Sedangkan yang menjadi topik permasalahan hanya diam tak menjawab. Pandangannya menunduk ke bawah.
Tidak ada seorangpun yang membelanya disini, bahkan gebetannya yang notabenenya sudah mengetahui semua tentang Della juga hanya diam menikmati drama itu.
Satu-satunya orang yang membantunya hanyalah Thania seorang. Sahabatnya itu sudah menjadi benteng tempatnya berlindung sedari dulu.
Ia berulang kali mengucap syukur, setidaknya siang ini, ia tidak harus mengenakan pakaian ganti yang dibawanya tadi pagi untuk jaga-jaga.
Dengan perasaan yang masih sedikit kesal, Thania menyuruh Della untuk duduk di kursi yang berada agak di pojokan. Mereka akan makan siang disitu.
"Lo mau mesen apa?" Tanya Thania dengan nada yang masih terdengar kesal.
"Samain aja kayak lo," jawab Della takut-takut. Thania bisa jadi menyeramkan jika sedang dalam mood yang tidak baik.
"Kalo ditanyain itu kasih saran dong Dell, lo pikir apa yang lo mau bakalan terwujud kalo lo ngikutin alur terus? Jangan bikin gue tambah kesel deh,"
Thania menyahut dengan nada yang semakin terdengar kesal. Ia menatap Della yang kini sudah memalingkan wajahnya.
"Lo kan tau sendiri, gue orangnya gak enakan. Mana bisa gue nolak apalagi ngebantah,"
Della berujar dengan pandangan yang menunduk ke bawah. Ia sedikit merasa sedih karena tampaknya ia telah mengecewakan sahabat baiknya itu.
"Gak enakan mulu lo jadi orang, dari pada makan hati terus mending lo coba buat berubah deh Dell,"
Thania berujar dengan mata yang menatap lurus ke dalam netra milik Della. Thania benar - benar merasa lelah dengan sifat tidak enakan milik Della itu.
"Gue gak mau ketika gue gak ada di samping lo dan lo ngadepin masalah kayak gini sendirian, lo malah tambah gak bisa ngapa - ngapain,"
Thania menghembuskan nafas lelah, ia mengelengkan kepalanya pelan.
"Kayak kerupuk kena air, lembek. Giliran sama gue aja, mulutnya lemes kayak cabe,"
Ucapan yang Thania lontarkan secara panjang lebar spontan mendapat tatapan horor dari Della. Gadis itu suka sekali berbicara fakta dengan nada ketus seperti itu.
"Gue pesenin nasi goreng seafood sama es jeruk ya. Siniin uangnya," final Thania yang akhirnya mengulurkan tangannya meminta diberi uang.
"Sialan lo, giliran masalah uang aja, gak lupa," maki Della yang akhirnya memberikan uang pecahan 50 ribu ke telapak tangan gadis itu, yang hanya dibalas cengiran ringan.
"Kembaliannya gue ambil. Ongkos buat belain lo tadi di depan Angel,"
Thania berujar santai seraya meninggalkan Della yang menatap sahabatnya itu tak percaya.
Thania beneran MVP gue hari ini. Mana gue diporotin mulu perasaan. Untung lu sahabat gue Niya.