Truth Or Lie

Truth Or Lie
daily life



"Kan, jadi inget masa lalu" ujarnya seraya tersenyum simpul.


......................


...Happy Reading...


......................


4 bulan sebelumnya...


Mentari bersinar dengan terang, menerangi kamarnya yang didominasi oleh cat berwarna hitam. Membuatnya harus menyipitkan matanya untuk menghalau cahaya yang masuk ke dalam ruangan.


Matanya mengerjab beberapa kali, mencoba memastikan bahwa memang ada sekelebat bayangan hitam yang sedang berdiri tepat di depan dirinya.


Bayangan itu terlihat seperti sedang membantunya untuk menghalau sinar matahari, yang bersinar begitu cerah serta menelisik ke dalam netra miliknya.


Ia tersenyum, tidak. Itu bukanlah sebuah senyum yang menyiratkan kebahagiaan. Ia sedang tersenyum untuk mengejek nasibnya yang malang.


Or soon to be malang!


Kini sudah dapat dipastikan. Pagi ini, drama sebelum memulai hari akan kembali dilanjutkan. Tidak ada pagi yang tenang di dalam kamus hidup miliknya.


Sedetik kemudian ia menyadari bahwa tubuh dan kasurnya basah, terkena siraman air yang sialnya berbau sangat menyengat. Dan tentu saja begitu menganggu indera penciuman.


Ah, ini hari-hari biasa yang ia lalui dimanapun ia berada. Bayangan yang berada tepat di depannya tersenyum mengejek.


'wajahnya jelek sekali' batin gadis itu kesal.


Ember yang tadinya berisi air juga sudah dilempar pemilik bayangan itu ke sembarang arah.


"Bangun Upik abu," ujarnya kemudian. Tentu saja tak lupa dengan gayanya yang seperti bos di dalam film.


Bibir keduanya sedikit tersungging dengan tatapan yang meremehkan.


Gadis yang dipanggil upik abu itu langsung mendudukkan tubuhnya di kasur, mencoba untuk tidak memancing emosi kedua gadis itu lebih lanjut.


Seolah merasa dirinya hebat, ia langsung tersenyum senang dan pergi meninggalkan gadis upik abu yang wajah dan tubuhnya sudah tertutupi cairan yang berbau menyengat itu.


Begitu gadis itu keluar, ia dengan langkah gontainya langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Pagi ini ia harus masuk sekolah, yang merupakan kegiatan yang telah ia jalani selama sebulan belakangan ini setelah liburan selesai.


Ah, sekolah. Memikirkannya saja sudah terasa begitu memuakkan, apakah tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk hidup di dunia ini?


Sudahlah. Semakin dipikirkan, semakin kuat keinginannya untuk meninggalkan kehidupan nyatanya ini. Sungguh menyebalkan sekali.


Gadis yang dipanggil upik abu itu hanyalah anak sebatang kara yang menompang hidup pada keluarga ibu tirinya.


Ia bernama Aradella Magenta Abraham. Gadis yang kerap disapa Della itu kini sudah berumur 17 tahun dan ia sudah hidup dengan keluarga tirinya semenjak dirinya berumur 7 tahun.


Tepat 10 tahun yang lalu, ayahnya menikahi ibu tirinya yang memiliki dua orang anak dari pernikahan lamanya.


Ayahnya yang bernama Cornelius Abraham adalah seorang pengusaha yang menjalankan usaha di banyak bidang sehingga dapat dikatakan bahwa ia bukanlah anak yang kekurangan akan materil.


Namun, semua berubah ketika ia dan ibunya mengetahui bahwa ayahnya berselingkuh dengan seorang janda muda yang sudah memiliki dua orang anak.


Perselingkuhan itu tidak pernah berujung bahkan hingga membuat ibu kandungnya, Steffi Remora Abraham bunuh diri.


Alasannya adalah karena ibunya tak sanggup menghadapi kenyataan dan pada akhirnya meninggalkan Della seorang diri di dunia yang kejam ini.


Ayahnya semakin menjadi-jadi tatkala mengetahui kematian istrinya sendiri. Bibirnya langsung dipenuhi senyuman, ketika semua orang sibuk menyayangkan kehidupan sedih Della kecil.


Ia juga dengan terang-terangan menikahi wanita yang menjadi selingkuhannya bahkan ketika gundukan tanah milik istri sahnya itu masih basah.


Sungguh definisi dari pria berengsek!


Awalnya, kehidupannya sama sekali tak terusik. Namun kedua saudari tirinya tampak tak bisa dengan mudah membiarkan gadis itu hidup dengan tenang.


Barbara Tefucra Solomon dan Britney Tefucra Solomon, dua orang gadis yang sangat tidak bisa melihat Della hidup dengan tenang. Bahkan di rumahnya sendiri.


Della sampai berulang kali menahan diri untuk tidak mengutuk kedua saudari tirinya yang bisa dikatakan sudah tidak memiliki kewarasan di dalam otak mereka lagi.


Seperti yang terjadi pagi tadi, Della seakan sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bisa mempertahankan dirinya. Ia hanya akan bersikap seolah menerimanya.


Gadis itu kembali tersenyum kecut, kala mengingat perbuatan tidak manusiawi yang mereka lakukan kepada dirinya


Bahkan ayahnya hanya diam tak menanggapi, mendadak buta dan seolah ini hanyalah hal yang tidak perlu untuk di permasalahkan.


Masalah anak - anak.


Hanya tiga kalimat itu yang selalu ayahnya katakan ketika ia mengadukan kelakuan kakak tirinya pada sang ayah.


Dan kini, ia sudah tak habis pikir dengan keluarga yang menurutnya sudah hancur itu. Atau setidaknya, begitulah tampak keluarga ini di matanya.


Jam sudah menunjukkan pukul 6.20 AM, Della sudah selesai berberes kamar. Kasur dan sprei yang tadi ia gunakan juga sudah dibersihkan. Terutama dari siraman got yang tadi menimpanya.


Kamarnya yang semula dipenuhi dengan bau got yang menyengat dan begitu mengganggu indera penciuman itu, kini sudah berganti dengan bau harum daphne yang khas dan menyegarkan indera penciuman.


Della sudah siap dengan seragamnya dan akan berangkat ke sekolah, ia tidak sarapan pagi. keluarganya tak membiarkan ia makan bersama mereka bahkan kursi makanpun sudah penuh.


Tidak, bukan penuh dalam artian yang sebenarnya. Ibu tirinya yang menggantikan meja makan luasnya dengan meja kecil yang hanya memuat empat kursi saja.


"Aku berangkat" Pamitnya pada keluarga yang sedang tampak asik menikmati sarapan pagi dengan diiringi tawa lepas, membuat Della sedikit iri.


"Della" Panggil pria yang tak lain adalah sang ayah kandung.


Della sedikit tersentak, ada perasaan haru saat mendengar papanya menyebut namanya setelah sekian lama keberadaannya seperti tak dianggap.


Ia tersenyum, memberikan senyum terbaiknya lalu menatap papanya dalam. Dan menyahuti papanya itu.


"iya pah?" ujarnya dengan senyum yang tertahan, membuat kedua saudari tirinya berdecih pelan.


"Uang jajan kamu udah papa transfer ke rekening, " ujar papanya singkat membuat Della sedikit membelalakkan matanya tak percaya.


Sumpah, dia dipanggil hanya untuk mengatakan hal itu?


"Sama papa mau minta tolong nak, "


Kini suara papanya tampak mulai melembut, membuat Della kembali berharap bahwa setidaknya terselip perasaan sayang di kalimat papa selanjutnya.


Namun yang terjadi malah lebih membuatnya melongo tak percaya.


"tolong kamu bantuin kedua kakak kamu itu buat ngerjain PR nya, malam ini mereka mau ke pesta temennya, "


Papanya berujar seolah perkataan yang diucapnya tadi adalah hal mutlak, membuatnya mau tak mau harus mengiyakan permintaan konyol itu.


Kedua saudarinya langsung memasang wajah mengejek dan melanjutkan makannya begitu mendengar persetujuan dari Della, membuat ia kembali meringis.


'Tau gitu gue gak bakalan nyaut anj-, ini yang anak kandung, gue atau dua mak lampir itu sih?' Batin della kesal


"kalo gitu Della berangkat ya pah" Della berujar lalu pergi setelah mendapatkan anggukan dari dari papanya.


'Mana gak disuruh makan lagi. Sialan!'


Sekarang satu-satunya tempat yang bisa ia tuju hanya sekolah, walaupun ia tahu. sekolah tidak jauh berbeda dengan rumahnya, sama-sama seperti neraka, hanya beda iblisnya saja.


And here we go again.....