
...JANGAN LUPA VOTE, LIKE AND COMMENT...
...HAPPY READING...
......................
Kirana sudah duduk terpaku di sudut koridor lantai dua, ia sudah memutari gedung ini untuk yang ke empat kalinya dan tak kunjung diarahkan jua ke lantai paling atas.
Badannya meringkuk memeluk lututnya, tubuhnya juga ikut terasa dingin. Seketika ada perasaan menyesal yang ia rasakan karena sudah berpikir untuk bunuh diri.
'Apa sekarang ia juga tidak diijinkan untuk mati?' Pikirnya seraya tersenyum kecut
Ia tidak ingin menjalani kehidupan melelahkannya lagi, jika ada orang yang bersedia menukar hidupnya dengan kematian. Kirana akan berdiri di barisan terdepan.
Matanya yang sembab karena terus menangis membuat tubuhnya menjadi lemas, ia rasa ia sudah tak bisa untuk bergerak lebih jauh lagi.
Begitu memikirkan hal itu, senyum tercetak jelas di bibirnya. 'Bukan ide yang buruk juga untuk mati dengan cara seperti ini' Batinnya kembali.
Tatkala Kirana mengatur bentuk kematian seperti apa yang akan ia pilih, dapat ia rasakan suasana yang tenang seketika tiba tiba berubah mencekam.
Aura disekitarnya terasa sangat berbeda, ada perasaan was - was yang menghampiri. Udaranya juga mulai mendingin, hingga membuat bulu kuduknya ikut merinding.
Awalnya Kirana merasa agak takut, tapi begitu menyadari bahwa kemungkinan terburuk yang dapat terjadi adalah ia yang akan mati, bibirnya tertarik membentuk senyuman.
Kini ia menatap sosok laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya, rahang yang tegas dengan sorot mata yang tajam serta bulu mata yang lentik dan hidung yang begitu mancung bak perosotan.
Tengah menatapnya dengan tatapan dingin yang ia punya, setelah Kirana lihat tampaknya mereka seumuran atau mungkin hanya setahun lebih tua darinya.
Pria itu hanya menatapnya tanpa berbicara sepatah katapun, dan Kirana sama sekali tak heran. Ia hanya tersenyum simpul.
"Kamu mau ngambil nyawa aku ya?, buruan. Jangan dilama-lamain. Aku juga udah gak sabar pengen mati," ucap Kirana sekenanya.
"...."
Tak ada sahutan dari lelaki yang berada di depannya itu, lelaki itu malah menatapnya kembali dengan senyum meremehkan.
"Kalo kamu kesini bukan untuk itu, tolong bawa aku keatas dong, biar aku bisa nyelesain masalah aku sendiri" pintanya kemudian.
...----------------...
Laki-laki itu mengernyit heran, ia menatap gadis di depannya ini tak mengerti. Namun tak urung ia juga menuntun gadis itu ke lantai atas. Tetap dengan tanpa berkata sepatah kata pun.
Ternyata hari sudah menjelang dini hari, Kirana tak menyadari hal itu sebelumnya karena sedari tadi ia hanya dibuat tersesat di labirin tak berujung itu.
Kini ia sudah berapa di rooftop gedung itu, menaiki pagar pembatas seraya menghirup udara malam yang tampaknya semakin mencekam.
Udara dingin menyapu tubuhnya yang hanya terbalut seragam sekolah, membuatnya agak menggigil kedinginan. Ia berulang kali menghirup - hembuskan nafasnya untuk mengatur pernafasannya.
Dari atas sini, dapat ia lihat lingkungan sekolah yang begitu sepi. Hanya diisi oleh lampu yang menyinari koridor gedung tanpa ada satu orangpun manusia yang berlalu lalang.
Ketenangan ini membuat Kirana larut sendiri dalam pikirannya. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Keputusannya untuk mengakhiri hidupnya juga semakin meningkat.
Ia menoleh ke belakang, mendapati lelaki itu dan segala jenis penghuni gedung beserta ***** bengeknya sedang menatap ke arahnya datar dengan wajah seram yang mereka punya.
Kirana memerhatikan wajah itu satu persatu, tampaknya ada beberapa yang masih mengenakan seragam sekolah sama seperti dirinya. Salah satunya adalah lelaki itu.
Kayaknya bentar lagi aku bakalan gabung ke situ deh , hehe
Kirana tersenyum kecut kala mengingat apa yang dipikirkan olehnya. Sudah di ambang kematian, tapi masih saja bisa bercanda.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah lelaki itu, menatapnya lekat.
"Kamu ganteng." Kirana berujar dengan spontan.
"......"
"Bisa deh kalo sama sepupu aku," Kirana kembali berbicara asal.
"Bilang sama dia kalau aku sayang banget sama dia, pengen dia berubah, pengen dia bisa ngebela dirinya sendiri," bibirnya tertarik kala mengingat wajah sepupunya sendiri dalam pikirannya.
"Soalnya kalau aku udah gak ada, itu si Thania bakalan kerepotan terus buat ngejagain itu anak. Tolong dibantu ya mas hantu,"
"......"
"Oke, makasih"
Ujar Kirana menjawab, padahal yang disuruh juga tidak mengatakan apa-apa. Masih menutup mulutnya dengan rapat.
Ia akhirnya mengalihkan pandangannya ke depan, benar-benar sudah siap dengan sepenuh hati untuk menjemput mautnya sendiri.
Hingga belum sempat ia melepaskan pegangan tangannya, satu suara terdengar membuatnya seolah mendapatkan pemikiran kedua selain bunuh diri.
"Kenapa gak bilang sendiri aja?" Satu suara yang terkesan dingin dan datar itu berhasil merebut perhatian Kirana. Suaranya rendah dan membuat bulu kuduk merinding.
Ia menoleh, melirik ke arah lelaki yang juga sedang menatapnya kini.
"Gak usah mati dulu, bantuin sepupu lo dulu," ujar laki-laki itu kembali.
Sedangkan Kirana, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini.
Untuk sepupunya itu, yah mereka tidak bisa dikatakan dekat juga lagipula. Dan keputusan Kirana juga sudah bulat. Ia menatap lelaki itu kembali seraya tersenyum.
"Kan ada mas hantu yang bisa bantu jagain, percaya deh. Dia anaknya baik kok. Cuma rada ngeselin aja terkadang," ujarnya sedikit terkekeh mengingat kembali tingkah laku sepupunya.
"Tolong ya mas hantu, aku titipin sepupu aku yang kepalanya sekeras batu Na'udzubillah itu. Tolong dijagain. Dari jauh juga boleh hehe,"
Selesai berujar hal itu, Kirana kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Ia sudah siap lahir batin sekarang.
Bibirnya terangkat, ia tersenyum simpul lalu mengelus perutnya yang masih rata itu pelan.
"Maafin mama ya sayang, habis ini kita bakalan sama-sama lagi kok. Maaf karena mama gak ngijinin kamu buat lihat dunia yang udah kejam banget sama mama,"
Gadis itu terus mengelus perut ratanya dengan air mata yang kini sudah berlinang. Runtuh sudah pertahanannya yang ia buat selama ini.
"Maafin mama karena udah gak ngijinin kamu ketemu sama papa kamu, sama nenek kakek kamu, sama tante kamu juga. Ada banyak alasan yang gak bisa mama bilang ke kamu,"
"Tapi nanti, kalo kita udah sama - sama lagi disana, mama pasti cerita kok, apalagi tentang tante kamu. Jadi untuk sekarang, tolong maafin mama dulu ya,"
Ia menarik nafas dalam, lalu tersenyum sebesar mungkin. Perjalanan hidupnya sudah berakhir sekarang.
Lembaran bukunya sudah ditutup. Dan ia tidak menyesal dengan keputusan yang telah ia ambil.
Sedetik kemudian tubuh nya ia rasa melayang, melawan gravitasi hingga akhirnya,
Buuugghhh..
Kepalanya jatuh menghantam tanah, tubuhnya ikut merasakan nyeri yang amat sangat dan darah yang mulai mengucur deras di seluruh tubuhnya. Ia tersenyum di antara rasa sakitnya.
Akhirnya perjalanan panjang aku udah sampai di penghujung. Selamat tinggal semuanya..
Selamat tinggal mama, papa, adek. Selamat tinggal sepupuku yang paling cantik dan baik hati, Della.
Dan kini, semuanya sudah selesai.
Kisah Kirana si gadis perebut medali emas dan juara nomor 1 telah sampai di lembaran terakhirnya.
6 Agustus dini hari, Kirana Sadewa telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Meninggalkan urusannya dan segala permasalahannya di belakang. Membuka chapter baru di kehidupan selanjutnya.
"Rest in Peace, Kirana."