
...Happy Reading...
.........
........
.......
Semilir angin malam yang perlahan menyapa melalui celah jendela, memberinya sedikit terpaan hingga membuat tubuh kecilnya menggigil kedinginan.
Matanya yang masih menutup rapat itu, juga terus berusaha mengeratkan pegangannya akan selimut yang ia kenakan. Berusaha untuk tetap hangat.
Ia menarik selimut itu hingga menutupi kepalanya, terus membenamkan diri agar terlelap dalam mimpi yang tampaknya malah semakin mengacaukan keadaan dirinya.
Suara jam yang terus berdetak pada tiap detiknya semakin kentara terdengar di telinganya. Mengalun detik demi detik seolah berada tepat di samping telinganya.
Suara detakan itu kian menguat dengan terciumnya aroma lavender di seluruh penjuru kamar, membuat si empu menelan salivanya pelan.
Nafasnya mulai tercekat, bau itu juga semakin menguat tiap detiknya, bahkan kini punggungnya ikut terasa lebih dingin dari biasanya.
Ia menahan nafas pelan, tangannya mengepal kuat. Pikirannya kosong dengan wajah yang kacau. Ia berkata dengan suara yang cukup pelan.
"Gue tau lo bakalan dateng."
Tak ada sahutan, hanya terdengar suara dentingan jam yang sayup-sayup terasa seperti menghilang, hingga telinganya kembali terasa dingin.
Dalam keheningan itu, ada sebuah suara yang dengan cukup halus berbisik padanya hingga membuat seluruh tubuhnya ikut meremang seketika.
"Lo seharusnya gak bawa gue pulang dan buat gue tertarik. Della!"
Gadis yang bernama lengkap Aradella Magenta Abraham itu kembali menelan salivanya kasar, ia tidak menyangka pria yang berbaring tepat di belakangnya kini dengan terang-terangan mulai menunjukkan niat yang ia miliki kepadanya.
Atau mungkin ia sudah melakukannya sedari dulu namun Della tak pernah menyadarinya?
"Terus lo mau apa?" Tanya Della dengan nafas yang mulai tercekat.
"Simple. Jadi milik gue." ujar pria itu dengan sedikit tersenyum simpul, menampilkan smirk khas miliknya.
Yang bahkan meski tak Aradella lihat, ia tahu itu dimaksudkan untuknya seorang.
"Kalo gue mau jadi milik lo. Apa lo bakalan berhenti buat ganggu orang-orang terdekat gue?" Tanyanya memberanikan diri.
Ia berani mempertaruhkan semuanya jika lelaki ini mau setidaknya mencoba.
"Tergantung kesepakatan apa yang mau lo ajukan,"
Lelaki itu menjawab seadanya. Tanpa berniat untuk melanjutkan kalimatnya membuat Della kembali terdiam.
Ia kembali memikirkan apa yang harus ia ajukan sebagai ganti ketenangan yang akan pria itu berikan pada orang-orang terdekatnya.
Pria ini posesif, Della harus berpikir dua kali untuk bisa mengelabuinya, atau setidaknya ia harus bisa melepaskan orang yang tak bersalah terlibat di masalahnya.
Gadis itu akhirnya membalikkan badannya, menatap lelaki yang kini berbaring tepat di sampingnya, yang bahkan tak sedetik pun berhenti menatap gadis itu.
Pria itu, Theodore Earl Robinson. Pria yang tentunya berbeda dunia dengan Della itu masih terus menatapnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
Dingin dan penuh amarah.
"Gue mau jadi milik lo, tapi lo harus lepasin semua orang-orang yang enggak bersalah itu. Gimana?"
Itu adalah satu-satunya penawaran yang bisa Della ajukan, nyawa semua orang di pertaruhkan disini. Lelaki ini bukanlah lawan yang mudah.
Sekilas, lelaki itu menatap Della lekat, hingga membuat tubuhnya kembali menegang sempurna.
Ada perasaan terintimidasi yang diberikan oleh lelaki itu kepadanya. Bahkan Della tak bisa berkutik darinya. Perasaan itu tidak nyaman.
Pria itu tersenyum simpul, lalu mengarahkan tangannya untuk mengelus surai hitam milik Della dengan lembut.
Matanya tak sedetik pun berhenti menatap gadis di depannya itu. Tangannya juga ikut mengelus dengan penuh kelembutan.
"Apa perlu lo berkorban sampai segitunya?" Tanya cowok itu tanpa melepaskan pandangannya dari Della hingga membuat Della mengernyit tak paham.
"Mereka bukan orang yang layak buat lo kasihanin, kenapa lo sampai ngorbanin diri lo ke gue cuma demi membebaskan orang yang gak tau terima kasih kayak mereka?, hm?"
Cowok itu kembali bertanya dan masih mengelus surai milik Della lembut, hingga membuat gadis itu terdiam. Ia cukup sadar dengan hal itu.
Benar apa yang dikatakan oleh cowok itu, mereka orang yang tidak tahu terima kasih. Sudah berapa banyak Della berkorban hanya untuk membahagiakan mereka.
Namun balasan yang Della terima malah terkesan sangat buruk. Ia kembali teringat akan masa lalu.
Tanpa sadar, matanya mulai memanas, butiran air yang sedari tadi ditahannya pecah. Ikut turun bersamaan dengan perasaannya yang tak karuan.
Ia menangis, membuat lelaki itu menatapnya sendu, dan tanpa sadar, Della sudah mengulurkan tangannya minta dipeluk.
Seolah mengerti bahwa gadis di depannya sangat membutuhkan kehangatan saat ini, ia memeluk gadis itu, mendekap erat ke dalam pelukannya.
Hingga yang tersisa sekarang hanyalah suara tangisan Della yang perlahan mulai berhenti. Ia sudah mulai agak tenang.
Tampaknya gadis itu nyaman berada dalam pelukannya, hingga bahkan setelah ia tenang, gadis itu tak kunjung melepaskan pelukannya membuat lelaki itu tersenyum simpul.
"Lo dingin," Ujar gadis itu tiba-tiba tapi malah tetap mengeratkan pelukannya. Tak berniat untuk melepasnya sama sekali.
"Kan gue bukan makhluk hidup kayak lo," Pria itu meresponnya dengan terkekeh pelan. Sambil terus mengeratkan pelukannya.
Lucu sekali, pikirnya.
"tapi pelukan lo nyaman." ujar Della dengan kepala yang terus mendusel-dusel pada dada bidang milik Theo yang kekar itu, membuat Theo kembali tersenyum.
"Kalo nyaman, ya udah jangan dilepas." Ujarnya kemudian, dan lagi kembali mengeratkan pelukannya.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara deru nafas Della yang kian memberat. Gadis itu sudah mulai mengantuk, matanya juga kini ikut memberat.
Melihat gadis yang nyaman berada dalam pelukannya itu mulai mengantuk, ia lagi-lagi kembali tersenyum.
Ia kembali mengeratkan pelukannya, memberikan kenyamanan sebaik mungkin untuk gadis itu. Gadis miliknya.
Hingga dapat ia lihat dengan jelas, bahwa gadis itu tersenyum.
"lo tadi tanya ke gue, kenapa gue rela ngorbanin diri gue untuk mereka yang gak seberapa itu kan?" Della kembali bersuara dan diangguki oleh Theo.
"Jawabannya juga simple. Gue rasa, gue cinta sama lo. Jadi bawa gue pergi kemanapun lo pergi, gue bakalan ikut,"
Itu adalah kalimat terakhir yang gadis itu ucapkan sebelum ia akhirnya benar-benar terlelap ke dalam mimpinya.
Theo tersenyum, ia mengecup kening gadis yang berada di pelukannya itu lama. Kini gadis yang selama ini diidam-idamkan olehnya, ternyata balik mencintainya.
"Kalo gini kan, gue jadi gak pengen ngelepas lo lagi," ujarnya kembali seraya terus mengecup pucuk kepala gadis yang dicintainya itu.
Kenangan tentang pertemuan pertama mereka kembali terputar di ingatannya, ia kembali mengingat takdir yang membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
"Kan, jadi inget masa lalu" ujarnya seraya tersenyum simpul.