
Pagi datang, menyapa seraya membawa semilir angin bersamanya. Membuat gadis berumur 17 tahun itu membuka matanya dengan paksa. Memaksa jiwanya untuk berkumpul dan bersatu dengan sang tubuh.
Pagi ini juga cukup mendung, awan hitam tampak bergerak kesana kemari mengumpulkan kawanannya. Membentuk gumpalan hitam yang hampir menyapu sepanjang langit yang terlihat. Membuat gadis itu dengan malas bergerak ke kamar mandi.
Ia melangkahkan kakinya dengan langkah yang pelan serta perlahan, badannya masih tak kuasa untuk meninggalkan singgahsana kasur yang telah membuat nyaman tubuhnya.
Namun, jika ia bermalas-malasan, maka akan dapat dipastikan jika nanti ia akan kehujanan. Dan tentu saja hal ini, adalah hal yang sangat ia hindari.
Tidak..ini bukanlah perkara karena keluarganya tidak memiliki mobil untuk ia tumpangi maupun kendarai.
penyebab semua ini adalah karena sang ibu tiri melarang semua orang untuk mengantarkannya ke sekolah, dengan menggunakan kendaraan pribadi yang ada di rumah. ia harus mandiri katanya.
Sebenarnya jika ada yang harus disuruh untuk mandiri, Della akan mengajukan kedua nama saudari tirinya itu. Kamar sendiri saja tidak bisa mereka bersihkan.
Bukankah orang yang paling membutuhkan kemandirian saat ini adalah kedua putrinya, benar-benar definisi ibu tiri sejati memang.
Karena larangan itulah, Della terpaksa menaiki ojek online untuk berangkat ke sekolah. Dan tentu saja, ayahnya akan menutup mata untuk permasalahan yang dianggap sepele ini.
Definisi sebenarnya dari anak kandung rasa anak tiri. Bangsat memang, tapi gadis berlesung pipit itu juga tidak bisa berbuat apa-apa karena pendirian konyolnya.
Tidak ingin menyakiti orang lain, padahal jelas-jelas ia disakiti dengan mudahnya.
Tak berlama-lama kini ia sudah siap dengan seragamnya, ia mengambil backpack nya dan segera berangkat menuju ke sekolah.
Tentu saja tak lupa berpamitan pada keluarga yang bahkan tak memerdulikan kehadirannya sama sekali. Hanya menganggapnya bak angin lalu.
Awan nampak menghitam di atas kepalanya, ia harus buru-buru berangkat ke sekolah sekarang. Tak lupa bang ojol dengan setia menemani perjalanannya.
"Jangan lupa kasih bintang 5 ya neng," ujar pria yang merangkap sebagai tukang ojek online ini.
"Aman bang, kalo saya nyampe di sekolah nya enggak basah. Kalo ada bintang 6, semuanya saya kasih ke abang, ayok bang. Jalan," ujarnya kemudian setelah ia memakai helm yang ditawarkan oleh abang ojek online itu.
...****************...
Jam menunjukkan pukul 6.45 pagi, sudah banyak siswa yang masuk ke dalam pekarangan sekolah. Pintu gerbang yang terbuka juga sudah tidak sebesar sebelumnya.
Kegiatan masih berjalan dengan normal seperti biasanya, sesekali terdengar canda tawa riang yang membahana memenuhi seantero sekolah.
Perpustakaan sendiri belum buka, jam bukanya berkisar antara jam 9 pagi hingga jam 3 sore. Jadi sangat jarang orang berlalu lalang di dekat gedung yang terletak di ujung sana.
Bukan hanya jarang, bahkan dapat dipastikan sebelum jam 8 pagi, tidak akan ada yang berlalu lalang kesana, termasuk penjaga sekolah.
Mitos mengenai penunggu gedung sudah menjadi urban legend di sekolah ini sendiri. Jadi tak jarang, semua orang menghindari gedung tersebut.
Hingga sangat memungkinkan apabila mayat seorang gadis, yang kini darahnya telah mengering itu belum ditemukan. Karena tak ada seorang pun manusia yang berjalan ke arah sana.
Hingga akhirnya, sebuah teriakan yang memekik dan menganggu indera pendengaran memenuhi seantero sekolah. mengundang panik dan rasa penasaran setiap orang yang mendengarnya.
Aaaaa.....
Teriakan itu cukup kencang hingga menimbulkan kepanikan yang mencakup seluruh masyarakat sekolah, tak terkecuali dengan Della yang baru saja sampai dengan tumpangannya.
Ia mengembalikan helm itu kepada abang ojol yang masih menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Apaan bang, gue juga enggak tau itu teriak-teriak kenapa, jadi gak bisa cerita," potong Della, seolah mengerti arti dari tatapan si abang ojol.
Della yang tidak percaya dengan hal begituan kali ini dibuat merinding, tiba-tiba saja ia mendadak seperti percaya pada hal mistis.
Padahal dulunya Della sangat anti percaya dengan hal-hal berbau mistis.
No mistis-mistis club.
"Apaan sih bang, nakutin gue aja. Udah bang ini ongkosnya. Kembaliannya buat abang aja," ujar Della dengan bulu kuduk yang masih merinding mengingat perkataan sang ojol.
"Itu gedung yang paling ujung paling angker neng, mendingan gak usah deh buat kesana. Takut nya ntar kenapa-napa lagi," nasihat abang ojol sebelum akhirnya pergi meninggalkan Della dengan segala kecengoannya.
'Tanpa dikasih tau juga, gue gak bakalan kesana bang. Ya kali, gue gak sayang nyawa.'
Tanpa menggubris perkataan bang ojol tadi, Della berjalan menuju ke arah kelasnya, tapi ia kembali dibuat penasaran dengan adanya mobil polisi dan ambulance di pekarangan sekolah.
Ia tidak menyadari ambulance dan mobil polisi yang masuk karena keasikan mengobrol dengan abang ojol.
Dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu, ia mendekati kerumunan siswa dan siswi beserta guru yang sedang mengerumuni seorang mayat perempuan yang tampak mengenakan seragam sama seperti miliknya.
Mayat perempuan?
Della semakin mendekatkan dirinya ke dalam kerumunan itu, hingga akhirnya dadanya mencelos begitu melihat tubuh dan wajah yang telah terbaring kaku di depannya.
Kirana?
Tess...
Air Matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Pelupuk yang menahan gumpalan air itu sudah tidak tertolong lagi. Gadis itu mulai menangis.
Bukankah kemarin gadis itu - kirana - masih baik-baik saja. Bahkan mereka juga sempat menghalu mengenai masa depan.
Apa-apaan pemandangan tidak lucu ini. Ini bukan saatnya untuk bercanda.
Gadis itu langsung berlari ke arah mayat Kirana, namun ditahan oleh petugas kepolisian, membuatnya meronta-ronta di dalam cekalan polisi itu.
"Pak itu, sepupu saya pak. Sepupu saya," rintih Della, kini tangisnya sudah sempurna pecah. Air mata yang sedari tadi ia tahan, telah runtuh.
Hatinya terasa sakit, Della bahkan tidak bisa memercayai penglihatannya sendiri, ini terasa seperti mimpi untuk dirinya.
Ia tidak menyangka gadis itu akan meninggalkan Della sendirian di dunia yang kejam ini.
Bukankah keduanya berjanji untuk tidak menyerah pada kehidupan, sekeras apapun itu?
Apa-apaan dengan pengingkaran janji ini, Della akan berubah jika Kirana menghentikan semua prank ini. Della berjanji.
"Ran, bangun. Gue janji buat berubah kalo lo bangun ran. Jangan tinggalin gue," Della masih merintih pada tubuh kaku Kirana.
"RAN, LO JANJI GAK BAKALAN NINGGALIN GUE. KENAPA LO INGKAR RAN?," Della kembali melawan cekalan pak polisi itu, ia ingin membangunkan kirana detik ini juga.
"KIRANA, LO GAK MUNGKIN NYERAH KARENA HAL KAYAK GINI. LO ITU KUAT, JADI CEPATAN BANGUN RAN. INI UDAH KETERLALUAN RAN, GAK LUCU." Della yang masih tak bisa berpikir dengan baik dan mengucapkan hal tersebut.
"KIRANA. BANGUN. GUE BILANG BANGUN. INI GAK LUCU ANJING. GUE GAK SUKA BERCANDAAN LO, GUE BILANG BANGUN. GUE MOHON RAN," lagi lagi Della meluapkan emosinya pada tubuh kaku Kirana.
Dan permintaan konyol Della tidak akan pernah terwujud. Gadis itu, jantungnya sudah tidak berdetak lagi.