Truth Or Lie

Truth Or Lie
Kenyataan Pahit



Tubuh yang sudah tidak bernyawa itu akhirnya diizinkan untuk Della sentuh setelah tim forensik mengambil beberapa sample dan foto sebagai barang bukti untuk dilakukan penyelidikan.


Ia menangisi gadis itu dengan begitu sendu, perasaannya hancur ketika memikirkan kenangan diantara mereka serta janji yang telah mereka sepakati sebelum hal ini terjadi.


Janji untuk tidak menyerah pada kehidupan mereka, sekeras apapun hidup itu menekannya.


Dan Kirana menjadi orang pertama yang mengingkari janji diantara mereka. Dalam tangisannya, ia tiba-tiba teringat dengan kisah yang pernah Kirana ceritakan padanya.


Kisah pahit yang menjadi awalan dari janji yang mereka bagikan bersama. Kisah tentang Kirana yang dilecehkan oleh pak Darwin. Guru pembimbing yang telah ia percayai dengan sepenuh hati.


Della tahu tentang itu, dia bahkan mengetahui sampai detail terkecil yang terjadi di antara mereka. Gadis itu menatap pak Darwin yang masih berada di dalam kerumunan itu benci.


Namun, bola mata Della nampak membesar, terkejut dengan apa yang ia lihat dengan penglihatannya. Mata yang berair, dengan hidung yang meler. Apa-apaan ini, apa pria hidung belang itu baru saja menangisi kematian Kirana?


Della rasanya ingin tertawa sekarang. Apa ini cara barunya untuk menarik simpati semua orang. Jelas-jelas pria bejat itulah penyebab Kirana bunuh diri. Lalu kenapa ia bertingkah layaknya keluarga korban yang baru saja ditinggalkan sekarang?.


Dengan emosi yang memuncah, Della untuk pertama kalinya mengeluarkan uneg-unegnya di hadapan semua orang. Memaki dengan sisi yang tidak pernah Della tampilkan sebelumnya.


"INI GARA-GARA LO ANJING. KIRANA SAMPE BUNUH DIRI KARENA LO. KENAPA SEKARANG LO NANGIS HAH?, MERASA JADI KORBAN LO?," Della memaki ke arah pak Darwin dengan jari yang terus menunjuk ke wajahnya.


"Della, kamu tenang dulu nak," tegur salah satu guru, ia sedikit terkejut melihat Della berkata kasar seperti itu. Terlebih kalimat itu ia tujukan kepada seorang guru.


"APA?, IBU MAU BELAIN BAJINGAN ITU?, PADAHAL EMANG JELAS-JELAS DIA YANG SALAH. KALO BUKAN KARENA DIA, KIRANA GAK AKAN BUNUH DIRI. TANGGUNG JAWAB ANJING," Della kembali memaki pak Darwin yang tampak kaku. Gadis di depannya mengetahui rahasianya rupanya.


"Della, kenapa kamu bicara seperti itu, gak baik nuduh guru begitu nak. Ibu tau kamu lagi terpuruk karena kematian Kirana. Tapi bukan berarti kamu bisa nuduh orang sembarang begitu, apalagi tanpa bukti,"


Seorang guru perempuan, tiba - tiba ikut menanggapi. Raut wajah kecewa dengan guratan kesedihan palsu tampak dibuat - buat di depan muka Della.


Della yang mendapati itu, memasang senyum meremehkan diwajahnya. Ia tahu betul rahasia yang ada di antara para guru penjilat di sekolahnya ini.


"kenapa? Mau belain pak Darwin lagi buk?. Takut gak bisa naik jabatan, karena udah gak bisa ngejilat adik dari ketua komite sekolah?" Della berujar dengan senyum meremehkan meski air mata tak berhenti jatuh dari pelupuk matanya.


Wajah sang guru berubah pias. Ia tidak terima dipermalukan di hadapan warga sekolah dengan cara seperti ini. Tangannya terangkat lalu menampar pipi Della keras.


"jangan kurang ajar kamu ya. Berani sekali kamu ngomong gak sopan kayak gitu sama orang tua. Gak pernah diajarin sopan santun sama orang tua kamu ya?," sang guru menatap Della emosi.


Dapat Della rasakan pipinya memanas, akibat tamparan keras dari sang guru. Sakit, tapi ini tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang sering ia dapat dari ayahnya.


"iya gak diajarin. Soalnya orang tua saya udah gak ada. Lagian ibu apa kurang sih, ngakunya guru tapi kelakuan rendahan kayak gini. Gak malu sama title bu?" Della kembali berujar memanasi.


Mendapat bantahan keluar dari mulut Della, sang guru kembali naik pitam dan berusaha kembali menamparnya, namun sudah terlebih dahulu ditahan oleh guru yang lain.


Keheningan memadati seluruh area yang berkerumun tersebut. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa, semuanya terdiam dengan pikirannya masing - masing. Sampai akhirnya sebuah suara muncul, memecah kekalutan tersebut.


"Della. Bapak mohon, kamu jangan sembarang tuduh nak, bapak tau kamu ngerasa kehilangan, tapi kita disini semua juga ngerasa kehilangan nak,"


"jadi tolong, kamu perbaiki kalimat kamu ya, guru - guru pasti maafin kamu kok, ini semua terjadi karena kamu lagi gak bisa berpikir dengan benar," pak Darwin berkata dengan suara yang lembut, seolah-olah berusaha menenangkan emosi gadis itu.


Della yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak percaya pria itu akan bersikap bijak setelah apa yang ia lakukan pada sepupunya itu.


"BANYAK BACOT BANGSAT, JANGAN PIKIR GUE GAK TAU APA YANG UDAH LO LAKUIN KE KIRANA. LO LECEHIN DIA ANJING. GURU MACAM APA LO. GAK PUNYA OTAK,"  tutur Della kasar.


"KALO LO MASIH PUNYA MALU, LO GAK AKAN BERTINGKAH SOK BIJAK DAN POLOS KAYAK GINI. LO HARUSNYA NYERAHIN DIRI KE POLISI, ORANG KAYAK LO, CUMA PENJARA TEMPAT YANG COCOK."


"KENAPA? GAK TERIMA GUE BILANG KAYAK GITU? SADAR UMUR PAK. KALO MAU BEGITUAN, YANG HARUSNYA LO CARI ITU ISTRI, BUKAN ANAK DI BAWAH UMUR LO PAKSA MENUHIN HASRAT GILA LO ITU BANGSAT,"


"DELLA!" pak Darwin menyebut nama Della dengan seluruh kekuatannya, tampak urat menyembul dari balik lehernya yang kurus itu.


Semua yang mendengar hal itu terlonjak kaget, fakta itu seolah menampar beberapa siswa yang pernah menjadi korban pak Darwin juga.


Melihat Della yang berani mengutarakan hal memalukan itu di depan semua orang, para siswi yang menjadi korban pak Darwin dulu juga kini ikut menimpali. Seolah sekarang adalah saat yang tepat untuk mengutarakan fakta itu.


"Bener pak polisi, tahan aja. Saya juga korban dia pak," ujar siswi A


"Iya pak, kalo bisa yang lama pak, saya gak pengen lihat mukanya lagi pak, saya trauma" ujar siswi B


"Penjara seumur hidup aja pak, kalo bisa sampe membusuk di penjara, biar saya bisa maafin diri saya pak" tambah siswi C


Mendengar pengaduan dari siswi-siswi yang tampaknya adalah korban dari penjahat kelamin Darwin. Membuat polisi langsung mengangkat borgol dan menahannya.


"Saya gak salah pak, anak - anak ini cuma bercanda. Mereka bohong pak," bela diri pak Darwin.


"Anda bisa menjelaskannya lebih lanjut di kantor polisi," ujar pak polisi.


Begitulah akhirnya pak Darwin diseret ke kantor polisi untuk diadili dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya.


Melihat pak Darwin yang dibawa pergi oleh polisi, Della langsung membelai lembut surai milik mayat Kirana yang sudah kaku itu.


Ia tersenyum di antara tangisannya yang sudah tidak terbendung itu. Tangannya yang gemetar terus ia paksakan untuk mengelus surai milik sepupunya.


"Lo yang tenang ya disana. Pak Darwin nya udah ketangkep. Dendam lo udah kebales kan?, Karena sekarang lo udah pergi, gue bakalan ngikutin jejak lo juga kok. Tapi gak sekarang, tungguin gue ya,"


Itu adalah kalimat terakhir yang Della bisikkan secara sesegukan pada tubuh kaku Kirana, sebelum akhirnya mayatnya dibawa pergi dari sekolah menuju ke rumah sakit.


Thania yang melihat Della lemas seperti hampir pingsan, langsung menghampirinya dan memeluk Della erat, menyalurkan ketenangan serta mencoba memberikan ketenangan yang ia punya untuk Della.


Ia tahu ini berat, terlebih keduanya sama-sama menjalani kehidupan yang berat dengan versinya masing-masing.


Thania tidak bisa berbohong dengan mengatakan bahwa ia tahu bagaimana rasanya, karna nyatanya ia tidak tahu sedikitpun apa yang Kirana maupun Della rasakan.


Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah memberinya sedikit pelukan untuk meredakan semua emosi di dalam diri Della. Ia tidak mau Della jadi tidak bisa berpikir dengan jernih, dan melakukan hal - hal yang nantinya akan membuat ia menyesalinya.


"Malam ini lo nginep di tempat gue aja ya," pinta Thania khawatir.


Ia khawatir, Della akan semakin tertekan apabila Della pulang dengan kondisi yang seperti ini. Kedua mak lampir beserta nek lampir itu, pasti tidak akan membiarkan Della berduka walaupun hanya sebentar saja.


Permintaan yang diajukan oleh Thania diangguki oleh Della, ia benar-benar butuh seseorang untuk mendukungnya saat ini.


Ini merupakan salah satu titik terberat dalam hidupnya. Kehilangan seseorang yang punya semangat hidup sama dengannya.


'Gue beneran gak tahu mana yang lebih baik, kehilangan seseorang yang memiliki semangat hidup yang sama dengan gue atau kehilangan semangat hidup yang telah gue punya selama ini'


Kalimat itu, adalah kalimat terakhir yang Della ingat ia pikirkan. Sebelum akhirnya, tubuhnya ambruk dengan rasa sakit di kepala yang mendera. Della pingsan.