Truth Or Lie

Truth Or Lie
Dark Side



...Jangan lupa comment and like!!...


...HAPPY READING...


......................


Diseberang bangunan sekolah yang berdiri dengan megahnya itu, terdapat sebuah bangunan berlantai tiga yang sudah tidak digunakan lagi untuk sekian lamanya.


Cat gedung itu juga sudah mulai nampak mengelupas, dengan beberapa jendela gedung yang sudah kehilangan fungsi utamanya serta sarang laba - laba yang mulai memenuhi seisi gedung. Bahkan terlihat dari luar.


Gedung yang terlihat bak bangunan terbengkalai itu, memang sudah tidak digunakan lagi semenjak kejadian kebakaran yang menimpa sekolah ini 2 tahun silam.


Kebakaran yang merenggut 15 nyawa siswa termasuk guru itu, memang sangat menggemparkan seluruh kota.


Bangunan yang diiming - iming menjadi bangunan terbaik semasa kejayaan sekolah itu, pada akhirnya malah merenggut nyawa siswa dan guru disana.


Karena peristiwa kebakaran yang terjadi, sekolah bahkan sempat ditutup selama beberapa minggu. Sebagai bentuk peringatan, dari peristiwa naas yang menimpa siswa dan guru tersebut.


Gedung itu kini memang sudah melalui tahap renovasi beberapa kali, namun pada akhirnya hanya membawa petaka yang berujung pada penutupan gedung tersebut.


Puncak kejadiannya terjadi pada pertengahan semester di tahun lalu, di saat para siswa dan juga guru dihebohkan oleh berita menghilangnya tiga orang siswa.


Menghilangnya ketiga siswa tersebut, yang sedang mengikuti ujian susulan di kelas yang berada di ujung koridor di lantai 3 cukup menjadi berita yang kembali menggemparkan seantero sekolah.


Siswa dan siswi mulai menghindari kelas tersebut dan bahkan menolak untuk diajar apabila harus berada di gedung yang mulai saat itu di klaim sebagai salah satu tempat angker di sekolah.


Semenjak peristiwa itu pula, rentetan kejadian aneh mulai terus mengikuti serta dialami sendiri oleh murid atau bahkan guru itu sendiri.


Dimulai dari kelas yang sudah dirapikan mendadak berantakan, terdengar suara tangisan hingga bahkan kecelakaan seperti terjatuh dari tangga atau bahkan tertimpa lemari.


Setelah semua berita tentang peristiwa mencengangkan dan memacu adrenalin itu membanjiri seluruh sekolah, pihak sekolah pun akhirnya memutuskan untuk menutup gedung tersebut.


Rapat dewan sekolah diadakan, dan pada akhirnya sekolah memilih untuk menutup segala akses yang berkaitan dengan gedung bekas terbakar itu.


Namun karena kekurangan biaya pada saat itu, pihak sekolah kembali dipaksa untuk mengambil keputusan sulit dengan menggunakan lantai dasar gedung tersebut sebagai perpustakaan.


Awalnya tidak ada yang aneh sama sekali, tapi perlahan kejadian-kejadian tak mengenakkan pun mulai terasa.


Dan semenjak itulah perpustakaan itu hanya membuka jam kunjungan hingga jam 3 sore hari, karena lewat jam tersebut, biasanya sudah tidak ada lagi murid yang mau berkunjung.


Dan gedung yang sedang diceritakan itu, adalah gedung yang berada tepat di depan mata Della sekarang ini.


Ia sedang berkunjung ke perpustakaan, ada beberapa materi yang membutuhkan referensi dari buku-buku tebal yang jarang sekali Della baca.


Pintu masuk perpustakaan berada tepat di samping anak tangga yang bergerak menuju ke lantai dua gedung tersebut.


Della memperhatikan tangga yang tampak seperti labirin tak berujung itu dengan seksama. Diujung tangga yang agak gelap itu terlihat ada sebuah pintu yang tampak sudah mulai berkarat dengan dua gembok besar yang menyegelnya.


Seolah memberitahu siapapun, untuk tidak mendekat dan masuk lebih jauh.


Suasananya terasa begitu mencekam, keheningan bahkan aroma yang tercium di sekitarannya juga ikut terasa sangat menyeramkan.


Ia menepis segala pikiran buruk yang memenuhi isi kepalanya dan bergegas masuk ke dalam perpustakaan, mengabaikan seluruh bisikan yang serasa menyuruhnya untuk menaiki tangga terlarang itu.


...----------------...


Derap langkah kian terdengar menapak, memecah keheningan yang tidak bertuan itu. Seolah mengusik segala ketenangan yang sedari dulu tidak pernah berhenti terjalankan.


Telapak dari kaki mungilnya terus ia seret membentuk langkah yang berjalan ke arah balkon yang terletak di lantai tiga, diiringi dengan suara isakan tangis yang terdengar begitu menyayat hati.


Betapa memilukannya


Gadis itu, sepertinya sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Hal itu begitu terlihat dari raut wajahnya yang nampak menggelap.


Andaikan ia diberi kesempatan untuk mati, ia akan dengan senang hati memilihnya. Namun tampaknya, kematian bukanlah garis takdir yang ditorehkan untuknya. Tidak sampai sekarang.


Gadis yang bernama Kirana Sadewa itu, kini sudah berada di gedung terbengkalai yang ada di sekolahnya. Meniti setiap langkah yang ia harap adalah langkah terakhirnya.


Berharap setiap menit yang ia lewati ketika melangkahkan kakinya di gedung ini, sebagai menit terakhir yang ia punya untuk menikmati hidupnya.


Entah bagaimana ia bisa masuk ke dalam gedung yang jelas-jelas sudah terkunci rapat dengan gembok yang sebesar tangan itu terpasang di gagangnya yang dirantai.


Memikirkan caranya masuk saja sudah di luar nalar, lalu bagaimana dengan keberaniannya yang jelas-jelas tampak seperti sedang menantang apapun yang berada di dalam sini.


Gadis itu-Kirana- sudah tidak memperdulikan hal itu lagi. Satu-satunya yang mengisi pikirannya saat ini adalah secepat mungkin pergi meninggalkan dunia ini.


Pikirannya kalut, tatkala dibuat memutar oleh penghuni di gedung itu. Ia pun sudah memutari gedung itu untuk yang kesekian kalinya. Tampaknya penghuni disini sedang berusaha untuk menakutinya.


Air mata pun sudah tak terbendung lagi. Gadis itu sudah pasrah. Ia hanya berharap kematian bisa menghampirinya dengan sedikit lebih cepat. Untuk meredakan penderitaannya.


Ia lelah, benar-benar lelah...


Kirana Sadewa adalah murid berprestasi yang sangat dibanggakan oleh sekolah, ia banyak mengikuti lomba dan tentu saja selalu mengambil posisi sebagai juara pertama.


Tapi tiga bulan yang lalu, benar-benar menjadi titik terendah di dalam hidupnya. Titik dimana ia merasa menjadi perempuan paling hina.


Ia dilecehkan oleh guru yang selama ini selalu membimbingnya selama ia mengikuti perlombaan, guru yang sudah menemani perjalanan kompetisinya selama 2 tahun.


Awalnya, Kirana merasa shock dan berniat melaporkan kejadian itu kepada orang tua dan pihak sekolah. Tapi guru itu malah memberinya ancaman.


Ia diancam akan diberikan nilai merah dan tidak akan diluluskan di seluruh mata pelajaran, bahkan namanya tidak akan diajukan lagi untuk mendapatkan beasiswa.


Kirana yang berasal dari keluarga sederhana itu hanya bisa menerima semua itu dengan pasrah, ia tidak mungkin menambah beban kedua orang tuanya.


Apalagi orang tuanya juga menanggung kedua adiknya yang tahun ini memasuki Smp dan Sma.


Jika beasiswanya dicabut, otomatis tanggungan orang tuanya akan bertambah satu orang, dan Kirana tidak ingin hal itu terjadi.


Satu bulan berlalu, keadaan tampaknya mulai kembali normal. Baru saja Kirana sembuh dari traumanya, guru yang kerap disapa pak Darwin itu kembali berulah.


Ia berulang kali melecehkan Kirana yang tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis polos itu sudah dihancurkan sehancur-hancurnya oleh pak Darwin.


Ia sudah merebut masa depan miliknya, juga merusak serta menyakiti fisik dan mental gadis periang itu.


Puncak dari semua perbuatan itu adalah kemarin, saat Kirana tahu, bahwa ia mengandung anak dari pria bejat yang sudah merusaknya.


Pria hidung belang yang tidak tahu diri dan tidak sadar umur itu benar-benar sudah menghancurkan Kirana sampai tak bersisa.


Ia memberitahukan hal itu kepada kedua orang tuanya, tapi tampaknya mereka sudah terlalu kecewa dengan berita yang terlebih dahulu mereka dengar.


Ternyata pria bejat itu, sudah terlebih dahulu memberitahu orang tuanya dan memutar balikkan fakta yang sebenarnya.


Hingga membuat semua ini seperti kesalahan yang murni Kirana lakukan atas dasar keinginannya.


Masa depannya sudah tiada, kehidupannya hancur, orang tuanya sudah membencinya.


Adik-adiknya?


Mereka bahkan menatapnya dengan tatapan jijik.


Kirana sudah kehilangan segalanya, pak Darwin benar-benar sudah menjadi malaikat maut untuk dirinya yang malang itu.


Gadis polos nan periang itu, sudah tidak punya apapun lagi untuk dipertahankan.


Satu-satunya yang tersisa hanyalah pilihan ini, menjemput secara paksa kematiannya sendiri. Memanggil malaikat maut, yang sebenarnya masih akan menunggunya dengan setia.


Ia punya banyak pilihan. Tapi mati, adalah solusi terakhir yang bisa ia pilih pada akhirnya.