
Gadis yang kerap dipanggil Della itu baru saja sampai di rumahnya, tentu saja dengan menaiki bus. Ia bukan seperti anak lainnya yang dijemput oleh orang tuanya ketika pulang sekolah.
Tapi tumben sekali, sore-sore begini sang sepupu -Kirana- tidak menghubunginya sama sekali. Padahal ini masih sore dan matahari bahkan belum tenggelam.
Kirana adalah putri sulung dari paman yang merupakan adik dari ibunya, meski ia tidak begitu dekat dengan Kirana, tapi mereka masih sering mengobrol kok. Yah, meski terkadang pembahasannya sedikit melenceng kemana - mana.
Kirana juga sering membantu Della bersama dengan Thania ketika gadis itu sedang dibully oleh teman-teman seangkatannya ataupun oleh kakak kelasnya.
Meski tidak sesering dan se-berpengaruh Thania, tapi Kirana cukup memegang peran penting dalam mekanisme pertahanan Della untuk bertahan di dunia yang begitu kejam ini terhadap dirinya.
Pernah sekali Kirana menampar wajah kakak kelasnya karena sudah merobek baju Della dan hampir membuat gadis itu telanjang dada, jika Thania dan Kirana tidak bertindak untuk menghentikan aksi berlebihan mereka.
Dan lagi, biasanya di waktu sore begini, Kirana akan menghubungi dan mengajak Della untuk melakukan video call. Terkadang membahas pelajaran di sekolah atau bahkan bercerita random tanpa topik tertentu.
Tapi tampaknya sore ini, Kirana sangat sibuk hingga tidak bisa dihubungi sama sekali olehnya. Jangankan dirinya dihubungi duluan, ia bahkan tidak bisa menghubungi Kirana.
Della curiga jika ponsel milik Kirana mati, dikarenakan pesan serta panggilan yang Della lakukan tidak masuk sama sekali. Benar - benar bukan tipe Kirana sama sekali bertingkah seperti ini.
Dengan menepis segala macam perasaan negatif, ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri, yang dirasa penuh dengan debu dan keringat itu.
Seperti biasa, jam makan malam sudah berbunyi, dan Della hanya bisa menikmati makan malamnya di kamar yang ia tempati.
Sepertinya seluruh keluarganya sudah mulai muak dengan kehadirannya. Ia tidak menyalahkan mereka, ia juga bahkan sudah muak dengan dirinya sendiri.
Gadis itu kembali menyuap sendok terakhir nasinya tatkala mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka dengan kasar dan tidak berperasaan.
Pasti mak lampir lagi deh
Ia menghembuskan nafasnya pelan, sudah tahu siapa tamu yang tak diundang itu tanpa harus melirik ke arah pintu kamar. Bahkan dari jauh pun sudah tercium aromanya.
Siapa lagi jika bukan dua bersaudari dengan nama akhir solomon itu.
Bibirnya tertarik, memasang senyum palsu yang biasa ia lontarkan di hadapan semua orang. Bersikap baik-baik saja adalah keahlian yang baru Della sadari, ia punya.
"Kita mau keluar, udah ngerjain PR yang papa suruh belum?," tanya Barbara sinis pada Della.
Ia hanya menatap saudari tirinya diam, ingin rasanya ia balik menghakimi kedua orang di hadapannya itu. Tapi apa daya tangan tak sampai. Belum bertindak nyali udah ciut duluan.
"Kalo ditanya ya dijawab, itu mulut gak guna banget sih." Britney mendorong bahu Della kasar. Entah kenapa Della sangat pandai bersikap baik-baik saja. Seperti sekarang ini contohnya.
"Iya kak, bentar lagi gue kerjain," jawabnya kemudian. Ia sudah menyerah dengan tingkah laku keduanya. Sudah tidak bisa dirubah.
Kalau kata abang counter Hp 'ini udah parah, LCDnya udah kena'
Daripada mendrama, ia lebih baik mengalah di hadapan kedua manusia bar-bar dan tidak tahu terima kasih ini.
"Pokoknya gue gak mau tau ya, besok pagi tugas gue sama Britney harus udah siap," tegas Barbara yang hanya diangguki oleh Della asal.
Ya kali gue nyiapin tugas lo anjir. Lo pikir idup gue ngurusin lo berdua mulu apa?.
Ia kembali memaki kedua saudari tirinya di dalam hati. Namun dengan muka sok polos yang masih menatap kedua kakaknya.
"Kenapa lo?, barusan ngatain gue ya dalem hati?" Tuding Britney pada Della, membuatnya gelagapan.
Ebuset.. peka bener bangsat.
"kebaca banget tau, dari raut wajah lo yang kayak topeng monyet itu," lanjut Barbara menanggapi yang dibalas gelengan oleh Della.
Topeng monyet mata lo, itu gak sadar diri apa gimana? Ngatain kok diri sendiri.
"Enggak kok kak. Kalian gak jadi pergi, ini udah mau jam 7, nanti telat loh," ujar Della membalas dengan suara yang ikut diimut-imutkan.
Keduanya hanya menatap jijik ke arah Della, dan akhirnya keluar dari kamar. Meninggalkan Della dengan setumpuk pekerjaan yang bahkan sebenarnya bukan bagian dari pekerjaan gadis mungil itu.
Untung gue gak berani, kalo gue berani udah gue hajar lu pada.
Dengan mendengus kesal ia mulai mengerjakan semua tugas yang dibebankan kepada tanpa berkata sepatah katapun.
...****************...
Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 9 malam, tugas-tugas yang tadinya menumpuk di atas meja belajarnya kini sudah terselesaikan.
Bahkan ia masih berbaik hati mengerjakan tugas kedua saudari tirinya yang sialnya tidak tau diuntung itu.
Begitu selesai, ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Thania. Sekiranya gadis itu lupa untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok.
...[OTP]...
(Thania)
Halo?
Selamat malam Aradella yang rupawan. Disini Thania yang jelita is speaking.
^^^(Della)^^^
^^^Gini nih. Mode-mode kalo tugasnya belum siap. Pasti lo mau minta contekan?^^^
(Thania)
Heii...
Gadis yang baik hati ini tidak meminta contekan ya, kalo gue dikasih mah. Ya bersyukur dong. Masa iya rejeki gue tolak.
^^^(Della)^^^
^^^Tau nih gue, kenapa tugas lo ga siap. Pantesan aja itu tugas gak siap, orang lo asik ngedrakor kan.^^^
^^^Ngaku deh.^^^
^^^Bahlul emang temen gue yang satu ini.^^^
^^^Kalo misalnya tadi gue gak ngehubungin lo, lo bakalan gimana coba?^^^
(Thania)
Temen lo kan, emang cuma gue doang bangsat.
Yang pasti kalo tadi lo gak ngehubungin gue. Gue bakalan ngehubungin lo.
Sesimple itu sayang...
Udah buru. Fotoin yang bagus kirimin ke gue.
^^^(Della)^^^
^^^Lah? Bener juga anjir. Temen gue kan emang lo doang ya?.^^^
^^^Eh tapi bentar deh, gue mau nanya. Kirana ngehubungin lo gak sih?. Soalnya Hp nya gak bisa gue hubungin nih.^^^
^^^Perasaan gue rada gak enak, Gimana gitu.^^^
(Thania)
Makanya jadi orang jangan bego. Biar punya banyak temen.
Soal Kirana tadi, enggak sih. Dia gak ngehubungin gue sama sekali tuh.
Dari tadi dia emang enggak hubungin gue sama sekali. Lo jangan mikir aneh-aneh deh. Tau sendirikan kalo gue parnoan orangnya.
Dia baik-baik aja kok.
^^^(Della)^^^
^^^Oke deh gue tutup ya.^^^
^^^Bentar lagi gue kirimin tugasnya.^^^
(Thania)
Siap boss dan terimakasih.
...[END CALL]...
Panggilan berakhir, Della dengan sigap segera memotokan tugas-tugasnya dan mengiriminya ke nomor milik sahabatnya itu.
Setelah itu, pikirannya kembali terputar mengenai Kirana, tumben sekali gadis ini mendiaminya begitu. Apa kesibukannya begitu padat? Hingga tidak bisa dihubungi.
Ia menepis perasaan dan pemikiran negatif yang sedari tadi terus menggerogoti pikirannya, ia mematikan ponselnya dan segera mencoba untuk berlayar menuju ke alam mimpi.
Baru saja kedua matanya tertutup dan sedang menyesuaikan diri dengan cahaya, telinganya kembali dihadiahi dengan suara cempreng milik saudari tirinya itu.
Itu mak lampir berdua, gak bisa kayaknya ngasih gue kedamaian, seenggaknya sebentar aja.
Kedua gadis itu mendekati tempat tidurnya dan menarik rambut gadis itu paksa. Sedangkan Della, ia hanya bisa meringis tanpa membalas perbuatan kasar yang ia terima.
"Tugas kita udah siap kan, adek tersayang?," tanya Britney dengan nada mengejek.
Ah, Della benar-benar ingin menampar wajah memuakkan milik gadis itu. Tapi sabar, sekarang belum waktunya.
"Udah kak. Udah gue letakin di sudut meja," tunjuk Della pada kedua buku yang berada tepat di pinggir meja belajarnya.
"Seru juga ya punya babu. Gak perlu ngapa-ngapain tugas langsung kelar. Keren gak tuh," ejek Barbara pada Britney yang dibalas dengan anggukan oleh Britney.
'Oke. Siapapun. Tolong hilangkan dua manusia laknat ini dari hadapannya.sebelum ia sendiri yang menghilangkan mereka' Batinnya.
Dan seolah doanya terjawab, keduanya pergi meninggalkannya begitu saja. Membuatnya menghela nafas lega. Tangannya ia letakkan di jantungnya yang berdetak cepat. Menahan emosi.
Gue udah gak tau lagi, sampek kapan bisa bertahan dalam keadaan tertekan gini.