Truth Or Lie

Truth Or Lie
Kidnap?



Sebuah tepukan ringan di bahunya menyadarkan ia dari lamunannya, della menatap sang pelaku dengan bibir yang sedikit tersenyum.


"Mikirin apa sih?," tanya si pelaku yang tak lain adalah thania.


Kini keduanya berada di rumah thania, della memutuskan untuk menginap di rumah sahabatnya itu untuk menenangkan dirinya dari perasaan berduka.


Ia tidak mungkin pulang ke rumahnya dalam keadaan berduka seperti ini, karena kedua saudari tirinya pasti tidak akan membiarkan dia walaupun hanya sebentar saja.


"Cuma nginget tentang kirana aja. Masih gak nyangka kalo malam itu jadi pertemuan terakhir gue sama dia,"


Della berujar dengan senyum yang dipaksakan, membuat thania mengulurkan tangannya untuk mengelus punggung sahabatnya lembut.


"Jangan dipikirin, kirana juga pasti udah bahagia disana. Lo harus bertahan  demi dia," ingat thania pada della.


Della hanya menganggukkan kepalanya mengerti, matanya masih sembab karena menangis.


Tadi dia dihubungi oleh pamannya, mereka mengatakan akan menguburkan kirana di kampung neneknya.


Dan malam ini keluarga kirana sedang dalam perjalanan menuju ke sana bersamaan dengan jenazah kirana, hingga della tak bisa menemui kirana lagi untuk yang terakhir kalinya.


Awalnya dia meminta untuk diijinkan bertemu dengan kirana untuk yang terakhir kalinya, tapi permintaan kirana  di tolak, entah apa alasannya.


"Gue ngantuk, tidur yuk," ajak della pada thania yang diangguki oleh della.


Keduanya kini berjalan ke arah kasur dan mulai menyelam ke dalam mimpinya masing-masing.


☠☠☠


Waktu berjalan kembali seperti biasa, seolah kejadian kemarin hanyalah angin lalu. Tampaknya tak ada yang benar-benar merasa kehilangan akan kepergian kirana yang tiba-tiba itu.


Kecuali bagi seorang gadis yang sekarang masih uring-uringan, tidak mau di ajak ke kantin. Padahal orang yang mengajaknya itu sudah lapar tidak tertolong.


"Del, laper. Ayok ke kantin. Jangan uring-uringan mulu ih," kesal thania yang sudah berulang kali mengajak sahabatnya itu.


"Gak laper nia, lo duluan aja," tolak della untuk kesekian kalinya pada ajakan sahabatnya itu.


Thania menggerutu tak jelas, ia tahu della masih berduka, tapi kan kesehatannya juga penting. Gadis itu bahkan tidak sarapan, padahal mamanya sudah menyuruh della untuk sarapan.


"Tadi pagi juga enggak sarapan, masak masih enggak mau makan. Nanti sakit loh del," tegur thania pada della, yang hanya dibalas dengan gelengan.


"Enggak. Udah sana keburu bel itu," lagi-lagi della menolaknya, tapi kali dengan mendorong tubuh thania sedikit menjauh, membuat gadis itu menghembuskan nafasnya pasrah.


"Kalo sakit jangan bilang gue ya, gue gak bakalan bantuin lo," ancam thania pada della, namun yang diancam malah terkekeh pelan.


"Enggak nia. Enggak bakalan kok, lo tenang aja," sahut della kembali mendorong tubuh thania pelan.


Thania pasrah dan akhirnya pergi ke kantin, meninggalkan della seorang diri di kelas. Della menatap ke seisi ruangan, memakukan pandangannya di kursi pojok depan yang kini telah kosong itu.


Takut karena ketidakikhlasannya kirana  tidak akan tenang di alam sana, membuatnya lagi-lagi menghembuskan nafasnya berat.


Ia mengambil buku cetak yang kemarin ia pinjam di perpustakaan, membawanya bersamanya dan pergi ke arah barat gedung. Tempat yang ditujunya adalah perpustakaan.


Ia melewati koridor dengan aman, tanpa gangguan sama sekali, sungguh sangat aneh. Perasaannya sedikit tidak enak.


Belum lama ia berjalan, seorang gadis yang bername tag farah menghampirinya, memberitahu bahwa ia dipanggil ke lapangan indoor yang berada di gedung seberang oleh guru olahraga.


"Aradella, lo dipanggil pak bagas tuh, ke lapangan indoor. Katanya nilai pelajaran olahraga lo anjlok banget tuh," ucapnya pada della, membuat gadis itu mengernyit heran.


"Bukannya pak bagas belum dateng ya?, kok udah di lapangan indoor aja, emang anak-anak yang lain udah pada kesana?," tanyanya pada gadis bernama farah itu.


Della menanyakan hal itu karena setelah istirahat memang jadwal kelas mereka untuk mata pelajaran olahraga. Tapi itu masih sekitar 40 menit lagi, pelajaran terakhir.


"Gak tau tuh, coba aja lo pergi dulu. Ntar takutnya lo ditanyain di depan anak kelas rame, kan malu. Orang biasanya semua nilai mata pelajaran lo bagus," sewot farah sedikit.


Della mau tak mau akhirnya pergi ke lapangan indoor itu, menitipkan buku yang dipinjamnya untuk di kembalikan ke perpustakaan pada farah.


Dan kini disinilah ia berada, di depan pintu gedung yang masih jelas terkunci rapat. Dahi nya mengernyit heran. Bukannya tadi katanya pak bagas sudah ada disana.


Apa ia ditipu lagi, pikirnya.


Dengan langkah yang sedikit dihentakkan ia berbalik, hendak berlalu  meninggalkan gedung itu, namun langkahnya terhenti.


Tepat di depannya kini, berdiri angel dengan dua  orang side chick nya dan diiringi oleh dua orang bodyguard?.


Apa maksudnya itu?


Kenapa angel membawa bodyguard nya ke sekolah pada tengah hari begini?.


Della menatap angel horror, sepertinya kehadiran dua orang berbadan besar itu ada kaitannya dengan pembullyan yang mungkin akan della alami sebentar lagi.


Angel tersenyum sinis, mengodekan anak buahnya untuk segera bergerak dengan matanya.


Della yang panik langsung dibekap oleh tangan yang besar dan kekar itu hingga membuatnya kehilangan kesadaran. Membuat angel dan genknya itu tertawa puas.


"Lo yakin mau ngelakuin ini?, nyawanya bisa terancam loh, dia bisa aja mati," tegur salah satu sahabat angel.


Angel menggeleng, lalu tersenyum simpul.


"Biarin aja, sekalian biar cepet nyusulin sepupunya itu," jawabnya enteng.


Kelimanya akhirnya pergi meninggalkan della yang masih belum sadarkan diri di ruangan yang kosong dan penuh debu itu.