
[Pov Ikhfa]
Ditengah-tengah jalan kami bertiga melihat sebuah reruntuhan kantor polisi yang sepertinya didalamnya masih ada senjata yang tidak dipakai untuk melawan monster-monster itu. Kami pun berjalan masuk ke dalam reruntuhan kantor polisi itu, kami mencoba mengangkat reruntuhan-reruntuhan dinding kantor polisi itu.
"Hai! Toro! Ikhfa! Lihat lah ini,"
Teriak Layla memanggil ku dan Toro hendak menunjukkan sesuatu, ternyata Layla menemukan...
"Ini kan senjata laras panjang DXL- 4, senjata mantap nih. Kehebatan dari senjata ini adalah jika kita menggunakannya untuk menembak tembok, pasti peluru dari tembakan DXL- 4, bisa menembus tembok itu. Kantor polisi ini sepertinya kantor polisi pusat, karena ada senjata yang tergolong sangat mematikan sih, dan juga ini senjata dari negara Rusia sih," ucap ku seraya memegang senjata itu.
"Baiklah kita bawa senjata ini saja yaa," ucap Toro hendak pergi dari tempat itu.
Tiba-tiba, ada suara tembakan dari arah depan. Kami pun berjalan menuju ke arah suara itu, ternyata ada sekelompok polisi yang sepertinya sedang melawan satu monster raksasa. Namun dengan mudah nya mereka dikalahkan oleh monster itu. Terlihat tersisa 3 orang polisi disana yang sedang bersembunyi dan mengisi peluru, namun 1 orang terbunuh lagi oleh monster itu.
"Layla, tetaplah bersembunyi disini. Kami berdua akan pergi menyelamatkan dua paman polisi itu," ucap Toro membuat rencana.
"Baiklah Toro. Kalian berdua segera lah kembali dengan selamat," ujar Layla.
Kami berdua pun berlari hendak menyelamatkan dua orang polisi itu. Namun naas, saat kami dalam perjalanan 1 orang lagi dibunuh oleh monster itu.
-----------------------------
Kami pun sampai disana, melompat dan menyerang pundak monster itu.
"Hai, paman. Apakah paman baik-baik saja? Tanya Toro kepada polisi itu.
"Iya, paman baik-baik saja. Tapi kalian siap..."
"Maaf paman. Sepertinya bertanya nya nanti saja, lihat lah ada monster yang muncul lainnya," potong ku seraya bersiap-siap untuk menyerang monster-monster itu.
Paman itu terdiam dan bersiap-siap untuk menembak monster-monster itu.
"Apakah kau sudah siap Toro?"
"Tentu saja aku siap,"
SATU DUA TIGA.
Kami pun menyerang monster-monster itu.
-----------------------
Disaat kami mulai terpojok oleh monster-monster itu. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah Layla, ternyata itu Layla yang sedang menggunakan senjata laras panjang.
"Layla?!"
"OOOYY. TENANG SAJA ADA AKU DISINIIII. KALIAN FOKUS PADA SATU ATAU DUA MONSTER ITUU," Teriak Layla.
"Cih, seenaknya saja. Baiklah Ikhfa, kita serahkan kepada Layla. Kita hanya harus membunuh beberapa monster yang dekat dengan kita," ucap Toro kepadaku.
[Pov Layla] Flashback.
"Aku tidak ingin hanya menonton saja, aku ingin membantu mereka," ucap ku seraya berlari dan mengambil sebuah tembakan.
BRACK.
CLEK CE CLEK.
DUAARRR.
OOOYY
"Tetaplah bertahan Toro Ikhfa, ada aku disini," ujar dalam benak ku seraya memanggil mereka berdua.
[Flashback off] Pov Ikhfa kembali.
Kami pun mengalahkan semua monster-monster itu dengan cepat.
Kami pun beristirahat sejenak dan mengobrol dengan polisi itu.
"Hai, pak. Perkenalkan nama saya Ikhfa, itu yang berbaju hitam namanya Toro dan yang perempuan namanya Layla. Kalau bapak sendiri?" Tanya ku kepada polisi itu dengan sopan.
"Hai, juga nak. Perkenalkan juga, nama bapak Hamzah," jawab bapak itu kepadaku.
"Ok, pak. Salam kenal ya pak," ucap ku seraya memegang kepala dan tersenyum manis kepada pak Hamzah.
"Oh iya nak. Bapak ingin bertanya, sebenarnya kalian itu siapa sih?" Tanya pak Hamzah kepadaku.
"Kami hanya murid SMP biasa kok pak hihihi," jawab ku tersenyum manis kepada pak Hamzah.
"Ooo, seperti itu," ujar pak Hamzah.
"Oh iya, pak Hamzah. Kami boleh minta tolong tidak pak? hihihi," Pinta ku kepada pak Hamzah dengan senyuman manis.
"Iya, boleh. Memang ingin minta tolong apa nak?" Tanya pak Hamzah kepadaku.
"Jadi seperti ini pak, kami ingin meminta bapak agar ikut dengan kami bertiga untuk mencari dan menyelamatkan teman kami pak, selain itu misi kami yang sebenarnya adalah untuk mencari dalang dari semua ini. Jika bapak berkenan, kami mohon agar bapak dapat ikut berpetualang dengan kami bertiga pak," ujar ku kepada pak Hamzah, agar ikut dengan kami bertiga.
"Hm, ternyata seperti itu. Berarti kalian sebenarnya bukan anak SMP biasa kan? Baiklah bapak akan ikut dengan kalian," ucap pak Hamzah menerima permintaan ku.
"Terima kasih banyak pak Hamzah sudah mau ikut dengan kami, tapi sungguh pak kami hanya anak-anak biasa," ujar ku seraya menundukkan kepala ku kepada pak Hamzah.
"Hehehe, iya-iya tidak usah seperti itu juga, bapak mengerti kok," ucap pak Hamzah kepadaku.
"Terima kasih, sudah ingin mengerti pak Hamzah," ujar ku seraya menundukkan kepalaku dan bersikap konyol agar pak Hamzah percaya bahwa kami hanyalah anak biasa.
"Iya, baiklah tuan putri yang cantiikk," ucap ku seraya menggoda Layla.
DIAM!
Layla pun memukul kepala ku dengan sangat keras.
"Aduh duh, iya ih," ujar ku meringis kesakitan.
"Baiklah, jadi seperti ini..."
Kami pun mulai membuat rencana, untuk beberapa saat. Dan akhirnya kami pun pergi dari tempat itu.
...--------------------------...
[Pov Toro]
Sampailah kami di asrama kak Seiko. Kami pun masuk kedalam dan melihat-lihat sekiling asrama itu, banyak sekali yang sudah hancur disana.
"KAK SEIKO! KAKAK!" Teriak ku memanggil kak Seiko.
Tiba-tiba, monster muncul dari atas dan menghadang kami berempat.
ARGGHH geraman monster itu.
"Mundur Layla," ucap ku kepada Layla.
"Sepertinya kita akan sedikit berlama-lama disini," ujar Ikhfa menarik pedang dari sarungnya.
Ikhfa dan paman Hamzah pun bertarung melawan monster itu sendirian, sedangkan aku melindungi Layla.
Kami berdua pun berlari dan mencari tempat persembunyian.
"Kita akan aman disini," ujar ku seraya menenangkan Layla yang sedang panik.
Tiba-tiba, monster muncul dari belakang ku dan hendak menyerang kami berdua.
Sontak, aku menghindarinya dan menggendong Layla pergi dari tempat itu.
...-------------------------...
"Sepertinya, monster itu sudah tidak mengejar kita lagi," Ujar ku dan menurunkan Layla.
Namun, ketika kami baru merasa sedikit lega. Muncul lah monster dari segala arah.
ARGGHH
"Mundur Layla, berlindung lah dibelakang ku," ucap ku dan menarik pedang dari sarungnya.
Aku pun menyerang monster-monster itu dengan sekuat tenaga dan Layla pergi ketempat yang tinggi, bersiap menembak monster-monster.
Kami berdua sangat berusaha keras menyerang monster-monster itu.
"Cih, monster-monster ini berbeda sekali dengan yang ada disekolah, monster ini beregenerasi dengan sangat cepat dan pergerakan nya pun sangatlah cepat. Kalau seperti ini terus, kita berdua akan kewalahan dibuatnya dan sepertinya Layla sudah hampir kehabisan peluru. Cih, apakah aku harus menggunakan kekuatan itu?" Tanya dalam benak ku seraya menghindari serangan-serangan monster-monster itu.
Aku pun berpikir sejenak dan akhirnya aku teringat tentang kata-kata tuan Nuel.
[Flashback]
"Baiklah terima kasih Tuan Nual, sudah membantu kami berdua, kami permisi terlebih dahulu," ucap Ikhfa berterima kasih kepada Tuan Nuel.
"Yah, sama-sama. Sebelumnya Toro Ikhfa. Jikalau kalian ingin mengeluarkan kekuatan itu janganlah ditahan keluarkan saja, kalian tidak perlu takut tentang reaksi orang-orang terhadap kalian. Karena sesuatu yang dipendam akan buruk nantinya.
Kami pun hanya bisa terdiam dan perlahan-lahan kami pun pergi dari tempat itu.
[Flashback off]
"Baiklah, aku akan mencoba untuk mengatifkan kekuatan dalam diriku. Hai, Tuan Zuto. Berikan aku sedikit kekuatan milik mu," Ucap dalam benak ku seraya menenangkan diri.
ARMENT ELEMENTAL
Aku pun mengatifkan kekuatan zuto dan melesat dengan cepat. Aku pun bisa membunuh mereka semua dengan sangat cepat, kekuatan yang ada di pedang ku ada kekuatan elemen. Jadi jikalau aku menyerang mereka semua walaupun hanya goresan keris, mereka akan menjadi batu dan hancur disana.
UARG
Muntah darah keluar dari mulut ku
"A- pa yang terjadi dengan ku,"
Aku pun tergeletak dan terdengar teriakan Layla.
--------------------------
Beberapa saat kemudian, aku terbangun dan berada dipangkuan Layla.
"La- Layla," Ujar ku berusaha bangun.
"TORO! Apakah kau baik-baik saja?"
"Yahh, sepertinya aku baik-baik saja. Dimana kita sekarang Layla?" Tanya ku seraya memegang kepala.
"Kau, memang dari dulu belum berubah ya Toro,"
Tiba-tiba ada suara dari seseorang dan itu ternyata...