Travel Across Space and Time: Reincarnation

Travel Across Space and Time: Reincarnation
kembali



5 tahun berlalu, dan Ayahku pun sudah selesai melakukan semua pekerjaannya. Ketika aku sedang tidur dikamar, aku mendengar kabar dari Ayah ku bahwa nenek Toro meninggal dunia. Sontak aku panik dan bertanya kepada Ayah ku "kapan neneknya Toro meninggal dunia Ayah? Tanya ku dengan wajah yang panik.


"Baru tadi nak, Ayah dapat telepon dari teman ayah yang disana," Jawab ayah ku


"Ayah mari kita pulang sekarang ke desa kita yah," Ujar ku membereskan barang-barang ku dengan panik.


"Baiklah Ayah akan menyiapkan mobil," Ucap Ayahku pergi ke garasi.


Tidak lama kemudian Ibu ikhfa datang dan membantu ikhfa menyiapkan barang-barang nya.


"Nak, tenangkan diri mu jangan panik. Ibu tau kamu sedang panik karena nenek sahabat mu sudah meninggal, ibu tau perasaan mu yang sekarang. Tapi ibu mohon tenangkan dirimu terlebih dahulu," Ujar Ibu ku memegang pundak ku


"Baiklah Ibu, aku akan berusaha untuk tetap tenang," Ucap ku menarik nafas panjang dan melanjutkan berkemas barang.


---------------------


2 hari kemudian, aku pun sampai ke rumah dan aku berlari menuju rumah Toro, namun Toro tidak ada disana.


"Eh nak ikhfa, pulang kapan?" Tanya bibi Ipah kepadaku.


"Hehehe, baru tadi Bi," Jawab ku seraya melihat-lihat sekiling.


"Oh iya bi,Toro ada dimana bi?" Tanya ku kepada bibi Ipah.


"Oh Toro,Toro tadi pergi keluar katanya ingin mencari angin," Jawab bibi itu.


"Mencari angin? Oh, terima kasih bi." Ucap ku kepada bibi Toro dan berlari ketempat Toro berada.


Lalu aku berlari dengan sekuat tenaga menuju ke sungai. Sesampainya disana aku melihat Toro sedang sendirian ditepi, ia melihat pemandangan bintang-bintang disana. Kampung kami berada didekat rawa-rawa yang rata-rata banyak pepohonan didekat nya namun, dikampung kami tidak ada yang namanya polusi udara. Karena belum terlalu banyak perumahan disana, jadi setiap malam jikalau kita ke sungai dan duduk ditepi sungai. Kita bisa melihat indahnya bintang-bintang yang bersinar dimalam hari.


"Hai Toro, apa kabar mu?" Tanya ku kepada Toro yang sedang terdiam melihat pemandangan bintang-bintang dilangit. Namun Toro tidak menjawab pertanyaan dari ku dan hanya diam saja. Lalu aku duduk disampingnya "Toro maafkan aku, karena aku tidak ada disamping mu disaat engkau sedang sedih," Ucap ku kepada Toro. Toro lalu menyenderkan kepala nya ke pundak ku tanpa mengatakan apapun kepada ku. Lalu Toro menitih kan air matanya, dan menangis dipundak ku. "Maaf maaf maafkan aku Toro, karena aku tidak ada disamping mu kemarin," Ujar ku menangis bersama Toro pada malam itu.


Keesokan harinya ketika aku menemui nya, untuk menyapa nya namun Toro tidak menjawab ku. Lalu aku mengikutinya kearah sekolah, namun Toro menjauhi ku. Dalam benak ku Toro sepertinya marah dan sedang berusaha menjauhi ku. Pada saat itu selama satu tahun aku dan Toro berpisah, sampai dengan suatu hari......


"Telelet, Telelet." Suara telepon berbunyi


"Haloo, iya ini siapa..... oh dengan bibi nya Toro, oh seperti itu baiklah.... tunggu sebentar akan saya panggilkan anak saya...... NAKK," Ucap Ayah ku mengangkat telepon dari bibi nya Toro dan memanggil ku.


"Iya Ayah, ada apa?" Sahut ku


"Ada telepon nak dari bibi nya Toro," Ujar Ayah ku dan memberikan teleponnya.


"Halo bi Ipah, ada apa bi?" Tanya ku kepada bibi Ipah ditelepon.


"Begini nak Ikhfa, Toro dari pagi belum pulang. Coba nak Ikhfa tolong carikan Toro," Jawab bibi Ipah kepada ku.


"Hah Toro belum kembali dari pagi?! Baik bi akan saya cari, bibi tenang dulu ya bi. Sudah yaa bi Ikhfa tutup,"


Aku menutup telepon itu dengan panik dan segera mengambil jaket, karena dinginnya malam hari.


"Mau kemana nak?" Tanya Ibu ku memegang penampan yang berisi teh diatas nya.


"Aku akan mencari Toro bu, karena tadi bibi nya Toro menelepon ku. Kata bi Ipah ia belum pulang dari pagi bu. Bu izin keluar mungkin Ikhfa pulang agak malam bu," Ucap ku berpamitan dengan Ibu ku dan berlari keluar mencari Toro.


"HATI-HATI NAK," Ujar Ibu ku


-----------------------


"Toro, dimanakah engkau?" Tanya dibenak ku berlari menuju sungai, Namun Toro tidak ada disana.


Aku lanjut berlari menuju belakang sekolah, namun sekali lagi tidak ada seseorang disana. Aku berlari lagi, ternyata Toro berada ditaman sedang duduk diayunan sendirian disana. Lalu aku mendatanginya, dan duduk diayunan.


"Hai sobat, ayo kita pulang kerumah. Bibi mu sudah mencari-cari mu dari siang sobat," Ucap ku berayun diayunan dengan lumayan cepat.


"Percuma aku pulang, tidak akan ada yang menyambut manis ku lagi," Ujar Toro dengan nada dingin.


"Hai Toro. Melihat sikap mu yang seperti ini, aku jadi teringat kata-kata Ayah. Ayah ku pernah berkata: nak hidup ini bukan seperti jalan tol nak, yang tanpa hambatan. Pasti ada saja hambatannya. Jadi Toro kau harus tetap bertahan melewati semua masalah kehidupan ini. Tahan saja rasa sakit yang engkau alami selama ini, kita masih banyak waktu untuk memperbaiki kesalahan kita dan membuktikan bahwa kita bisa jadi orang yang sukses. Aku yakin tuhan pasti sudah mengatur segalanya disana," Ucap ku kepada Toro.


"Menurut mu kesedihan apa yang belum aku rasakan selama ini? Apakah kau bisa mengerti semua rasa sakit yang telah aku alami selama ini?! Rasa sakit kehilangan sudah, rasa sakit dikhianati sudah, rasa sakit menerima kenyataan pun sudah. Kurang apa menurutmu?!" Tanya Toro kepadaku.


"Kau masih masih bisa bersyukur karena tuhan telah memberikan semua cobaan yang belum tentu orang lain bisa menghadapinya," Jawab ku kepada Toro.


Lalu Toro terdiam dan menitih kan air matanya, aku menghampiri nya dan memeluk nya dengan erat.


"Keluarkan semua kesedihan mu, ada aku disamping mu," Ucap ku memeluk Toro dengan erat.


"Ma - maafkan aku Ikhfa," Ujar Toro menangis dipelukkan ku.


Pada saat itulah pertemanan ku dengan Toro dimulai kembali.


[Flashback off]


"Ha? Bentar-bentar, kau dulu berpelukkan dengan Toro? Iuh menjijikkan sekali," Tanya Layla seraya mengejek ku.


"Yah, begitulah. Memang agak sedikit memalukan, tapi tidak mengapa untuk menenangkan sahabat kita," Jawab ku dengan senyuman manis kepada Layla.


"Yah, sudahlah sepertinya sudah malam mari kita tidur Ikhfa. Bukankah besok kita harus membantu sahabat kita?" Ucap Layla hendak pergi meninggalkan ku.


"Baiklah, selamat malam Layla," Ujar ku bersiap-siap untuk tidur.


"Iya, malam juga Ikhfa," Ucap Layla pergi meninggalkan ku.


Setelah Layla pergi aku pun tertidur pulas dan bermimpi tentang Toro dan melihatnya.....