Travel Across Space and Time: Reincarnation

Travel Across Space and Time: Reincarnation
Permulaan (prolog)



Di pagi yang cerah. Toro, seorang anak laki-laki kelas dua SMP sedang berjalan bersama dengan Layla, temannya yang juga sekelas dengan nya.


Toro adalah murid kelas 8E, dengan ciri-ciri tubuh normal dengan gayanya yang sering memakai topi OSIS setiap berangkat sekolah. Tas nya terlihat sudah usang dan lama karena Toro bukanlah anak kaya, keluarganya hanyalah keluarga sederhana sehingga Toro harus bisa hidup mandiri.


Berbeda dengan Layla. Wajahnya yang cantik dan selalu berpenampilan rapih, membuat semua mata kaum Adam tertarik padanya, begitu juga dengan Toro, yang sedang dalam masa PDKT dengan Layla. Toro dan Layla berjalan bersama ke sekolah karena memang rumah mereka dekat dengan sekolah, hanya perlu melewati jalan gang saja dan berjalan lagi ke jalan raya dan menyeberang masuk ke gerbang sekolah.


Di sekolah, Toro melihat- lihat suasana di luar sekolah. Terlihat banyak sekali siswa dan siswi di luar kelas yang saling berbincang-bincang. "Wah - wah sekolah benar benar rame hari ini."


Lalu layla berada dibelakang ku, memukulku kepalaku dan mengatakan "sekolah yh rame bodoh!"


Aku memegang kepala ku dan berkata. "Iyah - iyah serigala." Aku pun langsung berlari dgn sekuat tenaga layla.


"Apa!! Kesini kau!!" Layla pun langsung berlari mengejar Toro sekuat tenaga. Toro terus berusaha kabur dari kejaran Layla, namun Toro akhirnya terpojok di dinding lorong kelas. "Sudah lah, mati aku." Toro berusaha untuk kabur, namun usahanya sia-sia karena Layla sudah memojokkan nya.


"Hahaha, mau lari kemana lagi kamu!" Layla terus tertawa melihat Toro sudah tidak bisa lari darinya lagi.


Namun, entah kenapa hanya imajinasi Toro saja atau memang kebetulan, kabut tiba-tiba muncul menyelimuti seluruh lorong kelas. Layla dan Toro pun langsung melihat sekeliling seraya bertanya-tanya.


"Ada apa ini?"


"Kabut apa ini? Kenapa bisa muncul di sekolah?"


"Bukankah seharusnya tidak ada kabut di sini?"


"Ini benar-benar kabut! Tidak ada bau pembakaran disini!"


Begitulah perkataan semua siswa yang didengar Toro dan Layla. Mereka berdua pun langsung mencari tahu tentang kabut itu, namun tiba-tiba tanah bergetar sehingga menghentikan langkah Toro dan Layla. Semua siswa langsung panik dan mencari tempat berlindung masing-masing.


Langit pun langsung berubah hitam, awan-awan gelap muncul dan petir bergemuruh. Angin pun ikut berhembus kencang membuat suasana di sekolah itu semakin menjadi-jadi.


["Anak-anak, dimohon untuk tetap tenang dan berlindung di dalam kelas. Lindungi diri kalian karena para guru sedang berusaha untuk memberikan bantuan, karena kami sudah terkunci di dalam ruangan guru sekarang!"] Suara speaker sekolah yang menggema dari ruang guru membuat suasana semakin tak terkendali. Semua murid saling dorong mendorong tak mempedulikan apa yang terjadi. Yang mereka pikirkan hanya berlari dan melindungi diri nya sendiri.


"Semuanya, jangan panik!! Tetap tenang!"


"Jika semuanya saling berlari dan hanya memikirkan diri kita sendiri, kita semua tidak akan bisa selamat!"


"Semuanya, cepat masuk ke kelas kalian masing-masing. Kami anggota OSIS lama akan berusaha semaksimal mungkin!"


Terdengar suara para kakak-kakak OSIS lama kelas 9 yang membantu mengarahkan para siswa untuk berlindung.


Namun, Toro dan Layla terus berusaha berlari ke dekat lapangan sekolah tempat dimana semua kejadian aneh itu berasal. Namun, mereka berdua tiba-tiba melihat sesuatu yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.


***


Toro dan Layla pun langsung berlari mundur dan berlindung setelah lubang hitam itu tiba-tiba mengeluarkan angin tornado yang membuat kabut itu terserap ke dalamnya. Kabut itu seketika berubah menjadi sesosok monster raksasa yang sangat mengerikan. Badannya terlihat gelap dan hitam seperti kabut dan awan hitam yang bersatu dengan angin tornado yang mengelilinginya.


"Makhluk apaan tuh!!" teriak Layla terkejut melihat monster raksasa.


"Mereka ada banyak lagi!" sambung Toro yang ikut terkejut melihat monster raksasa itu terus keluar dari lubang hitam itu.


"Apa yang harus kita lakukan!?" tanya Layla ketakutan melihat monster raksasa itu terus berkeliaran menghancurkan bangunan dan mengejar siswa lain. Toro pun berusaha menenangkan diri dan berpikir.


"Aku tahu! Cepat ikut aku!" Toro pun langsung menarik tangan Layla dan berlari menjauhi monster raksasa itu. Layla pun langsung berteriak keras karena takut dan juga karena Toro menariknya dan membuatnya berlari entah kemana.


Sedangkan monster raksasa itu terus keluar dan bertambah banyak. Monster itu pun langsung mengeluarkan teriakan berat yang sangat keras dan juga menghancurkan semua atap kelas dan pohon-pohon di sekolah. Sontak, semua murid langsung berlarian berusaha kabur dan menjauhi monster raksasa itu.


"Hei! Apa kita juga hanya akan lari!?" tanya Layla yang masih dipaksa berlari oleh Toro, namun Toro hanya terus berlari dan melihat sekeliling mencari sesuatu.


"Tenang dulu! Aku sedang berpikir bagaimana cara melawan makhluk raksasa itu," ujar Toro tanpa menoleh ke arah Layla dan terus memaksa Layla berlari sambil melihat sekeliling. Banyak murid-murid yang berlari berusaha kabut dari kejaran dan serangan monster raksasa itu, namun apa daya. Seluruh sekolah sudah dikurung oleh awan hitam dan angin kencang.


"Lari!"


"Tolong! Siapapun, tolong!"


"Jangan! Jangan bunuh aku!"


Suara murid-murid terus saja terdengar begitu ketakutan dari segala arah. Semuanya sedang berharap bahwa akan ada yang menolong mereka, namun semuanya hanya memikirkan keselamatan diri mereka sendiri. Toro yang sedari tadi mendengar teriakkan murid-murid itu hanya bisa terus melanjutkan larinya karena tak tahu harus melakukan apa.


"Hei! Kita harus tolong mereka!" teriak Layla menghentikan langkah Toro yang sedari tadi tidak mempedulikan sekitar. Toro pun langsung menoleh ke arah Layla, namun tiba-tiba monster raksasa itu tiba-tiba muncul dan melemparkan pohon ke arah Layla.


"Awas!" Toro pun langsung menarik tangan Layla dan berlari ke arah lain menjauhi pohon yang terlempar itu. Layla benar-benar sudah ketakutan dan terus mengambil nafas pendek berulangkali, begitu juga dengan Toro. Toro lalu membawa Layla ke WC untuk bersembunyi.


"Kalau begini terus, kita semua akan mati!" teriak Layla sudah tak bisa berpikir jernih, namun Toro langsung menutup mulut Layla dengan tangannya.


"Diam! Aku punya rencana," ucap Toro berusaha untuk tidak bersuara keras. Suara monster raksasa itu masih berada di dekat Toro dan Layla dan menyerang murid-murid yang berlari di sekitar. Toro pun lalu melepaskan tangannya yang menutup mulut Layla setelah suara monster raksasa itu sudah tidak terlalu terdengar.


"Memangnya kau punya rencana apa?" tanya Layla berusaha menenangkan diri nya. Toro pun lalu membuka sedikit pintu dan mengintip apa yang terjadi. Terlihat murid-murid masih berteriak dan berusaha mencari tempat bersembunyi karena monster raksasa itu terus mengejar mereka..


"Baiklah, dalam hitungan ketiga, kita akan—Ikhfa!!"