
Tiba-tiba ada suara dari seseorang dan itu ternyata....
"Kak Seiko?! Kakak!"
Sontak aku berlari menuju kak Seiko, hendak memeluk nya, namun...
PLAK.
Tiba-tiba Layla ada didepan ku dan memukul ku.
"HEI, aku tau kau sangat merindukan saudara mu...
"APA MASALAH MU?!"
Tapi tolong jangan BERLEBIHAN! Saudara mu itu cewek, apakah kau tidak melihat ekspresi orang lain ketika melihat sikap mu TADI!" Ucap Layla membentak ku.
Aku pun memegang kepala ku dan melihat-lihat sekiling ku.
"Iya-iya, kau tidak perlu memukul ku seperti itu juga mbak serigala," gerutu ku.
APA!
[Pov Ikhfa]
"Hadeeh, mereka memang tidak bisa ribut sehari saja," ucap ku seraya memegang kening ku.
"...Hei, siapa kau?" Tanya kakak nya Toro kepadaku.
"Oh, hai juga kak. Perkenalkan nama ku Ikhfa, salam kenal ya kak," jawab ku dengan santun.
"Salam kenal juga. Tenang saja kok aku seumuran dengan kalian kok. Oh iya nama ku adalah Seiko, panggil saja Iko," ucap Seiko kakak nya Toro seraya berjabatan tangan dengan ku.
"Iko? Sepertinya aku akan memanggil mu Seiko saja boleh hahaha?" Pinta ku kepada Seiko seraya membuat candaan dengan nya.
"Tentu saja boleh hahaha,"
Kami berdua pun tertawa sejenak dan melanjutkan obrolan kami berdua.
"oh iya Sei. Dua orang itu siapa ya?" Tanya ku kepada Seiko.
"Oh, mereka berdua adalah teman-teman ku di asrama. Mari ikut dengan ku,"
"Eh, ngga tea. Ini ada yang mau kenalan, namanya Ikhfa. Dia sendiri adalah teman dari saudara ku," ucap Seiko kepada teman-temannya.
"Hai, semua. Salam kenal ya, nama ku Ikhfa," ujar ku memperkenalkan diri.
"Hai, juga. Nama ku Angga, yang ini Tea,"
"Hai,"
"Senang berkenalan dengan mu," ucap salah satu anak itu seraya mengulurkan tangan hendak berjabatan tangan dengan ku.
"Oh iya, Sei. Kamu sudah mendapatkan pedang mu belum dari pak Hamzah?" Tanya ku kepada Seiko.
"Sepertinya belum, siapa pak Hamzah itu?" Jawab Seiko kepadaku.
"Eh, ternyata belum. Kalau kamu ingin kenal dengan Hamzah, yok ikut dengan ku untuk menemuinya, yang lain juga yaa," ucap ku mengajak Seiko untuk menemui pak Hamzah.
Mereka bertiga pun hanya menganguk dan mengikuti ku.
...------------------------...
"Hai, pak Hamzah. Perkenalkan ini Seiko dan teman-temannya," ucap ku kepada pak Hamzah.
"Hai juga nak. Halo nak perkenalkan juga, nama bapak Hamzah. Kalau anak-anak yang manis-manis ini siapa namanya?" Tanya pak Hamzah kepada kami.
"Halo pak, nama ku Seiko, ini Angga dan Tea. Salam kenal ya pak," jawab Seiko memperkenalkan diri dan teman-temannya kepada pak Hamzah.
"Iya nak, salam kenal juga ya," ucap pak Hamzah kepada mereka.
"Oh iya, pak. Bapak masih menyimpan pedang dan senjata untuk Seiko dan teman-temannya?" Tanya ku kepada pak Hamzah.
"Oh itu, masih ada kok nak. Bentar bapak ambil dulu, oh iya nak Ikhfa boleh ikut bapak sebentar tidak" jawab pak Hamzah seraya hendak mengambil pedang dan senjata-senjata yang lainnya.
"Uah, itu senjata-senjata nya yaa, silahkan diambil karena senjata nya sama semua," ucap pak Hamzah seraya menjelaskan cara-cara menggunakan senjata-senjata itu.
"Oh iya, Sei. Nih pedang emas dari kakak mu," ucap ku seraya memberikan pedang kepada Seiko.
"Oh ok, terima kasih ya Ikhfa. Oh iya bagaimana kabar kakak ku fa?" Tanya Seiko kepadaku.
"Emm, jadi seperti ini. Kalau tentang kakak mu..."
Aku pun menjelaskan apa yang telah terjadi kepada Seiko.
"Oh, seperti itu," ucap Seiko dengan suara yang rendah.
Seiko pun menitih kan air mata dan menangis tersegu-segu seraya memanggil nama kakak nya tersebut. "Mas ardi, mas ardi, mas ardi" itulah nama yang ia sebutkan. Aku pun hanya bisa terdiam dan berusaha menenangkan Seiko, malam yang haru.
...---------------------------- ...
Keesokan harinya, aku pun menceritakan semua hal yang terjadi tadi malam kepada Toro dan aku meminta maaf kepada toro. Perasaan ku sungguh... tidak enak ketika aku menceritakan semuanya kepada Toro.
"Oh, ternyata seperti itu. Tidak apa-apa sobat, tenang saja. Terima kasih ya sob, telah menyampaikan pesan-pesan terakhir dari kakak kami kepada kakak ku Seiko," ucap Toro menenangkan ku.
Suasana menjadi hening seketika saat itu.
"OYY, TORO IKHFA, OYY" Teriak Layla memanggil kami berdua dari kejauhan.
"Ah, sepertinya kita sudah dicari, mari Ikhfa kita menuju kesana," ucap Toro kepadaku.
Aku pun hanya mengiyakannya saja dan pergi bersama Toro untuk menemui Layla dan yang lainnya.