
[POV Toro]
Aku terkejut ketika melihat Ikhfa yang sudah terpojok oleh monster raksasa itu.
"La, kau alihkan perhatiannya sebentar, aku akan menolong Ikhfa." Setelah memberikan arahan, aku pun langsung bergegas berlari keluar dari WC meninggalkan Layla sendirian.
"Hei tung— ah, Toro!" pekik Layla sambil mengacak-acak rambutnya karena aku sudah mulai gegabah. Namun Layla langsung berpikir tenang dan berusaha berpikir cara untuk mengalihkan perhatian monster raksasa itu agar aku dan Ikhfa bisa selamat.
"Tolong!" teriak Ikhfa yang tersungkur di tanah dan tak bisa bangun karena monster raksasa itu sudah tepat di depannya.
Haaaaaa
Monster raksasa itu langsung mengarahkan tangannya untuk menumbuk Ikhfa.
"Terima ini!" teriak Layla langsung melemparkan batu-batu kecil ke arah monster raksasa itu. Monster itu langsung berteriak keras dan marah karena sebagian batu itu mengenai matanya.
"Cepat lari!" teriak ku sambil menarik tangan Ikhfa dan berlari kembali ke arah Layla. Monster itu seketika langsung menginjakkan kakinya ke tanah dan membuat tanah dibelakang ku dan Ikhfa terangkat.
"Lebih cepat!" teriak ku sambil terus berlari sekuat tenaga, begitu juga dengan Ikhfa. Layla pun berlari menuju aku dan Ikhfa lalu menarik tangan ku dengan cepat.
"Kita bersembunyi di gudang!" ujar Layla sambil menarik tangan ku dan berlari ke arah gudang yang ada di sebelah kiri mereka. Ikhfa juga mengikuti ku dan Layla karena tangannya juga masih ditarik oleh ku.
Sedangkan monster raksasa itu berusaha mengeluarkan batu yang masuk ke matanya sambil terus menghentakkan kakinya ke tanah dan membuat goncangan yang cukup besar.
Aku, Layla, dan Ikhfa pun langsung menutup pintu gudang setelah berhasil masuk ke dalam. Layla mengunci pintu masuk, sedangkan aku dan Ikhfa mendorong lemari dan mengambil kursi-kursi untuk menutup pintu.
Haaaaa
Teriak monster raksasa itu sudah kehilangan keberadaan Ikhfa. Monster itu pun langsung pergi ke arah lain mencari Ikhfa yang sudah bersama dengan aku dan Layla sambil berteriak dan menghancurkan atap bangunan dengan tangannya. Siswa yang bersembunyi di sana pun langsung berlari berhamburan keluar dan mencari tempat bersembunyi yang lain agar tidak tertangkap monster raksasa itu.
"Fiyuh, akhirnya selamat," ucap Layla, sambil duduk bersandar di meja yang digunakan untuk menutup pintu. Sedangkan aku dan Ikhfa berbaring sejenak di lantai lalu bangun dan duduk menghadap Layla.
"Ku pikir aku akan mati," kata Ikhfa sambil menghela nafasnya lalu melihat ke arah Layla yang sedang memejamkan matanya sejenak.
"Sementara, kita sembunyi dulu disini," ujar Layla bangun dari duduknya lalu melihat ke arah jendela mengecek keadaan. Monster itu sama sekali tidak terlihat.
"Ya, daripada kita harus mencari tempat lain," sambung ku sambil melihat sekeliling. Gudang itu benar-benar berdebu dan kotor karena tidak terawat. Aku pun bangun dan membersihkan celana dan bajunya yang ikut kotor karena debu.
"Oh ya, itu cewekmu, Ro?" tanya Ikhfa sambil berdiri dan membersihkan baju dan celananya yang berdebu.
"Enak aja kau bilang ya!" ucap Layla sambil mengepalkan tangan kanannya dan menepuk-nepuk nya dengan telapak tangan kirinya sendiri.
"Bukan-bukan, Layla itu temanku, cuma kadang kalau marah kaya serigala," ujar ku mencoba mencairkan suasana sambil menepuk-nepuk punggung Ikhfa.
"Oh, temennya Toro ya," ucap Ikhfa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Layla pun menghela nafas dan menjulurkan tangannya pada Ikhfa.
"Ya, namaku Layla," ucap Layla memperkenalkan diri nya. Ikhfa pun membalas uluran tangan Layla dengan sedikit gugup.
"Namaku, Ikhfa. Teman Toro dari TK," ujar Ikhfa lalu melepaskan tangannya dari genggaman Layla dan langsung membisikkan sesuatu pada ku.
"Dia beneran temen lu? Jangan-jangan beneran ceweklu hihi,"
"Dia beneran temen lu? Jangan-jangan beneran ceweklu hihi," sindir Ikhfa membisikkannya di telinga ku.
"Ya gak lah, mana mau aku ma serigala," ujar ku dengan percaya diri sambil melirik ke arah Layla.
"Oh, serigala ya," kata Layla sambil menatap mata ku dengan tajam.
Layla pun langsung memukul kepala aku dengan keras.
"Adadada … sakit!" rengek ku sambil memegangi kepala ku yang habis dipukuli Layla.
"Lebay! Dipukul satu kali doang sakitnya gitu!" ejek Layla sambil memukul lagi kepala ku.
"Aduh …," rengek ku lagi.
"Dengerin ya! Gua juga gak mau ama lu hihihi," ejek Layla dengan sombongnya.
"Udah, udah! Tar aku nikahin nih," ujar Ikhfa melerai ku dan Layla.
Aku dan Layla pun diam dan hanya menatap sinis Ikhfa.
HUAAAA … HUAAAA
"Tolong!"
"Selamatkan diri!!"
"Buka pintunya!!"
Suara teriakan siswa-siswi dan monster raksasa terdengar dari luar gudang dan membuat ku, Layla, dan Ikhfa terkejut dan langsung melihat ke luar jendela.
"Hei!! Buka pintunya!!"
"Tolong kami!"
Suara teriakan siswa-siswi terdengar sedang mencoba membuka pintu gudang tempat ku, Layla, dan Ikhfa bersembunyi.
"Cepat buka!" teriak ku dengan lantang.
Layla dan Ikhfa pun langsung memindahkan semua kursi, meja, dan lemari yang menghalangi pintu gudang dari dalam.
"Cepat!" teriak ku.
"Lu bantuin juga napa!" teriak Layla sambil membanting kursi ke arah ku.
"AAAA! TOLONG!!"
"LEPASKAN AKU!!"
Belum sempat aku membantu Layla dan Ikhfa, suara teriakan siswa-siswi yang sudah tertangkap monster raksasa itu membuat ku langsung melihat ke luar jendela.
"Awas!" teriak ku langsung mendorong lemari yang menghalangi pintu gudang.
Layla dan Ikhfa langsung menghindar dan menjauhi lemari yang terjatuh ke arah samping dan hampir mengenai mereka berdua.
"Cepat! Kita harus menyelamatkan mereka!" tegas ku sambil berusaha membuka pintu gudang yang ternyata sudah terkunci dari luar akibat guncangan monster raksasa itu sebelumnya.
"Memangnya kau bisa menyelamatkan mereka dengan tangan kosong hah!!" teriak Layla sambil menahan tangan ku yang masih berusaha menarik pintu agar terbuka.
Aku pun lalu berhenti menarik pintu dan menghela nafas sebentar.
Aku pun langsung pergi mengambil sapu yang ada di gudang.
"Baiklah. Kita akan susun rencananya," ucap ku dengan percaya diri lalu memisahkan gagang sapu dengan penyapunya.
Sementara keadaan di luar gudang. Monster-monster raksasa masih terus menyerang dan menghancurkan apa yang ada di sekolah.
HUAAAA … HAHAHAHA
"Lepaskan aku!" teriak seorang murid yang sudah tertangkap monster raksasa yang tadi menyerang di dekat gudang tempat ku, Layla, dan Ikhfa bersembunyi.
Ada beberapa murid yang sudah ditangkap dan dicengkeram oleh raksasa itu sampai tak sadarkan diri.
Siswa-siswi yang masih belum tertangkap hanya terus berlari berusaha kabur dari kejaran monster raksasa itu.
"Tolong!!"
"Siapa saja, tolong!!"
Suara siswa-siswi yang masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan monster raksasa itu semakin menjadi-jadi dan terus terdengar oleh ku, Layla, dan Ikhfa.
"Baiklah, kita akan mulai dalam hitungan ketiga," ucap ku sambil menggenggam gagang pintu gudang.
Layla dan Ikhfa pun ikut menggenggam gagang pintu gudang bersama ku.
"Satu, dua, tiga!" serentak ku, Layla, dan Ikhfa menarik pintu gudang dan membukanya dengan paksa.
BRAK!!
Pintu gudang pun langsung terbuka.
"Sekarang!" teriak ku dengan cepat langsung berlari ke arah monster raksasa itu dengan membawa sapu yang hanya tersisa gagang nya yang pucuknya lancip seperti tombak.
"Baiklah, kita akan tunggu seperti rencana kita sebelumnya," ujar Layla sambil bersiap dengan menggenggam erat gagang sapu yang lancip seperti yang dibawa oleh ku.
"Semoga saja ini berhasil," pikir Ikhfa sambil melihat ku yang sudah berlari sekencang mungkin ke arah monster raksasa itu dengan gagang sapu di tangannya.
"Rasakan ini!!".