
"Ah sepertinya kita akan aman disini," ujar Ikhfa seraya bersandar dan mulai bersantai.
"Sepertinya begitu" ujar layla. Tapi ikhfa apakah tidak sebaiknya kita berwaspada, bisa saja para monster itu menemukan tempat bersembunyian ini," ujar Layla seraya berpikir dan memegang dagunya.
"Benar juga, tapi kita harus memulihkan diri terlebih dahulu, mari beri mereka kepercayaan sedikit," ucap ku yang berusaha duduk dan melihat klub beladiri yang sedang berlatih.
"Yah boleh lah. Sahut layla. em hai Ikhfa. Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya nya seraya menundukkan kepalanya dengan suara pelan
"boleh, ingin bertanya apa?" Ucap ku yang berusaha untuk duduk dan bersila.
"Emm anu, kamu kan sahabat baiknya Toro. Bisakah kamu menceritakan tentang dia itu orangnya seperti apa?" tanya Layla dengan pipi yang memerah dan mata yang menatap kebawah.
"Ooo, sepertinya kamu mulai tertarik dengan Toro, ahihihi" ujar ku menggoda layla.
"Bukan seperti itu bodoh!" ucap Layla memukul kepala ikhfa.
"Aduh, iya-iya ternyata sakit juga pukulannya, pantes saja dia dipanggil serigala oleh Toro, sekali mukul rasanya kayak dicakar serigala aduh duh duh," ungkap ku seraya memegang kepalanya.
"APA!!!!" teriak Layla hendak memukul ikhfa sekali lagi.
"Eeett iya-iya aku ceritakan. Duhh kepala ku masih sangat sakit, tapi demi tuan putri. Hamba akan mencoba melaksanakannya, hmm mulai dari mana yaa?" ucap ku seraya memegang kepalanya yang masih sakit.
"HEI CEPAATT!" teriak Layla mengancam ikhfa
[Flashback on] POV Ikhfa
"Iya-iya tolong biarkan aku tenang dulu, dan kau pun harus duduk dan tenang, agar aku bisa menceritakannya," ujar ikhfa menenangkan layla.
Dan akhirnya Ikhfa dan Layla pun mulai tenang. Akhirnya Ikhfa mulai menceritakan tentang Toro.
Toro, sejak dua tahun yang lalu memang dia sudah tidak memiliki tempat untuk pulang, dia anak yang sejak kecil, dibuang oleh ayahnya, dia tinggal bersama dengan neneknya, namun dua tahun lalu neneknya meninggal dan akhirnya dia sebatang kara.
Sejak masih bayi Toro tidak dianggap sebagai anak dari ayahnya
Akhirnya ibunya pun kabur dan pergi ketempat neneknya. Ibu Toro pun jatuh sakit karena berkerja keras demi menghidupi Toro, dan akhirnya ibunya meninggal dunia. Dikarenakan berkerja sangat keras, pada saat ibunya meninggal saat itu Toro berumur 5 tahun dan saat itu juga aku disana dan memperhatikan Toro yang menangis di kuburan ibunya saat itu aku bersama ayah ku.
"Nak dia adalah Toro, berteman lah dengannya," ujar ayah ku.
"Baiklah Ayah" ucap ku dengan polos.
Sejak saat itu, aku melihatnya di sekolah. Dia dibuly karena tidak pernah pergi bersama orang tuanya.
"Ayah, kenapa dia diperlakukan seperti itu ayah, apa yang salah darinya?" tanya ku dengan wajah yang polos.
"Anak ku, jangan pernah seperti itu kepadanya, dia tidak sama seperti mu dan orang lain. Dia tetap kuat walau banyak orang yang mengejeknya karena sedikit perbedaan darinya. Coba dekati dia, berteman lah dengannya" ucap ayahku seraya duduk dan memegang pipi ku
"Baiklah Ayah aku ijin pergi dulu menemui dia yaa" ucap ku dengan polos.
Akhirnya aku pun berlari menuju Toro yang sedang menangis karena dibuly.
"Hai. Aku Ikhfa, maukah engkau menjadi teman ku? " ucap ku seraya memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan.
Namun Toro memukul tanganku dan menolaknya .
"Jangan berpura-pura ingin menjadi temanku, aku tau, kau hanya berpura-pura ingin menjadi temanku agar kau bisa mengerti semua rahasia ku dan mengejek ku kan?!" Ucap Toro dengan nada tinggi, dan pergi meninggalkan Ikhfa.
Lalu Ayah ku pun menghampiri ku dan menggandeng ku pergi dari tempat itu.
"Yahh itulah kenapa kamu harus berteman dengannya, karena dia sudah tidak percaya dengan siapapun, dia sudah kehilangan ibunya, dia sudah diejek dan dikucilkan dia hanya butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya dan tempat bersandar dikala dia bersedih, anak ku jangan pernah engkau membencinya karena sikapnya yang seperti itu dekati dia dan berusaha baik untuknya agar beban yang ada dipundak nya sedikit berkurang, itu pesan ayah ya nak" ucap ayahku seraya duduk dan memegang pipi ku.
"Baiklah ayah aku akan melakukan apa yang ayah pesan kan untuk ku" ujar ku dengan polos dan menganggukan kepala ku"
"Ayo, ayah gendong"
akhirnya ayah menggendong ku dan berjalan pulang ke rumah, keesokan harinya ayah mengatakan bahwa ayahku mulai hari ini tidak mengatarku ke sekolah karena ayah ingin membuat aku mandiri seperti Toro, yahh ada sedikit amarah dalam hatiku namun aku sudah berjanji untuk selalu menuruti pesan dan perintah dari ayah ku, lalu ayah ku berpesan kepada ku.
"Jangan lupa akan janji mu kemarin yaa anak ku" ucap ayahku dengan nada suara yang halus.
"Iyah ayah aku tidak akan lupa pesan dari ayah" ujar ku seraya tersenyum riang kepada ayah ku.
"Sudah - sudah mari kita sarapan dulu" ucap Ibu ku
Lalu kami pun sarapan, setelah itu aku pun berpamitan dengan ibu dan Ayah ku.
"Aku pergi dulu ibu ayah" ujar ku seraya mencium tangan ibu dan ayah ku.
Setelah aku berpamitan dengan ibu dan ayah ku, aku pun melihat Toro sedang dibuly oleh para anak-anak lain, sontak aku pun berlari menuju Toro.
"HEI BERHENTI MENGGANGGUNYA!!" Teriak ku membela Toro dan berusaha menjadi tamengnya.
"Hahaha, untuk apa kau membelanya dia anak yang mempunyai pitak yang besar dikenalnya, hahahaha dia juga tidak punya ibu dan ayah hahahaha, untuk apa kau membelanya? MINGGIR! Sebelum kau diperlukan sama seperti dia" acam anak-anak itu kepadaku.
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN PERGI DARI SINI!" Bentak ku
"APA?!! Jangan bermain-main dengan kami!" Acam salah satu anak itu dengan tatapan mata yang tajam kepada ku.
"Hai Toro,apakah kau bisa berdiri dan berlari?" Tanya ku kepada Toro
"Ha? Iya aku masih bisa berlari tapi mengapa...." jawab Toro. "Baiklah ayo lari" potong ku menarik tangan Toro dan berlari dari anak-anak itu nakal itu.
"HEI, JANGAN KABUR!!!"
kami pun kabur ke belakang sekolah.
Sementara itu masih terdengar suara anak-anak itu yang bertanya-tanya tentang keberadaan kami.
"Sepertinya kita sudah aman" ucap ku mengecek, apakah mereka sudah pergi atau belum.
"Sepertinya begitu" sahut toro. Tapi mengapa kau mengetahui nama ku adalah Toro?" Tanya Toro kepadaku
"Hmm, sebenarnya aku mengetahui nama mu dari Ayah ku, Ayah ku juga yang menginginkan aku menjadi teman mu" ujar ku memegang kepala dan tersenyum manis kepada Toro.
"Oh, begitu ya berarti kau terpaksa menolong ku, karena disuruh Ayah mu kan? Sepertinya aku benar-benar tidak memiliki teman yang mau berteman dengan ku tanpa disuruh atau terpaksa" ucap Toro dengan nada rendah.
"Tidak juga, aku malahan belajar dari kau karena kau sangat berbeda sekali dengan anak-anak yang lain" ujar ku dengan nada yang rendah.
Lalu Toro melirik ku dan tidak bisa berkata-kata.
"Baiklah mari kita masuk ke kelas. Sebentar lagi bel masuk berbunyi jadi mari kita bergegas" ucap ku