
Di hutan Chen Fan mulai berlatih, "Berlatih di tempat ini memang yang paling nyaman."
Ding Tao mendekat dengan tawa jahat, "Chen Fan kau telah cari mati karena membuat masalah denganku! Sekarang aku membawa Shun Sa! Kau tidak akan bisa berurusan dengan orang seperti dia!"
Ding Tao membawa 3 orang yang mempunyai wajah seram, dan yang paling seram adalah orang berkepala botak dengan badan dan otot yang besar, ia bernama Shun Sa.
"Ha? Ding Tao." Chen Fan menggela nafas lalu berbicara dengan wajah malas, "Aku peringatkan, aku tidak ingin berurusan dengan kalian."
Chen Fan sangat malas dia hanya ingin berlatih. Tanpa sepatah kata pun dia berjalan menjauh dari mereka.
"Idiot, berhenti di sana. '' Tiba-tiba Shun Sa meraung.
Chen Fan mengabaikannya dan terus berjalan.
"Bajingan, beraninya kamu mengabaikanku?" Shun Sa marah. Wajahnya berubah. Dia menggerakkan tubuhnya dan sebuah kapak ia ayunkan kearah punggung Chen Fan.
Melihat kapak mengarah di belakang punggungnya, Chen Fan tiba-tiba berbalik dengan mata dingin. Dia menghindar dan tangan kanannya meninju dengan kuat dan penuh semangat saat qi langsung meledak darinya.
"Jangan melampaui batas!"
Saat Chen Fan meraung, suara itu terdengar bersamaan dengan kekuatan lengannya. Tinju Chen Fan mengenai tepat mukanya.
BANG!
Shun Sa terhuyung mundur beberapa langkah, hidungnya mengluarkan darah dan merasa sedikit kesakitan. Sementara Chen Fan tetap berdiri di tempat.
Meskipun dia dipukul sekali tepat pada mukanya, Shun Sa benar-benar terkejut.
"Bagaimana bisa?" Shun Sa memelototi Chen Fan dengan mata melotot.
"Idiot itu bisa bertarung?" Ding Tao yang melihat apa yang terjadi merasa bingung.
"Bocah, aku akui aku meremehkanmu. Aku tidak berharap bahwa kamu dapat mempunyai kekuatan yang hebat. Tetapi itu tidak masalah karena kamu tidak tahu apa itu seni bela diri. Di depanku, kamu masih seorang idiot." Shun San menatap Chen Fan. Kekuatan qi yang mengalir dari kapak tajamnya menunjukkan bahwa dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya.
Chen Fan menyipitkan matanya. Orang yang tidak bisa sopan kepada orang lain harus diberi sebuah pelajaran.
"Wind Axe swing." Shun Sa meraung, dia menghantamkan kapaknya pada Chen Fan. Saat bersamaan terderang suara "Hush" yang nyaring.
Dengan Mudah Chen Fan menghindarinya, kanan, kiri, kanan, kiri. Shun Sa mulai tertekan dia tidak dapat mengenai Chen Fan sedikitpun.
"Bajingan ini! Trik apa yang dia punya? Kalian berdua serang dia!" Shun Sa memberikan perintah dan kedua orang itu bergegas menyerang Chen Fan dari arah kanan dan kiri.
"Mati!" Dengan pedang tajam mereka berdua menebas Chen Fan.
Chen Fan santai, Saat mereka berdua dalam jangkauannya dia langsung meloncat dan menendang mereka berdua secara bersamaan dan sangat keras.
"Uh!"
"Arg!"
Dua orang itu memuntahkan seteguk darah segar dan terhempas lebih dari sepuluh meter, Shun Sa mulai gelisah tapi dia masih mempunyai kesempatan. Dengan Kapak ditanggannya serangan Kapak yang kasar ia lancarkan, "Idiot ini!"
Tatapan mata dingin bersinar dan Chen Fan dengan mudah menendang kapak tersebut sampai jatuh ketanah, lalu dia melakukan tendangan menyamping dengan mengenai perut Shun Sa.
"Argh!"
Shun Sa terhempas, dia merasa kesakitan. Tapi dari semua itu dia merasa ketakutan. Bocah Idiot terkenal di desa menjadi monster yang tidak dapat dikalahkan.
"Semuanya ayo pergi!" Shun Sa berlari pergi dengan panik.
"Bos tunggu kami." Dan kedua orang itu mengikuti Shun Sa dengan wajah ketakutan.
Mereka bertiga telah melarikan diri, tinggal Ding Tao yang ada di tempat itu, dia juga ingin pergi tapi tubuhnya seperti membeku, ditambah tubuhnya gemetaran. Awalnya dia mengira Shun Sa akan dengan mudah menghajar Chen Fan sampai sekarat, tapi hal itu malah terbalik. Shun Sa seperti anak kecil saat dia melarikan diri, "Ini tidak mungkin! Bagaimana dia... bisa menjadi... begitu kuat?"
Chen Fan mendekat, dia memegang leher Ding Tao dengan tangan kirinya, "Sebenarnya aku tidak ingin berurusan denganmu, tapi kamulah yang telah memaksaku. Kalau dipikir-pikir kau akan menjadi tipe yang sadar setelah dipukul, kau orang arogan yang harus diberi pelajaran."
"Tu... tunggu! Aku sala..."
Buk!
"Selama ini kamu telah memukul orang yang lebih lemah darimu kan?" Tanya Chen Fan yang telah muak dengan sifat brengsek Ding Tao.
"Maafkan aku! Jika aku melahatmu lagi aku akan meng..."
Buk!
Buk!
Buk!
Ding Tao dihajar habis-habian oleh Chen Fan, wajahnya babak belur, tak terbentuk dan menjadi sangat jelek.
"Aku yakin orang sepertimu tidak akan merenungkan tindakanmu dalam waktu dekat. Jika kau tidak ingin di pukul lagi, enyahlah!" Ucap Chen Fan dengan suara tegas.
"B... baik." Ding Tao berjalan pergi dengan kaki dengklang, wajah dan badannya terasa menyakitkan.
Chen Fan melipatkan tangan didadanya, lalu dia menghela nafas pendek, "Aku tidak percaya aku harus berurusan dengan Ding Tao idiot dan Shun Sa. Banyak hal aneh terjadi sekaligus hari ini. Tapi walaupun begitu aku dapat mengalahkan mereka dengan sangat mudah."
Di pagi hari saat Chen Fan masih tertidur.
"Pemilik penginapan!"
"Pemilik penginapan!"
Sontak suara itu membuat Chen Fan bangun sekaligus terkejut, "Ap... apa?!" Lalu dia berlari kearah sumber suara.
Membuka pintu kamar Chen Fan bertanya dengan panik, "Apa ada masalah!"
"Air. Aku haus ambilkan aku air." Ucap wanita berambut ungu itu sambil berbaring di kasur dengan santainya.
"Huh!" Hal tersebut membuat Chen Fan sangat jengkel, dia menahan amarahnya sampai tubuhnya gemetar, "Ada air dibawah tempat tidurmu."
"Ah masa? Lalu, aku ingin minum teh. Ambilkan aku secangkir teh."
"Aku akan membuatkanmu secangkir teh di restoran, di lantai bawah. Jadi turunlah." Ucap Chen Fan dengan wajah jenggkel yang masih menahan emosi.
Melihat wajah Chen Fan yang menjengkelkan, wanita berambut ungu itu berkata dengan wajah jengkel juga, "Betulkah? Jadi kami akan sekalian saja mengikuti kamu pergi ke bawah."
Di restoran, Ji Huanran sudah ada disana dan sedang meminum secangkir teh hangat dengan sangat nikmat.
Mendatangi Ji Huanran dengan melipatkan tangan didada, wanita berambut ungu berkata, "Ji Huanran, apa kau tidur nyenyak di gudang? Apa disana sangat kotor?"
"Ah... aku..."
Sebelum Ji Huanran menyelesaikan perkataannya, Chen Fan langung menyaut pembicaraan mereka, "Gudang kotor kita sudah aku bersihkan tadi malam dan dia pasti tidur nyenyak, bukankah itu benar?"
"Ah... ya..." Ji Huanran melirik ke Chen Fan dan tersenyum hangat, dia benar-benar berterimakasih kepada kebaikan Chen Fan.
Saat mereka akan pergi, Chen Wei dan Chen Fan mengantarkan mereka sampai diluar penginapan.
"Kami harap kalian akan mengunjungi kami lagi. Semoga perjalanan kalian aman." Ucap Chen Wei denga ramah, lalu dia menggoda Chen Fan, "Chen Fan, apakah kamu mencintai gadis yang bernama Ji Huanran itu? Aku melihatmu hanya bersahabat dengan dia."
"Tidak mungkin... bukan seperti itu. Aku tidak tahu apa mereka bersaudara. Tapi mereka tidak terlalu baik satu sama lain. Aku baik karena aku mengasihani dia." Ucap Chen Fan dengan wajah yang sedikit terlihat sedih.
"Oho... benarkah?" Chen Wei kurang percaya.
"Iya!" Jawab Chen Fan tegas.
"Chen Mei Yin, Chen Mingmei." Pada saat itu Chen Fan teringat oleh kedua adiknya, dia merasa rindu kepada mereka. Chen Fan menatap langit lalu bertanya, "Ayah apakah Chen Mei Yin dan Chen Mengmei baik-baik saja di Sekte Beiyang?"
"Semoga saja." Jawab Chen Wei dengan tersenyum. Walaupun begitu dia juga merasa kurang yakin dan sangat merindukan kedua putrinya.