
Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang terang menyelimuti seluruh kota Fuzhou.
"Kak kami akan kembali ke Sekte." Chen Mei Yin sudah berkemas dan sudah bersiap untuk pergi.
"Setelah kami memita ijin kepada guru kami. Kami akan segera pulang ke rumah." Chen Mengmei juga sudah berkemas dan bersiap untuk pergi.
"Baiklah... hati-hati di jalan."
Chen Fan melambaikan tangan, begitu pula dengan Chen Mei Yin dan Chen Mengmei melambaikan tangan mereka dan berjalan pergi.
"Yah waktunya kembali."
Hari ini merupakan hari Grup Dagang Elang Putih untuk kembali ke desa, dan Chen Fan pergi untuk berkumpul dengan Grup Dagang Elang putih.
"Nona, apa kita benar-benar akan melakukan rencana itu?" Tanya Ki Wukan dengan gelisah.
"Iya... kesepakatan ini sangat menguntungkan bagiku, hal kecil harus dikorbakan dan kita akan memberi kompensasi yang besar bagi keluarganya. Lagi pula mereka sudah memberiku pil Yuhai sebagai kesepakatan awal." Jawab Li Yi dengan tenang.
"B-baiklah..."
Ki Wukan merasa khawatir dengan rencana Li Yi, walaupun begitu imbalan dari rencana yang akan mereka jalankan sangat besar. Tetapi akan ada yang dikorbankan, itu membuat Ki Wukan gelisah sepanjang malam sampai sekarang.
"Halo nona, halo komandan Ki Wukan." Sapa Chen Fan yang baru datang.
"Ouh... C-Chen Fan. Bersiaplah kita akan segera keluar dari kota Fuzhou." Ucap Li Yi yang berbalik dan langsung masuk ke kereta kuda.
Ekpresi Li Yi dan Ki Wukan yang melihat dirinya dengan ekpresi aneh, Chen Fan merasakan ada sesuatu yang janggal. Tapi dia tidak mempermasalahkan hal tersebut dan mencoba melupakannya.
Di siang hari, setelah persiapan Grup Dagang Elang Putih telah selesai. Mereka keluar dari kota Fuzhou menuju tempat asal mereka yaitu desa Jiankang.
Satu hari berlalu dengan perjalan yang aman dan tenang.
"Kita akan mengambil jalur kiri naik ke pegunungan untuk mempercepat perjalanan!"
Di hari kedua Grup Dagang Elang Putih melalui pegunungan Kinki, tanpa hambatan mereka terus berjalan menelusuri pegunungan.
"Berhenti! Kita istirahat untuk makan siang!"
Ditengah-tengah pegunungan yang tinggi, grup dagang elang putih beristirahat di tempat tersebut.
Semua orang makan sambil memandangi pemandangan yang indah di sekitar, begitu pula dengan Chen Fan yang menikmati daerah sekitar.
"Tempat ini benar-benar indah. Tapi apa kalian tahu bahwa pegunungan Kinki merupakan tempat yang bahaya dan banyak penjahat?"
Seorang pria botak dengan pipi monyet dan bermata tajam berkata dengan serius, seolah berbicara tentang sesuatu yang sangat penting.
"Apa yang kamu ketahui?"
Setelah mendengar perkataan pria botak itu beberapa orang segera berkumpul.
Pria botak itu ragu-ragu, dan tiba-tiba dia menunjuk ke bukit paling tinggi dan berkata, "Bukit itu, bukit yang bernama bukit setan. Sarangnya para roh jahat dan beberapa hewan buas yang mengerikam berkumpul di sana."
"Apa roh jahat dan hewan buas?"
Orang-orang disekitar seketika berseru.
"Ya, aku tidak berbohong padamu." Pria botak itu mendengus dan berkata, "Beberapa orang pernah kesana untuk untuk menyelidiki tempat yang dirumorkan berbahaya, tapi na'as orang yang kesana tidak pernah kembali. Bahkan sampai sekarang warga sekitar takut untuk mendekat ke bukit setan."
Dari jarak tidak terlalu jauh Chen Fan mendengar pembicaraan mereka, dia mengalihkan pandangannya ke bukit paling tinggi yang bernama bukit setan.
Bukit tinggi yang luas dan masih asri dengan pesona alami-nya, seperti belum tersentuh tangan manusia sedikitpun. Banyak pepohonan hijau yang menjulang tinggi dan suasana yang tenang, hanya ada suara aliran sungai yang mengalir deras di sekitar. Cuaca mulai mendung dan aura yang di pancarkan di Bukit Setan lebih terasa berbahaya dan menusuk, chen Fan yang memandangi Bukit Setan bisa merasakannya.
"Chen Fan apakah kamu sudah selesai makan?" Ki Wukan menghampiri Chen Fan.
"Nona memanggilmu, ayo ikuti aku."
Ki Wukan memimpin jalan dan Chen Fan mengikutinya dari belakang.
Mereka memasuki daerah pepohonan dan tak lama kemudian, Li Yi duduk dibawah pohon. Dia sedang menuangkan teh hangat kedalam secangkir gelas.
"Chen Fan duduklah."
Mendengar perkataan Li Yi, Chen Fan segera duduk bersila didepannya.
"Ada apa nona?" Tanya Chen Fan.
"Minumlah teh ini dulu sebelum dingin."
Li Yi memberikan secangkir teh hangat kepada Chen Fan, Chen Fan memandangi teh tersebut karena merasa aneh dengan aroma tehnya.
Dengan wajah ragu-ragu Chen Fan bertanya, "Teh apa ini nona?"
"Itu adalah teh buatan khas keluarga kami." Jawab Li Yi dengan tenang.
"Buatan khas keluargamu?"
Chen Fan menjadi binggung, saat dia kecil dia tahu bahwa Li Heilong yang merupakan ayah Li Yi pernah pergi penginapannya untuk makan. Setelah itu Li Heilong meminum teh khas buatan Chen Wei dan memuji Chen Wei karena membuat teh yang sangat enak, Lama kelamaan Li Heilong mulai merasa ketagihan oleh teh buatan Chen Wei. Mulai saat itu Li Heilong mulai memesan satu karung bubuk teh sebulan sekali untuk dinikmati dirumah, tetapi sejak Li Heilong mulai jatuh sakit dia tidak pernah memesan bubuk teh lagi.
"Bukankah keluargamu tidak mempunyai resep teh tersendiri?"
Li Yi seketika tertegun, wajah cantiknya menjadi sedikit pucak karena mulai merasa panik. Mencoba tenang lalu dia berkata, "M-maksutku teh ini buatanku sendiri, dan akan aku jadikan sebagai teh khas keluarga."
"Ouh... baiklah. Biar aku coba."
Chen Fan meminum teh tersebut, rasa teh itu tidak beda jauh dengan teh kebanyakan. Tetapi aroma bau teh ini cukup menyengat.
Li Yi yang melihat Chen Fan meminum teh itu menghela nafa lega, lalu ia berkata, "Chen Fan mulai hari ini aku akan melindungi keluargamu dan mencukupi mereka dalam masalah ekonomi. Aku berjanji padamu."
Chen Fan seketika bingung, "Maksud nona?"
"Mati!"
Dengan aura membunuh, Ki Wukan melepaskan pedang dari sarung pedang dan langsung menebas Chen Fan.
"Apa?"
Chen Fan terkejut tapi dengan mudah menahan pedang Ki Wukan dengan kedua tangannya.
"Sebenarnya apa maksud kalian?!"
Dalam keterkejutannya, tiba-tiba Chen Fan merasakan detak jantungnya menjadi kencang, nafasnya mulai tidak beraturan.
Dengan lompatan yang efisien Chen Fan segera mundur sepuluh meter kebelakang.
"Cough!"
Darah segara keluar dari mulut Chen Fan dan wajahnya menjadi suram. tapi tatapan mata tajamnya tertuju kepada Li Yi, "Nona, apa kamu ingin membunuhku? Kenapa?!"
"Hahaha!"
Tawa licik terdengar dan sesaat kemudian, keluar sekitar tujuh puluh lebih pria bertopeng mengelilingi Chen Fan.
Masing-masing dari pria bertopeng ini memancarkan aura yang besar, menandakan bahwa mereka semua adalah ahli seni bela diri yang sangat terlatih dan berpengalaman.
"Nona Li Yi, biarkan kami yang akan mengurus sisanya."