
“Kerja bagus, Choi Siwon.”
Kedua mata Siwon membulat melihat orang itu, tubuhnya terasa kaku seiring langkah orang itu yang semakin mendekat. Demi Tuhan, Siwon tidak tahu harus bagaimana, memberi penjelasan pun rasanya sudah percuma. Namun satu yang pasti, Siwon sangat siap jika dia harus dimarahi atau dihajar saat ini.
Siwon akui, dia sudah mengkhianati pertemanan mereka yang bagai keluarga.
“Ayo, kita bicara di rumah.” Kata orang itu setelah berdiri di hadapan Siwon, lalu menepuk sebelah bahu temannya itu sebelum berbalik pergi menuju Penthouse.
“Hei Hyung,” Siwon mengejar orang itu, pria pendek cerewet yang tak lain adalah Yesung, “Kau tidak marah?”
Yesung berhenti sejenak dan berpura-pura ingin memukul Siwon, “Tentu saja aku marah! Aku sudah tahu akan begini tapi rentenir sialan itu tetap saja keras kepala!”
“What do you mean? Dan juga, kenapa kau kembali secepat ini? Dimana Kyuhyun? Bukankah kau menemaninya menagih hutang?”
“Itu hanya alasan, bodoh. Kyuhyun akan sampai sebentar lagi. Sudahlah, bicarakan di rumah. Aku haus.”
Ya, dan akhirnya disinilah mereka, di ruang tengah Penthouse dengan posisi saling berhadapan. Yesung duduk di sofa single sambil meneguk sekaleng bir, sedangkan Siwon berlutut di depannya dengan wajah memelas. Tidak, bukan Yesung yang menyuruhnya begitu, tapi Siwon sendiri yang melakukannya sebagai pengakuan diri bahwa dia bersalah.
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Yesung sambil meletakkan kaleng birnya yang sudah kosong, “Apa kau cemburu? Kau benar-benar menyukai Hyemi? Karena itukah kau membantu Changmin memisahkan mereka?”
Siwon melotot, “Apa yang kau bicarakan, Hyung?! Aku tidak kekanak-kanakan seperti itu! Aku hanya tidak mau Kyuhyun mempermainkan Hyemi, gadis itu masih terlalu muda!”
“Hei atas dasar apa kau berpikir begitu? Kyuhyun tidak mungkin mempermainkan Hyemi!” balas Yesung yang ikut terpancing emosi.
“Kyuhyun sendiri yang mengatakannya padaku!”
“Bodoh! Kyuhyun pasti hanya bercanda!”
“Tidak, dia serius mengatakannya!”
“Lalu, hanya karena itu kau langsung memilih untuk membantu Changmin?!” kali ini, Siwon tak bisa menjawab, pria itu justru mengalihkan pandangannya ke samping. Yesung menghela nafas pelan, “Choi Siwon benar-benar…”
Setelah itu, suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara detik jam dinding di ruangan itu. Baik Yesung maupun Siwon tak ada lagi yang bicara, keduanya hanya bungkam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Siwon, jujurlah padaku, apa Kyuhyun kurang baik pada kita selama ini?” tanya Yesung memecah keheningan, suaranya terdengar pelan namun kalimatnya sungguh menusuk.
Siwon tak menyangka Yesung akan menanyakan hal itu.
Yesung melanjutkan, “Kau tahu? Sejak awal aku sudah mengetahui rencanamu dengan Changmin, aku juga sudah mengatakannya pada Kyuhyun. Semuanya. Tapi, tahu apa kata Kyuhyun? Dia justru berkata aku hanya memberitahunya omong kosong, mengira aku hanya mengadu domba kalian.”
“Apa?” suara Siwon nyaris tak terdengar.
“Demi Tuhan, Kyuhyun berkata seperti itu. Dia tidak percaya kau yang melaporkannya ke polisi, kau yang bekerja sama dengan Changmin, kau yang membantu Hyemi meninggalkannya. Kyuhyun tidak percaya semua itu karena berpikir tidak mungkin kau menjadi musuh dalam selimut. Tapi, astaga… aku sudah tahu akan begini, tapi aku tetap merasa kasihan pada Kyuhyun. Malang sekali nasibnya.” Jelas Yesung yang seakan menampar keras wajah tampan Siwon.
“Hyung…”
“Ah, dan tentang Hyemi, memang benar Kyuhyun hanya ingin mempermainkannya. Tapi, itu dulu. Di awal saja. Apa kau tidak sadar belakangan ini perasaan Kyuhyun ikut terlibat?”
“Hyung, itu…”
“Yahh, tapi mau bagaimana? Kini mereka sudah berpisah berkat seseorang.” Yesung terdengar sedih namun jelas menyindir, membuat Siwon merengut. “Tenang saja, aku tidak menyalahkanmu, Siwon. Kau melakukan hal yang bagus, niatmu baik.”
BRAKK!!!
Bukan ulah Yesung atau pun Siwon, justru keduanya tersentak kaget karena suara itu. Suara yang berasal dari pintu Penthouse yang Kyuhyun banting saat menutupnya. Sudah jelas, Kyuhyun terlihat marah sekali saat ini.
“Cho Kyuhyun, kau sudah datang.” Yesung menyapa temannya itu walaupun dia masih kaget.
Sedangkan Siwon, jangankan menyapa, menatap Kyuhyun pun dia tak berani. Siwon hanya bisa terus menunduk dan mendengar suara langkah kaki Kyuhyun. Bukan semakin jauh, justru suara langkah itu terdengar semakin mendekat, membuat Siwon jadi penasaran hingga memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya. Dan ternyata, Kyuhyun sudah berada di dekatnya.
Siwon panik, tenggorokkannya terasa kering seketika, “Kyuhyun—”
“Bangun.” Potong Kyuhyun cepat, menatap tajam pada Siwon yang masih bergeming di bawah sana. “Kubilang bangun, Choi Siwon!!!”
“Hei bangun, bangun..” sambung Yesung, membantu Siwon untuk segera menuruti perintah Kyuhyun.
Setelah Siwon berdiri di hadapan Kyuhyun, pria itu tetap menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat bersalah karena ternyata Kyuhyun sudah tahu rencananya tapi tetap lebih mempercayainya, sungguh dia baru tahu itu, sekarang Kyuhyun pasti sangat kecewa padanya. Ditambah ucapan Yesung tadi yang juga mengatakan bahwa perasaan Kyuhyun ikut terlibat belakangan ini, ahh itu benar-benar membuat rasa bersalahnya semakin menggunung.
Kyuhyun sendiri masih terus memberikan tatapan membunuhnya pada Siwon, kedua tangannya di bawah sana sudah terkepal kuat dan siap kapan saja untuk dilayangkan ke wajah temannya itu. Teman? Masih pantaskah dia menyebut Siwon sebagai teman? Setelah mengkhianatinya dan malah membantu Changmin?
Cih, menyebalkan memang, tapi hati kecil Kyuhyun juga tidak tega jika harus menyebut Siwon sebagai pengkhianat. Rasanya dia juga tidak bisa menghajar Siwon. Ya, bagaimana mau menghajar? Melihat Siwon berlutut tadi saja dia tidak suka! Sialan!
“Sudahlah. Seharusnya kau tidak bermain-main sejak awal, sikapmu yang membuat Siwon salah paham! Mana dia tahu sikap nakalmu juga pakai perasaan? Jangan terlalu menyalahkannya!” Yesung menengahi dengan omelannya, mendorong pelan bahu Kyuhyun agar menjaga jarak dengan Siwon. Yesung tahu, Siwon terintimidasi.
Lalu Yesung beralih pada Siwon yang masih menunduk khidmat, “Kau juga! Jangan asal memihak walaupun Changmin juga teman kita! Apa kau baru mengenal Kyuhyun kemarin sore huh? Tidak ‘kan?”
Kyuhyun dan Siwon menghela nafas dalam, nyaris bersamaan.
“Kalian bukan anak kecil, jangan memaksaku untuk membuat kalian berbaikan!” sentak Yesung sambil berkacak pinggang, membuat Kyuhyun mendesis tajam melihatnya.
Kyuhyun menghempaskan tubuhnya pada sofa single yang Yesung tempati sebelumnya, lalu menendang tulang kering Siwon hingga pria itu meringis kesakitan. Oh ya, sakit sekali! Kyuhyun menendangnya disaat pria itu masih memakai sepatu! “Menyingkir dariku! Pergi dari sini kalau mau menangis!”
“Hei! Kau yang membuatnya menangis!” seru Yesung sebelum balas menendang lutut Kyuhyun dengan keras, mewakili Siwon.
Kyuhyun yang tidak terima ditendang oleh Yesung, balik menendang tulang kering pria itu. Lebih keras dari saat dia menendang Siwon. “Terserah padaku mau menendang siapa! Sana pergi temani Siwon menangis!”
“Sialan! Siapa yang menangis?!” Sahut Siwon tak kalah kesal, tak lupa kaki panjangnya juga ikut menendang lutut Kyuhyun.
Tak berhenti sampai disitu, Kyuhyun juga membalas lagi menendang Siwon. Dan Siwon pun juga balas lagi menendang Kyuhyun. Begitu terus disertai teriakan-teriakan yang memekakkan telinga, membuat Yesung jengah dan memilih duduk di sofa yang lain.
Diam-diam Yesung juga tersenyum kecil, bersyukur melihat Kyuhyun dan Siwon hanya saling menendang seperti itu. Tidak sampai babak belur.
“Sudah?” tanya Yesung setelah Siwon duduk di sampingnya sambil mengusap-usap tulang keringnya, begitu juga dengan Kyuhyun yang duduk di tempatnya.
Kyuhyun mendengus kasar membalas tatapan Yesung, “Bawa kembali uang itu pada Changmin. Katakan aku tidak mau menerimanya.”
“Setelah itu, apa? Kau mau mengambil Hyemi kembali? Kau pikir Changmin akan diam saja?” serbu Yesung cepat.
“Tidak. Aku yang akan diam saja.” Kyuhyun mengatakan keputusannya dengan mantap. Tanpa ragu sedikitpun.
Yesung dan Siwon langsung berbagi pandangan mendengar hal itu, merasa aneh dengan jawaban Kyuhyun. Karena seingat mereka, Kyuhyun adalah tipikal orang yang paling tidak suka jika miliknya diambil orang lain. Oh, jangan jauh-jauh, bahkan saat Donghae dan Eunhyuk ingin membawa Hyemi kembali saja Kyuhyun langsung menggila dengan menyuruh orang menghajar dua pria itu.
Tapi, sekarang? Kyuhyun akan diam saja?
“Apa maksudnya kau melepaskan Hyemi?” bukan Yesung, tapi Siwon yang bertanya. Pria itu terlihat tidak takut lagi setelah aksi saling menendang dengan Kyuhyun.
“Tidak.” Jawab Kyuhyun datar.
“Apa maksudnya kau tidak mencintai Hyemi lagi?” nah, ini baru Yesung yang bertanya.
Kyuhyun terdiam, mulai berpikir tentang satu kata itu. Cinta. Entahlah, sepertinya ini terlalu cepat jika dikatakan cinta. Sejak awal Kyuhyun memang hanya ingin mempermainkan Hyemi, mencoba gadis itu, tapi beberapa hari belakangan ini dia melupakan hal itu dan malah sekedar tidak ingin pisah. Bahkan sekarang, hatinya tak bisa berbohong bahwa dia sudah merindukan gadis itu. Ingin kembali memeluk dan mencium gadisnya itu. Jadi, apa semua itu bisa disebut dengan cinta?
“Aku tidak tahu.” Kyuhyun menggeleng ragu.
“Lalu, apa maksudmu? Tidak mau melepaskan Hyemi tapi akan diam saja, kau pikir itu masuk akal?” Yesung terdengar gemas sekaligus kesal.
Kyuhyun menyandarkan punggungnya pada sofa, “Intinya aku tidak bisa menerima uang itu, tapi aku juga tidak akan merebut Hyemi kembali walaupun aku tidak melepaskannya. Hanya kembalikan uang itu pada Changmin.”
Yesung menyerah, dia tidak mengerti maksud Kyuhyun dan hanya bisa memutar matanya jengah. Sedangkan Siwon terlihat masih serius, sedang berpikir, dan Kyuhyun yang menyadari hal itu menunggu pria itu untuk berbicara.
Siwon berdehem pelan sambil membalas tatapan tajam Kyuhyun, “Sebenarnya, itu uang Donghae dan Eunhyuk. Mereka meminjamkannya pada Changmin agar bisa membayarmu.”
“Kau tidak bilang apapun padaku tentang itu!” Kyuhyun melotot sambil menunjuk Yesung.
“Sudah kubilang Siwon yang membantu Changmin! Dia perantaranya!” balas Yesung dengan telunjuk yang mengarah pada Siwon, “Itu maksudku waktu itu! Siwon membantu Changmin sebagai perantara dengan pengawal Hyemi, bukan Siwon yang memberi Changmin uang! Makanya dengarkan baik-baik kalau orang bicara, Tuan Marcus!”
“Hei!!” sentak Kyuhyun, marah karena dipanggil dengan nama itu.
“Come on, stop it! Kalau mau mengembalikan uang itu lebih baik langsung kembalikan saja pada Donghae dan Eunhyuk. Bagaimana?” Siwon berusaha mengalihkan pembicaraan. Atau tepatnya, menghindari kebenaran yang Yesung jabarkan tadi.
“Tidak, tetap kembalikan pada Changmin. Anggap saja kita tidak tahu uang ini milik siapa.” Lalu Kyuhyun mengambil ponselnya dari saku celana, “Aku akan menghubunginya. Kalian harus membantuku kali ini.”
-o0o-
Hyemi dan Changmin baru saja sampai di apartement studio milik pria itu, tempat yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari hotel dimana Kyuhyun tinggal. Dan hal itulah yang membuat Changmin merasa cemas. Dia takut Kyuhyun akan langsung mendatangi tempat ini dan membuat keributan setelah tahu Hyemi sudah dia bawa pergi.
Bukan tanpa alasan, Changmin berpikir begitu karena dia sangat mengenal temannya yang seorang rentenir itu. Oh, bahkan sekarang ponselnya saja sudah berbunyi tanda ada panggilan masuk. Dan benar saja, itu dari Kyuhyun.
“Tidurlah, Hyemi. Kau bisa membongkar barang-barangmu besok.” Ujar Changmin yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Hyemi, lalu pria itu beralih ke sofa panjang yang berada tidak jauh dari kasur.
Changmin menjawab panggilan masuk itu tanpa menyapa, hanya diam hingga suara di seberang sana terdengar.
“Hei pengecut, begini caramu membayar hutang?”
“…”
“Kemarilah besok, kita harus bicara. Atau abaikan saja dan biarkan Siwon kuhajar sampai mati karena sudah membantumu.”
Pip!
Sudah. Hanya itu. Kyuhyun langsung memutuskan teleponnya secara sepihak setelah mengancamnya. Membuat Changmin langsung menghela nafas sebelum mengusap wajahnya kasar. Dan juga Siwon, ah menyebalkan, mengapa Kyuhyun bisa tahu secepat ini?
Rentenir itu benar-benar…
“Siapa yang menelepon, Oppa?” tanya Hyemi yang membuat Changmin langsung menoleh ke arahnya.
Ya, mengingat ini adalah apartement studio, jadi tak ada sekat antar ruangan kecuali untuk kamar mandi. Dan dari tempatnya duduk bersandar, Hyemi memperhatikan Changmin saat menerima telepon.
Tak bisa bohong, Hyemi penasaran apa itu Kyuhyun atau bukan, apa pria itu mencarinya atau tidak.
Changmin mengangkat bahunya acuh, “Sudah malam, sebaiknya kau tidur. Kau harus sekolah besok.”
“Ya… baiklah.” Jawab Hyemi lesu.
Setelah itu Changmin langsung berbaring di sofa panjang itu, berusaha tidur sambil memeluk salah satu bantal sofa. Hyemi juga bersiap tidur dan berbaring di atas satu-satunya kasur di tempat ini. Sambil memeluk guling di dekatnya, Hyemi memejamkan matanya dan berdoa dalam hati...
Semoga aku bisa menyampaikan salam perpisahan padanya, walaupun hanya lewat mimpi.
-o0o-
“Hyemi…”
Suara itu, Hyemi mengingatnya. Dia tahu itu adalah suara Kyuhyun. Tapi, apa ini? Hyemi ingat dia sudah tertidur dan semuanya gelap, tapi mengapa dia bisa mendengar suara Kyuhyun berbisik memanggilnya? Tunggu, apa mungkin Tuhan mengabulkan permintaannya kali ini? Agar dia bisa menyampaikan salam perpisahan pada pria itu?
“Hyemi…”
Ya Tuhan! Hyemi mendengar lagi suara Kyuhyun yang memanggilnya!
“Sayang, bangunlah.”
Tunggu! Sayang???
Entah mengapa mendengar suara Kyuhyun yang berbisik memanggilnya ‘sayang’, membuat Hyemi terjaga dari tidurnya. Perlahan dia bisa membuka matanya dan beberapa kali mengerjap karena melihat Kyuhyun benar-benar ada dihadapannya.
“Ya Tuhan.. dalam mimpi saja aku sudah bersyukur, kenapa Kau buat ini terasa nyata?” gumam Hyemi teramat pelan dengan sebelah tangan yang sudah menyentuh wajah Kyuhyun.
Hyemi masih mengira ini hanya mimpi. Padahal nyatanya, Kyuhyun memang berada di hadapan gadis itu dan sedang tersenyum geli.
“Sudah kuduga, kau juga merindukanku.” Bisik Kyuhyun yang membuat Hyemi langsung menarik tangannya, beralih duduk dan membuka lebar-lebar kedua matanya.
“Kau—”
“Ssttt. Iya, ini aku.” Sela Kyuhyun cepat, secepat tangannya yang membungkam mulut Hyemi agar tidak berisik. “Ini benar-benar aku, kau tidak sedang bermimpi.”
Hyemi menurunkan tangan Kyuhyun dari mulutnya, melirik sekilas jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 dini hari sebelum ikut berbisik, “Bagaimana bisa?”
Bisa! Karena terlalu merindukanmu! “Aku tahu kode apartement ini,” jawab Kyuhyun sambil sesekali melirik ke arah Changmin yang masih tertidur di sofa.
Hyemi mengangguk pelan, ternyata begitu. Hyemi pikir Kyuhyun memanjat gedung apartement ini. Memang, tidak masuk akal. Bodohnya dia berpikir begitu tadi.
“Hyemi,” Kyuhyun meminta perhatian gadis itu sambil menggenggam lembut kedua tangannya, menatap lekat manik mata gadis itu dan berbisik, “Aku tidak tahu penulis takdirku akan membuat hidupku berakhir seperti apa, tapi yang jelas aku tidak ingin kehilanganmu.”
“Maafkan aku,” Hyemi menggelengkan kepalanya pelan, menatap sedih pada Kyuhyun yang terlihat sangat tulus. “Kau tahu, Changmin Oppa tidak akan setuju. Aku tidak ingin menyusahkannya.”
Kyuhyun mengernyitkan keningnya, “Tapi kau juga tidak ingin kehilanganku, bukan?”
“Itu…” entahlah, Hyemi ragu. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini.
Sebelumnya, dia memang berat sekali meninggalkan Penthouse Kyuhyun begitu saja, meninggalkan pria itu secara diam-diam. Tapi, itu bukan berarti Hyemi ingin kembali pada Kyuhyun. Tidak, kalau untuk melanjutkan hubungannya dengan pria itu. Hyemi tidak mungkin menyia-nyiakan usaha Changmin yang sudah membantunya agar lepas dari genggaman Kyuhyun ‘kan?
Iya, pasti tidak.
Grep!
Hyemi terkejut ketika Kyuhyun menariknya ke dalam pelukan pria itu. Mendekapnya erat dan penuh kasih sayang. Kyuhyun juga mengecup puncak kepala Hyemi berkali-kali, membuat gadis itu jadi teringat akan kenangan indah mereka belakangan ini.
Terlebih saat mereka bersiap untuk tidur, pria itu pasti selalu mengecup puncak kepalanya seperti ini. Astaga..
“Jujurlah padaku. Apa kau ingin kita berpisah?” bisik Kyuhyun tanpa melepaskan pelukannya.
Hyemi menghela nafas pelan, *** kemeja di bagian pinggang Kyuhyun dengan cukup erat. Dia berusaha keras untuk tidak membalas pelukan Kyuhyun. “Aku tidak tahu.”
“Bagaimana dengan waktu yang kita habiskan bersama selama ini? Apa semua itu tidak berarti apa-apa untukmu?”
“Tentu saja itu sangat berarti untukku!”
“Baiklah, itu sudah cukup.” lalu Kyuhyun melepaskan pelukannya, menatap lekat kedua mata Hyemi sebelum mengecup lembut kening gadis itu.
Ya, sedikit mengejutkan, tapi nyatanya Kyuhyun memang hanya mengecup keningnya dengan lembut. Tidak lebih. Jauh berbeda sekali dengan ciuman Kyuhyun sebelumnya. Hal itu membuat jantung Hyemi berdebar di atas normal, terlalu cepat.
Kyuhyun menangkup wajah cantik Hyemi dan tersenyum kecil, “Sama sepertimu, waktu yang kuhabiskan bersamamu juga sangat berarti untukku. Tunggu aku membereskan semuanya.”
-o0o-
“Itu, aku tidak butuh uangmu.” Kyuhyun menunjuk dua tas yang ada di atas meja dengan dagunya, sedangkan kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana dengan kaki yang disilang angkuh.
“Sudah kubilang, aku tidak butuh. Aku tidak menginginkan uang itu.” Ujar Kyuhyun.
“Aku tidak peduli. Aku hanya melunasi hutang Min Jihyun seperti yang kau inginkan. Jangan berpikir dengan mengembalikan uang ini maka kau bisa mengambil Hyemi kembali, Cho Kyuhyun.” Balas Changmin tepat mengenai sasaran.
Kyuhyun tersenyum sebelah bibir, dugaannya benar bahwa Changmin tidak akan membuat semua ini berjalan mudah.
“Dengar, Kyuhyun, sekalipun kau mengembalikan uang ini 10 kali lipat, aku tidak akan menerimanya. Aku bukan Min Jihyun, aku tidak akan menjual Hyemi pada siapapun.” Lanjut Changmin memperingatkan.
Jujur saja, Kyuhyun tersinggung. Dia tidak mengembalikan uang 5 Juta Dollar dengan tujuan seperti itu, sama sekali tak berniat untuk membeli Hyemi kembali. Namun Kyuhyun berusaha tetap tenang dan berkata, “Aku juga tak bisa menerima uang itu. Kebersamaanku dengan Hyemi, tak bisa digantikan dengan uang.”
“Apa?” Changmin merasa telinganya bermasalah seketika.
“Aku tak ingin berpisah dengannya. Biarkan kami tetap berkencan.” pinta Kyuhyun dengan suara pelan namun tegas.
Dalam hitungan kurang dari sedetik, tatapan Changmin berubah menjadi marah, keningnya mengernyit jelas mendengar ucapan pria di hadapannya itu. “Jangan bercanda.”
“Tidak.”
“Kau gila?”
“Tidak.”
“Hei Cho Kyuhyun!!” bentak Changmin, akhirnya. “Berhenti mempermainkan adikku! Meskipun kau serius, sadarlah, umur kalian berbeda 13 tahun!”
Kyuhyun menghela nafas pelan, “Aku tahu.”
“Kau tahu, lalu… kau… astaga!!” Changmin mengacak rambutnya frustasi, bingung harus berkata apa.
“Hei, hei.. jangan berlebihan. Walaupun berbeda 13 tahun tapi aku masih terlihat muda, aku pantas bersanding dengan—”
“Bersanding apanya?!” Changmin mendelik tajam, “Berkencan saja tidak kurestui! Jangan bermimpi kau!”
Kyuhyun mendengus kasar, entah mengapa temannya itu terlihat sama menyebalkannya seperti saat Hyemi baru pindah kesini. Ck.
“Aku pulang! Ayo, makan siang!” tiba-tiba suara Yesung memecah keheningan, dengan riangnya pria yang baru datang itu bergabung dengan Kyuhyun dan Changmin.
Ah, ada Siwon juga. Pria tampan nan gagah itu juga datang bersama Yesung, namun bedanya pria itu pendiam sekali kali ini. Bahkan untuk duduk bersama yang lain saja pria itu terlihat kaku. Dan Changmin yang menyadari hal itu hanya bisa menghela nafas pelan, merasa tak enak hati juga karena bantuan Siwon membuat pria itu jadi canggung disini.
Yesung menyingkirkan dua tas berukuran sedang yang ada di atas meja ke dekat kaki Changmin, lalu dia menaruh bungkusan makanan yang dibawanya ke meja itu. Yesung tidak sadar, Changmin sedang menatapnya kesal karena kedua tas itu seakan disodorkan kembali padanya.
“Makanlah, ini masih panas.” Yesung memberikan sepotong ayam goreng pada Kyuhyun, Siwon, dan juga Changmin. Namun tak ada satu pun dari ketiga pria itu yang memakan ayam goreng di tangan mereka, membuat Yesung mendengus malas. “Apa kalian akan seperti ini terus?”
“Tidak, aku akan pulang.” Jawab Changmin sambil meletakkan kembali ayam gorengnya, begitu pun dengan Kyuhyun dan Siwon. “Kyuhyun sudah tahu aku tidak akan mengambil uang ini kembali. Dan yang jelas, aku tidak merestuinya untuk bersama Hyemi.”
“Bagaimana denganmu, Kyuhyun?” Yesung mengalihkan pandangannya pada pria di sampingnya itu, “Kau juga tidak mau mengalah?”
“Menurutmu?” Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya.
“Menurutku, kau memang harus mengalah! Kau bisa mendapatkan wanita lain untuk menjadi kekasihmu, tapi Changmin? Dia anak tunggal, saudaranya hanya tinggal Hyemi saat ini! Mengertilah!” balas Yesung yang membuat Kyuhyun langsung mengalihkan pandangannya ke bawah.
Kyuhyun terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas kasar, lalu menatap pada Changmin yang juga sedang melihat ke arahnya. “Baiklah. Terserah jika kau tidak merestuiku dengan Hyemi, tapi kau harus mengambil kembali uangmu. Aku benar-benar tidak butuh.”
Changmin mendecih pelan melihat ekspresi sombong Kyuhyun yang berkata tidak butuh uangnya. Walaupun ya, benar saja. Pria itu memang sudah kaya dari lahir.
“Dan juga…” Kyuhyun melanjutkan ucapannya, “Jangan melarang kami untuk bertemu.”
“Cho Kyu—”
“Hei biarkan begitu, aku dan Siwon juga ingin bertemu lagi dengan Hyemi. Jangan menjaga jarak hanya karena masalah ini.” Yesung menyela ucapan Changmin.
“Benar, Changmin. Sepertinya tidak perlu sampai melarang mereka untuk bertemu.” Ujar Siwon yang sejak tadi hanya diam, pria itu terlihat menyesal membalas tatapan terkejut Changmin yang ditujukan padanya. “Maksudku, biarkan kita terus bersama seperti keluarga. Seperti kakakku yang terkadang lebih suka ditemani belanja denganmu jika pulang ke Korea. Just like that.”
Kyuhyun menjentikkan jarinya, “Seperti itu maksudku.”
Changmin tak menolak, tapi juga tak mengiyakannya. Pria itu masih terlihat sedikit keberatan. Tapi, mau bagaimana? Sebelumnya, mereka memang sedekat ini antar keluarga.
“Sudahlah, yang lalu biarkan berlalu. Aku punya hal penting yang ingin kukatakan pada kalian.” Yesung tersenyum lebar sampai ke matanya.
Dengan kompak, Kyuhyun, Changmin, dan Siwon langsung mengalihkan perhatian mereka pada Yesung.
Yesung berdehem pelan beberapa kali, “Ini hari terakhir aku diskors. Ayo, kita berpesta nanti malam!”
-o0o-
Untuk ke sekian kalinya, Hyemi menghela nafas panjang. Pikirannya kacau sekali. Otaknya tak bisa berhenti mengingat kejadian semalam saat Kyuhyun tiba-tiba datang ke apartement Changmin. Dan juga, ucapan Kyuhyun yang berkata bahwa dia akan mengurus semuanya sungguh mengusik Hyemi. Dia terus memikirkan hal itu, takut pria itu akan berulah lagi dan membahayakan Changmin.
Saking cemasnya, bahkan setelah Kyuhyun pergi, Hyemi tak bisa kembali tidur. Dan tadi pun, dia tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Benar-benar kacau hari ini.
Brukk!
Hyemi terkejut saat bahu kirinya ditabrak dari belakang, cukup kencang. Namun Hyemi hanya bisa diam karena si pelaku melewatinya begitu saja sambil tertawa bersama temannya. Jelas, orang itu sengaja. Terserahlah, Hyemi tidak mau ambil pusing, lagipula ini bukan pertama kalinya teman sekelasnya itu bersikap kasar padanya.
Menghela nafas, lagi. Lalu Hyemi kembali melanjutkan langkahnya melewati gerbang sekolah. Namun baru tiga langkah, Hyemi melihat sebuah mobil terparkir di depannya. Itu...
Mobil Kyuhyun!
Terkejut? Tentu saja! Bahkan matanya sampai membulat melihat mobil itu! Hyemi sudah berniat kabur saja detik ini juga, namun mobil berkaca gelap itu sudah lebih dulu membunyikan klaksonnya! Astaga!
Akhirnya, dengan langkah ragu dan panik, Hyemi menghampiri mobil itu. Membuka pintu depan dan melihat sendiri siapa yang datang menjemputnya dan duduk di bangku kemudi itu. Dia... benar-benar Cho Kyuhyun.
"Kau..." Hyemi masih berdiri diantara pintu mobil yang terbuka, menatap Kyuhyun dengan raut wajahnya yang terkejut. Sangat.
Dan juga tak bisa mengelak, entah sejak kapan Hyemi akui Kyuhyun memanglah sangat keren. Terlebih saat ini Kyuhyun yang mengenakan kacamata hitam itu tersenyum manis padanya. Ya Tuhan! Bukan hanya pikiran, tapi hati Hyemi juga jadi kacau kalau begini!
"Iya, ini aku. Masuklah." kata Kyuhyun dengan santainya.
"Ayolah, Hyemi, cepat masuk!" celetuk seseorang yang membuat Hyemi mengalihkan pandangannya ke bangku belakang. Itu Changmin!
Ini lebih mengejutkan, kakaknya juga ada di mobil ini. Duduk di bangku belakang bersama Yesung dan Siwon. Demi Tuhan, Hyemi tak bisa berkata apa-apa akan hal ini. Terlalu mengejutkan sekaligus membingungkan!
"Ah, kau ini! Mengganggu saja!" ujar Yesung sambil menyikut lengan Changmin.
"Apanya yang mengganggu?! Mereka tidak sedang memerankan cerita romantis di novel!" balas Changmin tak mau disalahkan.
Sedangkan Siwon? Well, pria itu tak mau ikut berdebat dengan Yesung dan Changmin, dia lebih memilih menyapa Hyemi dengan senyum kecil dan lambaian tangannya.
Tidak jauh berbeda dengan Kyuhyun, hanya saja dia menggunakan kesempatan ini bukan untuk menyapa lagi, tapi untuk menarik pelan tangan Hyemi agar segera duduk di sampingnya. Dan setelah Hyemi menutup pintu mobil, Kyuhyun juga berniat untuk memasangkan sabuk pengaman gadis itu, tapi...
"HEI!!!" Changmin lebih dulu memukul lengan Kyuhyun yang terulur ke arah Hyemi. "Perhatikan tanganmu, Marcus!"
"Sialan! Kau minta dihajar hah?!" Kyuhyun menengok ke belakang, menatap Changmin dengan tatapan membunuh.
"Benar! Hajar saja! Sudah lama tidak melihat kalian saling pukul!" sahut Yesung penuh antusias.
Siwon menoleh ketiga temannya, "Benar juga! Ayo, kalian harus bertengkar!"
"Astaga Oppadeul!!" akhirnya, Hyemi bersuara setelah jengah dengan tingkah para lelaki dewasa yang justru terlihat seperti anak TK. "Tidak bisakah kita pergi sekarang?"
Dan ya, akhirnya keempat pria itu terdiam dengan kompak. Menutup mulut masing-masing walaupun sambil merengut. Begitu pun dengan Kyuhyun yang masih kesal karena dipanggil dengan nama Marcus, membuat pria itu melajukan mobilnya dengan sedikit kasar.
Dan Hyemi?
Oh, sungguh Hyemi tidak tahu apa yang terjadi. Dia masih bertanya-tanya mengapa keempat pria ini datang menjemputnya. Changmin juga membiarkannya duduk di samping Kyuhyun walaupun kakaknya itu sempat marah tadi. Dan juga Kyuhyun sendiri, ahh Hyemi bingung pada pria itu. Sebenarnya apa yang pria itu bereskan?
Belum terjawab semua pertanyaan dalam otak Hyemi, kini dia dibuat bingung lagi saat menyadari kemana arah mobil ini Kyuhyun bawa. Penthouse.
Tempat ini lagi…
“Kalian berdua,” Kyuhyun menatap Hyemi dan Changmin setelah memarkirkan mobilnya, “Naik saja lebih dulu. Aku mau bicarakan pekerjaan dengan Yesung dan Siwon.”
“Baiklah. Ayo, Hyemi.” Ajak Changmin sebelum mereka keluar dari mobil.
Setelah itu, Hyemi hanya bisa mengekori sang kakak yang berjalan masuk ke gedung hotel itu. Menaiki lift yang terasa berjalan sangat lama bagi Hyemi.
Sementara itu, ketiga pria yang masih berada di dalam mobil kini menghela nafas lega. Saling melempar pandangan sebelum melakukan high five disertai tawa kecil. Raut wajah mereka terlihat puas saat ini. Ya, puas sekali karena berhasil mengelabui Changmin.
Sejak Kyuhyun mengancam Changmin semalam, lalu siang tadi mengembalikan uang pria itu, Yesung sengaja memaksanya untuk mengalah, Siwon yang terlihat kaku di hadapannya, sampai Yesung yang mengajak mereka berkumpul untuk berpesta. Percayalah, semua itu hanya akting! Mereka sengaja melakukan hal itu agar Changmin benar-benar berpikir bahwa Kyuhyun mengalah! Dan bodohnya, sepertinya Changmin memang percaya!
Padahal nyatanya, itu hanya akal-akalan Kyuhyun saja agar bisa terus bertemu dengan Hyemi.
“Lalu, apa langkah selanjutnya?” tanya Yesung sambil mencondongkan badannya ke depan.
“Anak yang menabrak Hyemi saat di gerbang tadi, kalian pasti kenal ‘kan siapa orangtuanya?” balas Kyuhyun tanpa melihat lawan bicaranya.
Kyuhyun tahu Hyemi ditabrak temannya? Ya, tentu saja. Kyuhyun melihatnya sendiri dari dalam mobil, hal itu membuatnya marah. Dia tidak suka gadisnya diperlakukan seperti itu.
“Kalau tidak salah, dia itu anaknya Tuan Ahn bukan?” Siwon balik bertanya yang disambut anggukan mantap oleh Kyuhyun, “Apa hubungannya dengan membalas Changmin?”
“Tuan Ahn itu siapa?” celetuk Yesung.
“Salah satu orang sejenis Min Jihyun, tapi hutang Tuan Ahn lebih besar lagi. Dia selalu lolos jika Kyuhyun datang.” Jelas Siwon yang membuat Yesung mengangguk-angguk paham.
Lalu Yesung kembali menoleh pada Kyuhyun, “Lalu? Apa hubungannya dengan membalas Changmin?”
“Tidak ada.” Kyuhyun memutar bola matanya malas, jengah dengan kebodohan dua temannya ini. Jelas-jelas ini bukan tentang membalas Changmin! “Hanya saja anak itu selalu mengganggu Hyemi di sekolah! Tidak bisa dibiarkan! Kalian urus itu!”
“Kami?!”
-o0o
“Sama sepertimu, waktu yang kuhabiskan bersamamu juga sangat berarti untukku. Tunggu aku membereskan semuanya.”
Ha! Hyemi tertawa keras dalam hati mengingat ucapan itu!
Tidak! Bukannya Hyemi berharap Kyuhyun akan langsung bertindak untuk membuktikan ucapannya, hanya saja ini terasa menyebalkan karena pria itu justru mengabaikannya! Bahkan melirik ke arahnya saja tidak!
Jadi, apa maksudnya pria itu berkata akan membereskan semuanya? Begini cara dia membereskannya? Bukankah pria itu bilang tidak mau kehilangannya?
Cih! Omong kosong!
“Sudahlah! Lebih baik begini!” kesal Hyemi dengan suara pelan, namun juga berdampak pada beberapa apel yang dia cuci dengan kasar.
“Kau bisa membuat dapur ini banjir kalau begitu terus,” celetuk Yesung yang kini berdiri di samping Hyemi setelah menaruh piring kotor. Pria itu menunjuk ke dekat kaki mereka, “Lihat, basah semua.”
Hyemi meringis melihat lantai di dekat kaki mereka basah karena cipratan air, tak sedikit. Dan saat dia melihat seragam sekolahnya, “Ah, bajuku juga basah.”
“Sudah, sudah. Lebih baik kau ganti baju, biar aku yang siapkan makanan pencuci mulutnya.” Ujar Yesung sebelum mengambil alih apel yang sedang Hyemi cuci.
“ARGH! KENAPA AKU JADI KALAH?!!”
Seketika Hyemi tersentak kaget mendengar suara itu, merengut juga karena saat berbalik yang dia lihat si pemilik suara berat itu masih heboh bermain Play Station dengan Changmin dan Siwon. Ck. Iya, pria itu Kyuhyun. Yang berteriak heboh itu Kyuhyun. Yang asik bermain dengan Changmin dan Siwon tanpa mempedulikannya itu Kyuhyun. Yang sejak makan malam dimulai sampai kini bersiap memakan makanan penutup dan tetap acuh itu Kyuhyun. Benar! Itu Kyuhyun!
Ahh Hyemi sampai bosan sendiri mendengar nama itu berulang kali di kepalanya! Padahal dia tidak mau meneruskan hubungannya dengan Kyuhyun, tapi entah mengapa rasanya menyebalkan jika diabaikan begini! Dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria itu!
“Ckckck, rindu sekali sepertinya.” Ledek Yesung karena Hyemi masih bergeming di tempatnya dan sibuk memandangi Kyuhyun.
Hyemi semakin merengut, “Sebenarnya kenapa jadi begini, Oppa? Aku tahu acara malam ini adalah milikmu, tapi Oppa pasti sadar, Kyuhyun mengabaikanku.”
“Hhhh aku juga tidak mengerti, tapi rencananya dia memang akan diam saja. Aku juga kaget yang dia maksud diam saja ternyata mendiamkanmu begini.” Lalu Yesung menyodorkan sepiring apel yang sudah dipotong kecil-kecil ke hadapan Hyemi, memaksa gadis itu untuk menerimanya. Yesung menunjuk ke arah ruang tengah dengan dagunya, “Tapi coba saja bawa itu dengan bajumu yang masih basah begitu. Kalau Kyuhyun masih diam saja, ya sudah, berarti hubungan kalian sudah berakhir.”
Hyemi terdiam sejenak, menimbang ide Yesung sambil memandangi sepiring apel di tangannya. Lalu selang beberapa detik, Hyemi menganggukkan kepalanya.
Yup, Hyemi mencoba hal itu.
Hyemi berjalan menuju ruang tengah yang berisik dengan suara teriakan ketiga pria itu, lalu menaruh sepiring apel yang di bawanya ke meja kaca yang ada di depan mereka. Ah, Hyemi juga tidak lupa berlagak seperti mengelap seragam sekolahnya yang agak basah di bagian perutnya, lalu sengaja mengambil tempat duduk di sofa lain di dekat Kyuhyun untuk menarik perhatian pria itu.
“Hyemi, kenapa bajumu bisa basah begitu?” ini suara Kyuhyun? Bukan! Sialnya justru Shim Changmin-lah yang bertanya begitu.
Hyemi tersenyum kaku, “Ah aku tidak hati-hati saat mencuci apel tadi.”
“Kalau gitu lebih baik ganti baju dulu, jangan sampai sakit. Minggu depan kau ujian ‘kan? Sebentar, aku cari dulu sweater Yesung untuk kau pakai.” Ujar Changmin terburu-buru, berlarian ke kamar yang berada di sudut ruangan itu.
Dan ya, Hyemi hanya bisa menepuk kening sambil menunduk melihat hal itu. Jadi, apakah ini artinya dia dan Kyuhyun memang sudah berakhir? Kalau benar begitu, mengapa kemarin malam Kyuhyun menyuruhnya untuk menunggu pria itu membereskan semuanya? Membingungkan!
Baru saja Hyemi mengangkat pandangannya dan berniat mencuri pandang pada Kyuhyun, namun dia dibuat terkejut detik itu juga karena pria itu juga sedang menatap ke arahnya. Tatapan pria itu sulit untuk di artikan, yang jelas sorot matanya terlihat lembut dan membuat Hyemi seakan terkunci disana. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
“Merindukanmu, sayang.” Gumam Kyuhyun dengan sebelah tangan yang mengusap lembut pipi Hyemi.
Hanya Tuhan yang tahu, kali kedua Kyuhyun memanggil Hyemi dengan ‘sayang’ inilah yang meruntuhkan segala benteng pertahanan dalam hatinya.
Hyemi yang sejak awal berusaha menjaga jarak, benci bukan main dengan rentenir jahat itu, merutuki kebiasaannya yang suka bermain wanita, kini semua itu seakan lenyap hanya dalam hitungan detik. Hanya karena satu kata itu. Ya, satu kata. Benar-benar…
Oh! Jangan tanya Hyemi, dia sendiri terkejut mendapati dirinya jatuh begitu mudah pada bos rentenir di hadapannya ini!
“Maaf mengabaikanmu dari tadi.” Lanjut Kyuhyun menarik kembali kesadaran Hyemi dari rasa terkejutnya. Dan saat Kyuhyun menoleh ke pintu kamar di belakangnya sejenak, saat itulah Hyemi juga baru sadar bahwa Siwon yang sebelumnya berada di dekat mereka entah sejak kapan sudah menghilang. Ah, Yesung juga.
Kyuhyun meletakkan stik PS-nya ke atas meja sebelum mencondongkan badannya ke arah Hyemi, menatap gadis itu dekat. “Untuk sementara ini aku akan terus mengabaikanmu jika ada Changmin, kuharap kau juga bisa begitu. Tapi…”
“Apa?” suara Hyemi terdengar bagai bisikan.
“Maaf, aku tidak bisa menahannya lagi.”
Kurang dari sedetik setelah berkata seperti itu, Kyuhyun langsung mengikis jarak yang ada di antara mereka. Bibir tebalnya mendarat sempurna di atas bibir manis Hyemi yang sudah lama dia rindukan. Kyuhyun bergerak cepat dan lihai saat lidahnya menjelajahi isi mulut Hyemi, tak bisa diimbangi hingga gadis itu hanya bisa pasrah.
Hyemi sendiri tidak mengelak lagi, kali ini dia menikmati sentuhan pria itu. Tidak sadar sebelah tangan Kyuhyun sudah menyambar beberapa lembar tisu untuk menyerap basah di bajunya.
“Hyemi, ganti bajumu dengan…” Changmin menggantungkan ucapannya saat dia baru keluar dari kamar Yesung. Tangannya yang terulur membawa sweater milik Yesung kini perlahan turun, “Apa yang kalian lakukan?!”
To be continue…
Kkkk~ maaf lama, sempet disibukin sama kerjaan beberapa minggu ini~
Aku tunggu vote & comment kalian, readers sayanggg~~