
“Hyemi, kau sudah datang!” seru Donghae dan Eunhyuk menyambut kedatangan Hyemi yang baru saja tiba di lantai 5 Skyz Night.
Hyemi tersenyum sumringah melihat Donghae dan Eunhyuk, kakinya juga langsung berlari kecil sebelum menghambur ke pelukan kedua mantan pengawalnya itu. Mereka saling berpelukan bertiga dan berseru riang seperti bocah taman kanak-kanak.
Hyemi tidak sadar, meninggalkan rangkulan Kyuhyun begitu saja membuat pria itu mendengus kesal. Sebenarnya ingin marah, Kyuhyun tidak suka gadisnya berpelukan dengan lelaki lain, sekaligus dua pula. Tapi, melihat raut wajah gadis itu yang senang sekali, Kyuhyun bisa apa?
Iya, akhirnya Kyuhyun mengalah untuk beberapa saat. Hanya diam di tempatnya dan memperhatikan dengan tajam tangan Donghae dan Eunhyuk yang menyentuh Hyemi.
“Hei, hei..” Eunhyuk yang lebih dulu menyadari hawa membunuh di dekatnya, dia menarik cepat tangan Donghae agar segera menjaga jarak dengan Hyemi.
Hyemi sendiri seakan lupa, hanya bisa tertawa hambar melihat Kyuhyun berdiri di belakangnya dengan tatapan tajam.
“Selamat pagi, Tuan Marcus.” Sapa Donghae dan Eunhyuk bersamaan, keduanya menunduk hormat tanpa berani membalas tatapan Kyuhyun.
“Silakan, Nyonya Min sudah menunggu di dalam.” Lanjut Donghae sambil membuka pintu rumah untuk Hyemi dan Kyuhyun.
Menggandeng lengan Kyuhyun, Hyemi menyempatkan diri melambaikan tangan pada Donghae dan Eunhyuk. Lalu mengikuti langkah besar Kyuhyun yang membawanya masuk ke rumahnya itu. Ah, tidak, tepatnya membawa dia pulang. Bagaimana pun, ini rumahnya juga ‘kan?
Keadaan rumah Hyemi masih sama seperti sebelumnya, masih selalu rapi dan terkesan sepi meski TV dibiarkan menyala. Dan di depan sana, di dapur kecilnya, Hyemi melihat sang ibu sedang menata makanan di meja. Ibunya juga sama, masih terlihat cantik dan enerjik di usianya yang tak muda itu.
“Eomma..” panggil Hyemi sambil mendekat ke arah meja makan bersama Kyuhyun.
Nyonya Min menghentikan kegiatannya dan tersenyum sinis ke arah pegangan tangan Hyemi dan Kyuhyun, “Kalian sudah datang. Duduklah, kita langsung sarapan bersama saja.”
Kyuhyun dan Hyemi tak menjawab, langsung mengambil tempat duduk bersampingan dan sesekali mencuri pandangan. Bukan Hyemi, tapi hanya Kyuhyun yang diam-diam mencuri pandang ke arah gadis itu. Sedangkan gadis itu sendiri sibuk memperhatikan sang ibu yang duduk di dekatnya.
Tatapan sendu Hyemi menjelaskan semuanya. Gadis itu merindukan sang ibu, beberapa detik lalu berharap juga sang ibu memeluknya meski sejenak. Tapi tidak, Min Jihyun itu justru terlihat dingin bahkan tersenyum sinis padanya.
Miris sekali Hyemi dengan kenyataan ini. Dijual kepada bos rentenir untuk melunasi hutangnya, tapi Hyemi tetap sayang pada ibunya itu.
“Selamat makan,” ujar Hyemi dengan canggung, berbeda dengan dua orang dewasa di dekatnya yang langsung menyantap makanannya.
Baru satu suap, entah mengapa Hyemi rasanya ingin menangis detik ini juga. Masakan ibunya enak sekali. Hyemi ingat, terakhir kali ibunya masak untuknya itu saat dia masih duduk di sekolah dasar. Setelah itu tidak pernah lagi.
“Kau habiskan jatahku,” ujar Kyuhyun memecahkan keheningan, mengalihkan pikiran kalut Hyemi juga.
Hyemi tersenyum kecil melihat semangkuk sayur milik Kyuhyun disodorkan padanya. Dia menatap ke arah pria itu, “Kau juga harus memakannya meski sedikit.”
“Kuahnya saja, kau sayurannya.” Jawab Kyuhyun yang membuat Hyemi memutar matanya malas. Kyuhyun meneguk minumannya sebelum beralih menatap ke arah pemilik Skyz Night, “Nyonya Min—”
“Tunggu, biar aku yang bicara lebih dulu.” Sela Min Jihyun sambil meletakkan alat makannya.
Seketika suasana terasa aneh, tatapan sinis yang Min Jihyun pancarkan pada Kyuhyun membuat udara di sekitar mereka terasa panas. Namun, Kyuhyun tetap terlihat tenang. Duduk tegap dengan sebelah alis yang terangkat, menunggu Min Jihyun melanjutkan ucapannya.
“Kuakui, belakangan ini kau banyak membantu bisnisku di Skyz Night, kau juga yang membantuku bebas dari penyelidikan polisi beberapa hari lalu. Tapi, mohon maaf, aku tidak pernah memintamu melakukan semua itu. Jadi,” Min Jihyun melipat kedua tangannya di depan dada, “Kalau dengan semua itu kau berniat untuk mengembalikan bocah ini padaku, aku menolaknya. Aku tidak butuh bocah tidak berguna ini.”
“Eomma!!” sentak Hyemi dengan penuh emosi. Jangan tanya bagaimana perasaannya mendengar ucapan sang ibu, sudah jelas ini menyakitkan. Sangat!
“Kenapa? Kau sudah kujual pada Tuan Marcus, aku tidak sudi menerimamu kembali kecuali kau mau kujual lagi pada orang lain.” Sahut Min Jihyun pada Hyemi.
Sebelah tangan Kyuhyun terulur untuk menggenggam lembut tangan Hyemi yang berada di atas meja, namun matanya tetap tertuju pada Min Jihyun. Kyuhyun tersenyum remeh, “Kau terlalu percaya diri, Nyonya Min. Bantuan yang kuberikan belakangan ini dan kedatanganku hari ini, bukan untuk mengembalikan Hyemi padamu. Cih, sekalipun kau ibu kandungnya, kau tidak pantas menerima Hyemi.”
“Lalu, kau ingin meminta izinku untuk menjual kembali bocah ini pada orang lain?” balas Min Jihyun yang membuat Hyemi semakin geram.
Kenapa hanya menjualku saja yang kau pikirkan? Apa kau benar ibuku?! Batin Hyemi demikian.
“Aku akan menikahi Hyemi.” Suara Kyuhyun terdengar tegas tanpa keraguan, “Dia akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Tapi kuperingatkan kau dari sekarang, jangan coba-coba menghubungi Hyemi apapun yang terjadi nanti.”
“Ah, itu bagus. Aku sudah menyiapkan sesuatu.” Lalu Min Jihyun berdiri, berjalan masuk ke kamarnya dan kembali dengan selembar kertas beserta pulpen. Min Jihyun meletakkan dua benda itu di depan Hyemi.
[Surat Pemutusan Hubungan Keluarga]
Kyuhyun terkejut, begitu pun dengan Hyemi.
Nafas Hyemi tercekat, matanya memanas, dan tubuhnya terasa lemas bukan main. Selembar kertas itu berhasil membuat jantung Hyemi seakan tak berdetak. Dan di bagian paling bawah surat itu, astaga… ibunya sudah tanda tangan!
“Aku tak peduli setelah menikah kau akan menjadi tanggungan Tuan Marcus, tapi datang ke pernikahan kalian pun aku tidak mau. Dari sekarang saja kita putuskan hubungan memuakkan ini.” Kata Min Jihyun dengan tenangnya.
Hyemi membalas tatapan sang ibu dengan pandangan nanar, “Kenapa?”
Lirihan Hyemi membuat jantung Kyuhyun berdenyut sakit. Sudah dia duga sarapan bersama ini tidak akan berjalan baik, tapi surat yang Min Jihyun sodorkan benar-benar di luar perkiraannya. Kyuhyun sama sekali tak menyangka Min Jihyun adalah sosok ibu yang setega ini.
“Sejak kecil aku berusaha tidak menyusahkanmu, aku juga tidak mengeluh kau tidak ada waktu untuk mengurusku. Kau juga, sering sekali ingin menjualku sebelumnya. Kenapa? Apa salahku, Eomma? Kenapa selama ini kau benci sekali padaku?” percayalah, suara Hyemi bahkan sampai bergetar.
“Karena dari awal aku tidak mengharapkan kelahiranmu, aku tidak berniat untuk memiliki seorang anak.”
Hanya Hyemi yang mendengar, ada suara patahan yang sangat keras. Hatinya patah. Jawaban yang luar biasa di luar dugaannya.
“Tanda tangan,” bukan Min Jihyun, tapi Kyuhyun yang bicara. Pria itu memaksa Hyemi memegang pulpen yang sudah disediakan.
Hyemi tertunduk tak berdaya, hanya bisa menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis. Dan saat Hyemi ingin menandatangani surat itu, dia tidak bisa melanjutkannya, tangannya bergetar hebat.
“Tanda tangan, Shim Hyemi. Wanita ini sama sekali tidak menginginkanmu. Sejak awal dia memang ingin membuangmu. Apa lagi yang kau harapkan? Sudah cukup belasan tahun kau menderita karenanya. Cepat, tanda tangan.” Kyuhyun menekankan setiap katanya, mendesak Hyemi untuk lebih kuat.
Dan akhirnya, dengan segala kekuatan yang tersisa, terukir sudah tanda tangan Hyemi.
Dengan mata berlinang, Hyemi berdiri dan tersenyum tulus pada Min Jihyun. Hyemi membungkuk 90 derajat agak lama, “Terima kasih. Walaupun kehadiranku tidak diharapkan, tapi terima kasih kau tetap membiarkan aku lahir ke dunia ini dan mau menampungku disini. Selamat tinggal, Eomma.”
Sebulir air mata jatuh begitu saja membasahi pipi Hyemi, membuat Kyuhyun langsung membawa gadis itu ke dalam rangkulannya. Kyuhyun sudah bergegas membawa gadis itu pergi dari sana. Namun, di langkah ketiga, Kyuhyun berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, “Ah, Nyonya Min, setelah suratnya diberlakukan ke pengadilan, kirimkan satu rangkap ke The Zones Seoul ditujukan untukku, Marcus Cho.”
Setelah itu, Kyuhyun dan Hyemi benar-benar pergi meninggalkan rumah itu. Donghae dan Eunhyuk yang memang berjaga di depan pintu rumah hanya bisa menunduk hormat, tak berani bicara sepatah kata pun karena tatapan membunuh Kyuhyun. Sedangkan Hyemi sendiri hanya menunduk dalam dan begitu lemah dalam rangkulan kekasihnya itu.
Dan saat di perjalanan pulang, Hyemi hanya diam sambil memandangi jalanan di depannya. Menikmati sakit hati terdalam ditemani Kyuhyun yang sedang menyetir di sampingnya.
Lalu, tiba-tiba Hyemi menyentuh lengan Kyuhyun, “Tolong belikan aku air minum.”
“Ya.” Jawab Kyuhyun sekenanya, lalu segera menepikan mobilnya ke arah mini market di depannya.
Tanpa mau membuat Hyemi menunggu, Kyuhyun langsung turun dari mobilnya, bergegas membeli minuman untuk gadis itu. Ah, Kyuhyun juga membeli beberapa makanan dan cemilan. Dia tidak lupa mereka baru makan sedikit tadi.
Kyuhyun sudah keluar dari mini market, namun langkahnya terhenti beberapa meter di depan mobilnya. Matanya menatap lurus ke arah mobilnya dimana dengan samar dia bisa melihat Hyemi sedang menangis histeris disana. Gadisnya yang sejak tadi berusaha kuat, akhirnya menangis juga.
Cukup lama Kyuhyun bergeming di tempatnya, membiarkan Hyemi memiliki waktunya sendiri untuk meluapkan rasa sakitnya berpisah dengan sang ibu.
Ini pertama kalinya aku melihatmu menangis sampai separah itu. Menangis sampai tak berdaya. Ini lebih parah daripada saat kau menangisi mantan pengawalmu waktu itu.
Setelah hari ini, berbahagia saja denganku, ya.
-o0o-
Brakk!
Kyuhyun dan ketiga anak buahnya reflek menoleh ke arah pintu mendengar suara keras itu, dilihatnya sang pelaku yang membanting pintu itu kini berjalan cepat menghampiri Kyuhyun. Dari wajahnya yang agak berkeringat, sepertinya lelaki itu habis berlarian untuk sampai ke kantor rentenir ini.
“Apa benar yang kau bilang ditelepon tadi?!” lelaki itu, Shim Changmin, bertanya dengan nada bicaranya yang seperti membentak.
Kyuhyun tak menjawab, dia justru kembali memandang ke arah anak buahnya yang masih berdiri tegap di depan meja. “Tarik kembali saja semua bantuan ke Skyz Night dan pastikan kita tidak berurusan dengan tempat itu lagi. Hubungi juga Anggota Dewan yang sering kesana. Beritahu mereka, Marcus Cho ingin mengajak makan malam.”
“Baik, Tuan.” Jawab ketiga anak buah Kyuhyun dengan kompaknya, lalu bergegas pergi saat bos mereka mengusir lewat isyarat tangannya. Tentunya setelah mereka menunduk hormat.
Setelah anak buahnya pergi, Kyuhyun beralih duduk ke sofa single di dekatnya. Dan Changmin tidak membuang waktu untuk duduk di sofa lain.
“Jadi, itu benar?” tanya Changmin lagi, kali ini dengan nada bicara yang lebih tenang.
“Ya, benar. Min Jihyun sudah memutuskan hubungannya dengan Hyemi. Salinan berkasnya akan dia kirimkan padaku kalau sudah diberlakukan di pengadilan.” Jelas Kyuhyun.
Changmin menghela nafas panjang, merasa iba sekaligus bersalah atas semua kesedihan yang menimpa Hyemi. Dalam hati berdoa, semoga saja ini yang terakhir. Semoga saja ke depannya hanya ada kebahagiaan untuk gadis itu.
“Tapi, jangan bahas hal ini dengannya,” Kyuhyun menatap Changmin dengan raut wajah yang serius, “Aku juga sudah beritahu Yesung dan Siwon. Kita, jangan ada yang bahas masalah Min Jihyun di depan Hyemi. Cukup kita selalu ada untuknya.”
Changmin mengangguk paham, “Ya, sepertinya lebih baik begitu. Tapi, dimana Hyemi? Bukankah kalian pergi bersama ke Skyz Night?”
“Dia minta diturunkan di halte bus tadi.”
“Huh? Kenapa?”
“Dia ingin ke rumah teman, katanya.”
“Tapi… dia tidak punya teman.”
“Aku tahu.”
Changmin diam, cenderung bingung dengan jawaban Kyuhyun. Dia masih tidak mengerti. Sedangkan Kyuhyun sendiri pelan-pelan menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata.
Setelah saling diam beberapa saat, Kyuhyun berkata, “Hyemi bukan pergi ke rumah temannya, dia hanya butuh waktu untuk sendiri.”
-o0o-
“Karena dari awal aku tidak mengharapkan kelahiranmu, aku tidak berniat untuk memiliki seorang anak.”
Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Hyemi, membuat hatinya kembali sakit tiap kali mengingatnya. Benar-benar jahat sekali ibunya itu. Tapi, di sisi lain Hyemi merasa sedikit beban pikirannya hilang karena hal itu. Setidaknya kini dia tahu mengapa sang ibu selalu ingin menjualnya.
Dan juga… ah, sudahlah. Semua sudah terjadi. Mereka sudah menandatangani surat pemutusan hubungan keluarga, Hyemi bisa apa lagi? Lagipula setelah dipikir-pikir, Hyemi rasa ke depannya dia akan baik-baik saja tanpa seorang ibu. Toh selama tinggal di Skyz Night juga mereka jarang bertemu, jarang berinteraksi. Saat pertama kali Hyemi dibawa pergi oleh Kyuhyun juga dia baik-baik saja. Dia bisa bertahan dan melaluinya dengan baik.
Jadi, ya sudahlah.
“Maaf, Nona cantik,” Hyemi tersentak kaget saat seorang lelaki menyentuh lengannya. Lelaki tampan dengan kulit agak gelap itu tersenyum hingga ke mata, “Aku tahu tempat ini sangat nyaman untuk melamun, tapi maaf, ini sudah waktunya kami tutup.”
Detik pertama Hyemi tidak mengerti, tapi saat dia melihat jam di ponselnya maka detik itu juga matanya membulat. Sudah pukul 10 malam! Itu artinya dia sudah hampir seharian di café ini!
Ya, setelah meminta diturunkan di halte bus tadi pagi, Hyemi memang langsung ke café ini. Sze Café.
“Astaga maafkan aku,” ujar Hyemi dengan raut wajah bersalah, dengan tergesa menyampirkan tasnya ke bahu dan beranjak dari tempat duduknya, “Kau benar, tempat ini sangat nyaman untuk melamun. Sekali lagi maafkan aku.”
“Tidak apa-apa, Nona cantik. Silakan datang lagi lain kali.” Balas lelaki itu sebelum Hyemi bergegas pergi meninggalkan café.
Sungguh, malu sekali rasanya. Hyemi sampai berjalan cepat saking malunya. Ini pertama kalinya dia melamun sampai lupa waktu begini, bahkan makanan yang dia pesan tadi saja belum dia sentuh sama sekali. Sepertinya.
Sekali lagi, sambil berjalan menuju halte bus terdekat, Hyemi mengecek ponselnya. Memang benar sudah jam 10. Tapi… perlahan fokus mata Hyemi tidak lagi menuju jam digital di ponselnya, matanya justru beralih memandangi foto yang terpajang disana. Fotonya bersama Kyuhyun.
Benar, Cho Kyuhyun.
Hyemi nyaris melupakan kekasihnya itu. Kekasih tercinta yang paling mengerti dirinya. Hyemi ingat saat di mini market tadi pagi dia menangis cukup lama dan Kyuhyun sengaja tidak masuk ke mobil, pria itu terlihat hanya menunggunya tenang sambil sibuk menelepon. Ah, pria itu juga tidak banyak bicara saat Hyemi minta diturunkan di halte bus. Peka sekali bahwa Hyemi sedang ingin sendiri.
Tapi, bagaimana ini? Kyuhyun yang pengertian itu memang berkata akan menikahinya, tapi jujur saja mereka belum membicarakan hal ini dengan jelas. Bagaimana kalau ternyata…
Ah tidak, tidak. Hyemi tidak mau berspekulasi sendiri. Hyemi menghentikan langkahnya dan langsung menelepon Kyuhyun detik itu juga.
“Kyuhyun, kau dimana?” Hyemi langsung bertanya seperti itu saat Kyuhyun sudah menjawab teleponnya.
“Aku masih di kantor. Kau mau aku jemput?”
“Tidak, aku yang akan kesana.” Jawab Hyemi dengan cepat.
“Baiklah. Tapi jangan naik bus atau taksi, biar Siwon saja yang mengantarmu. Seharusnya dia ada di dekatmu saat ini.”
Alis Hyemi saling bertaut, kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan untuk mencari keberadaan Siwon. Dan ternyata, memang benar, Siwon ada di dekatnya. Tepatnya di dalam mobil yang berhenti tidak jauh di belakangnya. Hyemi berani bertaruh, pasti Siwon sudah mengikutinya sejak pagi atas perintah Kyuhyun.
“Aku menemukannya. Sampai jumpa.” Ujar Hyemi sebelum mengakhiri teleponnya.
Lalu tanpa menunggu lagi, Hyemi langsung masuk ke dalam mobil itu. Meminta Siwon agar mengantarnya ke kantor Kyuhyun secepat mungkin.
Dan saat mereka sudah sampai disana, Hyemi sedikit kaget karena mendapati Kyuhyun sudah berdiri di depan gedung. Raut wajah pria itu terlihat cemas dengan kening yang berkerut. Ada apa dengan pria itu?
Hyemi segera keluar saat Siwon sudah menghentikan mobilnya di depan Kyuhyun, langkah pertamanya disambut Kyuhyun yang langsung mendekat dengan langkah besar. Kyuhyun memegang kedua bahu Hyemi dengan mata yang bergerak liar, memandangnya lekat dari ujung kaki hingga kepala.
Ah, Hyemi mengerti. Kyuhyun khawatir dengannya. Kyuhyun mencemaskannya. Kyuhyun sedang memeriksa keadaan dirinya. Astaga..
“Kyuhyun, aku baik-baik saja.” Kata Hyemi sambil menyentuh lengan Kyuhyun, membuat mata pria itu kini fokus membalas tatapannya.
Kyuhyun terdiam sejenak, baginya, Hyemi tidak baik-baik saja. Mata sembab gadis itu menunjukkan semuanya. Kyuhyun tahu dari Siwon, Hyemi kembali menangis sambil melamun di sebuah café. Tapi, Kyuhyun tidak mau menambah beban pikiran gadis itu, membuat dia akhirnya memilih tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.
Pura-pura percaya bahwa gadis itu baik-baik saja.
“Ya… emm… Kyuhyun, ada yang ingin kutanyakan padamu…” Hyemi merasa gugup hingga bingung memulai pembicaraannya, “Kau… kita…”
Tangan kanan Kyuhyun beralih mengusap pipi Hyemi, “Katakan saja, sayang.”
Hyemi terdiam sejenak, menatap lekat manik mata Kyuhyun yang entah mengapa membuatnya sedikit tenang, “Kau benar… akan menikahiku? Kita akan menikah?”
“Ya, tentu saja.” Jawab Kyuhyun mantap.
“Kapan?”
“Kapan pun kau mau. Besok pun aku siap.”
Jantung Hyemi berdebar mendengar jawaban Kyuhyun, tapi dia berusaha tenang dan kembali bertanya, “Lalu, apa kita akan memiliki anak? Apa kau ingin memiliki anak?”
Ahh jadi ini yang kau pikirkan? Gumam Kyuhyun dalam hati. Dia tahu, Hyemi pasti menanyakan hal ini karena kejadian tadi pagi. Gadis itu pasti cemas hal yang sama akan menimpa anaknya kelak. Tapi, demi apapun, Kyuhyun mana tega menjual anaknya sendiri nanti. Apalagi sampai memutuskan hubungan keluarga. Oh, tidak akan! Sebrengsek apapun dirinya, tetap saja dia ini lelaki sejati yang sayang keluarga!
Kyuhyun tersenyum lembut, “Tentu saja, sayang. Aku sangat menantikan anak-anak kita yang lucu. Apa kau tidak mau?”
“Aku juga mau,” jawab Hyemi dengan kepala sedikit menunduk, agak malu.
“Baguslah kalau begitu,” Kyuhyun bernafas lega sebelum menarik Hyemi ke dalam dekapan hangatnya, “Berapa pun anak kita nanti, bagaimana pun anak kita nanti, aku berjanji akan menyayangi mereka sepenuh hati. Percayalah padaku.”
Hyemi langsung balas memeluk Kyuhyun dengan erat, menganggukan kepala sebagai jawabannya. Hyemi terharu sekali mendengar ucapan Kyuhyun. Membuatnya ingin menangis lagi rasanya. Tapi kali ini, menangis bahagia!
-o0o-
Hyemi merasa berat. Tubuhnya yang sedang berbaring terasa berat, matanya yang masih sembab juga terasa berat. Kejadian kemarin memang menguras banyak tenaganya sehingga dia merasa lelah sekali, tapi Hyemi tetap berusaha untuk bangun dari tidurnya. Terlebih beberapa kali dia merasa kelopak matanya agak geli.
Ah, ada apa ini?
“Pagi, sayang.” sapa Kyuhyun saat Hyemi baru saja membuka mata.
Jujur, Hyemi agak kaget. Wajah Kyuhyun berada tepat di hadapannya saat dia membuka mata. Dekat sekali.
“Masih sedih?” tanya Kyuhyun setelah mengecup bibir Hyemi, sedangkan tangannya sibuk membersihkan kotoran mata gadis itu.
Hyemi tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala, lalu kembali memejamkan mata saat Kyuhyun menciumi seluruh wajahnya. Kening, mata, hidup, pipi, dagu, dan yang paling lama itu saat Kyuhyun mencium bibirnya.
Ya, memiliki seorang kekasih penyayang seperti Kyuhyun, untuk apa Hyemi bersedih?
Pikirnya, biarlah apa yang sudah terjadi sebelumnya menjadi masa lalu. Kini dia harus fokus, bersyukur, dan bahagia atas apa yang dia miliki saat ini. Setidaknya itu lebih baik daripada harus menangisi penderitaannya ‘kan?
“Maafkan aku,” bisik Kyuhyun sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hyemi, “Waktu itu kau menangis karena mantan pengawalmu terluka, itu salahku. Kemarin kau juga menangis karena Min Jihyun, salahku juga. Seharusnya aku tidak menyuruh orang untuk menghajar mantan pengawalmu, seharusnya aku tidak perlu membawamu ke Skyz Night. Aku menyesal sekali.”
“Tidak, bukan salahmu, Cho Kyuhyun.” Sahut Hyemi dengan cepat.
“Kau memaafkanku?” Kyuhyun mengangkat kembali kepalanya dan menatap Hyemi dekat.
Hyemi mengangguk sambil tersenyum, “Ya, kumaafkan. Tidak perlu mengungkit yang sudah lewat. Tapi…”
“Bisakah kau menyingkir dariku?” sekilas Hyemi melirik ke bawah, tepatnya ke arah tubuh Kyuhyun yang menindihnya sejak tadi. “Kau berat sekali.”
Tawa Kyuhyun lepas, “Kau harus terbiasa, sayang. Nanti aku akan sering menindihmu.”
“Aishh dasar bos mesum! Cepat, menyingkir dari—hmmpph!!” ocehan Hyemi terhenti karena Kyuhyun langsung menciumnya dengan cepat, ******* atas-bawah bibirnya dan semakin naik menindih tubuh kecilnya.
Sebenarnya, Hyemi tidak mau, tapi lama kelamaan entah mengapa ciuman Kyuhyun membuatnya ketagihan. Membuat bibirnya balas ******* bibir tebal Kyuhyun walaupun dengan kaku. Tangan Hyemi juga bergerak melingkari leher pria itu, menariknya pelan hingga membuat ciuman mereka semakin intens.
Kyuhyun sendiri tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini, tangan kanannya perlahan turun dan menyelinap masuk ke dalam kaos longgar Hyemi. Mengusap perut datar itu dengan gerakan yang lembut.
Dan saat Hyemi mendorong dada Kyuhyun karena kehabisan nafas, Kyuhyun langsung menurunkan ciumannya ke arah leher gadis itu. Hanya mengecupnya biasa. Lalu beralih semakin turun hingga…
“Wahh apa yang kau lakukan?” tiba-tiba Kyuhyun mengangkat badannya sambil menahan tangan Hyemi. Tangan yang nakal, yang diam-diam sudah membuka dua kancing kemejanya.
Hyemi terkekeh, “Aku hanya membantumu.”
“Kau yakin? Padahal saat pertama kali kau tinggal disini, kau takut sekali padaku. Sekarang sudah jadi nakal huh?” Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya.
“Bukan nakal, Kyuhyun. Hanya saja hubungan kita sudah jelas sekarang, aku percaya padamu. Lagipula,” Hyemi memegang rahang Kyuhyun dengan lembut, menarik wajah tampan itu dan mengecup bibirnya lama. “Kau tahu, sudah lama aku tinggal di Skyz Night. Aku tidak sepolos yang kau pikirkan.”
“Benarkah? Coba, buktikan.” Balas Kyuhyun sebelum mereka kembali berciuman. Kali ini penyatuan bibir mereka lebih panas.
Bukan hanya itu, tangan mereka juga ikut aktif satu sama lain. Tangan Hyemi sibuk melanjutkan kegiatannya melepas kancing kemeja Kyuhyun, mengusap penuh goda dada bidang itu. Sedangkan Kyuhyun sendiri juga sibuk menggapai benda kenyal di dalam baju Hyemi. Oh, benar-benar.
Dan saat tangan Hyemi semakin turun perlahan menuju celana Kyuhyun, tiba-tiba…
“Hyemi—ASTAGA SIALAN RENTENIR BRENGSEK APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!!” Changmin yang seenaknya masuk ke kamar Kyuhyun berhasil merusak suasana dengan teriakannya.
Hyemi membulatkan matanya karena kaget, malu juga karena kepergok begini oleh sang kakak. Sedangkan Kyuhyun langsung menurunkan kaos Hyemi yang agak tersingkap karena ulahnya tadi. Ya, Kyuhyun juga kaget. Namun Kyuhyun hanya tersenyum bodoh membalas tatapan Changmin yang terlihat syok.
“Kalian…” Changmin tak bisa melanjutkan ucapannya.
Kyuhyun duduk di tepi ranjang dan melepaskan kemejanya, “Ck, jangan berlebihan. Kau sudah merestui kami.”
“Hei tapi—”
“Oppa sudah sarapan? Kita sarapan bersama ya?” Hyemi yang sudah duduk langsung menyela ucapan Changmin, berusaha tersenyum manis dan mengabaikan fakta bahwa wajahnya masih merona saat ini.
Changmin tersenyum hambar, adiknya pintar sekali mengalihkan pembicaraan. “Aku memang datang untuk sarapan bersama. Sudahlah, aku tunggu di bawah.”
Lalu Changmin berbalik pergi, membuat Hyemi dan Kyuhyun tertawa pelan setelah pintu kamarnya tertutup. Tidak mereka sangka Changmin akan mengalah dengan raut wajah yang seperti itu.
“Calon dokter,” Kyuhyun menengok pada Hyemi, “Sebelum masak, tolong ganti dulu perbanku.”
“Ah benar, aku lupa dokter Park sedang di Jepang.” Jawab Hyemi sambil bergegas turun dari ranjang, mengambil obat cair dan perban yang waktu itu dokter Park tinggalkan untuk Kyuhyun.
Dan tidak butuh waktu lama, Hyemi sudah berhasil membersihkan luka di punggung Kyuhyun dan mengganti perbannya. Hyemi melakukannya dengan telaten hingga membuat Kyuhyun diam-diam bangga. Calon istrinya pintar memasak dan jago mengobati luka ternyata.
“Ah, benar,” Kyuhyun teringat sesuatu, membuat Hyemi yang sedang membantunya memakai kembali kemejanya terlihat bingung. “Aku ada urusan hari ini, kau tidak apa-apa sendirian disini?”
“Apa kau tidak akan pulang?” Hyemi balik bertanya.
“Aku pulang, tapi mungkin agak malam. Aku akan ke rumah temanmu nanti. Siapa namanya? Ahn.. Jieun?”
“Ah! Ahn Jiyeon!” seketika Hyemi terlihat antusias, dia berdiri di depan Kyuhyun dengan raut wajah serius, “Benar, apa yang kau lakukan padanya? Dia menyerangku karena ulah para rentenir yang datang ke rumahnya, kau tahu? Siwon Oppa bilang memang kau yang menyuruhnya?”
Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada, “Dia menyerangmu?!”
Ya! “Tidak, tidak. Hanya bertengkar biasa. Tapi sebenarnya, kenapa kau begitu? Ayahnya yang berhutang, tapi kudengar kau juga mengancam Ahn Jiyeon atas namaku. Bukankah itu keterlaluan?”
“Tidak, mereka pantas mendapatkan itu. Tuan Ahn berhutang sangat banyak padaku, anaknya juga kurang ajar karena bersikap kasar padamu.”
“Ishh Cho Kyuhyun..” Hyemi memegang tangan Kyuhyun yang masih bersedekap, “Tidak bisakah kau sedikit lebih lembut? Sedikit saja. Mungkin Tuan Ahn memang belum ada uang untuk membayar hutangnya, dan juga… Ahn Jiyeon tidak kasar, hanya kurang kerjaan saja makanya sering menggangguku. Ya? Ya?”
Kyuhyun berdecak kesal, agak marah dengan ucapan Hyemi. Kesimpulannya gadis itu ingin Kyuhyun memaafkan Tuan Ahn dan anaknya ‘kan?
Hyemi, kau benar-benar… terbuat dari apa hatimu itu huh? Changmin yang dulu mengacaukan keluargamu, kau maafkan. Min Jihyun yang membuangmu, kau maafkan. Aku yang pernah menjahatimu, kau maafkan. Dan sekarang teman yang sering mem-bully-mu mau kau maafkan juga? Gerutu Kyuhyun dalam hati.
Ya, hanya dalam hati. Entah mengapa Kyuhyun tidak bisa meluapkannya pada Hyemi. Membuat pria itu hanya menghela nafas panjang, lalu berkata, “Akan kupikirkan.”
Setelah itu, Hyemi dan Kyuhyun turun ke lantai bawah. Hyemi langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, sedangkan Kyuhyun duduk di samping Changmin yang sedang bermain game di ruang tengah.
Kyuhyun langsung mengambil stik Play Station yang lain, membuat Changmin tersenyum acuh sebelum memulai duel mereka di game itu.
“Yesung dan Siwon kerja, kau tidak?” tanya Kyuhyun tanpa menatap lawan bicaranya.
“Tidak, aku sengaja ingin menemani Hyemi hari ini.” Jawab Changmin yang juga sibuk menatap layar di depannya, sibuk melawan pemain Kyuhyun di game itu.
“Kalau begitu sampai malam saja, aku ada janji makan malam hari ini.”
“Dengan siapa? Anggota Dewan yang sering ke Skyz Night? Bukankah kau sudah bertemu mereka kemarin?”
Dengan cepat Kyuhyun menyambar remote TV dan menaikan volume suaranya sebelum kembali bermain, “Dengan perempuan.”
“Apa?!” meski samar, tapi Changmin tahu apa yang Kyuhyun katakan. Changmin reflek menengok ke arah Kyuhyun hingga pemainnya di game itu langsung kalah. Oh, terserah. Sekilas Changmin melirik ke arah Hyemi yang sedang sibuk memasak di dapur, lalu berbisik, “Hei, kau masih bermain perempuan di belakang Hyemi? Kau sudah tidak mencintainya?”
Kyuhyun tersenyum miring pada Changmin, “Aku mencintai Hyemi, tapi bagaimana? Kau tahu kebutuhan seorang lelaki.”
“Hei brengsek kau!” Changmin meraih kerah kemeja Kyuhyun dengan cepat, “Begini caramu mencintainya?!”
Kyuhyun masih bertahan dengan senyum jahatnya, tak menjawab dan sibuk tertawa saja dalam hati.
.
.
.
“Oppa, ada apa denganmu? Apa kau sakit?” tanya Hyemi sambil memeriksa suhu tubuh Changmin dengan cara memegang keningnya, namun tidak terasa panas. Normal saja.
Hyemi semakin bingung, Changmin tidak demam tapi sejak tadi hanya memandangnya dengan tatapan sedih. Sebenarnya ada apa ini? Padahal sebelumnya Changmin terlihat biasa saja, tidak bersikap aneh begini. Bahkan beberapa menit lalu sebelum Kyuhyun pergi, lelaki ini masih normal-normal saja.
“Hyemi, adikku…” Changmin tiba-tiba memeluk Hyemi, “Kalau kubawa kau pulang bersamaku, bagaimana?”
“Huh? Apa?” Hyemi mengernyitkan keningnya dalam pelukan Changmin.
“Iya, pulang saja denganku, tinggal bersamaku. Kau tidak perlu bertahan disini sementara Kyuhyun tidak tahu pergi kemana.”
Hyemi melepas paksa pelukan Changmin, “Apa yang Oppa bicarakan? Kyuhyun hanya pergi menagih hutang, kenapa Oppa bicara seakan-akan Kyuhyun tidak kembali? Oppa lupa sudah merestui kami?”
“A-apa? Kyuhyun kemana?” tanya Changmin sedikit tergagap.
“Menagih hutang, Oppa. Dia ‘kan bos rentenir. Dia juga sudah bilang padaku tadi.”
Changmin langsung memejamkan mata, mengepal kuat tangannya dengan mulut yang sibuk menggerutu pelan, “Rentenir sialan! Kau mengerjaiku, ya?!”
-o0o-
Hari Kelulusan.
Akhirnya, hari ini tiba. Setelah ini, berakhir sudah status Hyemi sebagai 'anak sekolah'. Ah, berakhir juga masa pem-bully-an untuk dirinya di sekolah ini. Tidak tahu bagaimana kehidupannya di kampus nanti. Walaupun tidak terlalu peduli akan hal itu, tapi ya tidak dipungkiri Hyemi mengharapkan kehidupan sosial yang lebih baik. Setidaknya, dia ingin merasakan juga bagaimana punya seorang teman meskipun hanya satu atau dua orang.
Dengan pikiran yang sibuk membayangkan masa kuliahnya, Hyemi berjalan pelan menuju aula sekolah. Tepatnya dia berjalan beriringan bersama Changmin. Hanya Changmin.
Tidak ada Kyuhyun, bos rentenir itu sibuk mengurus proyek baru di luar kerjaannya menagih hutang. Tidak ada Siwon, supir pribadi Kyuhyun itu sibuk menemani sang bos kemana-mana. Tidak ada Yesung juga, polisi tampan itu sedang ada tugas memantau sesuatu. Iya, tidak ada mereka bertiga, dan Hyemi berusaha memaklumi meski sedikit kecewa. Tapi itu bukan masalah, Hyemi bersyukur masih ada Changmin yang datang menemaninya.
"Hei, siapa lelaki yang datang bersama Hyemi?"
"Siapa lagi? Itu pasti sugar daddy-nya bukan? Kau lupa dia ****** yang menjual tubuhnya di hotel?"
Bisikan-bisikan itu lagi, Hyemi mendengarnya dengan jelas saat melewati beberapa orang yang berbeda kelas dengannya. Dia tetap tidak peduli dan berniat untuk terus berjalan menuju aula di depan sana. Tapi, langkahnya tertahan karena Changmin menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh dengan tatapan sinis.
Hyemi lupa. Walaupun dia tidak peduli, tapi sang kakak pasti tidak akan diam saja mendengar cibiran itu. Hyemi menahan lengan Changmin, "Oppa, sudah—”
"Minta maaf!" sentakan itu membuat Hyemi terkejut, begitu pun dengan Changmin yang suaranya tertahan di tenggorokkan.
Ya, bukan Changmin yang menyentak mereka. Betapa mengejutkannya karena orang itu adalah Ahn Jiyeon. Gadis itu entah sejak kapan sudah datang dan menyentak teman-temannya sendiri. Tidak sadar beberapa murid lain dan orangtua yang datang menjadikan mereka sebagai bahan tontonan.
"Ada apa denganmu? Kau lupa dia itu Shim Hyemi?" tegur salah satu teman gosip Ahn Jiyeon.
"Lalu, apa? Tinggal hitungan menit kita sudah resmi lulus sekolah, apa kalian masih akan seperti ini? Tidak ada pengaruhnya juga pada kalian, Hyemi mau datang dengan siapa." ujar Ahn Jiyeon yang membuat teman-temannya langsung merengut kesal, "Cepat, minta maaf."
Akhirnya, setelah saling menyenggol lengan dan bersungut-sungut, sekelompok perempuan penggosip itu sedikit membungkukkan badan mereka sambil berkata pelan, "Kami minta maaf."
Hyemi yang masih kaget dengan keadaan ini, tak memberikan respon sama sekali. Dia cenderung bingung harus berkata apa.
"Tidak kumaafkan, perundungan selama bertahun-tahun bukan hal sepele. Lain kali aku akan mengurusnya secara hukum kalau kalian masih mengganggu ADIKKU." Changmin menjawab dan sengaja memberi penekanan pada kata terakhirnya, membuat sekelompok perempuan itu terbelalak kaget sebelum kembali meminta maaf dan berlalu pergi.
"Ahn Jiyeon," panggil Hyemi saat Ahn Jiyeon juga ingin bergegas pergi.
Ahn Jiyeon menatap Hyemi dengan tatapan sinis, seperti biasanya. "Tidak perlu berterima kasih. Ini balasan karena para rentenir itu memberi keringanan pada keluargaku."
Ah, Cho Kyuhyun...
Hyemi tersenyum kecil saat Ahn Jiyeon berjalan pergi, sedangkan Changmin sibuk mengikuti langkah gadis itu dengan matanya. Changmin heran dengan ucapan dan sikap Ahn Jiyeon yang sangat bertolak belakang.
"Oppa, sebentar lagi acaranya dimulai." Hyemi menarik tangan Changmin dan mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju aula.
Acara kelulusan itu memakan waktu berjam-jam, waktu yang sangat membosankan bagi Hyemi karena harus duduk bersama teman-temannya yang berbisik banyak hal. Dan lebih membosankan lagi karena Hyemi dipanggil maju ke depan sebagai siswa terbaik se-angkatan tahun ini. Bukannya tidak senang, tapi sungguh ini membosankan mengingat respon seantero sekolah selalu sama, selalu mencibirnya. Hal baik mengenai kepintaran otaknya selalu dipandang tak berarti hanya karena rumor tentang dirinya yang seorang anak pemilik klub malam.
Hell yeah.. Andai mereka semua tahu Hyemi bukan lagi anak pemilik klub malam Skyz Night.
Beruntung setelah acara selesai Changmin langsung menghampiri Hyemi, memberinya bunga dan pelukan hangat disertai pujian yang tak ada habisnya. Setidaknya itu berhasil membuat suasana hati Hyemi menjadi lebih baik.
Tapi sepertinya, Changmin sedikit berlebihan. Kakak tirinya itu masih terus memuji nilai-nilai sekolahnya bahkan saat mereka sudah masuk ke mobil bersiap untuk pulang. Hyemi sampai tidak tahu harus bagaimana lagi menjawabnya selain berkata, "Oppa, sudahlah, kau berlebihan."
Demi apapun, Hyemi merasa tidak sehebat yang Changmin katakan. Dia sudah terbiasa diacuhkan oleh sang ibu tiap kali menjadi siswa berprestasi di sekolahnya, jadi respon Changmin ini sangat berlebihan untuknya.
Dan juga, ini benar-benar tidak perlu saat Changmin mampir ke sebuah butik, membelikannya gaun untuk dia pakai saat ini juga sebagai hadiah. Astaga Hyemi merasa risih sekali, tapi dalam hati dia juga memuja gaun yang sudah melekat di tubuhnya. Gaun berwarna abu-abu terang yang jatuh membentuk tubuhnya, menutupi sampai ke ujung kakinya. Gaun tak berlengan dengan belahan dada yang rendah namun tidak terlalu banyak mengekspos dadanya, juga seluruh gaun itu dipenuhi motif ala kerajaan. Garisan yang begitu indah.
Baiklah, Hyemi mengalah. Dia akan menerima gaun cantik ini. Tapi...
"Tunggu, ini tidak perlu." Hyemi sedikit menghindar saat dua karyawan butik yang membantunya mengganti baju ingin menyentuh rambutnya, sedangkan seorang wanita lain yang masuk ke ruang ganti sudah bersiap dengan alat make up yang dibawanya.
Astaga, kenapa Changmin harus repot-repot menyiapkan semua ini?
"Tenang saja, Nona. Saya hanya akan membuat rambut Anda sedikit bergelombang." ujar salah satu wanita yang membantu Hyemi mengganti baju.
"Saya juga akan memberi Anda sedikit make up, tidak akan berlebihan." sahut wanita lain yang siap dengan alat make up di tangannya.
Tidak! Hyemi tidak mau! Tapi, bagaimana ini? Di sisi lain dia juga tidak tega menolak hadiah dari sang kakak. Dia takut Changmin tersinggung dengan penolakannya. Dan perasaan itu semakin menyebar luas memenuhi hatinya, membuat dirinya berakhir pasrah didandani dan ditata rambutnya.
Setelah selesai, Hyemi terlihat sedikit merengut, awalnya. Namun melihat respon Changmin yang menatapnya bahagia membuat rasa tidak nyaman yang menyelimutinya perlahan lenyap. Senyuman Changmin menular padanya, membuat Hyemi tidak merasa keberatan harus pulang dengan penampilannya yang seperti ini.
-at The Zones Seoul-
"Oh? Kenapa kesini?" tanya Hyemi saat Changmin menggandeng tangannya menuju ballroom hotel, bukan ke Penthouse Kyuhyun.
Di depan pintu besar itu, di depan dua orang karyawan yang seakan sudah menunggu mereka, Changmin memindahkan tangan Hyemi agar mengapit lengannya, lalu memberikan sebuket bunga yang memang sudah disiapkan di dekat mereka. "Sebenarnya semua hadiah ini bukan dariku, tapi dari Kyuhyun. Dia yang menyiapkan semua ini untukmu."
"Apa?" Hyemi mengernyit bingung, masih tidak mengerti. Kenapa Kyuhyun?
Changmin tak menjawab dan memberi kode lewat isyarat matanya pada karyawan itu, lalu dua orang itu mengangguk sebelum membukakan pintu besar itu. Setelah terbuka lebar, barulah Hyemi mengerti. Dia jelas mengerti.
Di hadapan Hyemi, sebuah karpet merah panjang sudah terulur membelah ruangan. Dan di ujung karpet itu, di dekat altar, Kyuhyun berdiri dengan senyum menawan. Kyuhyun terlihat gagah dengan balutan jas abu-abu berkerah hitam dan dasi kupu-kupu dengan warna senada. Ah, rambutnya juga ditata rapi ke belakang hingga memperlihatkan keningnya dengan jelas.
Iya, Hyemi mengerti, pria tampan yang sudah menunggunya itu akan menikahinya. Mereka akan menikah. Kenyataan yang terasa seperti mimpi.
Perlahan, Changmin menuntun Hyemi berjalan menuju altar. Melewati beberapa tamu yang bersorak gembira padanya. Entahlah, Hyemi tidak banyak mengenal tamu yang ada disini. Hyemi hanya tahu beberapa anak buah Kyuhyun, Yesung, Siwon, Donghae dan juga Eunhyuk pastinya. Para lelaki itu terlihat ikut bahagia di hari pernikahannya ini.
Setelah sampai di altar, Changmin menyerahkan Hyemi pada Kyuhyun. Lalu berkata, "Berjanjilah, kalian akan hidup bahagia."
"Aku berjanji," jawab Kyuhyun.
"Ya, Oppa, aku berjanji." jawab Hyemi sambil memeluk Changmin dengan erat. Dia terharu sekali hingga ingin menangis rasanya.
Changmin membalas pelukan Hyemi dengan sama eratnya. Daripada seorang kakak, entah mengapa Changmin justru merasa seperti melepas anaknya sendiri. Ya, apapun itu, yang jelas Hyemi begitu berarti bagi Changmin.
Kini Hyemi dan Kyuhyun sudah berdiri bersama di altar, saling berhadapan dengan map berisi janji suci yang mereka bacakan secara bergantian. Para tamu yang berada di ruangan itu menjadi saksi terjalinnya ikatan suci di antara mereka. Ikatan penuh kasih yang resmi di mata hukum maupun agama.
Lalu, acara berlanjut ke sesi pemasangan cincin.
"Tunggu," Hyemi menarik kembali tangannya saat Kyuhyun mau memasangkan cincin ke jari manisnya, dia baru teringat sesuatu. "Aku baru lulus sekolah hari ini, aku masih harus kuliah."
Kyuhyun memutar matanya malas dengan sebelah alis yang terangkat tidak santai, "Ayolah, tidak ada aturannya sudah menikah tidak boleh kuliah."
Hyemi tersenyum lebar, mengembalikan tangannya ke genggaman Kyuhyun dan membiarkan pria itu memasangkan cincinnya. Hyemi juga melakukan hal yang sama, dia juga memegang tangan Kyuhyun dan memasangkan cincin di jari manis pria itu. Tapi, Hyemi merasa ada yang aneh dari Kyuhyun. Tangan pria itu terasa dingin dan agak basah. Tapi, belum sempat Hyemi bertanya, para tamu sudah kembali bersorak riang dan meminta mereka untuk berciuman.
Agak memalukan karena disini banyak orang, tapi Hyemi dan Kyuhyun tetap melakukannya. Mereka akhirnya berciuman mesra hingga membuat ruangan itu semakin riuh.
"Kyu..." Hyemi terengah dengan ciuman Kyuhyun yang memabukkan, wajahnya dengan sang suami masih berada dalam jarak yang sangat dekat. "Kenapa kau..."
"Hm?" Kyuhyun seakan tak mau jauh dari Hyemi, tangan kirinya yang memeluk tubuh gadis itu masih bergeming di tempatnya. Sedangkan tangannya yang lain mengusap lembut tengkuk Hyemi.
"Apa kau sakit? Tanganmu terasa dingin dan berkeringat." bisik Hyemi yang membuat Kyuhyun langsung menjatuhkan kepalanya di bahu gadis itu.
Kyuhyun tertawa renyah, "Aku gugup, Hyemi. Menikahimu rasanya lebih mendebarkan daripada melawan musuh-musuhku."
Hyemi menutup rapat mulutnya, malu karena dugaannya salah. Ya, siapa sangka bos rentenir yang terkenal playboy dan jahat bisa segugup itu saat menikah.
Kyuhyun mengangkat kembali kepalanya dan menatap mata Hyemi dengan lekat, "Senang akhirnya bisa menikahimu. Aku mencintaimu, Shim Hyemi."
Hyemi mengalungkan lengannya ke leher Kyuhyun, membalas tatapan mata Kyuhyun dengan tatapan penuh cinta. "Aku juga mencintaimu, Cho Kyuhyun."
Cinta yang kau berikan padaku, hanya kaulah senyumku satu-satunya.
Itu akan menjadi indah, itu adalah kesungguhanku.
Melihat hatimu yang begitu hangat, aku ingin terus berjalan disana.
Kau dan aku, pada saat ini ketika kau semua di dalamnya.
Itu akan menjadi indah.
THE END~
Big thanks for you, readers~
Terima kasih sudah mau membaca karya saya, semoga kalian terhibur yaa~ sayang banget sama kalian, reader-nim unchh~ /peluk satu-satu
Btw, ada Sequel-nya lho nanti~