
Sudah hampir tengah malam, namun Kyuhyun dan Changmin tetap tak ada yang bicara. Hanya saling berhadapan di ruang tengah dengan posisi Kyuhyun duduk di tengah-tengah sofa panjang dan Changmin berdiri menghadapnya di seberang meja sambil berkacak pinggang, menghalangi layar TV yang mati. Sedangkan Hyemi, Yesung, dan Siwon hanya menonton diam-diam dari meja makan.
Ya, Hyemi juga berada disana. Rasa kantuknya lenyap tak tersisa karena kejadian setengah jam yang lalu.
“Apa yang kau tahu tentang Hyemi?” akhirnya, Changmin memulai interogasinya.
Kyuhyun berusaha tenang, menghela nafas pelan sebelum menyandarkan punggungnya pada kepala sofa. “Anak Min Jihyun, masih sekolah, suka memberontak.”
“Aishh!!” kesal Hyemi dari meja makan, membuat Kyuhyun dan Changmin sempat menoleh padanya.
“Lalu, bagaimana bisa Hyemi ada disini? Kau menculiknya?” Changmin kembali bertanya pada Kyuhyun.
“Kau pikir aku ini apa?” Kyuhyun sedikit tersinggung dengan tuduhan tak berdasar itu, “Min Jihyun punya hutang padaku, sudah lama tapi tidak pernah dilunasi. Dan tadi pagi dia membayarnya dengan menjual Hyemi padaku.”
Changmin terdiam. Kedua tangannya yang berada di pinggang, perlahan turun dengan lemas. Dia yang hanya mendengarnya saja tidak menyangka, merasa sakit hati, apalagi Hyemi yang mengalaminya. Andai saja dia memiliki hubungan yang baik dengan Hyemi, pasti dia tidak akan berpikir lagi untuk menghampiri gadis itu dan memeluknya erat. Membisikkan berbagai kata maaf pada gadis kecil itu untuk semua kesulitan yang dialaminya. Namun, itu hanya sebuah pengandaian. Changmin tahu dia tidak pantas melakukan hal itu.
Tidak, setelah mengingat kembali apa yang terjadi pada keluarga mereka.
“Lalu, apa yang kau tahu tentangku?” lagi, Changmin bertanya. Pertanyaan yang terasa konyol bagi Kyuhyun mengingat mereka sudah lama berteman dekat.
“Kau bercanda, Shim Changmin? Tentu saja aku tahu segalanya tentangmu. Hanya satu yang tidak kuketahui, apa maksudmu mengaku menjadi kakaknya Hyemi?” balas Kyuhyun sambil bersedekap.
Changmin tak menjawab, dia hanya beralih pada Hyemi dan meminta gadis itu memberikan semua berkas pribadi miliknya. Akta kelahiran, kartu keluarga, kartu pelajar, dan semua hal-hal yang menunjukkan identitas gadis itu.
Setelah Hyemi meletakkan semua berkasnya di meja kaca di depan Kyuhyun, Hyemi tidak pergi begitu saja. Dia tetap berdiri di dekat Changmin dan ikut melihat bagaimana Kyuhyun mulai memeriksa kertas-kertas itu.
Shim Hyemi.
Shim Hyemi.
Shim Hyemi.
Hanya nama itu yang Kyuhyun temukan di lembaran kertas-kertas itu. Marga Shim yang Hyemi miliki membuat Kyuhyun terkejut, sebelumnya dia pikir Hyemi bermarga Min karena Min Jihyun seorang single parent. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Hyemi bermarga Shim dan nama ayah dari gadis itu juga adalah Shim Taejin, nama yang Kyuhyun tahu itu adalah ayah Shim Changmin.
Jadi, apa Hyemi dan Changmin memang kakak beradik?
Setelah memastikan Kyuhyun sudah memeriksa semua berkas itu, Changmin langsung merapikan kertas-kertas itu dan mengembalikannya pada Hyemi. “Aku akan bicara dengan Kyuhyun. Kau tidurlah, besok harus sekolah kan?”
“Y-ya,” Hyemi sedikit tergagap dan hanya memandangi berkas yang ada di tangannya, “Aku akan ke kamar. Terima kasih.”
Changmin menahan lengan Hyemi saat gadis itu hendak pergi, “Jangan lupa kunci pintu kamarmu.”
“Kamarku! Itu kamarku! Kalau dikunci, aku akan tidur dimana, bodoh?! Aku tidak mau tidur di sofa ini!” hanya alasan, semua orang yang ada disana tahu itu. Hyemi juga mengabaikan kata-kata Kyuhyun dan memilih menuruti ucapan Changmin.
“Kau bisa tidur bersama mereka,” kata Changmin sambil menunjuk Yesung dan Siwon yang masih duduk di meja makan, kedua pria itu mengangguk cepat dengan senyum yang mengembang.
Kyuhyun menepuk keningnya melihat hal itu. Tidur bersama Yesung dan Siwon? Bersama dua pria abnormal itu? Yang ada Kyuhyun tidak bisa tidur nanti, malah sibuk menyingkirkan kaki dan tangan mereka yang suka menjangkaunya untuk dipeluk. Uhh, Kyuhyun tidak mau lagi mengalami hal itu.
“Sudah, sekarang dengarkan aku baik-baik,” Changmin duduk di sofa single dengan kedua siku yang bertumpu di pahanya, “Hyemi masih anak dibawah umur, dia masih terlalu muda untuk kau ajak ‘bermain’. Jadi, jangan sentuh Hyemi.”
“Apa—”
“Aku mohon.”
Kyuhyun hanya diam, jika Changmin sudah memohon seperti ini berarti pria itu memang serius. Kyuhyun tahu itu.
“Dulu aku pernah bertengkar dengan Appa karena diam-diam dia sudah memiliki istri baru, kau ingat?” ujar Changmin, namun Kyuhyun tidak meresponnya selain terus memandang ke arahnya. “Istri barunya itu Min Jihyun, dan anak mereka itu Hyemi. Aku benci sekali dengan mereka, termasuk Appa, keluarga baru yang mereka bangun itu menghancurkan keluargaku. Seperti yang kau tahu, Eomma-ku sampai memilih kabur ke luar negeri karena hal itu. Aku tidak suka melihat Eomma-ku seperti itu dan berusaha balas dendam. Tapi, sepertinya percuma saja, aku malah merasa bersalah setelah berhasil melakukannya.”
“Langsung ke intinya saja. Kau benci pada Hyemi tapi kau juga melarangku untuk menyentuhnya, kau mau aku bagaimana?” tidak, Kyuhyun bukannya tidak peduli, justru Kyuhyun berusaha mengalihkan pembicaraan agar Changmin tidak melanjutkan kisah keluarganya.
Kyuhyun tidak tega melihat kilatan sedih di mata teman dekatnya itu.
“Sepertinya aku tidak benar-benar membenci Hyemi, aku hanya terbawa emosi waktu itu. Lagipula semua itu hanya masa lalu. Jadi, biar bagaimana pun dia tetaplah adikku. Aku akan membawanya bersamaku besok.” Jelas Changmin sambil tersenyum yakin, berpikir inilah jalan yang terbaik.
Namun, sepertinya Kyuhyun tidak berpikir demikian. Terlihat jelas dari rahangnya yang mengeras hingga membentuk garis tegas.
“Setelah bertahun-tahun kau biarkan dia tinggal di Skyz Night, baru sekarang kau ingin membawanya?” sinis Kyuhyun yang berhasil melenyapkan senyuman Changmin.
Yesung dan Siwon yang kini sudah duduk di kiri-kanan Kyuhyun, mengangguk setuju.
“Jangan asal mengambil keputusan, Changmin. Jangan mau enaknya saja.” Kritik Siwon.
“Astaga.. apa kalian masih tidak mengerti? Hyemi itu adik tiriku, karena dia sudah tidak tinggal dengan Eomma-nya, jadi aku akan bertanggung jawab dan membawanya. Mau enaknya saja dari mana?” balas Changmin.
Yesung menghela nafas jengah, “Kau lupa? Hyemi itu dijual pada Kyuhyun karena hutang Eomma-nya, jadi sekarang, Hyemi itu milik Kyuhyun. Kau yang kakak tirinya tidak berhak langsung membawa Hyemi begitu saja, Changmin.”
“Lalu? Aku harus apa?”
“Tentu saja kau harus membayarku seharga hutang Min Jihyun!” jawab Kyuhyun tak terbantahkan.
“Nah, itu dia!” sahut Yesung dan Siwon bersamaan.
Changmin langsung berdiri, “Hei! Bagaimana bisa kalian seperti ini padaku?! Bukankah kita keluarga?!”
“Kalau bicara keluarga, harusnya kami yang bertanya begitu padamu, bodoh!” kesal Kyuhyun yang ikut berdiri juga, memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil menatap Changmin malas. “Sudah tahu Hyemi itu adikmu, masih di bawah umur, tapi kau membiarkannya tinggal di Skyz Night. Keluarga macam apa kau ini?”
Lalu Kyuhyun bergegas untuk pergi, tak ingin membicarakan masalah ini lagi. Ralat, tidak ingin Hyemi dibawa pergi tepatnya.
Namun, Changmin dengan cepat menahan sebelah pundak Kyuhyun. “Akan aku bayar.”
Kyuhyun mengernyitkan keningnya tanda tidak suka, tidak dia sangka Changmin akan mengambil umpannya. Yesung dan Siwon yang terkejut juga langsung menoleh pada Changmin.
“Tapi… sebenarnya berapa hutang Min Jihyun?” ragu-ragu Changmin melanjutkan kalimatnya.
Hanya Tuhan yang tahu, dalam hati Kyuhyun bersorak lega saat ini. Kyuhyun berbisik pada Changmin, “5 Juta Dollar.”
“A-a-apa? Kau serius?” iya, Changmin terkejut sedikit sesak mendengar jumlah yang Kyuhyun sebutkan.
Kyuhyun hanya mengangguk sambil tersenyum angkuh, merasa yakin beberapa detik lagi Changmin akan menjilat ludahnya sendiri. Ya, pasti begitu. Mengingat Changmin hanyalah seorang pebisnis level 1. Pendapatan Changmin saat ini pasti belum bisa untuk membayarnya sebanyak 5 Juta Dollar.
“Sudahlah, Shim Changmin. Jangan memaksakan dirimu. Lagipula Kyuhyun sudah tahu Hyemi itu adikmu, dia tidak akan macam-macam.” Celetuk Siwon memecahkan keheningan.
“Benar, biarkan saja Hyemi bersama Kyuhyun.” Sambung Yesung.
“Tidak,” Changmin menatap teman-temannya satu persatu dan berakhir dengan menatap lekat Kyuhyun, “Aku pasti akan membayarnya. Tapi sebagai gantinya, kau harus memberikan Hyemi padaku setelah aku membayarmu lunas. Dan selama itu, kuharap kau memang tidak macam-macam pada ADIKKU.”
Kyuhyun terdiam, sedikit panik. Namun detik selanjutnya dia langsung tersenyum senang sambil menepuk bahu Changmin, “Tenang saja, kawan. Tidak perlu buru-buru.”
Iya, setidaknya itu yang keluar dari mulut Kyuhyun, yang didengar oleh teman-temannya. Lain halnya dengan hati kecil Kyuhyun yang berteriak, sialan! Aku bahkan belum bersenang-senang dengan gadis itu!
Munafik sekali.
-o0o-
Hyemi yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya kini sedang duduk di tepi ranjang, di depannya ada Kyuhyun yang sedang berdiri sambil menatapnya lurus. Hyemi tidak tahu apa yang ingin pria itu bicarakan, tapi sepertinya pria itu kesal karena semalam dia memang mengunci pintu kamar seperti saran Changmin.
Tunggu, apa itu salah?
Hyemi tidak merasa bersalah. Hyemi ingat sebelum Changmin datang, Kyuhyun hampir memperkosa dirinya. Jadi, wajar bukan jika dia waspada dan menuruti kata-kata Changmin untuk mengunci pintu kamar?
“Semalam—”
“Terserah. Aku tidak akan minta maaf, Cho Kyuhyun.” Hyemi menyela ucapan Kyuhyun sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Kyuhyun terkekeh, tak menyangka Hyemi akan bersikap begini padanya. “Aku belum selesai bicara. Dan apa katamu tadi? Cho Kyuhyun? Woah benar-benar tidak sopan kau, bocah!”
“Lalu? Kau berharap aku memanggilmu ‘Oppa’? Cih, tidak akan!” balas Hyemi.
Memejamkan mata sejenak sambil berusaha mengalah, hanya itu yang bisa Kyuhyun lakukan. Bertahun-tahun hidup menjadi rentenir, sungguh, dia belum pernah mengenal ada orang yang berani melawannya seperti ini. Keras kepala sekali. Kyuhyun tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.
“Sudahlah! Cepat katakan, apa yang ingin kau bicarakan denganku?!” lanjut Hyemi, masih dengan nada bicara yang tak bersahabat.
Kyuhyun menatap malas, “Jangan potong ucapanku.”
Hyemi tak menjawab, hanya mulut kecilnya saja yang berdecak keras.
“Semalam Changmin bilang akan membawamu bersamanya.” Kata Kyuhyun, membuat kedua mata Hyemi membulat karena terkejut. “Tapi nanti, tidak sekarang. Bukan dalam waktu dekat ini.”
“Ah… ya…” Hyemi bergumam pelan menjawabnya, rasanya senang bercampur sedih mendengar berita ini. Membuat Hyemi menundukkan kepalanya dengan lemas.
Kyuhyun mengernyitkan keningnya melihat perubahan raut wajah Hyemi, dia yakin ada sesuatu yang salah disini. Namun dia tetap kembali bicara, “Jadi, sebelum Changmin menjemputmu, kau akan tetap tinggal disini bersamaku. Kerjakan tugasmu membersihkan rumah dan masak. Kau mengerti?”
“Baiklah.”
“Pulang dan pergi sekolah harus dengan Siwon atau Yesung. Jangan naik bus ataupun berpergian sendiri.”
“Baiklah.”
“Jangan keras kepala, jangan melawanku.”
“Baiklah.”
“Kemarikan ponselmu.”
Masih sambil menunduk, Hyemi menuruti ucapan Kyuhyun. Mengeluarkan ponsel dari saku rok sekolahnya dan memberikannya pada pria itu.
Dan Kyuhyun menghitung dalam hati, 1… 2… 3…
“Tunggu! Hei!” sentak Hyemi sambil menatap Kyuhyun tajam, namun yang ditatap malah tersenyum licik padanya. “Apa yang ingin kau lakukan? Kembalikan ponselku!”
“Kalian berdua,” tiba-tiba suara berat seorang pria menginterupsi Kyuhyun dan Hyemi, pria itu menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar. Choi Siwon.
“Apa?” sahut Kyuhyun dengan nada malas.
Malas karena kehadiran pria yang sialannya tampan itu membuat Hyemi kembali terlihat seperti kemarin, malu-malu dan merona. Cih.
“Masih lama bicaranya? Aku harus mengantar Hyemi sekarang kalau tidak mau terlambat.” Kata Siwon yang membuat Hyemi langsung menarik tangan kiri Kyuhyun, melihat jam tangan pria itu.
“Astaga! Aku harus berangkat sekarang!” Hyemi panik, dengan cepat memakai tas ranselnya dan juga menyambar ponselnya dari tangan Kyuhyun.
“Hyemi,” Kyuhyun menahan gadis itu, menatapnya tidak suka karena bergegas pergi setelah sembarangan memegang tangannya. Iya, seenaknya saja. Tidakkah gadis itu tahu sikapnya tadi membuat Kyuhyun salah paham?
Hyemi mendesis kesal, “Apa lagi? Aku harus berangkat sekolah seperti kata Siwon—”
“Oppa. Siwon Oppa.” Celetuk Siwon.
“Ya, Siwon Oppa.” Lanjut Hyemi sedikit malu.
“Tapi kita belum selesai bicara. Sudahlah, aku yang antar!” lalu Kyuhyun menarik Hyemi pergi, berjalan terlalu cepat hingga gadis itu kesusahan mengikutinya. Sedangkan Siwon yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengikuti mereka ke lantai bawah.
“Yesung Oppa, Siwon Oppa, aku pergi!” meski terburu-buru, Hyemi menyempatkan diri untuk berpamitan pada Yesung dan Siwon.
“Hati-hati di jalan!” seru Yesung.
“Cepat pulang, my baby!” sambung Siwon, tepat sedetik sebelum pintu Penthouse tertutup.
Yesung menendang kaki Siwon hingga sang empunya mendelik tajam, “My baby? Hei apa kau memang seorang gigolo huh? Hyemi itu milik Kyuhyun, jangan menggodanya!”
“Bukan menggoda, Hyung! Itu panggilan sayang untuk seorang adik! Makanya sesekali pergilah ke luar negeri, jangan hanya diam di rumah! Dasar pengangguran!” balas Siwon bersungut-sungut sambil berbalik pergi menuju kamarnya.
“Kau bilang apa?! Pengangguran?!” teriak Yesung, namun Siwon tak peduli dan menutup pintu kamarnya. “Hei! Aku bukan pengangguran! Aku hanya polisi yang sedang diskors!”
-o0o-
“Kemarin, apa kau yang menghubungi Changmin?” tanya Kyuhyun sambil fokus menyetir. Ya, akhirnya Kyuhyun sendirilah yang mengantar Hyemi ke sekolah.
Hyemi melirik Kyuhyun dengan kesal, “Jadi ini yang ingin kau bicarakan?”
“Apa lagi? Semalam Changmin langsung datang dan mengacaukan kesenanganku, itu pasti karena ada yang memberitahunya bukan?” sekilas, Kyuhyun membalas tatapan Hyemi. “Aku sudah tanya Yesung dan Siwon, tapi mereka bilang tidak.”
“Aku juga tidak.”
“Eyy jangan bohong padaku, Hyemi.”
“Aku tidak bohong, Cho Kyuhyun.” Ujar Hyemi sedikit gemas, lalu menghela nafas pelan karena Kyuhyun hanya merespon dengan mengangkat sebelah alisnya. Pria itu tidak percaya padanya. “Kau tahu, aku dan Changmin Oppa hanya saudara tiri. Hubungan kami tidak terlalu baik sejak awal, bahkan untuk berbagi nomor telepon.”
Kyuhyun tertawa dengan sangat menyebalkan, bahkan dia sampai menutup mulutnya dengan tangan kanannya yang bebas dari menyetir. “Haha.. Kenapa kau serius sekali huh? Aku hanya bertanya hahaha..”
“Aish rentenir sialan ini,” umpat Hyemi sambil mendelik tajam.
“Hei, hei.. Sudah kubilang panggil aku ‘Oppa’, ‘Kyuhyun Oppa’. Kau sudah berjanji tidak akan melawanku. Bahkan kau memanggil Yesung dan Siwon dengan sebutan itu.” Kyuhyun mengingatkan, membuat Hyemi mendengus kesal karena itu memang benar.
Kau bodoh, Hyemi. Seharusnya jangan membuat janji apapun dengan rentenir menyebalkan ini. Gumam Hyemi dalam hati.
Kyuhyun menepikan mobilnya setelah sampai di depan sekolah Hyemi, melihat keadaan sekitar sekolah gadis itu sambil membuka sabuk pengamannya. Dan saat melihat kaca spion di atas kepalanya, Kyuhyun melihat ada sebuah mobil hitam juga yang berhenti di belakang mobilnya. Entahlah, Kyuhyun tidak tahu siapa itu. Pasalnya dia tidak meminta anak buahnya untuk berjaga karena dia hanya ingin berduaan dengan Hyemi.
Biarlah, Kyuhyun tidak terlalu peduli. Mungkin dia hanya terbawa kebiasaannya yang selalu waspada.
“Hyemi,” Kyuhyun menahan lengan Hyemi yang hendak membuka pintu mobil, “Cium aku.”
Apa?! Kata Hyemi dalam hati, tak bisa bersuara karena terlalu terkejut. Hanya raut wajahnya saja yang menatap Kyuhyun dengan tatapan takut.
Oh ayolah, Hyemi tidak pernah mencium lelaki asing mana pun sebelumnya. Dicium pun hanya pernah sekali, tadi malam, itu pun karena Kyuhyun yang mencuri kesempatan. Mencuri ciuman pertamanya. Dan sekarang, Kyuhyun ingin dia mencium pria itu secara suka rela?
Bagaimana bisa???
“Aku sudah membelimu, kau milikku, kau juga berjanji tidak akan melawanku. Mulai sekarang, setiap bertemu kau harus menciumku. Ah.. atau kau mau aku berbuat sesuatu yang lebih padamu?” ujar Kyuhyun sambil memamerkan senyum liciknya yang mematikan.
“Jangan macam-macam, Cho Kyuhyun! Aku masih anak sekolah!” Hyemi berusaha membela diri sebelum menepis tangan Kyuhyun yang masih memegangnya.
“Kalau begitu cium aku, jangan melaw…”
Chu~
Kyuhyun terdiam, tak bisa melanjutkan ucapannya karena Hyemi langsung menciumnya. Pipi kanannya. Iya, padahal hanya di pipi, tapi entah mengapa ciuman kilat itu mampu melumpuhkan kerja otak Kyuhyun untuk beberapa detik. Dan saat sadar, ternyata Hyemi sudah berjalan memasuki gerbang sekolahnya sambil berlari kecil dengan kepala tertunduk. Sepertinya, Hyemi juga malu. Membuat senyum kecil Kyuhyun terbit melihat tingkah gadis itu.
Tok. Tok.
Kyuhyun terkejut. Senyumnya hilang saat jendela mobilnya diketuk dari luar. Kyuhyun menurunkan jendelanya dan melihat dua orang pria dengan setelan jas hitam menunduk hormat menyapanya.
Kyuhyun ingat, dua pria di hadapannya ini adalah anak buah Min Jihyun. Donghae dan Eunhyuk.
“Selamat pagi, Tuan Marcus. Bisa kita bicara sebentar?” ujar Eunhyuk berusaha sesopan mungkin.
Kyuhyun menatap malas kedua pria itu sebelum beralih memandang lurus ke depan, tak berniat keluar dari mobilnya. “Langsung saja.”
Donghae dan Eunhyuk saling memandang sejenak, mencoba saling meyakinkan diri untuk mengatakan tujuan mereka menemui Tuan Marcus sang rentenir.
“Maaf kalau kami lancang, Tuan. Ini mengenai Nona Hyemi…” Donghae terdiam, memperhatikan perubahan ekspresi Kyuhyun yang mulai terlihat risih. “Bisakah kami yang membayar hutang Nyonya Min dan membawa Nona Hyemi kembali? Kami siap membayarnya lunas beserta bunganya.”
Kyuhyun tersenyum sebelah bibir, lalu membalas tatapan Donghae dan Eunhyuk. “Tidak mungkin Min Jihyun yang menyuruh kalian seperti ini. Dengan siapa kalian bekerja?”
“Ini… kami melakukannya sendiri.” Jawab Eunhyuk.
“Kami mengkhawatirkan Nona Hyemi. Dia sangat penting bagi kami.” Sambung Donghae.
“Woahh apa kalian kekasihnya? Perhatian sekali.” Ejek Kyuhyun sebelum mendecih jelas.
Donghae dan Eunhyuk tak bisa menjawab, kedua pria itu hanya terdiam bingung. Mereka memang tahu Tuan Rentenir ini juga terkenal aneh, tapi tidak mereka sangka akan dibalas seperti ini permohonan mereka. Bukankah seorang rentenir selalu mau jika itu berhubungan dengan uang?
“Sayang sekali, pecundang, Hyemi sudah menjadi milikku.” Lanjut Kyuhyun sambil tersenyum bangga, lalu memakai kacamata hitam yang dia ambil dari dashboard mobil sebelum kembali berkata, “Dan aku tidak berniat membagi milikku dengan orang lain.”
Setelah itu, Kyuhyun menaikkan kaca mobil, melajukan mobilnya meninggalkan Donghae dan Eunhyuk begitu saja.
Kyuhyun memakai earphone di telinga kanannya sambil tetap fokus menyetir, menelepon seseorang yang selalu cepat menjawabnya. Dan benar saja, belum ada sepuluh detik Kyuhyun menunggu, teleponnya sudah dijawab oleh seseorang di seberang sana.
“Ada apa?”
“Tangan kanan Min Jihyun, ada dua orang, aku ingin kau habisi mereka hari ini.”
“Astaga, kupikir urusanmu dengan wanita itu sudah selesai.”
Kyuhyun menghela nafas, dia pun inginnya begitu. “Sudahlah, lakukan saja. Sembunyikan hal ini dari Hyemi.”
“Hyemi? Ah, anak Min Jihyun? Kau benar-benar membawanya bersamamu?”
“Hm, jangan bicarakan pekerjaan kita di depannya. Kapanpun itu.”
“Baiklah. Kututup.”
Sambungan terputus.
Kyuhyun melepas earphone kecil dari telinganya dan melemparnya asal ke atas dashboard. Tatapannya tajam dan kedua tangannya meremas stir mobil dengan erat, terlalu erat. Tangan Kyuhyun sampai terlihat memerah karena hal itu.
“Shim Hyemi, banyak sekali lelaki yang menginginkanmu huh?”
-o0o-
Bugh! Bugh! Bugh!
Lima orang berbadan besar itu terus menghajar Donghae dan Eunhyuk, sama sekali tak berhenti meski kedua anak buah Min Jihyun itu sudah terkapar tak berdaya. Memang sebelumnya Donghae dan Eunhyuk bisa melawan balik, menghajar kelima orang yang sama sekali tidak mereka kenal. Namun, pada akhirnya mereka tak bisa bertahan lagi karena kalah jumlah.
Sedangkan seseorang di ujung gang yang gelap itu hanya bergeming. Lelaki kurus berambut seleher itu sibuk menghisap tembakau yang sisa setengah, menonton tindak kekerasan di depannya dengan ekspresi datar.
“Berhenti!” seru lelaki itu, akhirnya.
Kelima orang berbadan besar itu langsung patuh, mereka berhenti menendangi tubuh Donghae dan Eunhyuk yang sudah basah penuh darah. Uhh..
Lelaki itu membuang sembarang puntung rokoknya, lalu berjalan mendekati Donghae dan Eunhyuk. Lelaki itu menendang pelan lengan Donghae untuk menyadarkannya, “Besar sekali nyali kalian berani mengganggu Marcus Cho. Bosan hidup huh?”
“Uhukk..” Eunhyuk terbatuk, darah segar mengalir dari dalam dan sudut bibirnya. “Marcus Cho sial—arghh”
Umpatan Eunhyuk berganti menjadi rintihan sakit karena lelaki yang tadi menendang lengan Donghae kini menginjak dadanya. Tak bisa Eunhyuk pungkiri, lelaki kurus itu kuat sekali.
“Haruskah kubunuh kalian sekarang juga? Ah tidak, tidak. Akan lebih menarik jika kulaporkan pada Marcus bahwa kalian tidak jera sama sekali, masih keras kepala ingin mengambil kembali gadis miliknya. Dengan begitu Marcus pasti akan marah dan menghukum gadis itu. Bagaimana?” ujar lelaki misterius itu dengan tenang, mengabaikan Eunhyuk yang beberapa kali menepuk kakinya agar menyingkir.
“Keparat! Jangan macam-macam dengan Nona Hyemi!” seru Donghae sambil berusaha bangkit kembali, namun sayangnya salah satu pria berbadan besar itu menendangnya hingga kembali jatuh. Seluruh tubuhnya terasa remuk.
“Kalian yang seharusnya jangan macam-macam.” Lelaki itu menyingkirkan kakinya dari Eunhyuk, berjongkok dengan sebelah lutut menyentuh tanah, kemudian berbisik, “Kita buat mudah saja. Kalian berhenti mengganggu Marcus, maka kita tidak perlu bertemu lagi seperti ini. Dan itu berarti Nona kalian akan aman bersama Marcus. Ingat itu baik-baik.”
Lalu, lelaki itu bangkit, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya sambil berbalik pergi. Diikuti oleh kelima orang berbadan besar yang notabene adalah anak buah lelaki misterius itu.
Sedangkan Donghae dan Eunhyuk masih tak berdaya di jalanan gang kecil nan gelap itu. Mereka tidak tahu ini dimana, yang mereka tahu terakhir saat sore hari mereka berada di dekat sekolah Hyemi untuk mencuri kesempatan bertemu gadis itu, namun seketika semua gelap karena mereka diculik dan berakhir disini.
Mereka akui, memang sebuah kesalahan besar karena berani menemui Marcus Cho.
-o0o-
Hyemi baru pulang sekolah ditemani oleh Yesung, gadis itu langsung berjalan menuju dapur untuk menata beberapa makanan yang dia beli tadi untuk makan malam. Ya, Yesung yang menjemput Hyemi pulang sekolah tadi, dan pria itu setuju menemaninya membeli makan malam karena Hyemi sedikit lelah kalau harus memasak.
Hyemi bersyukur karena Yesung yang menjemputnya, setidaknya itu sedikit membantu untuk menghindari Kyuhyun. Ya, menghindari harus mencium pria itu saat bertemu. Oh, Hyemi malu sekali mengingatnya.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Yesung yang sejak tadi duduk di meja makan dan hanya memandangi Hyemi yang sedang sibuk menata makanan.
“Siapkan alat makannya saja, Oppa.” Jawab Hyemi yang langsung dipatuhi oleh Yesung, “Emm… tapi, apa mereka masih lama? Haruskah kita makan malam lebih dulu?”
Yesung menata sepasang sumpit dan sendok di samping mangkuk kecil berisi nasi sambil membalas tatapan Hyemi sekilas, “Kyuhyun dan Siwon? Mereka bilang sudah di jalan tadi, mungkin sebentar lagi akan sampai.”
“Kemana mereka pergi?”
“Bekerja.”
“Menagih hutang?”
“Berbisnis,” Yesung mengangkat bahunya acuh, dia sudah selesai dengan tugasnya dan kembali duduk di bangkunya. Di depan Hyemi. “Kyuhyun hanya menagih hutang yang nominalnya besar, selain dari itu dia hanya akan pergi berbisnis di beberapa tempat.”
Hyemi mengangguk paham. Dia mengerti, ternyata ibunya berhutang banyak hingga Kyuhyun sendiri yang menagihnya waktu itu. “Siwon Oppa juga?”
“Ah, tidak, Siwon sebuah pengecualian. Dia tidak ikut berbisnis ataupun menjadi anak buah Kyuhyun. Tapi dia adalah supir pribadi Kyuhyun.” Jelas Yesung.
“Dan Yesung Oppa, kau… seorang polisi?”
“Ya. Tapi aku diskors sebulan karena suatu masalah.”
Hyemi memandang Yesung dengan tatapan tak menyangka, tidak dia sangka pria berantakan yang bertelanjang dada di rumah ini memang seorang polisi. “Daebak..”
Yesung tersenyum kecil, “Bagaimana pun awalnya, kuharap kau bisa betah tinggal disini, Hyemi.”
“Tentu saja! Harus itu!” bukan Hyemi, jelas bukan Hyemi yang menjawab. Tapi Kyuhyun-lah yang berkata seperti itu. Tanpa suara pria itu sudah berada di dapur diikuti oleh Siwon.
Kyuhyun menarik bangku dan duduk di samping Hyemi, menatap lekat gadis itu yang pura-pura sibuk menyapa Siwon dan mengucapkan selamat makan. Kyuhyun berdehem menegur Hyemi, menunggu gadis itu melakukan sesuatu karena mereka baru bertemu saat ini. Namun menyebalkan karena gadis itu tidak mau menoleh sedikitpun padanya.
Kyuhyun mengalah, dia bersiap menyantap makanannya sambil berkata, “Woah sepertinya aku harus makan yang banyak, akan sangat melelahkan nanti malam.”
“Aishh..” desis Hyemi sambil menatap kesal pria di sampingnya itu, membuat Yesung dan Siwon terlihat bingung dengan sikapnya. Akhirnya Hyemi menarik pelan pundak Kyuhyun agar mendekat, lalu berbisik, “Setelah makan.”
Kyuhyun tersenyum lebar membalas tatapan kesal Hyemi, dia berbisik kembali, “Tidak mau.”
“Hei tapi ada Yesung Oppa dan Siwon Oppa disini! Aku malu!” Hyemi sedikit gemas hingga reflek memukul lengan Kyuhyun, namun anehnya pria itu malah tertawa.
“Kalau begitu sepuluh kali lipat.”
“Satu.”
“Sepuluh, Hyemi.”
“Satu, ini sesuai perjanjian.”
“Sepuluh atau kulakukan lebih dari itu.”
“Aish menyebalkan! Baiklah, baiklah! Sepuluh!” Hyemi mengalah, membuat Kyuhyun kembali tertawa puas melihatnya.
Hyemi dan Kyuhyun kembali melanjutkan makannya, tidak sadar sejak tadi ditonton oleh Yesung dan Siwon yang sangat penasaran dengan apa yang mereka bisikkan. Yang jelas, semakin hari mereka terlihat semakin dekat.
“Tidak bisakah kalian tidak mengumbar kemesraan disini?” tegur Yesung, pura-pura kesal.
“Menjijikan sekali melihat bos rentenir bertingkah seperti remaja sedang jatuh cinta.” Siwon menimpali.
“Hei, kalau begitu pergi saja. Jangan makan disini. Kalau perlu sekalian saja jangan tinggal disini.” Kyuhyun yang sebelumnya terlihat senang, kini berubah menjadi kesal.
Hyemi yang melihat hal itu langsung menyentuh sebelah lengan Kyuhyun, namun matanya tidak hanya memandang ke arah pria itu, tapi juga ke arah Yesung dan Siwon. “Oppadeul, sudahlah, kita makan dengan tenang. Oke?”
“Baiklah.” Hanya Yesung yang menjawab, sedangkan Siwon hanya tersenyum sekilas mengiyakan dan Kyuhyun hanya menunduk sambil mencuri pandang ke arah tangan Hyemi yang sempat memegangnya.
Pertama, saat gadis itu melihat jam tangannya. Kedua, beberapa detik lalu saat gadis itu menyentuh lengannya agar berhenti berdebat. Ahh benar saja kata Siwon, Kyuhyun seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Bisa-bisanya dia menghitung sudah berapa kali Hyemi reflek memegang tangannya.
Dan berkat Hyemi, makan malam di Penthouse itu berakhir dengan tenang. Tidak seperti kemarin atau beberapa tahun belakangan dimana ketiga pria itu makan malam di luar secara masing-masing.
Hyemi baru selesai mandi dan berniat menemui Kyuhyun setelah ini, namun dia tersentak kaget karena ternyata pria yang ingin ditemuinya sudah duduk santai di atas ranjang. Pria ini benar-benar. Padahal setelah makan malam selesai Hyemi sudah bilang akan menemui pria itu di lantai bawah.
“Sepuluh ciuman. Aku menunggumu, Hyemi.” Ujar Kyuhyun sambil menepuk sisi ranjang di sampingnya.
Hyemi tak bisa menghindar lagi, akhirnya dengan langkah pelan dia menghampiri Kyuhyun. Duduk di tepi ranjang menghadap ke arah pria itu. Berkali-kali Hyemi berkata dalam hati, tidak apa-apa! Tidak apa-apa! Lima di pipi kiri dan lima di pipi kanan, Hyemi! Setelah itu, selesai!
“Tutup matamu,” pinta Hyemi yang dibalas kekehan kecil oleh Kyuhyun, namun setelahnya pria itu menutup mata.
Hyemi mencodongkan badannya, lalu dengan cepat mencium kedua pipi Kyuhyun.
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, “Emmhh!”
Hyemi mengumpat dalam hati, pada hitungan terakhir ciumannya Kyuhyun justru menyambar bibirnya dan menahan kuat tengkuknya. Ya, lagi-lagi pria itu mencuri kesempatan darinya.
Hyemi berusaha memberontak dengan mendorong dan memukul-mukul badan Kyuhyun, namun sialnya pria itu justru semakin melumat habis bibirnya. Bahkan pria itu juga secara cepat semakin mendekat padanya. Demi apapun, selain terkejut, Hyemi sudah kehabisan nafas dengan ciuman panjang ini. Dia butuh asupan oksigen!
“Hahhh… hahhh… hahhh…” Hyemi terengah, tangannya masih bertahan di bahu Kyuhyun saat pria itu menghentikan ciumannya.
“Payah, kaku sekali. Kau harus banyak berlatih, Hyemi.” Ujar Kyuhyun yang masih dalam jarak sangat dekat dengan Hyemi, membuat mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
“Kau menyebalkan, Cho Kyuhyun.” Balas Hyemi dengan tatapan tajam.
Tangan kanan Kyuhyun yang masih berada di tengkuk Hyemi, mengusap kulit lembut gadis itu dengan gerakan pelan. “Apa kau sebenci itu padaku?”
“Tentu saja, kau seorang pedofil yang membeli seorang gadis berumur 17 tahun untuk diperbudak. Aku sangat membencimu.”
“Tapi, aku tidak. Aku tidak membencimu.”
Hyemi melihatnya. Dia melihat bagaimana tatapan tenang Kyuhyun berubah menjadi tatapan yang serius, seakan mempertegas kata-katanya barusan. Dan itu sungguh berhasil membuat jantung Hyemi berdegup cepat. Dia merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri.
“Kalau kau marah karena aku membelimu, coba saja kau pikirkan lagi, aku tidak mendapatkan keuntungan apapun. Aku tidak mendapat sepeser uang dari hutang Min Jihyun, aku juga tidak benar-benar mendapatkanmu. Kau selalu menghindariku.” Kata Kyuhyun tanpa melepaskan tatapannya dari Hyemi.
Kyuhyun juga tidak berniat menarik diri, masih betah menatap Hyemi dengan jarak yang dekat. Sangat-dekat. Membuat Hyemi membeku dengan irama jantungnya yang tak beraturan.
“Maafkan aku,” gumam Hyemi, lalu menurunkan pandangannya.
“Bukan salahmu,” tangan kanan Kyuhyun yang semula berada di tengkuk Hyemi, kini merambat ke dagu gadis itu, mengangkatnya pelan agar pandangan mata mereka kembali bertemu. “Bolehkah aku melakukannya sekali lagi?”
Melakukan apa?
Oh ya, tentu saja ciuman itu lagi. Kegiatan panas yang menghabiskan pasokan oksigen di paru-parunya. Hyemi tahu itu. Dan dia sedang mengutuk dirinya saat ini karena kepalanya malah mengangguk tanpa berpikir.
Kyuhyun tersenyum kecil, senyuman tulus tanpa bumbu licik sedikitpun. Setelah itu Kyuhyun melakukannya lagi. Kyuhyun mengikis sisa jarak diantara mereka sambil saling menutup mata, lalu menyatukan bibir tebalnya dengan bibir kecil Hyemi. Mengecupnya lama.
Benar, hanya sebuah kecupan.
“Manis.” Bisik Kyuhyun dekat, membuat Hyemi sedikit mengangkat pundaknya karena geli.
Hyemi mendorong pelan dada Kyuhyun untuk memberi jarak diantara mereka, menatap malu-malu pada pria itu. “Aku tidak akan menghindarimu, Cho Kyuhyun. Selama kau tidak berbuat macam-macam padaku.”
“Kenapa? Kau takut?” tanya Kyuhyun lembut, dengan sebelah tangan yang tak bisa diam untuk mengusap pipi Hyemi.
“Eo, aku takut. Aku masih ingin melanjutkan pendidikanku, lagipula umurku masih 17 tahun. Kalau tiba-tiba aku hamil, aku tidak yakin bisa bertahan di dunia ini. Kau juga…” Hyemi menunduk, terdiam sejenak. “Kau juga belum tentu akan bertanggung jawab. Aku hanya seseorang yang dijual padamu.”
Jangan goyah! Ingat niat awalmu, Cho Kyuhyun! “Kalau begitu, mau menjalin hubungan denganku?”
“Apa?” Hyemi terkejut, bahkan dia langsung mengangkat kembali pandangannya.
“Kau takut karena kita tidak memiliki hubungan apapun, kalau begitu jadilah kekasihku. Seiring waktu kita bisa saling mengenal satu sama lain, bukan?”
“Benar, tapi…”
Hyemi dan Kyuhyun. Dua orang itu…
Hanya Tuhan yang tahu, dua orang yang saling memberikan sinyal cinta itu memiliki niat yang berbeda. Niat terselubung yang sejatinya hanya untuk kepentingan masing-masing. Dan mereka pun sadar, niat dalam hati mereka ini tentunya sangat berisiko.
Kyuhyun tersenyum kecil pada Hyemi, “Berkencanlah denganku.”
To be continue…