Time with You

Time with You
You're Mine



Skyz Night.



Itu adalah salah satu klub malam di Seoul, Korea Selatan. Cukup terkenal dan ramai tiga tahun belakangan ini pertanda tempat laknat itu berjalan baik. Yang berarti Tuhan tidak mengabulkan doa Hyemi selama ini. Doa sejak sepuluh tahun lalu, sejak tempat penuh dosa itu dibangun.



Shim Hyemi mengaku bahwa dia memang sering kali mendoakan kebangkrutan klub malam milik ibunya itu. Tapi, melihat bagaimana tempat itu justru semakin berkembang membuat Hyemi berpikir, Ah.. ternyata Tuhan lebih sayang pada Eomma.



Hyemi tidak peduli Skyz Night membuatnya dijauhi teman-temannya, membuat banyak orang memandang remeh padanya yang notabene anak pemilik klub malam. Cih, percayalah, Hyemi tidak pernah ambil pusing mengenai hal itu. Hanya saja yang membuat Hyemi sangat benci adalah fakta bahwa dia dan ibunya tinggal di gedung yang sama dengan klub malam sialan itu. Gedung berlantai lima itu juga rumahnya.



Lantai satu dan dua adalah tempat utama dimana para pengunjung bisa bebas minum ataupun turun ke lantai dansa yang penuh hingar-bingar. Lantai tiga dan empat adalah tempat yang menyediakan beberapa ruangan untuk bersantai dengan suasana yang lebih sepi dan juga beberapa kamar untuk pengunjung yang membutuhkannya. Itu menyebalkan. Dan yang terakhir, lantai lima. Lantai inilah tempat dimana Hyemi dan ibunya tinggal. Lantai lima ini dibuat benar-benar seperti rumah pada umumnya, ada dua kamar tidur, dapur yang satu tempat dengan meja makan, kamar mandi, dan ruang tengah untuk bersantai. Dan parahnya untuk naik ke lantai lima ini, hanya ada satu jalan utama yaitu melalui pintu depan Skyz Night!



Dan kini, Hyemi yang masih berumur 17 tahun itu, pulang dari sekolah dengan menahan kesal. Bagaimana tidak? Baru saja melewati pintu utama, beberapa pria hidung belang sudah memanggil-manggil namanya dan menyuruhnya bergabung bersama mereka. Oh Hyemi tidak akan sudi melakukan hal itu. Menjijikan sekali. Beruntung ibunya selalu menugaskan dua orang pria untuk menjaganya sehingga tidak ada yang berani mendekat dan berbuat macam-macam padanya.



"Aku tidak melihat Eomma. Dimana Eomma?" tanya Hyemi pada dua bodyguard di belakangnya yang bernama Donghae dan Eunhyuk.



"Sepertinya sedang bertemu dengan klien penting, Nona." Jawab Eunhyuk dengan tenang, sedangkan Donghae hanya diam dan mempersilakan Hyemi masuk ke dalam lift yang di depannya terdapat seorang penjaga juga tadi.



Ya, Skyz Night memiliki dua lift. Hanya saja yang Hyemi gunakan saat ini adalah lift khusus untuk mempermudah Hyemi sampai ke rumahnya. Tidak ada pengunjung yang boleh menggunakan lift ini, bahkan para pekerja disini pun tidak boleh selain Donghae dan Eunhyuk, karena dua pria itu memang bertugas untuk menjaga Hyemi selama berada di gedung ini.



"Siapa klien penting Eomma malam ini? Siapa lagi yang akan Eomma jual?" tanya Hyemi sambil memandang kosong pintu lift di depannya.



"Maaf, Nona. Kami tidak tahu tentang itu." Kali ini Donghae yang menjawab dan Eunhyuk yang mengangguk.



"Ck pembohong," pintu lift terbuka dan Hyemi berjalan keluar masih dengan diikuti Donghae dan Eunhyuk, "Aku yakin kalian tahu hanya saja Eomma yang menyuruh kalian untuk tutup mulut 'kan? Menyebalkan sekali. Apa di dunia ini tidak ada yang bisa jujur padaku?"



"Itu..."



Hyemi berbalik setelah tiba di depan pintu rumahnya, menatap kesal pada dua bodyguard-nya yang hanya bisa diam. "Sudahlah. Aku juga tidak berharap apa-apa pada kalian. Selamat malam."



Setelah itu, Hyemi langsung masuk ke rumahnya. Meninggalkan Donghae dan Eunhyuk yang saling menyalahkan satu sama lain karena sudah membuat Hyemi marah. Memang ini hanya masalah kecil, tapi akan menjadi rumit kalau Hyemi justru mencari tahu semuanya sendiri.



Seperti beberapa bulan lalu, saat Hyemi mencari tahu dengan siapa ibunya berbisnis dan mengacaukan semuanya dengan mengusir klien ibunya itu. Tidak setengah-setengah, Hyemi bahkan sampai menyiram air pada orang itu hingga sang ibu akhirnya mengalami rugi besar karena menerima tuntutan dari kliennya. Dan yang membuat Donghae dan Eunhyuk khawatir adalah bosnya akan memotong gaji atau bahkan memecat mereka karena bersalah tidak bisa menjaga Hyemi agar tidak membuat masalah. Itu ancaman mengerikan bagi mereka mengingat hanya inilah sumber hidupnya.



-o0o-



Hari berganti, pagi telah tiba dan Hyemi merasa tubuhnya sangat lemas saat ini. Oh ya, Hyemi baru ingat kemarin dia hanya makan siang di sekolah. Itu pun hanya sedikit. Setelah pulang dari sekolah dia juga langsung istirahat di kamarnya yang bernuansa putih-hijau ini.



Hyemi melirik jam digital di nakas samping ranjang yang menunjukkan pukul 6 pagi, lalu bergegas keluar dari kamarnya masih sambil menguap kecil. Hyemi melewati pintu kamar ibunya tanpa penasaran sedikitpun dan lebih memilih menuju dapur untuk meminum segelas air mineral. Hyemi sudah tahu, saat ini pasti ibunya sedang tidur pulas setelah lelah semalaman menjalankan bisnis kotornya. Ck.



Ting Tong. Ting Tong.



Bel rumah berbunyi. Ada yang datang.



Setelah menenggak habis minumnya, Hyemi langsung bergegas untuk membuka pintu. Dan benar saja seperti dugaannya, yang datang sepagi ini adalah Donghae. Pria tampan dengan setelan formal serba hitam itu tersenyum kaku pada Hyemi.



"Tidak bawa sarapan untukku dan Eomma?" tanpa menyapa, Hyemi langsung bertanya seperti itu melihat Donghae pagi ini datang dengan tangan kosong.



"Maaf, Nona, aku tidak sempat. Aku harus bertemu dengan Nyonya Min sekarang." Jawab Donghae dengan nada gusar, cenderung buru-buru.



"Ada apa?" bukan Hyemi, justru gadis itu menengok ke belakang mendengar suara itu. Ibunya ternyata sudah berada di belakangnya. Iya, Nyonya Min pemilik Skyz Night sudah bangun.



Hyemi menyingkir dari hadapan ibunya dan membiarkan Donghae masuk. Hyemi tahu pasti ada sesuatu yang terjadi, karena itulah dia tetap berdiri di dekat ibunya dan menunggu Donghae bicara walaupun pria itu beberapa kali melirik ke arahnya. Merasa tidak nyaman bicara disaat Hyemi juga ada disini huh? Percuma saja, Hyemi menyadari hal itu dan dia tidak peduli.



"Katakan, ada apa?!" Nyonya Min kembali bertanya sambil membentak.



"Umm... itu... Tu-tuan Marcus... ada di bawah." Ujar Donghae sedikit terbata.



Tuan Marcus? Siapa dia? Ahjussi berkepala botakkah? Atau Ahjussi dengan perut 9 bulan waktu itu? Dalam hati Hyemi bertanya demikian. Hyemi sangat penasaran siapa yang datang sampai membuat Donghae jadi gugup begini. Terlebih ibunya, meski samar, tapi Hyemi sadar air muka ibunya berubah menjadi takut.



Ah, menyebalkan. Hyemi memang membenci pekerjaan kotor ibunya, tapi demi Tuhan, dia lebih benci ketika ada yang mengusik wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu.



"Kenapa masih disini?" Hyemi terkejut, ibunya tidak menjawab Donghae dan malah bicara padanya dengan tatapan malas. "Kau tidak bersiap untuk sekolah? Sudah tidak mau sekolah dan ingin Eomma kenalkan saja pada teman Eomma?"



"Eomma!" sentak Hyemi sambil menatap sengit sang ibu. Dikenalkan pada teman ibunya sama saja berarti Hyemi akan menjadi salah satu yang dijual ibunya saat malam, dia tahu jelas itu, karena itulah dia berani marah. Miris sekali, ibu kandungnya sendiri justru ingin menyodorkannya pada hal hina macam itu.



"Nyonya Min," panggil Donghae, mengingatkan tujuannya datang kesini.



"Suruh keparat itu menunggu, aku harus ganti baju." Kata Nyonya Min dengan santainya sebelum kembali ke kamar, seakan kata-kata kasar yang dia lontarkan bukanlah masalah meski itu didengar oleh Hyemi.



Ya, lagipula ini bukan pertama kalinya. Sudah biasa.



Hyemi juga berniat kembali ke kamarnya dengan kepala tertunduk, namun langkah pertamanya tertahan karena Donghae mencekal lengannya. Hyemi menatap sedih pada Donghae dan menunggu apa yang akan pria itu katakan.



"Aku akan meminta Eunhyuk membawa makanan untukmu, Nona. Dan," Donghae mendekatkan bibirnya ke telinga Hyemi untuk berbisik, "Jangan bersedih."



Setelah itu Donghae langsung berbalik pergi begitu saja, tidak sempat melihat bagaimana bodohnya wajah Hyemi saat ini. Iya, Hyemi mengakuinya, wajahnya pasti terlihat bodoh sekali saat ini. Merona, bingung, dan juga senang hanya karena dua kata itu.



"Jangan bersedih."



Seperti kaset rusak, rasanya Hyemi mendengar ucapan Donghae berputar-putar dalam kepalanya. Memang biasanya Donghae ataupun Eunhyuk selalu memberikan perhatian lebih pada Hyemi, seperti seorang kakak yang memperhatikan adiknya, tapi entah mengapa perhatian yang Donghae berikan kali ini justru membuat Hyemi berbunga-bunga. Kadar senangnya sedikit berlebihan kali ini.



Ah tidak, tidak. Tidak boleh seperti ini. Hyemi menepuk-nepuk kedua pipinya dengan telapak tangan agar segera sadar dari pikiran anehnya. Lalu dia segera mandi sebelum bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tentu saja, dia akan sekolah. Dia tidak mungkin membolos atau malamnya sang ibu pasti akan menjualnya di lantai bawah. Dan kalau benar dia dijual, tak bisa dia bayangkan lagi bagaimana selanjutnya.



"Nona, sarapanmu sudah selesai?" sapa Eunhyuk saat Hyemi baru saja keluar dari rumahnya.



Hyemi hanya mengangguk menjawabnya, lalu menyusuri lorong menuju lift sambil berkata, "Eomma masih di bawah? Masih bersama Tuan Sircus?"



"Marcus. Tuan Marcus." Ralat Eunhyuk.



"Ah, ya, siapapun itu." Hyemi berusaha menahan malu.



Eunhyuk diam-diam tersenyum kecil di belakang Hyemi, "Ya, Nyonya Min masih berdiskusi dengan Tuan Marcus. Nona bisa melihatnya sendiri nanti karena mereka berada di tengah-tengah ruangan."



"Benarkah? Mereka tidak bicara di tempat tertutup? Kenapa?"



"Karena Tuan Marcus tidak mau beranjak dari bangkunya sejak datang kesini."



Hyemi mengernyit sambil memiringkan kepalanya, "Orang aneh."



BRAKKK!!



Hyemi terlonjak kaget saat baru keluar dari lift dan mendengar suara benturan cukup keras. Seperti suara benda yang dihantam ke lantai. Hyemi tidak menunggu waktu lama untuk melihat apa yang terjadi. Dan ternyata, di depan sana, tepatnya di tengah-tengah ruangan lantai satu seperti yang Eunhyuk bilang, ibunya sedang duduk berhadapan dengan seorang pria asing dengan lima orang pengawal berdiri di belakang pria itu. Sedangkan di belakang ibunya hanya ada Donghae yang bersiaga. Di tengah-tengah mereka, sebuah meja kayu berukuran sedang sudah jatuh ke arah ibunya. Sepertinya benda itu yang tadi jatuh hingga membuat Hyemi terkejut.



"Aku tahu sebesar apa keuntunganmu dari tempat ini, jangan bercanda dengan meminta perpanjang waktu." Ujar pria asing yang duduk sambil menaruh kakinya di atas meja yang tadi jatuh karena dia tendang.



Mengepalkan kedua tangannya, Hyemi berniat untuk menghampiri pria asing itu dan ingin memberinya pelajaran karena sudah membuat keributan sepagi ini. Namun, Eunhyuk yang sadar akan hal itu langsung menahan Hyemi dengan cepat.



Eunhyuk menggeleng pelan membalas tatapan tajam Hyemi, menunjukkan jam tangannya pada gadis itu. "Kita harus berangkat sekarang, Nona. Kau harus sekolah."



Hyemi menepis kasar tangan Eunhyuk dari bahunya sebelum melanjutkan langkahnya, menghampiri kerumunan orang yang katanya sedang 'berdiskusi' itu. Tanpa mengenal takut, Hyemi menghadap ke arah pria asing yang terlihat jelas aura keangkuhannya.



Hyemi melipat kedua tangannya dan menatap sinis pria asing di depannya, "Apa kau tidak pernah belajar sopan santun, Tuan? Bertamu sepagi ini dan membuat keributan, dimana pikiranmu? Apa kau sudah gila?"



Semua orang di ruangan itu terkejut bukan main dengan tingkah Hyemi, terutama orang yang Hyemi tantang. Iya, pria asing berparas tampan dengan kulit seputih susu yang disebut-sebut sebagai 'Tuan Marcus' tentunya terkejut. Pria itu sampai mengangkat sebelah alisnya sambil memandang Hyemi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Berani sekali bocah berseragam sekolah ini mengatakan dia gila, pikirnya.



"Kau sendiri," Marcus berdiri tegap di depan Hyemi dan sekilas melirik ke arah ibu gadis itu, "Tidak pernah diajarkan sopan santun olehnya? Tidak lihat orang dewasa sedang bicara?"



"Tidak, yang aku lihat adalah sekelompok preman sedang mengancam Eomma. Tentu saja harus kuhentikan." Balas Hyemi sambil sedikit mendongakkan kepala karena ternyata Tuan Marcus ini jauh lebih tinggi dari tubuhnya.



Min Jihyun -ibu Hyemi- yang tidak mau membuang-buang waktu, akhirnya memberi isyarat pada Eunhyuk lewat matanya agar segera mengurus anak semata wayangnya yang selalu membuat ulah itu. Dan Eunhyuk mengangguk patuh, lalu menghampiri Hyemi dan menahan kuat bahu gadis itu sebelum membawanya secara paksa untuk pergi keluar. Tentu saja setelah menunduk hormat pada Marcus. Tidak, tidak benar-benar hormat, hanya saja Eunhyuk mencari aman untuk dirinya dan juga bosnya. Karena dia tahu betul dengan siapa dia berhadapan.





-o0o-





Marcus Cho.



Dari kalangan orang-orang miskin hingga kaya raya seperti politisi, siapa yang tidak mengenalnya. Pria tampan layaknya aktor papan atas itu adalah bos rentenir yang sangat terkenal. Terkenal sekali karena cara liciknya dalam menagih hutang. Walaupun tidak membunuh, tetapi pilihan yang dia berikan agar uang beserta bunganya kembali sungguh jauh dari kata 'pilihan yang lebih baik'. Dan ditantang oleh bocah berseragam sekolah beberapa detik lalu membuat pria itu sedikit berubah pikiran, membuat pria itu ingin memberikan pilihan menarik pada mangsa di depannya ini.



Marcus kembali duduk di bangkunya dan membalas tatapan pura-pura ramah Min Jihyun dengan tatapan senangnya, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya hm? Bocah itu persis sekali seperti dirimu."



"Terima kasih pujiannya, tapi itu tidak penting." Jawab Min Jihyun.



"Itu penting jika kau ingin perpanjang waktu untuk membayar hutangmu."



"Apa maksudmu?"



Mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu Marcus tersenyum sebelah bibir sebelum berkata, "Kau tidak mau memberikan Skyz Night padaku agar hutangmu lunas dan malah meminta perpanjang waktu. Kalau begitu berikan putrimu padaku, akan kukembalikan setelah kau bayar hutangmu."



Hening sejenak, tidak lama, karena selang beberapa detik Min Jihyun tertawa lepas menanggapi ucapan Marcus. Dan Marcus pun ikut tertawa lepas mengimbangi tawa wanita paruh baya itu. Tawa-tawa jahat bercampur aneh.



"Kalau begitu aku tidak akan membayarnya. Ambil saja bocah itu." Jelas Min Jihyun disisa tawanya.



Jawaban yang sangat mengejutkan, Donghae yang sejak tadi diam tak peduli saja sampai menatap bosnya dari belakang. Donghae berharap telinganya salah dengar karena terganggu dengan suara tawa mengerikan sebelumnya.



Marcus menghentikan tawanya, "Kau yakin? Kulihat bocah itu peduli sekali padamu."



"Tapi aku tidak peduli, selama ini dia tidak berguna bagiku. Hanya menambah masalah saja." Min Jihyun mengangkat bahunya acuh.



Marcus langsung bangkit dari duduknya setelah mendengar hal itu, lalu dia menyuruh anak buahnya untuk merapikan kembali meja dan beberapa bangku yang ditendangnya tadi. Dan tahu apa yang terjadi selanjutnya? Marcus mengulurkan tangan kanannya pada Min Jihyun, membuat wanita itu juga bangkit sebelum menerima uluran tangan bos rentenir itu. Mereka saling berjabat tangan. Tentunya disertai senyuman puas oleh keduanya pertanda kesepakatan sudah dibuat.



Masalah selesai. Hutang lunas.



-o0o-



Hari sudah malam. Hyemi berjalan menuju pintu rumahnya tanpa mengatakan apapun, sengaja mengabaikan dua pria di belakangnya yang beberapa kali berbicara berbagai hal tak penting padanya. Terserah. Hyemi masih marah pada dua pria itu karena kejadian tadi pagi. Terutama pada Eunhyuk, Hyemi masih kesal sekali karena dipaksa pergi oleh pria itu. Dan sampai Hyemi masuk ke rumahnya pun dia tidak berbasa-basi mengucapkan selamat malam, seperti rutinitasnya selama ini.



"Kau sudah pulang, Hyemi." Sapaan lembut yang sangat Hyemi rindukan menyambut kedatangannya.



Langkah kaki Hyemi tiba-tiba berhenti saat mendengar suara sang ibu, matanya terbelalak tak percaya sang ibu menyambutnya sehangat ini. Dan juga, tidak biasanya wanita paruh baya itu berada di rumah padahal ini malam hari.



Hyemi senang, bahagia. Tapi dia juga sadar ada yang salah disini. Sesuatu pasti telah terjadi. Dan Hyemi semakin yakin saat dia melihat ada seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi di dekat dapur, sedang merapikan ikat pinggang sambil menatapnya lekat.



"Kita bertemu lagi," sapa orang itu yang tak lain adalah Marcus. Pria itu duduk di sofa single dengan gaya angkuhnya.



"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hyemi pada Marcus, nada bicaranya luar biasa sinis hingga membuat Marcus tersenyum geli.



"Duduk, Hyemi. Ada yang ingin Eomma bicarakan." Kata Min Jihyun lembut, menepuk sofa kosong di sisi kirinya.



Awalnya Hyemi enggan sekali menuruti perintah ibunya, dia tidak sudi kalau duduk bicara dengan Marcus juga. Namun, suara lembut sang ibu mengalahkan egonya. Hyemi akhirnya menghampiri kedua orang itu dan duduk di samping ibunya, di dekat sofa single dimana Marcus duduk.



Min Jihyun menatap lurus ke depan, "Hyemi, mulai sekarang kau akan ikut dengan Tuan Marcus."



"Apa?!" sahut Hyemi cepat, nyaris berteriak.



"Kau milikku, Hyemi." Celetuk Marcus.



"Diam kau! Aku milik diriku sendiri!" Hyemi membalas sengit, lalu kembali menatap ibunya yang masih tidak mau memandang ke arahnya. "Apa maksudnya semua ini? Jelaskan padaku!"



Hyemi sudah jengah dan tidak bisa menahan diri untuk berteriak. Dan kini matanya semakin memerah, air mata menggenang di pelupuk matanya karena sang ibu justru tak menjawab dan malah bangkit dari duduknya.



Min Jihyun menatap Marcus yang masih terlihat senang dengan keadaan bagai pertunjukkan ini, "Tuan Marcus, silakan, sekarang dia milikmu. Sebagai gantinya, tolong tepati kesepakatan kita bahwa seluruh hutangku sudah lunas."



Aku dijual demi melunasi hutangnya?



"Eomma!!!" sentak Hyemi sambil berdiri, membuat air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Tidak, Hyemi tidak menangis terisak apalagi sampai meraung-raung, hanya saja air matanya tak bisa berhenti mengalir.



Tahu bagaimana reaksi Min Jihyun? Wanita itu sama sekali tak memandang atau bahkan sekedar melirik Hyemi, hanya melangkah tenang masuk ke kamarnya dan berniat berganti baju sebelum menemui kliennya di bawah.



Hati Hyemi hancur detik itu juga. Dadanya terasa sesak, kedua kakinya juga terasa lemas hingga tak bisa bertahan dan membuatnya jatuh terduduk di sofa.



Sejak kecil sering melihat orangtuanya bertengkar hingga bercerai, tidak diperlakukan selayaknya anak oleh ibu kandungnya sendiri, sering ingin dikenalkan pada teman-teman ibunya, dan kini Hyemi benar-benar sudah dijual pada seorang rentenir yang bahkan dia tidak tahu sejak kapan ibunya berhutang.



Miris sekali.



Keadaan ini membuat Hyemi bertanya-tanya dalam hati, apa salahnya? Kesalahannya yang mana yang membuat dia harus menjalani kehidupan seperti ini? Apa di kehidupan sebelumnya dia adalah orang jahat? Kenapa Tuhan memberinya takdir hidup semenyedihkan ini?



"Sudah selesai menangisnya?" Marcus, dengan wajah malas pria itu bertongkah dagu memandangi wajah cantik Hyemi yang murung.



"Berapa hargaku?" bukannya menjawab, Hyemi justru balik bertanya setelah menghapus kasar jejak air matanya.



Sebelah alis Marcus terangkat, "Maksudmu hutang Min Jihyun hingga menjualmu padaku?"



Hyemi langsung memberikan tatapan tajamnya pada Marcus. Oh astaga, kesal sekali Hyemi dengan lidah beracun pria ini. Tidak bisakah pria itu hanya menjawabnya tanpa memperjelas bahwa dia memang dijual?! Dan juga, apa ini? Sekarang pria itu terkekeh dengan santainya? Ya Tuhan, ingin rasanya Hyemi meninju wajah pria itu agar berhenti tertawa!



"Hmm..." Marcus berpura-pura berpikir setelah puas tertawa, "50.000 Won?"



Hyemi terkejut, matanya membulat mengetahui harganya hanya segitu. Hei itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pendapatan ibunya dalam berbisnis. Namun, detik selanjutnya Hyemi mendesis tajam karena pria itu kembali tertawa pertanda dia ditipu. "Menyebalkan sekali, tidak pernah ada yang jujur padaku."



"Aku bercanda. Sudahlah, sekarang kau harus ikut aku pulang. Rumahmu bukan disini lagi." Ujar Marcus sambil menarik tangan kiri Hyemi dan menyambar tas ransel gadis itu, lalu bergegas meninggalkan rumah itu walaupun Hyemi berontak.




"Sudah di tempatku."



APA???



-o0o-



Penthouse mewah di The Zones Seoul, salah satu hotel ternama yang tentunya banyak peminat. Awalnya Hyemi terkagum-kagum saat masuk ke hotel ini, namun kekagumannya lenyap dalam sekejap setelah dia masuk ke Penthouse Marcus.



Bau, agak gelap karena tirai jendela tidak dibuka, sampah berserakan dimana-mana, baju kotor tergeletak sembarangan, dan yang lebih parah hingga membuat Hyemi tercengang yaitu ada seorang pria yang hanya mengenakan celana pendek sedang menonton televisi dengan kedua kaki ditaruh di atas meja. Pria itu terlihat tidak peduli dengan kedatangannya dan Marcus.



Astaga, tempat macam apa ini???



"Sampai kapan kau akan berdiri disitu?" Hyemi tersadar dari rasa tercengangnya saat suara Marcus menginterupsi. Oh, pria itu sudah duduk di samping temannya.



Hyemi segera mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan menghampiri Marcus, dengan canggung duduk di sofa lain setelah menyingkirkan sebuah kemeja yang tergeletak disana. Uhh rasanya tidak nyaman sekali.



"Hei, ini ru-"



"Hei?" sela Marcus dengan nada tidak suka, "Sepertinya benar, Min Jihyun memang tidak pernah mengajarimu sopan santun. Panggil aku Kyuhyun Oppa."



"Apa? Kyu-Kyuhyun..."



"Itu namaku. Cho Kyuhyun. Marcus Cho hanya nama lainku saat menjadi rentenir, jangan berani-berani kau memanggilku dengan nama itu mulai sekarang." Terdengar santai, namun juga tegas.



Hyemi ragu, tapi akhirnya dia bertanya, "Kenapa?"



"Karena Kyuhyun tidak suka anggota keluarga mengingatnya sebagai rentenir sialan, itu membuatnya sedih." Bukan Kyuhyun, tapi pria yang duduk di samping Kyuhyun-lah yang menjawab. Membuat Kyuhyun geram dan langsung menendang kaki pria itu hingga tersingkir dari atas meja. Sedangkan Hyemi? Oh, dia hanya bisa menjadi penonton dari tingkah dua pria di depannya itu.



"Hei! Kau berani menendangku?!" sentak pria di samping Kyuhyun.



"Kenapa tidak? Ini rumahku! Dan juga, lihat semua kekacauan ini! Berantakan sekali! Sudah berapa kali aku menyuruhmu untuk membersihkannya hah?!" balas Kyuhyun tak mau kalah.



"Sudah kubilang pekerjakan saja seorang pembantu! Aku tidak bisa membersihkan rumah! Aku ini laki-laki!"



Kyuhyun berusaha menahan diri, tidak lagi membalas ucapan pria itu dan memilih menghela nafas kasar. Rasanya percuma saja bicara dengan pengangguran tak tahu aturan ini!



"Lakukan tugasmu." Titah Kyuhyun sambil menatap Hyemi dengan tatapan malas.



Hyemi menunjuk dirinya sendiri, "Tugasku? Apa?"



"Bersihkan tempat ini, semuanya harus bersih dan rapi. Aku membelimu untuk kujadikan pembantu, Hyemi. Apa lagi? Ah," tiba-tiba Kyuhyun tersenyum kecil dan mencondongkan tubuhnya pada Hyemi, "Kau juga harus menjadi pembantuku saat malam. Kau tahu maksudku, bukan?"



Blushhh.



Seketika wajah Hyemi memerah mendengar hal itu. Pembantu saat malam? Oh ayolah, bohong kalau Hyemi berkata dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Kyuhyun. Walaupun dia masih berumur 17 tahun, tapi jangan lupakan fakta bahwa dia juga tinggal di Skyz Night selama ini. Dia sudah sering mendengar obrolan kotor seperti ini.



Kyuhyun tertawa geli melihat respon kaku sekaligus menggemaskan dari Hyemi, "Cepat bersihkan sebelum kita makan malam bersama. Kalau kau butuh sesuatu kau bisa bertanya pada Kim Yesung, aku akan pergi keluar sebentar."



Setelah itu, Kyuhyun bangkit dari duduknya. Melangkah pergi sambil beberapa kali menendang bungkus makanan yang menghalangi jalannya.



Hyemi berdehem pelan setelah Kyuhyun hilang dibalik pintu, "Kim Yes-"



"Yesung Oppa. Panggil aku seperti itu." Sergah pria pengangguran tak tahu aturan yang sejak tadi hanya duduk malas di sofa. Pria itu, Yesung, sekilas memandang Hyemi sambil tersenyum hambar sebelum kembali menatap pada layar TV plasma di depannya.



"Ah, ya... apa kau tahu dimana barang-barangku? Aku harus mengganti bajuku sebelum membersihkan rumah."



"Di lantai dua hanya ada satu kamar, barang-barangmu berada disana. Kalau sudah bersih-bersih, tolong buatkan makan malam yang banyak. Aku lapar sekali."



Entahlah, mendengar ucapan Yesung membuat Hyemi menyadari satu hal. Sepertinya pria itu tidak malas, hanya tidak ada tenaga karena belum makan. Hyemi jadi merasa iba pada pria itu. Kasihan sekali.



Hyemi memandang ke seluruh ruangan dan menemukan dapur berada di belakangnya. Hyemi segera berjalan kesana dan langsung menghela nafas karena dapur ini tak kalah berantakan dari ruang tengah, ada banyak piring kotor disini. Hyemi membuka lemari es di dekatnya dan berharap ada bahan makanan tersisa yang bisa dia olah untuk Yesung makan, namun mengejutkan sekali, bukan sisa, justru kulkas besar ini memang terisi penuh dengan bahan makanan dan juga buah-buahan.



"Yesung Oppa," panggil Hyemi dari dapur yang langsung direspon dengan Yesung menoleh ke arahnya, "Mau makan buah sambil menunggu makan malam?"



Tahu bagaimana reaksi Yesung?




Pria itu langsung mengangguk cepat sambil tersenyum lebar, membuat Hyemi tertular senyuman itu. Ya, sepertinya... tidak buruk juga dijual dan harus terdampar di Penthouse rentenir.



-o0o-



Wine. Donghae dan Eunhyuk meneguk minuman keras itu untuk ke sekian kalinya, sambil duduk bersampingan di meja bar dengan pandangan kosong. Tidak ada yang bicara. Pikiran mereka terlalu rumit, hati mereka juga hampa, tepatnya sejak beberapa jam lalu saat mereka melihat sendiri Hyemi dibawa pergi oleh Tuan Marcus.



Saat itu, Donghae dan Eunhyuk tidak bisa melakukan apapun. Mereka tidak cukup berani untuk melawan sosok rentenir yang terkenal cukup jahat. Tidak, atau Hyemi yang akan dalam bahaya. Mereka tidak mungkin membiarkan Hyemi dalam bahaya hanya karena melawan Marcus dan antek-anteknya itu.



Dan akhirnya beginilah mereka, termenung karena merasa marah dan hampa namun tak bisa melakukan apapun disaat bersamaan. Mereka merasa kehilangan Nona-nya.



Eunhyuk menghela nafas panjang, nyaris tak terdengar oleh Donghae karena suara musik di Skyz Night sangat kencang. "Sejak dulu, tugas kita hanya menjaga Hyemi. Sekarang gadis kecil kita sudah dibawa pergi, apa yang harus kita kerjakan?"



Hening.



Eunhyuk menunggu jawaban Donghae, namun temannya itu tak kunjung menjawab atau bahkan merespon sedikitpun. Eunhyuk menoleh pada Donghae dan langsung menepuk bahu pria itu, membuat Donghae tersentak kaget.



"Huh? Apa?" tanya Donghae dengan polosnya.



"Ck, kau tidak mendengarku?" Eunhyuk meninggikan suaranya, terlihat kesal.



Donghae mengedikkan bahunya acuh, "Apa yang harus kita kerjakan sekarang? Gadis kecilku sudah dibawa pergi."



"HEI! ITU KALIMATKU!" sentak Eunhyuk sambil reflek menggapai kerah jas Donghae.



"MANA KUTAHU!" balas Donghae sebelum menepis kasar tangan Eunhyuk dari jasnya.



"Kembali jadi pelayan Skyz Night! Apalagi?!" Donghae dan Eunhyuk terdiam kaku mendengar suara itu, diliriknya seorang wanita paruh baya sudah berdiri di dekat mereka.



Yup, Min Jihyun. Bos mereka.



Min Jihyun sebenarnya hanya kebetulan lewat, tapi mendengar obrolan dua anak buahnya itu membuat dia tak bisa mengabaikannya.



"Nyonya Min." sapa Donghae dan Eunhyuk sambil menunduk hormat. Kedua pria itu sudah berdiri tegap tanpa berani membalas tatapan bosnya.



"Tidak perlu pikirkan Hyemi! Tugas kalian hanya jadi pelayan saat ini!" ujar Min Jihyun tak terbantahkan, lalu bergegas untuk melanjutkan langkahnya yang tertunda, namun...



"Nyonya," Eunhyuk menahan Min Jihyun dengan memanggil wanita itu, dia juga kini menatap lawan bicaranya. "Maaf kalau saya lancang, Nyonya. Tapi kami sangat mengkhawatirkan Nona Hyemi. Dari yang kudengar, Tuan Marcus hanya menganggap wanita sebagai mainan. Bagaimana kalau Nona Hyemi ha-"



"Itu bukan urusanku. Atau pun kalian." Sela Min Jihyun dengan nada dingin.



"Tapi, Nyonya-"



"Aku sudah menjualnya, sialan! Terserah apa yang akan Marcus lakukan pada gadis menyusahkan itu! Kalau kalian masih khawatir juga, silakan pergi dari sini!" Bentak Min Jihyun sebelum berlalu pergi.



Donghae dan Eunhyuk kembali terdiam, kembali duduk di bangku masing-masing dan meneguk habis minuman mereka. Entahlah, mereka tidak marah Min Jihyun mengusirnya dari tempat ini, hanya tidak menyangka seorang ibu bisa setega ini pada anak kandungnya sendiri. Walaupun mereka sudah tahu Min Jihyun sosok yang gila harta, bisa menjual apapun untuk uang, tapi hei, tetap saja tidakkah wanita itu sadar yang dijualnya ini adalah Hyemi? Putri semata wayangnya?



"Bagaimana? Tinggalkan Skyz Night?" tanya Eunhyuk.



"Itu sama saja kita meninggalkan Nyonya Min juga, bodoh. Kau pikir Hyemi bakal senang kalau kita meninggalkan Nyonya Min sendirian?" balas Donghae yang disambut anggukan mengerti oleh Eunhyuk. Pria itu lupa, walaupun Min Jihyun sejahat itu tapi Hyemi masihlah anak yang paling menyayangi ibunya.



"Sepertinya kita harus menghubungi 'orang itu'." Lanjut Donghae, membuat Eunhyuk mengernyitkan keningnya tanda tidak mengerti. "Kau tahu, orang itu."



-o0o-



"Wow! Amazing! This is what's called house!" seru seorang pria yang baru saja tiba di Penthouse Kyuhyun yang sudah bersih mengkilap, jauh berbeda sekali dengan beberapa hari lalu saat dia tinggal pergi.



Ketiga orang yang sedang makan malam itu langsung menoleh ke sumber suara, memandang ke arah seorang pria yang kini berjalan menghampiri mereka di meja makan. Ya, ketiga orang itu tak lain adalah Hyemi, Kyuhyun, dan Yesung.



"Choi Siwon! Kau pulang!" sapa Yesung dengan semangatnya, lalu melakukan high five dengan pria yang dia panggil Choi Siwon itu. Mereka duduk bersampingan di depan Hyemi dan Kyuhyun.



"Aku baru pergi tiga hari, Hyung. Jangan berlebihan." Kata Siwon pada Yesung, lalu beralih menatap Kyuhyun yang terlihat seakan terpaksa menyuapkan makanannya. Ah, tentu saja. Yang sedang Kyuhyun makan itu musuhnya sejak kecil. Sayur.



"Argh, sudah! Aku tidak mau makan!" ujar Kyuhyun sambil melepaskan alat makannya. Dia menyerah. Dia bermusuhan sekali dengan makanan yang bernama sayur.



"Biasanya juga tidak kau makan," sahut Siwon yang sudah sibuk makan dari piring Yesung.



Yesung berdeham pelan sebelum mendekat pada Siwon dan berbisik, "Gadis itu yang memaksa Kyuhyun. Hebat, bukan?"



"APA?!" Siwon membulatkan matanya menatap gadis yang duduk di samping Kyuhyun, namun yang ditatap malah tetap melanjutkan makannya dengan khidmat. "Gadis kecil, kau yang memaksa Kyuhyun untuk makan sayur? Daebak, siapa namamu?"



Hyemi mengangkat pandangannya, sekilas melirik Kyuhyun yang masih murung sebelum beralih menatap Siwon. Astaga! Choi Siwon ini tampan sekali! Jerit Hyemi dalam hati. Tiba-tiba rasa gugup menyerbunya karena melihat wajah tampan di depannya ini. "Na-namaku..."



"Heh? Tatapanmu seperti tidak pernah lihat gigolo tampan saja." Cibir Kyuhyun karena Hyemi tidak melanjutkan kalimatnya, mengabaikan tatapan membunuh Siwon.



"Gigolo?" Hyemi membeo, kini tatapan kagumnya pada Siwon sirna sudah.



Dengan cepat Siwon menggelengkan kepalanya, "Tidak! Aku pria baik-baik! Jangan dengarkan rentenir sialan itu!"



"Hei! Jangan menyebutku rentenir saat di rumah!" sentak Kyuhyun.



"Tapi kau memang rentenir sialan! Kerjamu hanya meminjamkan uang lalu menangihnya!" sahut Yesung membela Siwon.



"Benar! Dasar rentenir sialan!" Siwon semakin menyudutkan Kyuhyun.



"ASTAGA! HENTIKAN!" bukan Kyuhyun, ini Hyemi yang sudah jengah dan akhirnya memilih berteriak hingga ketiga pria itu akhirnya terdiam. "Tidak bisakah kalian tidak ribut di meja makan?"



Baik Kyuhyun, Yesung, maupun Siwon tidak ada yang menjawab. Ketiga pria itu hanya diam dan melanjutkan makan mereka. Oh, bahkan Kyuhyun juga melahap sayurannya. Melihat itu membuat Hyemi tersenyum diam-diam.



Setelah makan malam selesai, Hyemi langsung beranjak pergi menuju kamar utama yang berada di lantai dua. Kamar super luas yang bernuansa abu-abu, maskulin sekali.



Sebelumnya Hyemi sudah melihat-lihat kamar ini dan sepertinya ini adalah kamar Kyuhyun, mengingat pria itulah pemilik Penthouse ini. Dia tidak menyangka Kyuhyun sebaik ini mau memberikan kamarnya pada orang lain. Padahal masih ada satu kamar tamu di bawah, di samping kamar Yesung.



Hyemi menghempaskan tubuhnya pada ranjang empuk berukuran King Size di tengah kamar itu, "Terserah, terserah. Aku lelah. Ada banyak hal yang terjadi hari ini, aku ingin tidur saja."



"Sudah ingin tidur?" Kyuhyun. Pria yang diam-diam mengekori Hyemi dan kini sudah berdiri di dekat ranjang. Membuat Hyemi harus kembali membuka matanya yang sudah lelah ingin diistirahatkan.



"Aku mengantuk, Cho Kyuhyun. Kalau ada yang ingin kau bicarakan lebih baik besok saja. Cepat kau pergi ke kamarmu dan istirahat juga." Jawab Hyemi sebelum meringkuk membelakangi Kyuhyun.



"Aku sudah berada di kamarku dengan seorang gadis yang kubeli," ujar Kyuhyun yang mampu membuat Hyemi kembali berbalik menatapnya tajam, "Dan aku tidak berpikir untuk membiarkanmu tidur malam ini."



"Apa?! Hei!!!" Sentak Hyemi sambil berusaha memberontak karena Kyuhyun tiba-tiba menindih tubuhnya.



Oh sial!



Kyuhyun semakin menguatkan pegangannya pada kedua tangan Hyemi yang dia tahan di sisi kepala gadis itu, tak lupa tersenyum senang dan berharap gadis itu segera diam. "Jangan melawanku, Hyemi. Ini sudah tugasmu untuk membantuku saat malam hari. Kau lupa?"



"Brengsek! Menyingkir dari tubuhku! Lebih baik aku mati daripada harus melayanimu!"



"Jangan mati, aku tidak membayar mahal untuk melihat kematianmu."



"Dengar, Cho Kyuhyun! Kalau kau berani macam-macam, aku akan kabur dan melaporkanmu pada polisi! Aku serius!"



Seketika Kyuhyun terdiam, senyumnya juga hilang tergantikan dengan keningnya yang berkerut, tampak sedang berpikir. "Sepertinya percuma saja. Yesung itu seorang polisi, dan dia berpihak padaku. Yesung pasti tidak akan membiarkanmu melaporkan hal ini pada polisi lain atau aku akan mengusirnya dari sini."



Hyemi yang awalnya masih berontak, kini terdiam mendengar penjelasan Kyuhyun. Tak menyangka pria berantakan yang dia temui di lantai bawah adalah seorang polisi. Ya, polisi jahat. Bagaimana bisa seorang polisi berpihak pada rentenir macam Kyuhyun hanya karena takut diusir dari tempat ini?



Oh, selama ini Hyemi hanya tahu belajar dan mengacaukan bisnis ibunya. Jadi, apa dunia luar memang sekejam ini?



"Sudah, berhenti berpikir macam-macam." Ujar Kyuhyun yang seakan tahu isi kepala Hyemi, lalu mencuri kecupan pada bibir gadis itu hingga membuat sang empunya memberikan tatapan membunuh padanya. "Sejahat apapun kau memandangku, tapi kau tetap terlihat cantik. Ayo, kita bersenang-senang malam i-"



BRAKK!!!



Hyemi dan Kyuhyun terlonjak kaget karena pintu kamar terbuka dengan kasar. Seorang pria tinggi dengan setelan jeans dan kaos putih yang dibalut jaket kulit itulah pelakunya. Pria itu melangkah terlalu cepat hingga membuat Hyemi dan Kyuhyun tak sempat berpikir apa yang harus mereka lakukan, bahkan menyingkir dari posisi memalukan mereka saja tidak. Hingga saat pria berjaket kulit itu sudah dekat, pria itu langsung menendang badan Kyuhyun dengan kaki panjangnya. Membuat Kyuhyun terguling hingga jatuh dari ranjang, dan Hyemi yang menjerit melihat hal itu.



"Argh.. Sialan. Tulang rusukku.." Rintih Kyuhyun sambil berusaha berdiri walaupun bekas tendangan pria berjaket kulit itu menyakiti rusuk kirinya.



Kini, Kyuhyun dan pria berjaket kulit itu saling berhadapan dengan Hyemi yang berada di tengah-tengah mereka. Gadis itu sudah mundur hingga menempel pada kepala ranjang karena takut, kedua pria di kiri-kanannya ini terlalu sulit diartikan tatapannya. Tapi satu yang Hyemi yakini saat ini adalah pria berjaket kulit dengan potongan rambut pendek itu terlihat jelas sedang marah. Sangat marah. Hal itu memberikan setitik kehangatan di dalam hati Hyemi. Dari semua orang yang Hyemi harap bisa menolongnya dari Kyuhyun, tidak dia sangka pria inilah yang akan datang menyelamatkannya.



Terima kasih, Tuhan. Hyemi bersyukur dalam hati.



"Shim Changmin!!!" Kyuhyun menyerukan nama itu, nama pria berjaket kulit yang berada di depannya, teman dekat yang sudah dia anggap keluarga seperti Yesung dan Siwon. "Apa yang kau lakukan?!"



"Harusnya aku yang bertanya begitu! Apa yang kau lakukan?!" balas Changmin dengan suara yang tak kalah keras, lalu mengusap kasar wajahnya sebelum membalas tatapan Hyemi dengan tatapan yang sulit diartikan bagi Kyuhyun.



Entahlah. Kyuhyun tidak mengerti. Kenapa Changmin terlihat frustasi seperti itu saat melihat Hyemi?



Changmin kembali menatap Kyuhyun dan berkata dengan lirih, "Apa yang kau lakukan pada adikku?"



Adik?



Tunggu, ADIK???



To be continue...