
Nick menatap nyalang kearah bangunan baru itu.
Satu-satunya hal yang ada di pikiran Nick adalah tentang keserahakan Carlos yang begitu menggebu untuk merebut tanah peninggalan keluaga besar Walter, dan itu sudah menjadi kenyataan.
Nick tentu akan mengikuti permainan Carlos. Sampai di mana Carlos akan membuat Nick merasa sengsara seumur hidup!
Saat ini, Nick tidak akan peduli lagi kepada siapa pun, termasuk Carlos! Jika ia harus bertaruh nyawa untuk merebut kembali tanah peninggalan itu, maka akan Nick lakukan! Jangan harap Nick tinggal diam sekarang.
Lalu Nick kembali melangkah ke arah kampus, menuju kantor administrasi akademik untuk menyelesaikan tunggakan tugas akhir.
Rupanya, Bajingan itu sudah menunggu di sana!
Nick melangkah mantap tanpa mengindahkan keberadaan Freddo yang mulai mengintimidasi keberadaannya. Nick paham, jika surat yang diterima kemarin adalah ancaman darinya. Sekarang Nick tidak akan pernah takut, akan Nick buktikan bahwa dia tak selemah yang dikenal Freddo dulu.
"Nick!"
Nick menoleh kearah sumber suara. Wanita ini! Batinnya.
Nick menghembuskan napas kasar, membuangnya ke udara saat Stevy menghampiri dengan wajah sumringah.
"Maaf, Aku sedang tidak punya waktu banyak Stev!" ucapnya.
Namun Stevy ngotot menghentikan langkahnya.
"Tunggu!" ucapnya.
Stevy menyodorkan kembali sebuah amplop berwarna coklat yang kemarin sudah dijanjikan, namun Nick menolak pemberian itu, karena Nick tidak akan mencari masalah untuk saat ini. Biarkan Freddo yang memulai terlebih dahulu untuk membuat jera semua perlakuannya selama ini.
Sementara Freddo terlihat sedang merencanakan sesuatu untuk Nick. Mereka berkumpul mengintai setiap gerak-geriknya, saat Nick mendatangi sebuah perpustakaan untuk mencari buku untuk bahan tugas akhir, Freddo menghampiri Nick di sana.
Membuat kerusuhan adalah hobbinya!
"Masih punya nyali juga Kau rupanya!" ucapnya saat tiba di depan Nick.
Nick membuang pandangan, merasa geram dengan tingkah Freddo yang seolah tiada habis akal untuk membuat Nick terluka, karena satu-satunya keinginan Freddo saat ini hanya ingin memastikan Nick benar-benar mati di depan mata kepalanya sendiri.
Nick membenarkan posisi kacamatanya. Tindakan apa lagi yang akan Freddo lakukan sekarang! Batinnya.
Ternyata Freddo membawa sebuah senapa api. Menodongkan senapan itu tepat di kepala Nick, seketika Nick ingat perlakuan Carlos saat menghabisi nyawa Vivian waktu itu. Tidak ada darah yang mengucur deras dari hidungnya kali ini, karena Nick tidak merasa khawatir dengan ancaman itu! Nick harus melawan.
"Apa yang Kamu mau sebenarnya, katakan!" bentak Nick.
"Membunuhmu, paham!"
"Lakukan jika itu yang Kamu mau! Lakukan jika itu yang Kamu harapkan selama ini!" bentak Nick dengan nada lebih keras, membuat beberapa pengunjung perpustakaan merasa terganggu dengan keributan itu.
Freddo mendecih!
"Tunjukkan kekuatanmu, keparat! Berandal, Kau benar-benar membuatku muak bajingan!"
Nick tersenyum culas mendengar pengakuan Freddo seolah ia mampu mendandinginya sekarang.
Jika Nick tidak berpikir bahwa Freddo adalah teman kecil yang selalu mencari masalah karena sebuah kesalah pahaman, tentu Nick sudah menghabisi berandal ini sekarang! Namun, melakukan tindakan konyol seperti itu bukan tipikal Nick. Sejauh ini, Nick tidak pernah mengambil hati atas kejahatan semua orang yang memperlakukan dirinya semena-mena. Tapi kali ini Freddo benar-benar keterlaluan, hanya ada dua pilihan.
Menyuruhnya pergi atau melawan!
"Silakan pergi!" ucap Nick sembari berlalu meninggalkan Freddo.
Nick berbalik, berniat untuk meninggalkan teman kecilnya itu tanpa tergores luka. Namun, Freddo seketika menarik pelana senapa itu. Menembakkan beberapa peluru ke arah Nick yang sudah mencium kejahatannya. Sementara Nick sudah bersembunyi di balik rak buku, menghindari amukan Freddo yang mulai membabi buta. Kerusuhan itu, membuat semua pengunjung perpustakaan berteriak-teriak histeris, meneriaki Nick-meneriaki Freddo supaya mereka menjauh dari area yang harusnya kondusif.
"Keluar, Kau bajingan!" ucap Freddo memerintah Nick supaya menghadapinya.
"Keluar, atau kubunuh Dia!" bentaknya sekali lagi sembari mengancam wanita penjaga perpustakaan yang sempat ngomel karena kegaduhan yang diciptakan Freddo.
Melihat seorang wanita yang tengah ketakutan, sembari mengangkat kedua tangannya supaya Freddo tidak menembakkan senapan yang saat ini sudah berada di kepala.
Nick mulai berpikir keras. Tidak ada pilihan selain melawan berandal itu! Nick mengeratkan tangannya, geram!
"Tolong! Tolong jangan bunuh Saya," ucapnya memelas.
Freddo seperti sudah kehabisan akal, tubuhnya seolah sedang dirasuki setan. Membuat semua pengunjung semakin ketakutan saat Freddo berkali-kali menembakkan peluru kearah atap, mengarahkan pistol kesemua orang yang berusaha menolong wanita yang tengah terancam nyawanya.
Nick berpikir, semua ini terjadi karena ia telah memancing emosi Freddo. Nick harus bertindak untuk menghentikan aksi brutalnya, sehingga Nick menekan sabuk berbintang yang seketika menyembulkan asap serta sinar kebiruan dari badannya. Kemudian, Nick melompat dan melindungi wanita yang tengah diancam oleh Freddo.
Semua orang melihat pria dengan kostum hitam kebiru-biruan dengan jubah di kepala itu. Benar-benar seperti pahlawan yang berusaha menghentikan aksi brutal para penjahat yang sedang mengancam nyawa seseorang.
Freddo menembak ke sembarang arah, alih-alih berharap satu peluru mengenai tubuh Nick. Namun meskipun peluru itu berhasil mendarat ditubuhnya, Nick sama sekali tak terluka. Justru Nick merasa semakin kuat.
Nick geram! Mendorong tubuh Freddo keluar dari jendela, tubuh keduanya mendarat di udara. Namun Nick masih berusaha menyelamatkan teman kecilnya itu, tentu Nick tidak akan membiarkan Freddo mati konyol, saat tubuhnya terjun dari ketinggian.
Saat keduanya mendarat, Nick memberi beberapa pukulan kearah perut Freddo, membuat tubuhnya terpental berkali-kali membentur bangunan besar, darah mulai mengucur deras dari semua anggota tubuh Freddo. Namun pria itu masih belum menyerah, sesekali ia menyerang Nick dengan menghantamkan benda yang ada ditangannya.
Nick memutar tangan Freddo hingga tubuhnya berbalik.
"Kau benar-benar keparat!" ucapnya marah.
"Hentikan, jika Kamu tak ingin mati sia-sia sekarang!"
"Apa?"
"Bunuh! Bunuh Aku sekarang, bedebah!" Freddo benar-benar marah.
Nick tidak akan menuruti permintaan konyol itu, kemudian berlari cepat melompati setiap gedung pencakar langit, tentu Nick tidak berharap siapa pun melihat dirinya menjadi sosok yang lebih kuat!
Sementara Freddo masih terkulai lemas di sana. Sampai kedatangan beberapa sahabatnya yang membantu pergerakan Freddo, membawanya pulang dengan luka disekujur tubuhnya.
"Siapa yang berani menyentuh putraku!" ucap Carlos marah.
"Great Walter!" jawab salah satu sahabatnya.
"Great Walter?" tanya Carlos menyakinkan.
Pria itu hanya menjawab dengan anggukan kepala, bahwa Nick Walter yang telah berani menyentuh satu-satunya putra mahkota Ollyxton.
"Bedebah!" Carlos mengeratkan tangannya.
"Panggil, Dr. Wattson! Bawa putraku ke laboratorium," perintah Carlos kepada anak buahnya.
"Baik, Tuan!" balasnya kemudian berlalu meninggalkan Carlos yang masih mematung sembari memikirkan rencana pembalasan untuk Nick.
"Apakah, Anda sudah siap?" tanya Dr. Wattson.
Carlos mengangguk.
"Masukkan putraku ke dalam tabung!" balasnya.