
"Tuan Nick!"
Grachia menghampiri Nick yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah. Wanita paruh baya itu nampak mencemaskan Nick, memegangi kedua pipinya. Berusaha memastikan bahwa Nick tidak kenapa-kenapa.
"Urusannya sudah beres, Bu! Jika mereka kembali lagi, hubungi Saya secepatnya!" ucap Nick seraya menggandeng tangan Grachia masuk ke dalam rumah.
"Dari mana Tuan Nick mendapatkan uang sebanyak itu?" tanya Grachia antusias.
"Wanita penyelamat!" balasnya singkat.
"Wanita penyelamat?" tanya Grachia heran.
Nick membalas anggukan kecil, merasa tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang wanita penyelamat dan dari mana uang sebanyak itu berasal, yang jelas Nick merasa urusan hutang itu sudah selesai. Jika mereka kembali, tentu mereka hanya ingin membuat perhitungan saja.
Kemudian, Nick merajuk kepada Grachia. Merasa bahwa perutnya perlu diisi, badannya harus segera pulih untuk mengembalikan tenaga yang sejak kemarin terserap energi negatif dari orang-orang yang hadir mengancam dirinya.
"Jangan pergi ke gunung itu Tuan Nick," ucap Grachia menjeda sendok yang berusaha masuk ke dalam mulutnya.
"Terus?" balas Nick pura-pura tak mengerti tentang gunung berbahaya tempat Manfreed menggali timah putih.
"Bahaya!" balas Grachia ekspresif.
"Lalu apa Ibu tidak khawatir jika Pak Manfreed tersesat di sana?" Nick berusaha mengalihkan perhatian Grachia, tanpa menghentikan aktifitas mengunyah. Membiarkan gerahamnya beradu, menggerus seluruh makanan hingga hancur, sampai Grachia membalas pertanyaannya.
"Tentu khawatir Tuan Nick! Tapi tenang, Bapak akan segera kembali. Jadi Tuan tidak perlu menjemputnya," balas Grachia merayu.
Nick tahu gunung tambang timah itu ada di mana. Nick pun paham, apa bahaya yang Grachia maksud jika Nick nekat pergi ke sana. Namun, Manfreed tentu tidak akan pulang dengan selamat jika Nick hanya diam dan menunggu kedatangannya. Nick harus ke sana, menjemput pria yang bagaimanapun pernah menyelamatkan dirinya.
"Simpan ini, gunakan untuk keperluan sehari-hari, Bu!" ucap Nick sembari menyodorkan lembaran uang ke arah Grachia.
Grachia terkejut melihat uang yang diberikan Nick tidaklah sedikit, bahkan itu lebih dari cukup untuk membuat kompornya mengepul setiap hari tanpa harus bekerja keras.
Seketika bulir-bulir bening lolos dari pelupuk mata Grachia, merasa sangat terharu mendapat perlakuan dari pria yang bisa dibilang bukan siapa-siapa. Kehadiran Nick bukan hanya membuat kebahagiaan tersendiri baginya. Namun, Nick seperti malaikat penolong setiap kesusahan yang melanda keluarga kecilnya.
"Terima kasih Tuan Nick!" balasnya.
Beberapa saat kemudian, Nick dan Grachia mendengar daun pintu terketuk keras.
"Biar Saya saja!" ucap Nick menjeda Grachia yang tengah berdiri untuk membuka pintu.
Grachia mengangguk patuh, kemudian membuntuti langkahnya dari belakang.
Sementara, Nick terkejut melihat Berlian tiba-tiba mendatangi rumah Grachia.
"Nona!" sapa Grachia antusias begitu melihat Berlian mematung diambang pintu
"Silakan masuk," imbuhnya.
"Terima kasih," balasnya sembari tersenyum malu ke arah dua orang yang menatapnya penuh salah tingkah.
Sementara Nick, seperti tidak ingin mendengar perdebatan lagi di rumah ini. Kehadiran Berlian hari ini tentu akan membuat penolakan atas tawaran yang kemarin sempat terucap tanpa terpikir panjang.
"Aku menerima tawaranmu," ucap Berlian tiba-tiba.
Nick tersentak-pun Grachia terlihat binggung.
"Aku tidak masalah jika Kamu bersedia menikah tanpa cinta, tapi Kamu harus janji satu hal kepadaku, Nick!" ucap Berlian lagi.
"Menikah?" sahut Grachia penasaran.
"Nick benar, jika bayi ini harus lahir dengan adanya seorang Ayah-Pun Dia juga harus tumbuh besar, meskipun tanpa Aku!
Nick mulai binggung! Apa maksud Berlian, kenapa dia tiba-tiba mengucap kata seperti itu. Bukankah kemarin dia berjanji akan membesarkan bayinya, melindungi serta menjaga sampai dewasa.
"Maksudmu?" tanya Nick berusaha mencari tahu penjelasan dari maksud Berlian.
"Suatu saat nanti, Kamu akan tahu Nick! Jika Kamu bersedia menikahiku, berjanjilah untuk membesarkan, menjaga dan merawatnya hingga dewasa," balas Berlian berkaca-kaca.
"Tapi-"
Berlian membalas senyuman, kemudian ia bangkit dari tempat duduknya. Tanpa berkata lagi, Berlian berjalan keluar dari rumah Grachia.
"Tunggu!" ucap Nick menjeda langkah Berlian yang berusaha mengendarai mobilnya sendirian di tengah malam.
"Biar kuantar pulang," imbuhnya memberi tawaran.
"Tidak perlu, Aku bisa pulang sendiri. Istirahatlah, sepertinya hari ini sangat melelahkan," balasnya.
Namun Nick tak mau tinggal diam, ia tentu tak tega melihat wanita ini mengendarai mobil sendirian di tengah malam yang sepi seperti ini. Selain, Nick mengkhawatirkan bayinya. Nick juga khwatir, Berlian tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Nick harus mencari tahu, apa yang membuat Berlian menerima tawarannya untuk menikahi dia sementara Berlian tahu bahwa jika Nick melakukan ini, pernikahan mereka tentu atas dasar tanpa cinta.
"Masuklah, Saya hanya ingin memastikan bahwa Nona Berlian sampai di rumah dengan selamat," balasnya.
Berlian menuruti permintaan Nick. Merasa bahwa selama dekat dengan pria ini, ia juga merasa sangat terlindungi.
"Terima kasih," ucap Berlian dalam perjalanan itu.
Nick membalas senyum manis, sembari agak canggung ia membenarkan posisi kacamata ovalnya.
"Mungkin mau makan malam dulu," celetuk Berlian ragu-ragu, takut Nick menolak tawaran itu.
"Ada tempat rekomendasi" tanya Berlian.
"Silakan Nona Berlian-"
"Jangan terlalu formal, Nick!" sahut Berlian cepat menyela jawabannya.
Nick menoleh ke arah wanita yang menatapnya.
"Resto di sebelah sana saja, ada menu yang harus Kita coba," imbuhnya.
Nick menganggukkan kepala kemudian melaju ke arah restoran yang Berlian maksud.
Resto ini? Gumamnya. Bukankah Nick pernah mengunjunginya! Seketika Nick ingat makan malam spesial bersama Stevy waktu itu-pun ia ingat janji yang pernah terucap di tempat ini, bahwa Nick tak akan pernah meninggalkan Stevy dengan alasan apa pun! Lantas kenapa kini ia datang dengan wanita yang berbeda.
Nick tertegun, tak percaya! Mungkin ini memang waktunya untuk merelakan! Gumamnya setelah melihat sosok lain di sana.
"Ada apa?" tanya Berlian.
"Mmm, Sa-saya ada rekomendasi tempat yang lebih bagus," balasnya mencari alasan.
"Baiklah," balasnya kemudian kembali masuk ke dalam mobil.
Nick menjauhi tempat itu. Entah kenapa hatinya teriris-iris melihat dua orang yang duduk di rooftop, tempat dimana Nick dan Stevy pertama kali makan malam di sana, namun malam ini Stevy diner romantis dengan pria lain.
Haruskah Nick cemburu melihat Stevy bersama pria lain? Bukankah Stevy melakukan itu karena Nick telah berkomitmen untuk menikahi Berlian? Lalu dari mana Stevy tahu rencana ini? Pikiran Nick benar-benar kacau.
"Nick?" Berlian memecah keheningan.
"Ada apa?" imbuhnya begitu melihat tatapan Nick kosong.
"Nggak! Nggak apa-apa," balasnya.
Kemudian Nick melajukan mobilnya cepat ke arah restoran yang telah dijanjikan untuk Berlian.
***
Pagi ini adalah hari spesial baginya, pria berjas hitam rapi itu menatap lekat ke arah cermin.
Nick berjanji tak akan pernah membiarkan air matanya lolos dari pelupuk mata. Jika ia harus rela kehilangan wanita yang dicintai, maka ia berjanji untuk mendapatkan gelar yang selama ini diperjuangkan.
"Tuan Nick, apakah Anda sudah siap?"
Ketukan pintu serta suara Grachia membuyarkan lamunan Nick pagi itu, ia tak mau terlihat lemah di mata semua orang hanya karena patah hati.
"Tampan sekali," decak Grachia kagum.
Nick membalas senyum, merespon tangan Grachia mengusap ke dua pipinya.
"Nona Berlian menunggumu di depan," ucap Grachia lagi.
"Kita harus foto bertiga," imbuhnya sambil menggandeng tangan Nick menuju mobil.
"Pak Manfreed?" ucap Nick spontan.
"Sudah jangan pikirkan Dia! Bapak pasti pulang," balas Grachia.
Nick berharap di hari wisudanya ini, Manfreed datang untuk menyaksikan sumpah profesinya, tapi keadaan berkata lain.
"Tuan Nick, tunggu apa lagi?" lagi-lagi Grachia membuyarkan lamunannya.
Wanita ini nampak terlihat bahagia menghadiri perayaan wisudanya, namun Nick terlihat sedikit tidak bersemangat, karena satu dan lain hal yang membuat hatinya terasa berat sebelah.
Nick menarik napas panjang, seraya masuk ke dalam lorong panjang pintu masuk wisudawan dan wisudawati. Pandangannya tertuju ke arah satu wanita yang mengganggu pikirannya sejak tadi, haruskah ia merelakan wanita cantik itu? Gumamnya tak lekang dari pandangan wanita yang tengah tersenyum membagi kebagaiaan bersama kawan-kawannya.
Jangan sampai air matamu lolos Nick! Jangan sampai terlihat lemah di mata wanita itu? Gejolak hatinya menolak keras untuk tidak menghampiri Stevy. Sebenarnya Nick ingin mengucapkan selamat atas kelulusan ini, namun entahlah.
Keriuhan yang sempat tercipta akhirnya sirna, berganti dengan satu sumber suara yang menginterupsi perhatian mereka semua. Pria yang tengah berdiri penuh wibawa dipanggung wisuda itu, mulai berbicara. Satu per satu pidato telah dibacakan, sampai pada akhir ucapannya, pria itu memanggil satu nama seorang wanita yang tidak asing.
'STEVY OSWALD, WILL YOU MARRY ME'
Nick tersentak. Kepalanya sedikit mendongak ke arah wanita yang tengah tersenyum bahagia mendengar ucapan itu.
Sementara jantung Nick berdetak kencang, seperti genderang yang ditabuh secara kencang mengiringi keriuhan yang tercipta akibat dorongan semua orang yang berada di sana, berteriak-teriak agar Stevy menerima lamaran Dosen yang tengah membuka acara, membacakan pidato dan berakhir sebuah lamaran kepada wanita yang dicintai.
Ini gila! Batinnya, air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya lolos juga. Nick benar-benar tak berdaya menyaksikan Stevy menerima lamaran Dosen itu di depan mata para wisudawan-wisudawati.
Sampai dipenghujung acara wisuda, Nick kembali melihat Stevy tengah berswafoto bersama keluarganya.
"Maaf!" ucap Stevy.
"Aku berharap Kamu datang diacara pernikahanku nanti," imbuhnya sembari mengulurkan undangan pernikahan.
Nick diam. Menatap lekat Stevy yang nampak berkaca-kaca.
"Sampai jumpa!"
Stevy berlalu meninggalkan Nick yang tepasung dengan sejuta luka.