
"Beri Kami waktu Tuan! Kami akan segera membayarnya," ucap Grachia sembari bersimpuh dihadapan para rentenir.
"Menjijikkan sekali! Di mana Suamimu, suruh Dia menemuiku sekarang jika tak ingin mati!" balas rentenir.
Nick geram melihat kelakuan para rentenir yang memperlakukan Grachia semena-mena. Tubuhnya yang tadi bersimpuh meminta belas kasihan seketika terjengkang, akibat sebuah tendangan kasar para lintah darat itu.
"Jangan menghalangi!" ucap salah satu rentenir ketika mendapati Nick tengah berdiri di ambang pintu sembari menelungkupkan kedua telapak tangan dimasing-masing saku celananya.
Nick diam, hanya menatap mereka tanpa bicara.
"Enyah Kau dari sana jika tak ingin mati ditanganku!" ucap sang rentenir lagi-lagi penuh dengan kesombongan.
"Apa yang Kalian cari?"
Sang rentenir mendecih, melihat Nick menghalangi jalannya untuk menyita semua barang-barang berharga di rumah ini.
"Akan kubayar, pergilah sekarang!" ucap Nick lagi saat pertanyaannya diabaikan.
Mendengar ucapan itu, kedua mata sang rentenir membelalak tajam. Menatap Nick penuh hina, punya apa Kau? Batinnya.
"Pergilah!" bentak Nick tak bergeming, sembari menatap ke arah Grachia yang tengah bercucuran air mata.
"Apa?"
Rentenir mendekati Nick, mendengar bentakan keras yang seolah memecah gendang telinganya.
"Bajumu bagus!"
"Sepatumu lumayan!"
"Ikat pinggangmu terlihat mahal! Tapi, apa Kau pikir itu semua cukup untuk melunasi hutang para pengecut ini. Ha!" berodongan kata-kata itu terlontar tepat di depan wajahnya.
Nick benar-benar marah! Matanya menyala merah, geram dengan kesombongan mereka semua yang tak tahu sopan santun.
"Bawa semua barang-barang yang ada di sini. Kalau perlu habisi nyawa berandal ini jika Dia melawan!" perintahnya kepada seluruh anak buahnya.
"Ampuni Kami Tuan, Kami berjanji akan segera membayar. Beri Kami waktu!" ucap Grachia terisak.
Seketika Grachia memeluk erat betis sang rentenir, berharap mereka memberi kesempatan supaya tidak menyita satu-satunya rumah yang mereka miliki.
"Enyah Kau!" ucap rentenir sembari mendorong tubuh Grachia hingga tersungkur ke lantai.
Tubuh Nick rasanya bergetar, darahnya berdesir hebat dari ujung kaki hingga kepala berkupul di sana. Darahnya mendidih karena amarah, melihat Grachia terluka.
"Sudah kuperingatkan, pergilah. Kami akan membayarnya!" ucap Nick marah.
"Bedebah!"
Sang rentenir mulai geram, Nick benar-benar membuat dirinya terganyang emosi.
Terlihat dari raut wajah sang rentenir, mulai mengeratkan geraham, mengumpulkan semua tenaganya di sana untuk menghabisi Nick yang tak tahu diri. Benar-benar harus dihabisi! Batinnya sembari mengeluarkan sebuah pisau tajam, menodongkan pisau bergerigi itu ke arah Nick yang sama sekali tak bergerak.
Sementara kelima anggota rentenir itu sudah siap dengan senjata laras panjang, mengepung pergerakan Nick dari segala penjuru. Serentak mereka semua maju, berlari kencang ke arah Nick yang sama sekali tak bergeming, masih berdiri sempurna dengan posisi kedua telapak tangan di dalam saku celana.
"Habis Kau!" ucapnya.
Saat mereka mendekat, tiba-tiba tubuh Nick mengeluarkan gelombang besar berwarna biru menyibak mereka semua. Para rentenir itu, terpelanting keras membentur tembok, membentur tiang. Malah ada yang terpelanting keras hingga tubuhnya terseret kencang hingga tak bernapas.
Mereka semua muntah darah, namun masih saja tak menyerah. Sesekali menyerang Nick dengan melemparkan laras panjang itu ke arah Nick, namun benda tajam itu sama sekali tak mengenai tubuhnya. Seperti ada sebuah kekuatan magis yang menahan benda tajam yang sejengkal lagi menembus kepala.
"Kalian memang memiliki hak menagih hutang, tapi apa cara Kalian semua ini benar?" ucap Nick lagi tepat di depan wajah bos rentenir itu.
"Kembalilah besok pagi, Aku akan menyiapkan uangmu!" imbuhnya sembari berlalu meninggalkan rentenir yang hampir kehabisan darah yang telah dimuntahkan dari mulutnya.
Namun ucapan Nick seperti belum membuat salah satu anak buahnya paham, sehingga kembali melemparkan senjatanya ke arah Nick yang mulai bangkit dan berjalan menjauhi mereka. Senjata laras panjang itu terlempar balik ke arah pria yang berdiri dibelakangnya, merobek kulit menembus dada hingga punggungnya.
Padahal Nick tak ingin melihat pertumpahan darah yang mengotori rumah ini, namun mereka semua ngotot menyerang seolah mampu menghabisi Nick yang tak membawa apa-apa. Rasanya mereka semua tak akan paham jika sebuah pelajaran berharga seperti ini tak diberikan. Hutang memanglah hutang, namun para pecundang lintah darat ini seolah-olah menganggap keluarga Grachia penuh hina, dan Nick tidak terima dengan perlakuan kasar mereka.
Melihat satu anggotanya mati mengenaskan tertusuk laras panjang itu, anggota yang tersisa serta bos rentenir itu lari tunggang langgang menjauhi Nick yang nampak memiliki kekuatan super. Dia bukan manusia! Gumamnya, sembari terus berlari kencang.
"Tuan Nick!" ucap Grachia yang ada dibelakangnya.
Nick tak bergeming! Hanya memiringkan kepalanya mendengar ucapan Grachia namun tatapannya masih ke arah para rentenir yang berada di dalam mobil itu.
"Maafkan Kami!" imbuhnya.
"Ibu tidak salah," balasnya sembari berjalan mendekati Grachia yang tertunduk pasrah.
Melihat Grachia yang seperti sudah tak memiliki semangat hidup, Nick kemudian memeluk Grachia seraya berkata.
"Jangan khawatir, Aku akan menyelesaikan semuanya!" ucapnya menenangkan Grachia yang tengah terisak didekapannya.
"Tuan Nick, pergilah! Cari masa depanmu, ini semua bukan tanggung jawabmu. Kami yang seharusnya menanggung semua risikonya," ucap Grachia lagi.
"Kalian tanggung jawabku!" ucapnya sembari berkaca-kaca.
Nick merasa sangat beruntung bertemu keluarga kecil Manfreed dan Grachia, maka dari itu ia harus melindungi keluarga ini bagaimanapun caranya. Hanya mereka satu-satunya orang yang peduli saat Nick merasa terpuruk, hancur, bahkan hampir tak memiliki semangat hidup.
"Katakan di mana Bapak bersembunyi?"
"Dipenambangan!"
"Tambang?"
Grachia menganggukkan kepala.
Saat Manfreed mengetahui bahwa dirinya telah di tipu oleh temannya yang menjanjikan investasi minggu lalu, Manfreed memutuskan untuk menjadi buruh dipertambangan timah putih. Tempatnya jauh dari kota, Manfreed berlari ke sebuah bukit dan bergabung dengan pekerja kasar mengais dolar, mengeduk gunung untuk mencari timah putih.
Nick menghela napas panjang mendengar ucapan Grachia.
"Kenapa Ibu mengizinkan Pak Manfreed pergi!"
"Tidak ada yang bisa Kami lakukan lagi. Kami tidak punya pilihan untuk segera mendapatkan uang, mereka sudah memberi Kami waktu. Namun, setiap kali mereka datang, Kami hanya memberi mereka janji yang tidak pasti!"
"Jangan salahkan mereka! Mereka memiliki hak untuk marah. Kami tidak seharusnya memberi janji-janji setiap mereka datang, yang mereka inginkan hanya uangnya kembali!" imbuh Grachia lemah.
Nick kembali merengkuh erat tubuh Grachia.
Ternyata ada cerita yang lebih memilukan di balik kisah hidupnya. Tidak ada alasan lagi untuk Nick mengeluh tentang hidupnya, tentang kepergian Vivian, tentang harta peninggalan keluarga besar Walter yang telah direbut paksa oleh Carlos.
Nick harus menyelamatkan keluarga kecil yang tersisa.
"Aku akan pergi ketambang itu!"
Mendengar ucapan Nick, seketika Grachia melepas pelukannya. Merasa bahwa Nick terlalu jauh mencampuri keluarga kecilnya.