
"Tuan Nick!" Grachia menahan langkahnya.
"Kumohon jangan pergi ke sana, Bapak akan segera kembali!" ucap Grachia menolak keinginan Nick untuk mendatangi gunung berbahaya itu.
Nick menjeda langkahnya.
"Saya pergi dulu, ada hal yang perlu Saya lakukan Bu!" ucapnya.
"Berjanjilah untuk tidak datang ke gunung itu sendirian!" balas Grachia cemas.
Nick membalas senyum, kemudian memeluk Grachia penuh kasih. Berusaha menenangkan Grachia yang terlihat mencemaskan dirinya.
"Saya pergi dulu."
"Hati-hati Tuan Nick," balas Grachia melepas genggaman erat tangannya.
***
Nick mengendarai mobil Berlian menjauhi pekarangan rumah Manfreed dan Grachia. Sebelum Nick pergi ke gunung penambangan timah putih, untuk menyelamatkan Manfreed, ia harus mendapatkan uang yang telah dijanjikan kepada rentenir itu. Pikirnya! Sesuai janjinya, Nick harus melakukan sesuatu untuk menolong keluarga kecil Manfreed dan Grachia.
Tiba di depan rumah megah keluarga besar Oswald, langkahnya dijegal oleh kawanan penjaga rumah itu. Tak lama kemudian para penjaga itu mendapatkan intruksi untuk melepaskan Nick. Antoni Oswald tentu penasaran dengan kehadiran pria yang penampilannya sudah berubah drastis.
Apa maksud kedatangan Nick hari ini? Batinnya.
Antoni Oswald mematung, berdiri tepat di depan Nick, menyembunyikan kedua tangannya di belakang pantat.
Pria berkaca mata hitam tebal itu, benar-benar berwibawa! Batin Nick canggung.
"Saya ingin meminjam uang satu juta dolar," ucap Nick terbata-bata.
Sementara Antoni Oswald tersenyum, sembari memicingkan sebelah matanya. Apa jaminannya jika ia harus memberi pinjaman uang yang tidak sedikit itu untuk pria ini? Batinnya.
"Sa-,"
Antoni menjeda ucapan Nick, menahan kata-katanya dengan mengangkat satu jari telunjuk.
"Tidak perlu jaminan, Saya tahu Anda tidak akan mampu!" ucap Antoni seketika.
Sementara Stevy Oswald terkejut melihat kehadiran Nick yang berani menemui orangtuanya untuk meminjam uang yang bisa dibilang tidak sedikit. Gila! Batin Stevy cemas.
"Saya akan meminjami uang itu. Tapi, ada satu syarat yang harus Anda penuhi!" imbuh Antoni Oswald membuat hati Nick nampak setuju dengan syarat yang akan diberikan oleh pria yang berdiri penuh dengan wibawa didepannya.
"Katakan! Saya akan memenuhi permintaan Anda, Pak Antoni! Saya janji," ucap Nick antusias.
"Jauhi Putriku!" ucap Antoni Oswald menusuk.
Mendengar ucapan itu, kupingnya seperti tertusuk duri tajam, menyayat hati, merobek palung terdalam, meneteskan darah memenuhi perut, mengaduk-aduk lambungnya-pun Stevy tak percaya Nick akan menerima syarat itu, masih berharap Nick mempertahankan cintanya.
"Kumohon jangan lakukan itu!" ucap Stevy dalam persembunyiannya.
Nick tersenyum getir, rasanya tak akan mampu mengkhianati wanita yang dicintainya selama ini. Meskipun Nick paham, keluarga besar Oswald tidak akan pernah menyetujui hubungan mereka, namun menjauhi Stevy adalah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Syarat yang tidak wajar! Batinnya.
"Terima kasih!" ucapnya seraya pergi menjauhi Antoni Oswald yang masih menatap penuh dengan hinaan.
"Nick!" Stevy menjeda langkahnya.
"Masuklah! Jangan membuat suasana semakin kacau," ucap Nick rikuh.
"Untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Stevy menahan tangan Nick yang berusaha menarik pintu mobil.
"Membayar hutang!" balasnya sembari menatap tajam ke arah Stevy.
"Kamu berhutang sebanyak itu untuk apa dan kepada siapa?" berondong Stevy.
"Rentenir!"
"Rentenir?"
Stevy terkejut tak menyangka, Nick berani berhutang kepada rentenir.
"Kamu datang di waktu yang tidak tepat, Nick!"
"Kamu mengacaukan semua rencanaku!" imbuhnya.
Wajah Stevy terlihat cemas, berkacak pinggang sembari menggingit ujung jari-jarinya.
"Mengacaukan rencanamu?" tanya Nick heran.
"Tentu!" balas Stevy cepat.
Sementara Nick yang tak tahu apa-apa merasa tak berdosa, ia perlu datang dan melakukan ini untuk menyelamatkan keluarga kecil Manfreed. Pikirnya! Hanya Antoni Oswald yang penuh dengan kekayaan ini yang bisa menolong, meminjami uang tanpa harus membayar bunga berkali-kali lipat dari para rentenir itu. Lalu, apa yang membuat Nick mengacaukan rencana Stevy?
"Sampai kapan pun, Aku tak akan sudi menerima pria itu. Jadi jangan berharap!" ucap Antoni menyela percakapan mereka.
"Kamu dengar apa yang Ayahmu katakan, Stev?" ucap Nick seraya masuk ke dalam mobil penuh dengan amarah.
"Nick!"
Stevy berusaha mengejar mobil yang dikendarai Nick, melesat cepat keluar dari area rumah itu.
"Ayah keterlaluan!" ucap Stevy, kemudian berlari meninggalkan Antoni Oswald yang tak bergeming.
'Jemput Aku di bandara, sekarang!'
Getar ponsel dari arah Car seat pocket mengalihkan perhatian. Nick membaca sebuah pesan masuk dari Berlian. Kemudian, Nick melaju kencang ke arah bandara.
"Terlambat tiga menit!" ucap Berlian saat Nick tiba di bandara.
"Maaf, Saya pikir Anda tidak datang secepat ini," balasnya menunduk patuh.
"Kenapa wajahmu masam begitu?" tanya Berlian.
Nick memegangi kedua pipi ranumnya, sementara Berlian terus memperhatikan Nick tanpa jeda.
"Sudahlah, tak perlu berlebihan begitu. Wajahmu tetap saja tampan!" imbuhnya.
Wanita yang memakai cardigan, tas branded lacoste elegan, serta high heels hitam panjang sekitar dua puluh dua senti meter itu, berjalan mendahului Nick yang masih mematung dibelakangnya.
Dalam perjalanan menuju rumah Belian, tidak ada percakapan yang keluar dari mulut masing-masing. Hening tercipta, hanya suara deru mesin mobil yang memekkan telinga sampai mobil itu berhenti tepat di depan rumah megah Berlian.
"Masuk! Aku punya sesuatu untukmu," ucap Berlian.
Nick mengangguk patuh, menuruti perintah Berlian seraya melangkah masuk ke dalam rumah megang mirip istana dewi fortuna. Nick duduk di ruang tamu tanpa bicara. Terlihat Berlian sedang menuangkan minuman berwarna merah ke dalam gelas untuk Nick dan air putih untuk dirinya sendiri.
"Buka!" ucapnya seraya mengulurkan gelas berisi Abshithe itu ke arah Nick.
Nick menerima uluran gelas itu, kemudian menatap kotak hitam yang ditunjuk Berlian didepannya.
"Buka?" tanya Nick.
Berlian membalas anggukan, seraya menenggak air putih itu tanpa sisa.
Nick meletakkan minuman itu di atas meja, tangannya merambat ke arah kotak hitam persegi panjang didepannya.
Untuk apa kotak ini? Batinnya.
"Bagaimana?" ucap Berlian saat Nick membuka kotak itu.
"Jangan bercanda," balasnya merasa bahwa dirinya tak layak menerima hadiah berharga itu.
"Saya tidak membutuhkan ini, Saya hanya butuh uang!" imbuhnya menolak kunci mobil mewah merl Bugatti Centodieci.
Berlian tentu bercanda! Batinnya.
"Uang?" balas wanita yang duduk menyilangkan kaki dipahanya itu.
Nick mengangguk, merasa bahwa hanya uang yang dibutuhkan sekarang. Nick tidak butuh apa-apa kecuali itu, untuk segera melunasi hutang-hutang Manfreed.
"Bukankah uang ditabunganmu cukup untuk membeli apa yang Kamu mau!" balasnya.
"Tabungan?" tanya Nick heran.
Nick benar-benar tak mengerti apa yang dikatakan wanita ini. Seolah Berlian menganggap dirinya serendah itu. Mendapatkan kunci itu bukan sebuah anugerah menurutnya, Nick justru terhina dengan tingkah satu wanita ini, mana mungkin Nick memiliki tabungan untuk membeli apa yang Nick mampu. Sementara, ia telah memohon-mohon meminta belas kasihan kepada para rentenir, serta Anoni Oswald demi meminjam uang.
"Maaf, Saya tidak bisa menerimanya!" ucap Nick seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Itu semua kuberikan karena Kamu telah menyelamatkan dua nyawa," balas Berlian.
Apa lagi? Batinnya tak peduli.
"Silakan gunakan uang ditabunganmu, Aku memberikan itu semua bukan semata-mata karena Aku jatuh cinta padamu Nick! Tapi, bayi ini-"
Berlian menjeda ucapannya. Mengelus perut yang tanpa sadar telihat mulai membuncit.
"Kamu menyelamatkan bayiku!"
Nick terkejut! Sejak kapan Berlian hamil, kenapa dia tak memberi tahu sejak pertemuan awal itu, jika dirinya tengah mengandung. Lalu dimana suaminya? Apa yang terjadi jika suami Berlian tahu, jika Berlian baru saja mengucap kata cinta dan memberikan Nick barang-barang berharga.
"Kamu boleh pergi! Bawa hadiah ini, anggap saja sebagai ucapan terima kasih dan sebagai hadiah terakhir yang bisa Aku berikan kepadamu!"
Berlian berlalu meninggalkan Nick yang mematung penuh dengan sejuta pertanyaan.