
Nick merasa sedang mimpi buruk, tubuhnya terguncang hebat. Usahanya untuk bangun dari mimpi itu sungguh menguras tenaga. Keringat mengucur deras, membasahi ujung kaki hingga kepala.
"Cahaya apa itu?" ucapnya lirih.
"Cahaya?" jawab seorang wanita disebelahnya.
"Cahaya mentari pagi Tuan! Waktunya bangun," imbuh Grachia sembari menyibak tirai jendela kamarnya.
Sementara Nick yakin, ada cahaya lain yang baru saja dilihat secara nyata.
"Sepertinya Tuan sedang mimpi buruk. Bergegaslah mandi, Nona Berlian sudah menunggumu!" ucap Grachia memperjelas.
Nick memilin kepala, sembari sedikit menunduk pasrah. Apakah kehadiran Pollux itu hanya mimpi belaka? Lalu mengapa ia hadir dimimpinya?
"Tuan! Bergegaslah mandi, Nona Berlian sudah menunggumu."
Sementara Nick belum sepenuhnya sadar, saat Grachia berulang kali mengucap nama Berlian, ia sama sekali tak ingat tugas yang harus dilakukan hari ini. Kemudian Grachia menempelkan telapak tangannya di ujung keningnya, tubuh Nick terasa hangat, entah apa yang sedang dirasakan saat ini.
"Apakah Tuan baik-baik saja?" tanya Grachia setelah menyentuh keningnya yang terasa hangat.
Nick membalas senyum seraya bangkit dari kasur.
"Aku baik-baik saja, Bu!" balasnya sembari menggamit handuk kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Apa yang terjadi? Batin Grachia aneh, perempuan paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepala penuh heran. Setelah Nick tidur lebih dari dua puluh empat jam, bangun-bangun badannya terasa hangat, kelakuannya tiba-tiba aneh.
Selesai mandi, terlihat dari pantulan cermin. Nick mengenakan kemeja warna putih slim fit, celana hitam kelimis. Tak lupa ia mengenakan jam tangan kesayangannya, menyisir rambut coma hairnya kemudian membasahi rambut dengan Aquila Black Oil Treatment.
Tampan! Ia berdecak kagum kepada dirinya sendiri.
"Tuan! Nona-"
Grachia seketika tertegun. Menatap ke arah pria yang tengah memunggungi dirinya.
"Siapa Anda?" imbuh Grachia sembari menatap takjub pria berjas hitam rapi, kacamata hitam tebal, serta semua aksesoris, jam tangan hingga ikat pinggangnya yang terkesan mahal.
"Ini Aku, Bu!" balasnya.
"Tuan Nick!" ucap Grachia lagi sembari mengelus pipi pria di depannya yang hanya mematung tanpa banyak bicara.
"Apa ini benar-benar Kamu, Nak!" imbuhnya.
Nick mengulas senyum manisnya, seraya memeluk Grachia penuh kasih. Bau minyak wangi ciri khas Tom Ford Oud Wood seketika menguar dari tubuhnya, menarik libido setiap wanita yang tengah dekat dengannya.
Grachia benar-benar melihat perbedaan, Nick yang dulu dan hari ini. Kenapa dia berubah menjadi pria berwibawa seperti itu? Apa yang telah terjadi kepadanya?
"Waktunya berangkat," ucap Nick begitu tiba di ruang tamu.
Berlian, wanita yang sedari tadi menunggunya pun tak kalah heran melihat penampilan Nick yang seratus persen berubah. Dua hari tak melihat Nick lantaran sibuk urusan bisnis, kini ia dibuat tercengang oleh sosok pria yang tampan didepannya.
Nick berdehem. Berusahan mengalihkan perhatian wanita yang menatapnya penuh pesona. Ada apa dengan semua wanita yang ditemui pagi ini? Ada benda anehkah yang melekat ditubuhnya, hingga mereka seperti sedang melihat sosok baru yang lahir seperti Sultan Andara? Batin Nick bertanya pada diri sendiri.
"Waktunya pergi Nona," ucap Nick mengalihkan pembicaraan.
Sementara Berlian tersipu malu, merasa diperlakukan bak ratu oleh rajanya.
Tanpa sadar, busana yang mereka berdua pakai pun dari atas sampai bawah benar-benar senada. Bukan sebuah kebetulan jika Berlian tiba-tiba merasa terpikat dengan pria yang mensejajari langkahnya menuju mobil.
"Silakan masuk Nona," ucap Nick seraya membuka pintu mobil untuk majikannya.
Dalam perjalanan menuju bandara, hati Berlian seperti terpenuhi dengan lagu-lagu bunga cinta yang bermekaran dimana-mana. Ia benar-benar merasa sangat bahagia berdampingan dengan pria yang penuh dengan pesona ini.
"Nona!"
Berlian tersentak, mendengar panggilan Nick yang melihat dirinya tengah tersenyum-senyum sembari menatap ke arahnya.
"Ada yang anehkah?" tanya Nick.
"Ada!" jawabnya sekata sembari mengembalikan posisi duduk sempurna.
"Apa yang aneh?" tanya Nick lagi merasa belum puas dengan jawaban Berlian.
"Ketampananmu!"
"Nona jangan bercanda," balasnya sembari nyengir salah tingkah.
Tiba di bandara, Nick kembali membukakan pintu untuk majikannya itu. Kemudian, berdiri patuh di sebelahnya.
"Bawa ini!" ucap Berlian seraya menyodorkan sebuah ponsel ke arah Nick.
Nick binggung, untuk apa Berlian memberi hal-hal yang Nick tidak terlalu butuhkan.
"Kamu mungkin tidak membutuhkan, tapi Aku membutuhkan komunikasi. Jangan membuatku mencari-carimu lagi. Mengerti!" ucap Berlian.
"Mengerti Nona!" balasnya sembari menganggukkan badannya penuh hormat kepada wanita yang berbusana rapi, poni menutup jidat, lengkap dengan make up yang membuat polesan wajahnya terkesan menor. Sembari menenteng soulder bagnya, Berlian melangkah mantap menuju pintu masuk lobby A.
***
Apakah anda pernah mendengar cerita tentang superhero belajar terbang, lahir kembali dengan kekuatan baru? Jika pernah! Maka ini adalah salah satu gambaran dari kehadirannya yang penuh dengan ambisi, rasa percaya diri yang tinggi untuk menyelamatkan umat manusia di dunia yang telah terancam makhluk aneh ciptaan Carlos.
Sekarang, derajatnya tak akan sama. Bahkan, bisa dibilang lebih tinggi kedudukannya!
Ia bisa, berkata 'Membunuh tanpa menyentuh!' Jangan remehkan! Pria ini bukanlah Nick yang dulu menyandang banyak kelemahan, sakit-sakitan, dibully bahkan diinjak-injak oleh keluarganya sendiri.
Meskipun balas dendam bukan caranya untuk mengakhiri kodrat yang telah ditetapkan sejak lahir, namun melawan adalah tugasnya. Ya, melawan siapa pun! Bukan hanya Carlos.
Lihatlah pria yang datang itu, apakah kalian melihat perbedaan dari segi penampilan! Dia bukan jelmaan dukun jadi-jadian, atau pesulap yang memiliki pusaka warisan leluhur. Namun coba dengarkan setiap ketukan langkah pria yang nyaris seperti ekskutif muda, mapan, dan penuh ketenaran itu.
Jangankan membubuh, menyentuh-pun para musuh yang selama ini mengejar-ngejarnya tak akan mampu!
Nick berhenti di depan bangunan megah Ollyxton Timless Lab, tersenyum sinis ke arah gedung yang penuh dengan aura keserakahan itu.
Carlos! ucapnya sembari mengepalkan erat telapak tangannya.
Kemudian melanjutkan langkahnya, berjalan mantap menuju rumah Manfreed dan Grachia.
“Sekarang tidak perlu khawatir, Bu! Aku akan menjagamu,” balasnya.
“Silakan masuk Tuan Nick, sarapannya sudah siap” ucap Grachia seraya menggelendot manja di punggung bawahnya.
“Bapak di mana, Bu?” tanya Nick.
Grachia diam, seperti sedang menyembunyikan sesuatu saat Nick bertanya tentang keberadaan Manfreed. Raut wajahnya pun seketika berubah, tidak ada kecerahan yang tertotol di sana, saat pertanyaan Nick muncul. Kebahagiaan yang sempat tercipta seolah sirna, timbul duka mendalam menyembul dari dalam hati.
“Apa yang terjadi?” tanya Nick lagi.
“Bapak bersembunyi!” ucap Grachia akhirnya.
“Bersembunyi?” tanya Nick heran.
Grachia mengangguk, sedikit agak cemberut.
“Katakan apa yang terjadi, Bu?” desakknya penasaran.
“Mereka akan segera datang,” balas Grachia ambigu.
“Siapa?”
“Rentenir!”
“Rentenir?” tanya Nick benar-benar tak mengerti permasalahan yang telah menimpa keluarga kecil ini.
“Saya harap Tuan Nick segera pergi sebelum mereka datang,” ucap Grachia khawatir.
Grachia tentu tidak ingin melibatkan Nick dalam kasus ini. Ia merasa mampu menghadapi para rentenir yang kini mengejar-ngejar Manfreed karena berhutang demi salah satu teman baik yang membawa uang pinjaman itu kabur ke luar negeri.
Manfreed telah terkena tipu daya iblis berkedok malaikat yang menjanjikan hasil dari investasi bodong. Lantaran itu pula Manfreed menjadi terlilit hutang jutaan dollar kepada rentenir, mereka akan menyita satu-satunya harta miliknya jika Manfreed tak kunjung memunculkan batang hidungnya.
“Biar Saya yang menemui mereka!” ucap Nick penuh penekanan.
“Jangan! Tuan Nick, Saya tidak ingin melihat Anda terluka. Mereka semua orang yang tak memiliki welas asih,” balas Grachia berkaca-kaca.
“Lalu, apakah Ibu pikir Saya tega membiarkanmu dimaki-maki para rentenir itu?”
“Kumohon pergilah!”
“Tenanglah, Bu! Aku hanya ingin memastikan bahwa mereka tidak akan macam-macam,” balasnya.