
...~Aku disini untuk melindungimu~...
...THE SEEKERS 8 : Ujian Dimulai (3) (Akhir)...
Aku terhenyak mendengar apa yang baru saja dikatakan
Skill Psikis Aktif?
"Untuk kali ini kamu bisa beristirahat. Akan kutangani mereka berdua. Tapi--" Dia melirikku, "Jangan lupa perhatikan baik-baik apa yang akan ku lakukan dan pelajari sebanyak yang kamu bisa."
Aku dapat merasakan kepercayaan diri yang begitu kuat hanya dari kalimat yang keluar dari bibirnya. Juga bagaimana mata itu memandang dengan sedikit keremehan. Suasana tiba-tiba berubah. Menghantarkan getaran dan rasa merinding aneh di permukaan kulit. Kala orang itu mulai melangkah mendekati dua sosok hitam yang tiba-tiba menjadi lebih diam. Menyorotkan mata laser pada sosok Sir Razark yang begitu santai adanya. Suara sepatu yang menapak pada lantai terdengar mengetuk dan seakan memacu irama detak jantung.
Suasana menjadi begitu tegang.
Suara desisan-desisan dan gumaman dari hantu-hantu tak lagi terdengar. Hewan pengerat dan melata yang sebelumnya sempat tampak berlalu lalang bersembunyi jauh dalam kegelapan. Dua sosok hitam terlampau diam mundur perlahan dengan penuh waspada. Menyeret kaki telanjang bagaikan kaki belalang. Dada berlubang dengan bekas bara api perlahan-lahan mulai menutup dengan tak masuk akal. Sir Razark menghentikan langkahnya sejauh tiga meter dari dua makhluk hitam itu,
"Unliving tingkat 3 berbeda dengan hantu. Mereka adalah makhluk yang dibangkitkan dengan menggunakan Dark Matter dan sejumlah sihir terlarang. Menjadi budak dan senjata pembunuh untuk para Makhluk sesat. Contohnya Nazgulez* ini. Karena itu jika nggak memberikan luka yang fatal, mereka akan terus beregenerasi."
(*Nazgulez : Makhluk kegelapan yang dibangkitkan oleh Necromancher)
ZUNGGG--
BWOSHH!!
Suatu tekanan udara kuat merebak cepat dan seakan memenuhi ruangan. Aku bahkan sempat terkejut dan terhimpit ke tembok. Jantungku berdebar-debar seakan baru saja tersengat oleh aliran listrik bertegangan tinggi.
Ini.. Dari Sir Razark!
Dua sosok hitam melompat mundur menjauhi Sir Razark. Keduanya menempel pada dinding dan mendesis-desis dengan garang. Seakan mengutuk tekanan kuat yang mendorong keduanya. Namun aku dapat merasakan sesuatu yang berbeda.
Mereka berdua tampak ketakutan.
Sir Razark dengan mantel berkibar kembali bicara, "Ada beberapa cara untuk melenyapkan mereka. Tapi yang paling utama--"
Sosok hitam pertama menerjang langsung sembari mengarahkan cakarnya. Sir Razark dapat dengan mudah berkelit dan menghindari cakaran beruntun yang datang setelahnya. Gerakan kakinya begitu ringan bagaikan ahli dan sangat luwes, seakan mengikuti aliran udara yang berputar-putar di ruangan ini. Ketika dirinya berbalik, sosok hitam kedua telah melemparkan bangku-bangku rusak yang ada di pojok ruangan.
"Sir--"
GREPP--
Aku terkejut. Melotot dengan tak percaya. Melihat hal yang terjadi tepat di depan mata.
"--Kamu bisa melawan menggunakan Skill Psikis Aktif."
Semua serangan yang mengarah pada Sir Razark terhenti di udara. Aku menggosok mataku. Benar-benar masih nggak menyangka dengan apa yang ku lihat. Cakar-cakar yang di arahkan kepada Sir Razark terhenti sejauh tiga puluh centi dari tubuhnya. Sedangkan bangku-bangku yang di arahkan menggantung di udara seakan tak ada gravitasi di sekitarnya!
Serius! Melayang di udara bebas!
"Skill ini juga terbagi menjadi bermacam jenis. Tapi yang paling sering digunakan adalah Telekinesis. Seperti yang kamu lihat sekarang." Bangku-bangku yang melayang di hempaskan kembali ke arah sosok hitam. Sosok hitam dengan mudah membelah bangku-bangku menjadi beberapa bagian dengan cakarnya. Serangan berlanjut. Mereka memberikan cakaran-cakaran beruntun secara membabibuta ke arah Sir Razark. Sesekali menerjang dengan menghantamkan tubuh dan memekik nyaring. Namun tak ada satupun yang berhasil melukainya. Cakar-cakar itu hanya berhasil menggores lantai dan tembok tak bersalah. Tertolak tatkala mendekati sosok Sir Razark yang tak bergerak sama sekali dari tempatnya. Namun dia tak tinggal diam. Dia mulai menggerakkan tangannya dan tiba-tiba dua makhluk hitam tersentak kuat dan terdorong hingga ke dinding.
DUAKK!!
KAKKHH!!
"Semua Skill Psikis selain memerlukan kekuatan Pikiran yang kuat, juga membutuhkan elemen dari luar. Karena itu Skill Psikis Aktif bisa dipelajari bahkan dari nol. Contohnya telekinesis yang membutuhkan elemen berupa ruang. Dengan Telekinesis kamu bisa melakukan ini."
KRAKK!!
KYAAKKK!!
Aku menutup mataku dengan ngeri. Ngilu melihat kedua makhluk hitam itu terpelintir ekstream dan berakhir teremas seperti selembar kertas basah.
"Atau begini."
KREKK--
GRUDUK GRUDUK--
Dinding yang memaku dua sosok hitam tiba-tiba rubuh dan berlubang. Seakan dinding itu hanya terbuat dari sterofoam. Aku hanya bisa terperangah dengan tak percaya. Dua sosok hitam tadi bangkit kembali dengan gerakan patah-patah. Mengembalikan anggota tubuh yang terpelintir menyakitkan kesana kemari hingga utuh seperti sedia kala. Mereka jadi benar-benar marah. Mereka melepaskan suatu tekanan mengerikan yang sungguh tak mengenakkan hingga membuatku sesaat seperti tersedak. Mata merah makin menyala. Suara teriakan menyayat menyiksa telinga. Bulu kudukku meremang hebat. Merasakan udara yang begitu dingin dan mengerikan... Seakan kulitku disayat tipis-tipis.
"Ah, menyebalkan."
Tepat ketika itu dua sosok hitam dengan tubuh berkobar sepereti api hitam menerjang ke arahnya dengan luapan amarah mengerikan.
"SIR RAZARK!"
DOR! DOR!
Dan semuanya berakhir dalam hitungan satu detik.
"Sampaikan pada Tuan kalian, aku menunggu pertemuan berikutnya."
Dua sosok hitam dihancurkan hingga tak tersisa oleh tembakan dari senjata api laras metalic. Hal ini mengingatkanku akan hari ketika aku bertemu dengannya di dalam studio. Saat dia menembak sosok hitam hingga hancur menjadi debu. Hanya ada bekas dari abu hitam yang berceceran di atas lantai kumuh. Tak ada bekas potongan tubuh atau darah yang tercecer berantakan. Aku benar-benar tercengang.
Jadi seperti ini caranya memusnahkan para Unliving... Berarti yang di studio waktu itu juga sama? Dan... Yang ku lihat di tempat kos juga--
"Kamu mengingat semua penjelasanku kan?"
Aku terkesiap dan lantas beralih pada Sir Razark yang sudah menjulang di hadapanku. Pistol laras metalic telah dikantungkan kembali. Aku tak bisa berkata-kata. Mataku berdenyar dan bibirku gemetar. Menatap sosoknya yang begitu hebat adanya. Aku nggak mungkin berbohong bahwa aku sempat syok melihat pertarungannya barusan. Kedua kalinya aku merasa begitu kagum akan sosoknya.
"Seperti inilah duniaku. Kamu sudah memutuskan untuk masuk ke sini, jadi jangan menelan kembali ludahmu. Bahkan kalaupun begitu menakutkan dan berbahaya, hanya inilah cara agar kamu bisa tetap hidup." Dia berlutut di hadapanku, "Apa kamu berubah pikiran."
"Saya--" Kata-kataku menggantung di tenggorokan. Seakan tertahan oleh gabus yang menyakitkan. Aku sesaat merasa ragu oleh pilihanku.
Apakah aku benar-benar bisa berada di dunia seperti ini? Dunia yang masih terasa seperti mimpi yang tak masuk akal. Dipenuhi oleh makhluk-makhluk haus darah yang dapat dengan mudah membunuhku kapan saja. Akankah... Aku bisa hidup di dunia yang seperti ini?
"Apakah... pilihan saya ini benar?"
"Menurutmu?"
"Saya... Nggak tahu..." Aku menundukkan kepalaku. Meremas tangan yang dingin dan gemetar. Rasa takut kembali mencekikku, "Saya nggak yakin bisa melakukan hal-hal seperti itu."
Kerah baju di tarik paksa dan aku melihat langsung wajahnya yang tampak menahan kesal, "Kamu pikir aku peduli dengan itu? Kamu sudah memutuskan sebelumnya dan menjadi begitu takut hanya karena gangguan kecil dari makhluk hitam nggak jelas begitu?"
Aku menggigit bibirku dan balas menatapnya dengan sengit, "Apakah itu salah saya? Saya bukanlah Anda, Sir! Saya bahkan nggak bisa menggunakan skill Psikis dengan benar! Sembilan belas tahun saya hidup dengan diselimuti rasa takut oleh makhkuk-makhluk seperti itu! Dan sekarang tiba-tiba saya harus berhadapan dengan mereka dan mempertaruhkan hidup saya! Bagaimana mungkin saya nggak takut?!"
Aku sungguh nggak tahu apa yang merasukiku, tapi nggak seharusnya aku jadi semarah ini. Aku tersadar akan tindakanku yang sembrono ketika melihat mata Sir Razark yang berubah menjadi dingin. Menundukkan kepala, aku jadi sangat malu sekarang.
"Aku sudah bilang kalau aku akan mengajarimu kan?"
Aku mengangkat wajahku.
"Nggak ada yang instan di dunia ini. Semuanya membutuhkan proses. Tapi bisa atau tidaknya kamu nggak akan tahu sebelum mencoba."
Tangan itu melepas kerah bajuku, "Sumber dari kekuatanmu itu nggak kecil. Jadi berhentilah merasa khawatir dan jadilah kuat. Aku akan mengajarimu sampai kamu bisa melindungi dirimu dari dunia yang kejam ini."
Perasaanku meletup-letup. Campur aduk hingga aku tak bisa bersuara. Bibirku gemetar dan ku gigit kuat. Mengutuk diri sendiri,
Kenapa aku begini lemah?
"...maaf Sir..."
Dia nggak menjawab dan lantas berbalik, "Cepat bangun. Ada tempat yang harus kita kunjungi sebelum matahari terbit."
Aku hanya menurut dan mengikuti langkahnya setelah mengusap air mata dengan lengan sweater yang terkoyak. Meninggalkan gedung sekolah angker yang menjadi saksi akan dimulainya duniaku yang baru.
.......
Aku berdiri mematung, menatap hamparan puing-puing bangunan di hadapanku. Garis polisi masih melintang mengelilinginya, namun kakiku begitu ingin melangkah menerobos kedalam. Mencium bau adas dan asap dari bekas terbakar yang sudah menjadi arang. Meninggalkan kesan ngeri dan menyakitkan di dalam dada.
"Kenapa anda membawa saya kesini?"
Sir Razark memantik rokok dan menjawab sembari melihat ke arah puing-puing, "Kamu belum sempat kesini sejak saat itu. Bukankah ada yang ingin kamu lakukan?"
Ku sentuh garis kuning polisi didepanku. Rasa dingin bagai menusuk. Menatap tempat tragedi terjadinya kebakaran hebat yang bagaikan mimpi terburuk.
Bekas tempat Kos ku dulu.
"Apa... Boleh?"
"Matahari belum terbit, nggak akan ada yang lewat di jalan gang kumuh ini."
Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya membungkukkan tubuhku dan menerobos garis kuning polisi.
Di tengah-tengah udara menyesakkan yang menusuk kulit, kakiku melangkah pelan menginjak reruntuhan yang telah menjadi arang. Nggak ada yang tersisa di sini. Semuanya benar-benar telah habis terbakar dalam api malam itu. Semuanya lenyap dan hanya meninggalkan luka dan kenangan pahit dalam ingatan. Benda-benda yang dulu begitu ku sayangi telah bercampur menjadi abu dengan puing-puing ini.
Kusentuh bekas-bekas reruntuhan yang separuh telah menjadi arang. Seperti baru kemarin semua tragedi itu menimpaku. Tanpa sadar bahwa semua itu sudah berlalu lebih dari dua minggu.
Kehidupanku yang diselimuti kehampaan itu akhirnya berakhir di titik ini. Dan kehidupan dari orang-orang yang tinggal di sini juga--
"Begitu ya..." Aku meremat arang di tanganku. Perasaanku begitu campur aduk dan aku hanya menatap kepalan tangan dalam kemuraman. Kepala bergerak kecil, melihat sosok Pria yang berdiri menyadar pada mobil dan tampak tengah menelfon seseorang.
Apa alasannya mengajakku kesini untuk lebih meyakinkanku? Kalau benar... Aku harus berterimakasih padanya...
Ku tangkupkan kedua tanganku dan berdoa sejenak untuk orang-orang yang mati di tempat ini. Memohon agar arwah mereka berada di tempat yang selayaknya. Aku bangkit setelah perasaanku membaik. Dan ketika itu tiba-tiba aku menginjak sesuatu yang berbunyi dengan aneh. Sesuatu retak di bawah kakiku. Aku berlutut, menyibakkan bebatuan kecil yang berada di bawah dan seketika mataku membulat.
"Ini--"
Aku segera mengambilnya dan menggenggamnya dengan erat. Rasa syukur kuucap pelan berkali-kali. Merasakan kelegaan kecil yang menyelimuti dada. Aku segera bangkit dan terkejut ketika mendapati Sir Razark telah berdiri di belakangku.
"Kamu kelihatan senang." Tanyanya. Aku menggaruk pipiku dan hendak menjawab tapi dia tiba-tiba dia berkata, "Kita harus segera pergi."
"Kenapa?"
Dia melirik ke samping dan aku mengikuti arah pandangannya. Ada dua orang ibu-ibu yang lewat dan melihat kemari. Sebuah mantel jatuh di atas kepalaku. Aku memeganginya dan mendongak,
"Gunakan itu sampai masuk mobil."
Aku mengangguk tanpa kata dan mengikuti di belakangnya sembari menyembunyikan wajah dengan mantel milik Sir Razark. Dia membukakan pintu untukku dan masuk dari sisi satunya
"Apakah mereka mengenaliku?" Tanyaku. Aku sungguh lupa sesaat bahwa aku nggak seharusnya terlihat oleh orang-orang di kompleks ini. Karena yang mereka tahu, aku suda 'mati'.
"Nggak. Kamu nggak perlu khawatir." Jawabnya. Aku ber oh dan dia melanjutkan, "Untuk pemberitahuan, identitas barumu sudah selesai dibuat."
"Ya. Akan kutunjukkan setelah sampai dirumah."
Ketika matahari mulai tampak pada garis pandang diufuk timur, mobil kami melaju meninggalkan bekas Kompleks Kos yang terbakar.
Suatu saat aku akan kembali kesini lagi setelah menyelesaikan semuanya.
........
Rasa dingin dari air di pagi hari meremangkan kulit. Perih terasa di sana sini, tapi aku tetap nekat membasuh tubuhku yang sudah terasa amat nggak nyaman. Menyingkirkan debu, keringat, dan bekas darah yang menempel di kulit. Menggigit bibir kuat ketika air dari shower mengenai bagian bahu yang terobek oleh cakar makhluk hitam semalam. Menahan diri agar nggak menangis dan menyudahi kegiatan mandi pagi yang begitu menyiksa diri.
Baju bersih ditaruh di dekat beranda. Sir Razark kembali memberiku pakaian super kebesaran miliknya-- kemeja putih polos dengan panjang setengah paha dan celana pendek. Ku gulung lengan kemejanya hingga pergelangan tangan. Aku nggak akan memprotes. Salahku juga karena merusak sweater dan celana panjang pemberiannya semalam. Aku masih bersyukur dia mau memberikanku pakaian bersih dan memperbolehlanku menggunakan kamar mandi. Dengan handuk terkalung di kepala, aku pun keluar setelah selesai berganti baju dan segera masuk ke kamarku.
"Duduklah."
Sir Razark termyata sudah berada di sana dan tengah duduk di atas ranjang. Kotak berisi antiseptik dan obat-obatan lengkap dengan perban tergeletak di sampingnya. Aku mendekat ketika pria itu menyodorkan beberpa lembar kertas dan kartu kepadaku.
"Eh?" Ku tatap lembaran kertas yang terpegang oleh dua tangan. Mengamati setiap kata dan kalimat yang tercetak di dalamnya. Kemudian aku beralih pada kartu di tanganku. Foto seseorang yang amat sangat kukenali terpampang di sana, membuatku mengernyit antara bingung dan aneh.
Kok... Begini?
"Sir Razark, ini--"
"Itu identitas barumu. Kamu sudah bisa menggunakannya."
Aku jawdrop.
Aku tahu ini identitas baruku tapi-- "Namaku masih tetap sama lho... Dan lagi--" Sedikit malu, "--kenapa nama belakang saya sama dengan Anda?"
Dia mengacuhkanku dan malah menggulung lengan kemejanya, "Buka bajumu." Aku hampir saja menonjok wajahnya jika saja dia nggak melanjutkan, "Aku akan mengobatimu."
"Anda belum menjawab pertanyaan saya!"
"Yang penting identitasmu sudah jadi kan?"
"I-iya memang sudah jadi. Dan terimakasih untuk ini. Tapi... Shiryuu...?" Aku bertanya kembali dengan takut-takut, "Anda serius meletakkan nama Marga anda si belakang nama saya?"
"Itu bukan hal yang harus di pusingkan."
Aku menatapnya dengan sedikit aneh. Dia sama sekali nggak terlihat merisaukan hal itu dan sibuk mengeluarkan gulungan perban juga antiseptik. Aku benar-benar nggak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan pria dihadapanku ini. Tapi nama baruku...
Langa Shiryuu.
Langa dari Erlanga dan Shiryuu dari nama belakang Sir Razark.
"Kamu bisa menggunakan nama itu mulai sekarang. Tapi sebisa mungkin jangan katakan nama belakang yang ku berikan padamu. Katakan saja jika memang perlu atau karena hal mendesak."
Aku nggak tahu kenapa, tapi sepertinya bakal menimbulkan masalah. Jadi aku hanya mengangguk menurut saja.
"Bagus. Sekarang lepas bajumu."
Aku langsung mundur sembari memegangi kemeja kebesaran yang kukenakan, "N-nggak usah Sir. Saya bisa mengobati diri saya sendiri."
Dia melirik dengan galak, "Cepat."
Aku menggeleng dua kali. Tiba-tiba kerah bajuku di tarik, "Gyaa! Jangan--"
"Aku hanya akan mengobati lukamu."
"Sa-saya bisa melakukannya sendiri!"
Alis tebal itu menukik tajam. Dia menatapku dengan amat kesal dan seperti ingin mencekikku, "Menurut saja selagi aku masih berbaik hati."
"S-sir... Saya benar-benar berterimakasih atas kemurahan hati anda. Tapi--"
"Apa kamu khawatir soal Rajah di tubuhmu?"
Mulutku terbuka. Terkejut di tempat.
Bagaimana orang ini tahu soal itu?!
"Aku sudah melihatnya. Kalau itu yang kamu khawatirkan, aku hanya akan mengobati luka di bahumu. Kamu bisa menutupinya dengan selimut."
Dia melepaskan kerah bajuku dan aku lantas menarik bajuku dan menutupi daerah leherku. Aku benar-benar nggak sanggup menatapnya. Lupa sejenak bahwa sebelumnya Pria ini lah yang telah mengobati bekas-bekas luka di tubuhku setelah aku keluar dari penjara. Meliriknya dengan takut, kemudian menunduk kembali.
Jadi dia sudah melihatnya? Tato di punggungku itu? Tapi kenapa--
Helaan napas terdengar. Sir Razark bangkit sembari menyelipkan rokok di celah bibirnya kembali, "Aku nggak akan memaksamu lagi. Tapi cobalah untuk mengobati luka di punggungmu. Aku akan keluar."
Lengan kemeja itu ku sambar, "S-Sir saya nggak bisa... Kalau sendiri.." Cicitku lemah. Sedikit menaruh kepercayaan padanya. Dia nggak mengatakan apapun dan kembali duduk di ranjang setelah mengantungi rokoknya kembali.
"Berbaliklah."
Aku menurut dan membalikkan tubuh kemudian mulai melepas kancing-kancing kemejaku dengan gugup. Rasa sakit dan perih menjadi satu ketika antiseptik bersentuhan dengan bekas luka cakaran di bahu. Kenang-kenangan yang ditinggalkan makhluk hitam menakutkan semalam. Lukanya nggak dalam, tapi tetap terasa sakit dan seperti terbakar di saat bersamaan. Rintihan tak dapat ku tahan dengan baik dan terlepas begitu saja. Perban di balutkan dengan telaten mengelilingi tubuh dan bahuku.
"Selesai."
Aku menoleh, melihat perbanan rapi yang dibuatnya dari bahu hingga ke dadaku. Menarik kemeja menutupi tubuh dan mengancingkannya kembalu. Aku berkata, "Makasih Sir..."
"Maaf, aku belum membelikan baju lagi untukmu."
Aku tentu terkejut mendengarnya kemudian menatap kemeja yang ku kenakan.
Apa dia terganggu dengan ini?
"A-ah, nggak masalah ini sudah lebih dari cukup. Lagipula anda juga sibuk. Saya bisa mengenakan apapun pemberian anda kok."
Dia kembali diam. Aku merasa ada sesuatu yang mengganggu nya. Entah apa itu, tapi... Kenapa dia terus melihat kearahku? Bahkan dia juga meminta maaf begitu.
Itu agak aneh.
"Setelah sembuh, kita akan mulai latihan yang sebenarnya."
Aku merinding ketika mendengarnya dan langsung merasakan firasat buruk, "Yang sebenarnya? Me-memangnya yang semalam itu bukan latihan untuk ini?"
"Itu hanya untuk pengenalan. Kamu bahkan belum benar-benar menyentuh dasar dari penggunaan Skill Psikis Aktif."
Bermacam gambaran latihan mengerikan berputar-putar di kepalaku. Apakah selanjutnya aku akan berlatih seperti Ghost Buster? Atau bertarung melawan Unliving seperti yang dilakukan Sir Razark? Memikiekannya saja sudah membuatku lemas.
Aku benar-benar bisa mati.
"Kita akan mulai berlatih besok. Jadi sembuhkan lukamu sebelum besok pagi."
Aku hampir saja terjengkang kebelakang, "A-anda bercanda? Ma-mana mungkin saya bisa sembuh dalam waktu semalam!"
"Itu masalahmu."
Sadis sekali jawabannya! Aku sempat lupa kalau orang ini aslinya memang begini!
Aku menatapnya dalam diam. Agaknya aku mulai mengerti bagaimana caranya bertindak dan berpikir. Dia memang keras, terkesan ngawur dan sinis juga menyebalkan. Tapi semua yang dia lakukan sampai sampai sekarang benar-benar membantuku untuk tetap hidup dan bertahan. Dia 'memungutku' dari dasar jurang keputusasaan. Membiarkanku tinggal di rumahnya yang hangat dan nyaman. Memberiku makan tiga kali sehari dan bahkan membiarkanku mengenakan pakaian yang bersih dan bagus. Dia juga memberiku perawatan dan dengan perlahan mengajariku banyak hal baru.
Aku nggak pernah melihatnya mengeluh tentangku.
"Sir... Mengapa anda membantu saya?"
Gerakan tangan yang tengah membenahi kotak P3K terhenti, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Bukankah aneh dan... Nggak menguntungkan untuk anda? Maksudku-- anda bahkan membuang banyak uang hanya untuk mengeluarkan saya dari penjara. Anda juga membiarkan saya tinggal di rumah anda. Anda memberi saya makanan yang enak dan pakaian bagus yang nyaman. Anda bahkan mengajari saya banyak hal baru. Dan... Anda bilang ini agar saya bisa hidup di dunia yang kejam ini.."
Ketika dia bangkit tanpa mengatakan apapun aku menahannya, "Apakah anda nggak mau mengatakan alasannya?"
Ada kilat aneh di mata yang tampak dingin itu. Namun aku tak bisa begitu saja melepas tanganku. Aku ingin mengetahui alasannya.
Mengapa orang ini begitu baik padaku?
"Bukankah kamu meminta pertolongan sebelumnya?" Ujarnya. Dia balas menatapku, "Di studio waktu itu dan di restoran, bukankah kamu mencoba meminta pertolongan padaku?"
Aku terhenyak. Tak menyangka mendengar perkataannya.
Dia benar-benar mengingat semuanya....
"Awalnya aku hanya acuh saja karena itu bukanlah urusanku. Tapi melihatmu yang begitu menyedihkan dan lemah membuatku merasa kesal. Aku tahu kenapa kamu mencariku. Masalahmu ini memang bukan masalah biasa, karena itu aku hanya mencoba membantumu. Bahkan walaupun kamu jadi berhutang padaku, sejak awal aku memang nggak mengharapkan apapun darimu."
Dia kembali melesakkan pantat di ranjang dan menarikku mendekat. Sedikit mendongak dan memasang wajah yang seperti bukan dirinya. Mata di balik helaian berantakan itu mematri padaku, "Aku nggak memintamu untuk percaya tapi aku sudah berjanji akan membantumu. Bagaimanapun Kamu sudah terikat denganku, Nak. Nama belakang yang kuberikan padamu adalah jaminan untuk hidupmu. Kamu nggak akan tahu seperti apa di masa depan kelak, tapi kamu perlu tahu bahwa akan ada banyak orang yang mengincarmu."
Aku terhenyak, "Ke-kenapa?"
"Kamu akan mengetahuinya. Nama Marga itu akan melindungimu dari beberapa hal. Jadi sekarang kamu nggak perlu merisaukannya. Kamu hanya harus fokus untuk bertahan hidup dan melangkah di dunia seperti ini."
Aku tak mengerti kenapa nama Shiryuu itu akan melindungiku. Lalu siapa dan kenapa aku diincar?
Apa yang masih disembunyikan oleh Sir Razark?
Aku ingin tahu... Aku sungguh ingin tahu...
Aku harus mencari tahu....
"Paman..."
Tubuh bergerak sendiri. Mendekat, menyentuh bahu lebar dalam balutan kemeja putih. Kepala yang terasa pening dan berkabut tertunduk dengan lesu dan setengah ambruk,
"Hey Nak, ada a--"
GRTT-
"Gahkk--"
Aku menggigitnya.
...........
[BERSAMBUNG]