THE TRUTH SEEKERS

THE TRUTH SEEKERS
CHAPTER 2 : ALARM KEMATIAN



~Dunia begitu sempit, namun menggapaimu tetap terasa sulit~


...[THE SEEKERS 2 : ALARM KEMATIAN]...


Saat ini, bermacam pikiran memenuhi kepalaku. Bagaikan orang bodoh, menatap kosong ke arah pintu kaca restoran yang sebelumnya menampilkan punggung seseorang.


Apa yang terjadi baru saja? Pria itu-- aku masih tak dapat mempercayainya!


Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia tiba-tiba mendekatiku seperti ini? Apakah dia mengingatku? Orang yang mengajaknya bicara di lorong studio malam itu? Ataukah semua ini hanya kebetulan belaka?


Tapi bagaimana dia tahu kalau aku tengah ketakutan? Bagaimana dia tahu kalau aku... Bisa melihat mereka?


Bibirku terbuka dengan lemah. Menyadari sesuatu yang pasti secara tiba-tiba.


Aku harus memastikannya sendiri! Aku harus bicara dengannya!


Bagaikan dering bel, jantungku tiba-tiba berdebar kencang hingga bergetar ke seluruh tubuh. Aku bangkit menyeret kedua kakiku yang masih terasa lemas dan lesu. Keluar dari restoran sembari memegangi jas abu-abu yang melingkupi tubuhku. Memandang ke sekeliling tempat yang telah penuh sesak dengan orang dan segala keributannya.


Kemana dia pergi?!


Kebingungan menjadi. Menyadari bahwa sosok yang ku cari sudah tak tampak dimanapun. Dengan nekat aku pun menerobos kerumunan dan mendekati tempat kecelakaan yang telah dikerubungi oleh orang-orang. Menatap kobaran api yang mengepulkan asap pekat kehitaman. Menggeleng pelan ketika melihat sesuatu yang mengerikan dan segera beranjak dari tempat itu. Menerobos kerumunan kembali, berputar, mengabsen orang-orang yang berada di sekitarku.


Bukan. Bukan. Bukan juga. Dia juga bukan. Oh astaga, dimana dia menghilang tadi?! Seharusnya aku dapat dengan mudah mengenalinya. Dia tampak mencolok dengan tubuh jangkung dan bekas luka di bibirnya itu!


Sial. Kenapa tadi aku nggak segera menghampirinya? Kenapa aku hanya terdiam ketika dia berjalan memunggungiku? Dia jelas mengetahui sesuatu tentang apa yang terjadi pada diriku. Kemampuanku yang dapat melihat hantu-- dan mungkin lebih dari itu.


Hal-hal "supranatural" Yang tak kumengerti.


Dia mungkin dapat membantuku! Tapi aku telah menyia-nyiakan pertemuan ini!


Bahu melorot.Menatap jalan dengan tatapan kosong. "Lagi-lagi begini..." Gumamku lirih, penuh sesal.


Lelaki itu sudah pergi. Aku kehilangannya...


..........


"Eh Erlanga, kamu beneran bisa liat hantu? "


Gerakan tanganku yang tengah mengelap meja langsung terhenti ketika seorang senior bertanya padaku. Menatapnya dengan wajah setengah terkejut, tapi juga tegang, "Maaf, maksudnya? "


"Kami sering melihatmu tiba-tiba bicara pada udara kosong, atau kamu seperti ketakutan waktu ada beberapa pelanggan yang datang. Bahkan Bang Joe pernah lihat kamu tiba-tiba jatuh pucat di depan pintu waktu kecelakaan beberapa hari lalu dan kamu bergumam-gumam sendiri sambil menatap ke arah kobaran api."


"Serius tuh? Kamu beneran bisa lihat yang begituan dong? "


Aku meneguk ludah, tak menyangka dengan pertanyaan mereka.


Apa rahasiaku terbongkar?


Mengalihkan pandangan, aku berusaha mengelak dari kedua seiorku itu, "Bu-bukan. Mungkin itu cuma salah paham. Aku cuma... Cuma sering nggak fokus kak."


"Benarkah? Tapi--"


"Oi Mel, jangan ngobrol terus. Sapunya nggak bisa bergerak sendiri lho. "


Senior dalam balutan seragam dan celmek hitam-- barista restoran ini menegur mereka berdua. Keduanya mendecak,


"Alah kak Joe, kan kami cuma tanya ke Erlanga. Kak Joe bilang dia bisa lihat hantu. "


"Emang aku pernah bilang begitu? "


Keduanya saling pandang. Kak Joe dengan wajah galak bersedekap dan mereka berdua tampak terganggu. Sebelum akhirnya memilih undur diri sembari menggerutu ke arahku,


"Jangan dimasukin ke hati ya? Mereka berdua emang suka begitu, tukang gosip. "


"Ah, nggak apa kak. Makasih buat bantuannya. " Balasku dengan canggung. Kak Joe tersenyum kemudian menepuk pundakku dua kali,


"Kalau mereka mengganggu lagi bilang aja ya. Biar ku urus mereka. "


Aku mengangguk-angguk dan Kak Joe segera pergi dari hadapanku. Setelah sosok itu menghilangkan ke balik pintu dapur, aku lantas memejamkan mata.


Sial. Hampir saja ketahuan.


Gara-gara kecelakaan tiga hari lalu, rahasia tentang aku yang bisa melihat hantu ini hampir terbongkar. Aku sengaja menutupinya dari orang-orang karena nggak mau dianggap aneh. Tapi sekarang aku bahkan nggak yakin bisa tetap menyembunyikannya lebih lama.


Ini gara-gara aku nggak memakai kacamata. Ya, kacamata yang bagian frame nya sudah mengelupas itu. Bahkan sejelek apapun, selama ini kacamata itu telah membantu mengurangi rasa takutku. Karena kacamata itu mengurangi pandangan sehingga membuat sosok-sosok hantu yang ku lihat tampak lebih kabur dan tak terlalu menyeramkan. Karena kacamata itu pula aku berani keluar dari rumah dan bekerja seperti ini.


Tapi enam hari lalu ketika kecelakaan terjadi, kacamata itu tak sengaja terjatuh dan terinjak oleh orang lain. Kacamata itu bagaikan benteng pertahanan ku. Aku hanya memiliki satu dan sekarang sudah tak bisa dipakai sama sekali. Untuk membeli yang baru aku tak memiliki uang. Bahkan hanya untuk membetulkannya saja aku ga mampu. Bulan ini keuangan ku sedang buruk-buruknya, dan makin buruk karena pekerjaanku sering terhambat. Tapi aku nggak bisa absen begitu saja karena aku sangat membutuhkan uang. Jadi aku tetap nekat bekerja tanpa memakai kacamata walaupun akhirnya... Aku mengalami tekanan seperti ini.


Karena kecelakaan yang terjadi enam hari lalu, daerah di sekitar sini jadi terasa lebih suram. Aku lebih suka pelanggan yang muncul berbondong-bondong dari pada hantu-hantu yang saat ini mengerubungi jalanan di depan restoran ini. Kupikir kecelakaan itu menyebabkan hantu-hantu dari tempat-tempat lain tertarik dan akhirnya berkumpul di sekitar daerah sini. Mereka berkerubut di sekitar bekas kecelakaan dan tampak senang berputar-putar di sana. Gara-gara itu aura di sekitar sini jadi berubah aneh dan tak mengenakkan. Itu membuatku merasa seperti aku akan "sakit" Jika terlalu lama berada di restoran ini. Bahkan hanya untuk berjaga di depan selama satu jam saja aku tak bisa. Aku merasa pusing dan mual dan bahkan menggigil di saat bersamaan. Kulitku terus meremang dan dadaku sempat sesak karena atmosfer yang begitu memuakkan.  Belum lagi jika ada sosok yang secara tiba-tiba menatap ke arahku--


Rasanya tubuhku lemas seperti buku basah yang diremukkan.


Ku tatap bekas kecelakaan yang masih tampak di sana. Beberapa orang polisi masih ditugaskan untuk menyelidiki kecelakaan tersebut. Mobil mereka terparkir di pinggir jalan dan menjadi pusat perhatian. Kalau mengingat yang kulihat si berita, aku merasa merinding kembali.


Bagaimana tidak? Di sana telah terjadi kecelakaan yang melibatkan 10 orang penumpang minibus dan 6 orang penumpang mobil. Dan mereka semua meninggal di tempat. Total 16 korban tersebut terbakar karena tumpahan minyak dari kedua kendaraan yang menyulut api. Karena insiden tersebut juga di hari berikutnya restoran terpaksa di tutup dan baru buka di hari berikutnya.


"Erlanga, wajahmu pucat banget. Apa kamu sakit?"


Aku tersentak ketika seseorang mencolek pundakku. Berbalik, kulihat seniorku yang bekerja sebagai waitress-- perempuan dengan rambut diikat satu tinggi tengah menatapku begitu dekat. Aku dibuat gugup dan memegangi lengan yang berkeringat dingin.


"I-iya sedikit... "


"Pantas saja... Wajahmu pucat banget dari kemarin lho dan keringatmu juga banyak sekali. Oh iya kacamatamu kemana? Sebelumnya kamu pakai kacamata kan?"


"Kacamataku rusak." Jawabku muram. "Maaf kak, saya permisi sebentar. " Aku langsung berbalik meninggalkan nya dan masuk ke dapur. Berjalan ke loker dan mengambil botol kecil di dalam tas. Mengeluarkan dua butir obat di dalamnya dan menenggaknya langsung tanpa minuman.


Rasa pahitnya tak sebanding dengan rasa takutku. Aku nggak mau menggunakan obat ini, tapi kondisi ku yang begini membuatku terpaksa kembali menenggaknya. Bahkan setelah bertahun-tahun hidup sebagai anak Indigo, aku tetap tak terbiasa dengan semua ini.


Apa itu tadi yang di belakang Kak Elsa? Sosok yang berderak seperti api berwarna hitam? Aku beberapa kali bertemu yang seperti itu, tapi yang ini... Kenapa rasanya lebih menakutkan?


Seakan sosok itu menatap menembus ke arahku.


Aku memeluk diriku dan terdiam beberapa saat di loker.


"Tenang... Nggak apa... Aku nggak boleh ambruk di sini... " Gumamku, berusaha menenangkan diri.


Ini resiko, tapi aku harus bertahan. Aku harus memaksa diriku yang berulang kali ingin beranjak pulang untuk tetap berada di tempat ini. Aku harus bertahan demi uang gaji yang akan kuterima.


Akhirnya sosok menakutkan itu bahkan tak jauh lebih menakutkan dari bayangan ketika aku didepak keluar dari tempat KOS.


"Jika saja aku nggak memiliki kemampuan seperti ini... Pasti hidupku nggak akan begini... "


Aku membencinya. Aku membenci sosok-sosok menakutkan yang hanya bisa dilihat olehku itu. Tapi di samping itu semua, aku jauh lebih membenci diriku sendiri.


Diriku dan kemampuan yang bagaikan kutukan untukku ini.


Aku selalu berusaha mencari cara agar kemampuan melihat hantu ini menghilang. Menutup mata batin atau bahkan yang disebut sebagai melenyapkan indera ke-6. Tapi nggak ada yang berhasil. Semua info yang ku dapatkan dari buku, internet, atau orang lain hanyalah hal "ngawur" Yang bahkan nggak memberikan efek apapun.


"Capek..."


Kekuatanku bagai menghilang seluruhnya dan aku terduduk melorot, meringkuk di pojokan.


Aku merasa sakit.


Aku nggak ingin melihat hantu. Aku nggak ingin menjadi anak indigo dan di pandang aneh oleh orang-orang. Jika bisa memilih, aku lebih suka hidup tanpa bisa melihat dunia jika yang selalu ku lihat hanyalah sosok-sosok mengerikan itu.


Akan tetapi... Bahkan jika aku mengutuk kemampuan ini, itu takkan mengubah apapu. Takkan mengubah kenyataan bahwa aku adalah seorang Anak Indigo dan bisa melihat hantu lebih baik dari siapapun...


Jika saja ada cara untuk terbebas dari kemampuan ini--


"Apakah mungkin orang itu tahu jika aku bertanya padanya? "


Ya, Orang itu. Dia mungkin tahu Sesuatu. Ah--dia mungkin tahun banyak mengenai hal-hal seperti ini. Pria yang tanpa sengaja kutemui di restoran, dia adalah orang yang kulihat di studio malam itu. Ingatanku membawaku pada kejadian di studio yang tengah menayangkan Acara Supranatural secara live. Di tengah-tengah puncak acara, tiba-tiba hal yang tak terduga terjadi.


Kerasukan yang mengerikan. Pembawa acara hilang kendali hingga mencelakakan Paranormal yang berusaha melakukan 'pengusiran'. Acara pun berubah menjadi tragedi karena sosok yang merasuki si pembawa acara mulai menebarkan 'teror' yang sanggup membuat para penonton di dalam studio duduk kaku ketakutan.


Hingga akhirnya Pria itu muncul.


Ketika penonton mulai berlarian keluar aku tak sengaja tertinggal karena terdorong oleh beberapa orang dan terjatuh di deretan bangku belakang. Aku memilih bersembunyi di deretan bangku sembari mengintip ke arah panggung dengan ketakutan.


Dan yang kulihat selanjutnya sungguh tak dapat kupercaya.


Ketika Host yang kerasukan mulai menerjang dengan raut kegilaan, pria itu dengan tenang menodongkan sebuah pistol metalik dan menarik pelatuknya. Suara letusan senjata api terdengar samar, namun aku tahu bahwa itu telah melesatkan sesuatu dan berhasil mengenai targetnya.


Namun tak ada darah yang keluar. Tak ada luka yang membekas. Hanya si pembawa acara yang berdiri tak sadarkan diri sebelum akhirnya terjatuh ke lantai. Menanggalkan sosok hitam mengerikan yang memekik nyaring karena murka. Sebelum akhirnya dibungkam selamanya ketika tembakan kedua dilesatkan. Mengenai tepat di bagian kepala dan seakan menjadi pemicu dari percikan api berwarna putih kebiruan terang yang merambat membakar sekujur tubuhnya. Makhluk hitam itu melolong kesakitan dan berakhir menjadi tumpukan abu di atas panggung temaram yang kacau balau.


Hal seperti itu baru pertama kali kulihat. Begitu mengejutkan hingga aku lupa bernapas sesaat.


Apakah itu sebuah exorcisme? Akan tetapi yang dia lakukan sangat berbeda dengan apa yang selama ini ku tahu. Tak ada Paranormal yang melakukan exorcisme dengan cara seperti itu-- dan bahkan membawa pistol alih-alih benda keramat? Lalu apa yang sebelumnya Pria itu ucapkan?


Waktu itu juga entah bagaimana tiba-tiba terbesit rasa penasaran yang membuatku dengan begitu berani memanggilnya. Mencoba berbicara dengan pria itu. Berharap bisa menemukan jawaban dari hal-hal ganjil yang tanpa sengaja kulihat secara langsung. Akan tetapi dia menolak ku dan mengusirku. Menatapku tajam melalui sudut mata yang menampilkan iris sedingin balok es.


Orang itu sulit untuk didekati.


Tapi orang itu muncul kembali di hadapanku beberapa hari lalu dan... Dan dia membantuku...


Ku tatap sebuah jas yang terlipat di dalam tasku. Jas yang diberikan Pria itu ketika aku terjatuh ketakutan karena kecelakaan waktu itu. Dia kemudian menghilang dan tak kembali untuk mengambil jas nya hingga saat ini. Jadi untuk berjaga-jaga aku tetap membawanya di tas ku.


Apa lagi jas itu tebal dan sepertinya mahal.


"Sudah hampir seminggu. .. Apa dia bahkan masih ingat dengan Jas nya? " Gumamku lemah, setengah berharap.


Aku sungguh ingin bertemu dengan Pria itu lagi. Mungkin dia akan bisa membantuku...


Aku segera menutup tas dan meletakkannya di loker kembali. Aku keluar dengan keadaan yang jauh lebih baik. Sempat ku lihat beberapa senior berbisik-bisik seperti membicarakan ku tapi ku abaikan saja. Aku harus kembali ke pekerjaanku yang menyiksa kemudian bisa pulang untuk beristirahat dari segala hal menakutkan yang kulihat.


Waktu terasa begitu lambat. Namun untunglah penyiksaan ini segera berakhir. Ketika jam menunjukkan pukul empat sore, waktu untuk berganti shift. Setelah mencuci piring terakhir, aku diperbolehkan pulang oleh senior. Mengendarai sepeda dengan pelan, menghirup udara kota kecil yang berdebu.


Pulang. Aku hanya mau pulang. Mandi, kemudian merebahkan tubuhku ke kasur dan memejamkan mata hingga pagi datang. Kekuatanku benar-benar sudah terkuras sampai-sampai aku tak memiliki cukup tenaga untuk merespons makhluk yang menempel padaku.


Namun hari itu adalah terakhir kalinya aku bisa "pulang".


Karena ketika handphone ku berdering, sesuatu tiba-tiba menghantam kepalaku dengan keras. Aku terjatuh dari sepeda hingga seluruh kesadaranku menghilang.


.......


".... Bangun...."


".... Jangan tidur... Sayang..."


"... Larilah-- *******..."


"Nghhh..."  Aku bergumam.


"Kenapa... Aku harus lari..?"


"Buka matamu, bocah."


DEG!


Suatu dentuman tak biasa menyebar di dalam dada, membuatku terlonjak karena kejutan tak terduga. Aku lantas membuka mata dengan setengah tak sadar.


Siapa yang bicara padaku?


Napasku tiba-tiba terasa sangat sesak hingga aku terbatuk beberapa kali. Udaranya panas seperti membakar kulit. Tenggorokan kering terasa menyakitkan ketika aku terbatuk beberapa kali.


Mata mengerjap beberapa kali dan hanya warna oranye buram yang tampak secara samar. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, aku dibuat bertanya-tanya.


Ini... Kamarku..? Tapi kenapa semuanya berwarna oranye? Kenapa... udaranya begitu panas? Kenapa aku duduk di kursi dalam posisi... terikat...?


Seketika mataku terbuka lebar.


Eh? Aku terikat di kursi kayu? Dan parahnya saat ini kamarku--


BWOSHHH--


Aku mengernyit.


Kamarku tengah terbakar!


Aku panik ketika kesadaranku telah kembali seluruhnya. Melihat sekeliling telah dipenuhi kobaran api. Melalap seluruh benda di dalam ruangan hingga ke langit-langitnya. Udara panas terasa membakar hingga ke paru-paru. Aku terbatuk karena oksigen yang menipis dan menghirup asap menyesakkan.


Sialan! Apa yang telah terjadi?! Kenapa kamarku bisa terbakar seperti ini?! Siapa juga yang telah mengikatku di kursi begini?! Api baru saja berderak makin liar. Aku nggak memiliki waktu untuk memikirkan semua itu! Jika nggak segera keluar dari sini, aku bakal mati terpanggang hidup-hidup!


"Tolooongg!! Uhuk uhuk! T-tolonggg--khhh-- uhuk!" Aku berteriak, mencoba meminta pertolongan. Menatap panik ke arah ikatan tali di kaki dan tangan.


Apakah suaraku cukup keras untuk terdengar hingga keluar? Bagaimana dengan penghuni kamar kos lainnya? Apakah mereka menyadari adanya api di kamarku?


Tch! Aku nggak bisa hanya mengandalkan pertolongan dari luar! Ikatan ini-- setidaknya aku harus bisa melepaskannya!


Aku menggerak-gerakkan tanganku, berusaha melepas ikatan dengan memelintir pergelangan tangan. Akan tetapi ikatannya ternyata jauh lebih kuat. Kulitku justru menjadi lecet karena bergesekan dengan permukaan tali yang kasar.


Brakk!!


Sial! Kenapa simpulnya begitu kuat?! Aku nggak bisa membukanya! Disini nggak ada gunting atau benda tajam. Pisau berada di dalam nakas, dan tempat itu telah habis terlalap api!


Aku harus bagaimana?!


Mengerjap beberapa kali karena merasakan pedih di mata. Api yang berkobar makin panas dan terasa menyakitkan.


Bagaimana ini?! Bagaimana caraku melepas ikatan?! Seseorang... Dapatkah seseorang mendengarku sebelumnya?


Tatapanku berhenti ke arah kayu yang terbakar. Meneguk ludah kasar. Suatu ide gila terlintas di kepala.


Ini pertaruhan. Tapi jika nggak kulakukan, aku bakal mati terpanggang. Kalau kulakukan... Aku mungkin akan kehilangan tanganku.


"Nggak ada cara lain!"


Aku menggerak-gerakkan kursiku agar mendekati kayu yang baru saja terjatuh itu. Memposisikan diri sebaik mungkin dalam posisi memunggungi. Tangan yang terikat kebelakang ku hadapkan pada permukaan kayu yang terbakar.


Nyeesshhh--


"Khhhkkk--" Aku mengernyit. Menggigit bibir hingga berdarah. Api baru saja bersentuhan dengan telapak tanganku. Bau daging terbakar hampir membuatku gila. Ku tahan rasa sakit karena terbakar dan tetap memposisikan tanganku sedemikian rupa ke arah kayu yang terbakar itu.


Ini berhasil! Ikatannya melonggar. Api mengenai tali dan mulai membakarnya juga. Mataku terpejam kuat,


Bertahan... sedikit lagi... Ini hampir berhasil--


Tess!


Ikatanku terlepas. Tanpa sempat berpikir lebih jauh aku lantas membuka ikatan di kedua kakiku. Tanganku yang melepuh seakan mati rasa sehingga tak terlalu sakit ketika bergesekan dengan permukaan tali. Hingga akhirnya aku bisa terbebas sepenuhnya.


"Uhuk! Uhuk!" Aku menutup hidung dan mulut dengan lengan. Menghalau asap yang makin mengikis oksigen. Berjalan gontai ke arah pintu kamar kos dengan pandangan berkunang-kunang.


Cklek! Cklek!


"Sial! Terkunci!" Makiku. Dengan penuh kepanikan menggedor-gedor pintu kamar dan berteriak sekeras mungkin.


"Tolong!! Tolo--uhuk! Uhuk! Tolong akh--uhuk!" Udara makin menipis. Napasku sesak tak terkendali. Aku berusaha mendobrak pintu, tetapi sama sekali tak berefek apapun. Aku menjerit dengan putus asa.


"SIAL!"


Apakah aku akan berakhir di sini? Apakah aku akan mati terpanggang kali ini? Apakah... Seperti ini jalan kematianku? Kenapa hidup ini begitu kejam? Kenapa aku harus bernasib seperti ini? Kenapa aku selalu berakhir sendirian....


Aku ingin menangis karena frustasi hingga tak bisa berpikir jernih. Menjerit hilang akal hingga suaraku menghilang. Bahkan bila hidup ini menyakitkan... Aku masih ingin tetap hidup...


Aku ingin mencari.... "Kebenaran"--


"Aku ingin hidup... Aku nggak mau mati... Disini..."


Jas.


Jas itu... Jas itu ada disini..?


Tangan gemetar ketika meraih sebuah jas  yang terjatuh di dekat kursi yang mengikatku. Jas itu masih utuh, hanya sedikit bagian lengannya saja yang menghitam karena terbakar. Aku lantas melingkupi tubuhku dengan benda itu, membuatku tenggelam karena ukurannya yang terlampau besar.


Kuharap ini bisa sedikit memberi perlindungan.


Aku ingin hidup. Aku harus hidup.


Aku harus hidup untuk menemukan "kebenaran itu"!


Berdiri dengan kaki gontai. Ku tatap kembali pintu kamar dengan penuh amarah. Merasakan pintu itu seakan mengejek ke arahku dan mendoakanku agar mati terpanggang.


"Aku nggak akan mati seperti ini, brengsek!"


Tap tap tap--


BRAKK!!


Bahu yang terbalut jas bertabrakan dengan pintu. Begitu keras hingga terasa kesemutan. Pintu kamar masih tak bergeming. Namun aku kembali mengulanginya. Menarik langkah kebelakang sebelum menghempaskan tubuh ke arah pintu lagi.


BRAK!


"Buka!"


BRAK!


"Cepat terbuka!"


BRAK!


"Aku nggak mau mati disini!"


Ctass--


"Aku akan hidup!"


BRAKKK!!


BWOOSHHH!!


GRUDUK! GRUDUK!


Aku terhempas hingga menabrak pagar ketika pintu kamar berhasil terbuka. Langit-langit kamar tiba-tiba rubuh dan menimpa lantai kamarku dengan begitu dramatis. Aku hanya menatapnya dengan mata memburam karena abu yang mengepul dari dalam.


Aku berhasil... Aku berhasil keluar...


Aku selamat--


Mungkin terlalu cepat menyimpulkan membuat napasku tercekat seketika.


Tidak mungkin... Apinya.. Apinya sudah menyebar ke bagian bangunan lainnya!


Aku tak dapat menahan rasa terkejutku. Saking syoknya suaraku bahkan tak dapat keluar. Menatap sekeliling dengan penuh kengerian. Bangunan kos tiga lantai ini telah terlalap api seluruhnya dari bawah hingga ke atap. Tak ada yang tersisa, api berkobar ganas dan membakar seluruh tempat yang belum terjangkau.


Di luar langit telah menjadi gelap. Orang-orang di depan pagar berkumpul dengan penuh keributan. Menatap kemari dengan wajah penuh kengerian. Suara sirine dari mobil pemadam kebakaran terdengar lamat-lamat, pertanda bantuan datang.


Tapi semua sudah terlambat.


Semua sudah terbakar.


"Ibu... Hiks... Ibu...."


Aku menoleh ketika mendengar suara itu.


Seorang anak kecil, mungkin berusia lima tahun terduduk di depan pintu kamar yang mengobarkan api kemerahan. Sembari mendekap sebuah boneka kucing, menangis, memanggil orang tuanya dengan berlinang air mata.


"Buka bu..."


Baru saja aku ingin memanggilnya ketika salah satu pintu dari kamar kos paling ujung tiba-tiba terbuka. Sesuatu menyembul.


Sebuah tangan-- entah apa aku bisa menyebutnya tangan-- berwarna hitam dengan bentuk seperti pisau dapur. Memberi bekas sayatan pada tepi pintu kayu. Lalu sosok bertubuh hitam setinggi lebih dari dua meter keluar dari sana. Tubuhnya yang besar menyentuh langit-langit dan tampak seperti kobaran api hitam. Kakinya lebih panjang dari tubuhnya dan tampak seperti kaki belalang. Kepalanya bulat dan dia seperti mengenakan topeng berwarna putih yang tampak retak-retak.


Sosok itu menatap ke arahku dengan mata berwarna merah menyala bagaikan laser. Tubuhku seketika membeku dan aku jatuh terduduk dengan lemas. Rasa ngeri menjalar ke sekujur tubuh hingga membuat rahangku bergetar. Tekanan berat yang ku rasakan seperti memerintah ku untuk berlutut hingga mati.


Apa-apaan ini? Apa sebenarnya sosok itu?!


Ketika sosok itu beralih dan menyeringai keji, seluruh tubuhku menggigil dan otomatis mengikuti ke arah fokusnya.


Tidak--


Kakiku yang gemetar ku paksakan untuk bangkit ketika sosok itu mulai bergerak sembari mengangkat cakarnya. Ketakutan ku tekan sedalam mungkin dan aku berlari dengan sekuat tenaga sembari mengulurkan tangan ketika sosok itu mengarahkan cakarnya pada gadis kecil yang terduduk linglung di depan pintu.


"AWASS!! "


ZRAKK!!


Cakar itu melayang mengenai pintu dan membelahnya menjadi dua. Kobaran api lantas melesat keluar bagaikan letupan-letupan kecil. Aku berhasil mendekap gadis itu dan tengkurap untuk menghindari cakarnya yang benar-benar sangat tajam. Menatap bekas potongan di pintu dengan rasa ngeri yang makin menjadi.


Gila. AKU BENAR-BENAR BAKAL MATI KALAU SAMPAI KENA ITU!!


Belum juga rasa terkejut ku selesai, sosok itu sudah mengangkat cakarnya kembali. Kali ini dia menyasar ke arahku. Aku lantas berguling sembari mendekap gadis kecil sebelumnya dan cakar itu menancap dalam ke lantai. Aku bangkit bersama gadis dalam dekapan ku dan menatapnya dengan jantung berdebar-debar gila.


"Monster."


Satu kata itu lolos dari bibirku. Makhluk hitam pekat setinggi dua meter lebih dengan tubuh berkobar-kobar seperti api hitam itu terkikik. Ia mencabut cakarnya dan tampak asik menjilati cakar tajam itu dengan lidah menjulur panjang seperti ular. Aku mundur dengan segala perasaan mencekam dan menguatkan diri yang gemetar ketakutan.


Bagaimana caraku kabur darinya?!


Aku sedikit mengalihkan fokus ketika sosok dalam dekapanku bergerak,


"Kak... Itu apa?" Tanyanya dengan wajah polos. Aku menggeleng dengan wajah serius, "Kakak Nggak tahu. Tapi dia berbahaya. "


"Dia jahat? "


Aku kembali mengangguk. Tangan kecil meremat kemeja kerja ku yang telah kotor oleh arang, mata besar itu berkaca-kaca dan seperti akan menumpahkan air mata,


"Ibu... Ibu masih di dalam kak--hiks... ibu dalam bahaya..."  Tangisnya sembari menunjuk lemah ke arah pintu yang telah terbelah menjadi beberapa bagian. Aku menggigit bibir,


Ibunya terjebak di dalam. Dan dia... Mungkin sudah mati.


Aku memat pundak gadis kecil itu. Menatapnya dengan sendu namun coba memberi senyum sebisaku, "Dek, tadi ibu pesen sama kakak katanya suruh bawa kamu kebawah. Ibu udah nunggu disana."


"Tapi tadi ibu teliak dali dalam..."


Aku menggeleng, "Ibu sudah dibawah kok. Kamu ikut kakak ya? Kita bakal pergi dari sini. "


Gadis itu tampak ragu. Menatap ke arahku, kemudian ke arah pintu dari kamarnya dan tampak ketakutan ketika melihat sosok hitam yang masih bergerak-gerak aneh di depan pintu kamarnya. Aku lantas menghalangi pandangannya dengan jas abu-abu kebesaran yang kukenakan.


"Percaya sama kakak. Kita pasti akan selamat. Ya? "


Mata lugu itu bergetar, sebelum akhirnya mengangguk lemah dan mengalungkan lengan kecilnya ke leherku.


"Iya. Keyla pelcaya sama kakak... "


Satu masalah beres. Tapi yang di depanku ini... Apakah aku bisa melewatinya untuk ke tangga bawah?


Aku memasang kuda-kuda ketika sosok itu berhenti bergerak-gerak aneh dan kembali berfokus ke arahku. Aku dapat merasakan sesuatu yang aneh darinya. Seakan perasaan-perasaan tak mengenakkan ini berbicara padaku.


Dia akan menerjang ke arahku.


Dan benar saja. Satu detik setelah pikiran itu terlintas, dia langsung melompat seperti belalang untuk menerjangku.


ZRAAATTT--


"Hieehkk--" Aku menunduk untuk menghindari cakarnya dan dia hanya menggores dinding kamar kos. Itu adalah kesempatan untukku bisa kabur darinya! Aku langsung berlari sekuat tenaga ke arah tangga di ujung kamar kos--


"Ap-- khh!!"


Namun langkahku terhenti. Aku menatap ke bawah dengan dipenuhi perasaan mencekam. Tangga telah hancur dan lantai bawah telah dipenuhi kobaran api tanpa adanya celah untuk kabur.


"Kakak? Kenapa belhenti?"


Aku segera tersadar dan tersenyum pada gadis yang ku gendong dengan keringat dingin mengucur deras, "Enggak. Kamu diam aja ya. Pokoknya apapun yang terjadi, kakak pasti akan melindungimu."


Ada binar dalam sepasang bola mata kanak-kanak itu. Binar yang membuat dadaku sesak hingga nyaris menahan napas. Aku harus minta maaf padanya setelah ini. Tapi setidaknya... Aku harus bisa selamat bersamanya untuk bisa menebus semua ini.


Aku berbalik dan sosok itu terlah berjalan kembali ke arahku. Entah apa yang terjadi tapi kini dia tertawa-tawa dengan suara berderit seperti gesekan lempengan logam. Aku mengernyit karena merasa seperti gendang telingaku di korek-korek oleh lidi.


Tangga kebawah telah hancur. Lantai dua dan satu pasti juga sudah terbakar hebat. Kalau tetap di sini mahluk hitam itu akan mencabik ku! Atau aku akan lebih dulu tertimpa reruntuhan atap!


Kalau begitu... Hanya ada satu cara. Cara yang menyakitkan dan tetap tak bisa menjamin hidupku.Tapi jika tak kucoba... aku nggak akan tahu.


Menatap ke luar dengan jantung berdebar. Mengukur jarak antara diriku dan sosok hitam itu. Melihat lebih cermat segala pergerakannya. Kaki naik ke atas pagar pembatas lantai tiga dan menatap permukaan tanah di bawah yang bagaikan melambai dan memerintahku untuk segera turun.


Pelukanku pada si gadis kecil mengerat.


Aku harus tetap hidup.


BUOOMM!! GRASAKK!!


Tepat ketika suatu ledakan terjadi, sosok itu menerjang kembali.


Dan aku melompat dari lantai tiga dengan punggung menghadap permukaan tanah.


ZRATT--


Yang ku lihat terakhir kali adalah cakar yang menembus udara kosong dan atap yang runtuh.


GRASAKK--


[Bersambung]