THE TRUTH SEEKERS

THE TRUTH SEEKERS
[0.0 ACT]



[PROLOG]


"... Shit, bocah ini--"


Sepasang hazel itu memicing tajam. Mematri pada satu sosok yang berdiri di depan mata. Menjilati jemari yang berlumuran cairan merah kental dengan penuh keasyikan. Senyum manis yang menyirat kengerian terpasang di wajah polos yang tak seharusnya ada. Membersihkan sisa darah yang tertinggal di sudut bibirnya dengan gerakan lidah menggoda. Mata berwarna heterocrome-- kanan emas dan kiri merah delima-- memandang sosok jangkung yang terduduk di atas ranjang sembari memegangi bagian pundak kanannya yang berdarah.


"Hei paman~"


Panggilan mengalun dari sepasang bibir yang tak lelah mengukir senyum. Berjalan mendekati ranjang yang berderit ketika dirinya turut naik. Mencondongkan tubuh yang jauh lebih kecil ke lelaki kekar didepannya. Menyentuh wajah berahang tegas dan mengunci tatapan mereka.


Sungguh mata yang indah, namun begitu mematikan terasa.


"Benarkah kamu bisa mambantuku?"


Sepasang heterochrome berkilat seram, menyalurkan getaran aneh yang sanggup membuat napas sesak. Tubuh kekar didorong pelan. Jemari yang masih terbalut cairan merah mulai bergerilya di sekitar pundak dan dada yang berdebar. Menodai kemeja putih lusuh dengan warna merah yang kentara. Lalu dengan berani mengusap bekas luka sayatan di sudut bibir.


Namun tubuh kecil itu didorong kembali. Tangan kekar dengan cekatan mengunci pergelangan tangan di atas kepala dan menekannya sedemikian rupa hingga tak bergeming. Mengurung sosok itu di bawah tekanannya yang lebih mendominasi. Bibir tipis mengukir senyum sinis. Sepasang hazel memandang penuh minat pada pemuda di bawahnya yang tampak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi,


"Pantas saja kamu langsung berlari kepadaku hari itu. Ternyata 'masalahmu' jauh lebih merepotkan dari yang kuduga."


"Bagaima--ummpphh!!" Kalimat protes terbungkam ketika dua buah jari tiba-tiba melesak masuk ke dalam mulutnya. Menekan lidah dan membuatnya hampir tersedak.


Karena Razark bahkan tak memerlukan kata-kata 'beracun' yang keluar dari makhluk 'busuk' itu.


"Kamu berhutang padaku 'lebih' untuk ini, Langa."


......


[ZERO ACT]


Kamis, 28 Juni 20xx. Pukul 20.45


"Baiklah pemirsa, seperti yang anda lihat, korban sudah mulai bereaksi!"


Sosok itu menggeram ganas. Cukup keras di tengah panggung berukuran sedang yang dibiarkan temaram. Bergerak-gerak kaku dalam posisi merayap bagaikan hewan melata berkaki empat. Menatap nyalang ke arah pria berjanggut lebat yang berdiri dihadapannya.


Pembawa acara, Host berjas abu-abu kembali berseru dari microphone di tangan,


"Sekarang kita saksikan aksi 'Exorcisme' yang akan dilakukan Ki Sekti Sekar Aji!"


Suasana berubah senyap ketika sosok berjanggut mulai beraksi di atas panggung. Alunan musik yang diputar dalam nada lirih membuat suasana bertambah mencekam. Sosok yang dipanggil Ki Sekti mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian serba hitam yang ia kenakan. Sebuah kalung berbandul batu delima dan botol kaca seukuran ibu jari berwarna putih keruh.


Mulut berkomat-kamit, menggumamkan sesuatu dalam bahasa yang sulit dipahami. Sosok wanita dalam terusan putih makin kuat meronta. Menggeram dan menatap nyalang pria berjanggut yang tengah sibuk membaca mantera. Sebelum akhirnya si pria mendekat dan menyiramkan air pada botol kecil ke kepalanya,


"Wahai makhluk yang bersemayam di dalam tubuh ini, kuperintahkan untuk keluar darinya!"


"UWAAAGGHH!!"


Raungan kesakitan terdengar keras memenuhi ruangan. Tubuh si wanita melengkung kesakitan. Lelaki berjanggut memasukkan tangannya ke dalam baju si wanita-- yang sebenarnya cukup tak senonoh. Wajah mengeras bagai menarik sesuatu yang teramat kuat. Bersamaan dengan tubuh si wanita yang melengkung condong ke arahnya. Geraman kuat adalah pertanda berakhirnya aksi si pria berjanggut lebat. Si wanita pingsan ditempat dan ditidurkan pada matras.


“Semoga yang Kuasa selalu melindungi kita.”


Sorakan-sorakan keras terdengar merebak di dalam studio. Bermacam pujian dilemparkan atas dasar takjub yang teramat sangat. Tak sadar atau mungkin memang lupa bahwa yang dilakukan hanyalah sebuah rekaan. Sosok yang akrab dipanggil Ki Sekti itu tersenyum lebar penuh bangga. Sorakan yang hanya ditujukan untuknya-- untuk keahliannya


Kembali, ia berhasil melakukan aksi exorcisme tanpa kesulitan berarti.


Namun ia tak sadar bahwa apa yang dilakukannya ini justru mengundang sesuatu yang jauh lebih “berbahaya". Seseorang menarik sudut bibir dan bangkit dari kursi penonton.


"NGIIKKK--" Dengingan michropohone yang terjatuh menyita perhatian. Ki Sekti menoleh kebelakang, dan tepat saat itu seseorang tiba-tiba menerjangnya. Seluruh penonton dan staf kamera tampak terkejut melihat ke arah panggung.


Si Host Pembawa Acara tengah mencekik si Paranormal.


“O-oi Henry! Apa yang--" Belum selesai protes diucapkan, tubuh si pria berjanggut tiba-tiba dibanting dengan kekuatan yang sungguh tak terduga. Menimbulkan suara debumam keras dan tersalurkan dari microphone di sampingnya. Seisi studio dibuat gempar. Sosok yang dianggap sebagai 'paranormal' terkenal itu telah terkapar di lantai panggung dengan hidung dan kepala berdarah.


"Hihihi... GYAHAHAHA!!" Suara tawa menjengkelkan tak berakhlak merebak ke seluruh studio. Tawa yang penuh kekejaman, namun juga meremehkan dan merendahkan di saat bersamaan. Penonton dan staf dibuat terkejut dan memekik untuk kedua kalinya ketika sosok Ki Sekti yang terbaring di lantai panggung tiba-tiba di pukuli dengan keji. Gumam kesakitan terbungkam. Darah terciprat menodai pakaian dan lantai.


Dan mereka yang menyaksikan hanya terdiam. Masih tetap merekam adegan di panggung tanpa sadar bahwa sosok Host acara yang tengah diliputi kegilaan itu benar-benar "kerasukan" Dan berniat membunuh si "Paranormal".


"Berhenti memukul, Henry! kamu sudah sinting ya?! Hentikan itu!" Seseorang yang sadar akan bahaya itu berteriak dari kursi di dekat kamera utama-- sang sutradara acara yang sudah berwajah pucat adanya. Namun seruannya diabaikan. Tangan yang telah ternoda oleh darah masih terus memukuli sosok paranormal yang sudah tak sadarkan diri. Terus memukul sembari terkikik senang.


"OI HEN--"


"Diam babi tamak."


Rasa ngeri menjalar ke seluruh isi studio. Ketika Si Host berhenti memukul dan menunjuk ke arah si sutradara dengan jari tangannya yang kurus dan berkuku panjang. Memerangkap sosok itu pada sepasang mata kelam yang memancarkan kematian.


"Diam di sana. Aku akan 'memakanmu' setelah ini. Kemudian--" Ia beralih ke arah penonton setelahnya, "Akan kubuat tempat ini menjadi sarang yang penuh darah dan daging manusia... GIHIHIHI .... GYAHAHAHA!!"  Tawa semakin menjadi, menggema, membuat penonton dilanda kepanikan. Namun ada seseorang disana yang sama sekali tak merasa gentar dengan semua kengerian itu,


"Oi, hentikan itu, son of b*tch."


Tidak. Bukan si sutradara yang terpantul di mata berwarna kelam itu. Melainkan sosok dalam balutan mantel berwarna mustard yang berdiri menjulang dibelakang. Si sutradara sendiri juga tampak terkejut ketika melihat seseorang berada di belakangnya.


"Gyahahaha!! Kamu pikir siapa kamu memerintahku seperti itu, hey manusia dungu?!"


Hinaan di balas senyum sinis nan meremehkan. Ketika sepasang kaki itu melangkah, seluruh kamera yang sebelumnya menyorot ke arah panggung tiba-tiba saja mati. Bahkan handphone yang dibawa penonton juga ikut mati. Lampu tampak berkedip kedip seperti kehilangan dayanya.


Ketika ia menapak pada lantai panggung tanpa suara, seringai di wajah Host itu menghilang.


"Bukankah seharusnya kalian tidak menyiarkan adegan seperti ini hm? Apa kalian pikir ini semua hanyalah bohongan?"


Iris hitam melirik dari balik helaian rambut awut-awutan ke arah sutradara acara yang kembali merasakan ngeri di sekujur tubuhnya. Dan tepat saat itu, seisi studio diguncang hebat,


"Cepat keluar dari sini, dasar orang-orang bodoh."


Bagaikan perintah mutlak, tanpa berpikir panjang orang-orang di dalam kemudian bangkit dan berlarian keluar studio. Kameramen, sutradara acara dan para staff lainnya juga meninggalkan tempat itu tanpa menoleh kebelakang sekalipun. Sosok Host yang tengah kerasukan hanya menatap kepergian orang-orang tanpa berbuat sesuatu.


Lebih tepatnya ia tak bisa berbuat sesuatu.


Ia ingin mengacau dan menyebarkan kesan ngeri lebih jauh, lebih banyak. Akan tetapi tubuhnya bahkan tak bisa digerakkan. Bagaikan terkekang oleh rantai yang membelit tanpa celah. Bagaikan dipaksa berlutut oleh suatu kekuatan tak kasat mata yang menambah gravitasi pada tempatnya berpijak. Lalu perasaan merinding yang 'baru' pertama kali ia rasakan akan tetapi bagai memberi alarm bahaya di kepalanya.


"Brengsek... Apa yang kamu lakukan padaku manusia dungu?" Geramnya. Pria dihadapannya mengeluarkan sesuatu dari balik mantel hitamnya. Sepasang manik kelam membola penuh kengerian.


"Be-benda itu--"


Sebuah benda metalik laras panjang di arahkan ke kepala Sosok yang berlutut. Mata di balik helaian hitam  berkilat penuh kuasa,


"Wish to God, and Say Goodbye, the EVIL."


DOORR!!


......


"Tch, sudah kuduga."


Pria itu berdecak. Tangan bergerak, menutup kembali kancing pakaian seorang wanita dalam balutan dress putih kapur. Raut kekesalan tampak jelas pada wajahnya yang tertutup helaian rambut.


"Sepertinya aku harus membawanya juga."


Terburu, lelaki itu mengangkat tubuh si wanita dan menaruhnya di pundak kanannya. Sedangkan tangan kiri telah 'menenteng' sosok Host yang sebelumnya kerasukan. Kaki dalam balutan sepatu hitam berjalan  meninggalkan panggung yang bagai baru dilanda angin topan.


Dan meninggalkan si paranormal yang tak sadarkan diri begitu saja.


Ia harus cepat pergi atau bakal ada masalah nanti--


"...maaf pak.."


Duk!


"..duh..."


Sesorang menabrak punggungnya tepat ketika dirinya menghentikan langkah. Lelaki itu berbalik. Melalui sepasang hazel itu dilihatnya seorang pemuda dalam balutan hodie hitam-merah tengah mengusap-usap hidungnya.


"Apa maumu nak?" Balasnya sinis. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan dengan wajah gugup melangkah mundur sebelum akhirnya kembali menundukkan kepala,


"Ma-maafkan saya karena menabrak anda." Balasnya tergagap di awal. Pria itu memutar bola matanya malas kemudian membalas, "Kalau cuma itu yang mau kamu katakan, lebih baik kamu pergi."


"Eh, t-tunggu!" Pemuda itu panik dan tanpa sadar memegangi lengan mantel si pria jangkung, "Sebenarnya... Be-begini... Ada yang ingin saya bicarakan dengan--"


"Nak, aku tak punya waktu untuk meladenimu--"


"Sebentar saja! Saya mohon..." Pemuda itu merengek seperti anak kecil. "Saya melihat anda tadi... Di dalam... Dan apa yang anda lakukan ketika paranormal itu--"


"Hey nak--"


Deg!


Si pemuda berdiri kaku. Benar-benar menjadi takut ketika melihat sorot tajam penuh tekanan yang diberikan oleh pria jangkung dihadapannya itu. Intimidasi tak biasa dengan sukses membuat si pemuda diselimuti perasaan mencekam yang sanggup membuat wajahnya memucat.


"Jangan pernah katakan soal apapun yang kamu lihat tadi. Mengerti?"


"Tapi--"


"Pulanglah dan tutup mulutmu. Lupakan apa yang kamu lihat di dalam."


Melepas tangan yang memegangi mantel dengan paksa, si pria jangkung melenggang begitu saja bersama dua orang pingsan yang di bopongnya. Meninggalkan anak muda itu yang tengah memasang raut penuh kekecewaan.


.........