THE TRUTH SEEKERS

THE TRUTH SEEKERS
CHAPTER 5 : Give and Take



~Ketika Tuhan mencampakkanku kau datang menolongku dari pelukan kematian~


THE SEEKERS 5 : Give and Take


Tangan bergerak meraih lengan pintu, memberi sedikit tekanan dan mendorongnya. Kaki melangkah keluar, menapak lantai abu-abu cerah yang tak ternoda. Sedikit menahan perih di bagian telapak yang terluka. Mata yang masih menampakkan sisa-sisa kantuk beredar ke sekeliling mengamati sekitar.


Bagiku yang biasa tinggal di tempat kos berukuran 4x5m, tempat ini jadi terasa sangat luas. Dengan nuansa putih-abu yang dipadukan dengan tatanan keramik bercorak abu-abu abstrak. Sofa-sofa tertata rapi di tengah ruangan di hadapan meja kaca dengan vas berisi bunga hidup. Ada televisi besar di sudut lain yang pastinya akan sangat asik dijadikan tempat nonton bareng. Dapur yang tampak seperti bar kafe dengan peralatan memasak komplit. Ada beberapa ruangan lain juga yang belum coba kumasuki dan bahkan masih ada tangga untuk naik ke atas. Langit-langit rumah begitu tinggi dan membuat kesannya jadi semakin luas.


Melirik jam dinding, aku terhenyak sejenak.


Pukul 11 siang. Baru kali ini aku tidur selelap ini. Mungkin juga karena terlalu lelah dan efek dari kasur empuk yang memanjakan tubuh membuatku bisa tidur lebih dari 14 jam. Kakiku melangkah dengan sedikit tertatih ke sisi lain yang tertutup tirai berwarna mustard. Menyibakkan tirainya dan seketika cahaya matahari pagi menyapa diriku. Pintu kaca sedikit berembun kudorong hingga terbuka. Aku berjalan ke arah balkon. Berpegang pada besi yang membatasi diri dengan udara bebas. Mengamati keadaan luar di bawah terik matahari yang bersinar tanpa gangguan awan.


Entah kenapa aku merasa rindu. Rasanya sudah sangat lama tak merasakan hangatnya mentari seperti ini. Lama tak merasakan udara seperti ini. Agak disayangkan karena pemandangan yang menyapa adalah bangunan-bangunan bertingkat dan beberapa perumahan penduduk. Tapi cukup asyik memandangi semuanya dari lantai ini.


Yang lebih membuat tenang, tak ada gangguan sama sekali dari semenjak aku masuk ke sini.


Ah iya, ruangan ini berada di lantai tujuh--tidak dihitung dengan lantai bawah tanah tempat sebelumnya aku disekap--di introgasi lebih tepatnya. Aku nggak tahu gedung apa ini karena ukurannya juga besar dan terdapat banyak jendela di lantai-lantai bawahnya. Tapi tempatnya cukup tenang karena mungkin letaknya di daerah pinggir kota.


"Rasanya masih seperti mimpi, tapi--" Aku meremat lengan kemejaku, pandanganku menjadi suram, "Semuanya kenyataan."


Ingatanku bagai kembali pada kejadian seminggu lalu. Memutar kembali rentetan tragedi yang menimpaku. Kebakaran malam itu. Gadis kecil yang gagal ku tolong. Hakim yang menjatuhiku vonis mati. Aku yang menjadi gila dan berniat mati. Lalu--


Paman yang datang untuk membantuku.


"Uuhh--" Aku mengernyit ketika rasa nyeri di daerah punggungku dan kakiku kembali. Akhirnya rasa sakit karena sekian lama diikat dan tidur di penjara benar-benar muncul ke permukaan. Seluruh tubuhku seakan menjerit karena tak mendapat tempat layak untuk beristirahat. Bekas melepuh karena luka bakar di kakiku juga masih terasa perih hingga saat ini. Aku bersyukur karena setelah orang itu 'membeliku', dia cukup berbaik hati membiarkanku tidur di salah satu kamar du rumahnya yang memiliki kasur empuk sampai aku tidur terlampau lelap dan bangun kesiangan.


Mengabaikan sejenak fakta bahwa dia membuatku berhutang sebanyak hutang negara--


"Kalau dipikir lagi gimana caraku membayar hutang padanya?" Gumamku sembari mengusap-usap lengan. Memikirkan nominal yang disebutkannya kemarin saja langsung membuatku lemas ingin terjun bebas. Aku bahkan tak yakin apakah aku bisa melunasinya dengan bayaran dari bekerja di restoran.


Nggak. Nggak. Jelas mustahil. Bahkan kalaupun aku bekerja hingga seumur hidup. Mungkin semua baru bisa terbayar lunas jika aku bekerja selama tiga ratus tahun--


Memikirkannya saja membuatku bergidik ngeri.


Grukkk~


"Aku lapar..." Gumamku, memegangi perut yang baru saja berbunyi. Menatap kembali ke dalam-- menuju satu tempat yaitu dapur. Seingatku dari kemarin bahkan aku belum makan. Waktu dia mendatangiku, itu sebenarnya mendekati jam makan siang tapi aku keburu di tarik keluar dari penjara. Dan sekarang aku benar-benar kelaparan sampai berkeringat dingin.


Apa aku memasak saja? Tapi apa dia akan memperbolehkanku menggunakan dapurnya? Apa lagi sepertinya dia sedang nggak di rumah. Dia meninggalkanku di sini tanpa berpamitan begitu.


Aku cemberut. Mungkin aku harus menunggu sampai dia pulang...


Ketika memikirkan hal itu, tiba-tiba aku mendengar suara pintu yang terbuka. Aku lantas berbalik masuk ke dalam dan menemukan sosok si pemilik rumah telah kembali sembari menenteng tas laptop dan beberapa barang bawaan dalam tas kertas. Aku berjalan tertatih ke arahnya.


"Se-selamat siang. Biar saya bantu bawakan barang-barangnya." Aku menawarkan diri untuk membantu,


"Orang sakit diam dan duduk saja." Jawabnya, menolak bantuanku mentah-mentah. Dia masuk melaluiku dan segera duduk di sofa setelah meletakkan barang-barang bawaannya di atas meja.


"Kemari."


Aku mengikuti gesture nya dan segera mendekat. Dia mengambil salah satu tas kertas dan menyodorkannya padaku.


"Duduk dan makanlah."


Aku berkedip. Menatap tas yang berisi kotak makanan lengkap dengan minumannya, kemudian menatapnya lagi.


Dia sungguh membelikanku makanan?


"Sa-saya.. Nggak usah..."


"Kubilang, duduk dan makanlah."


Aku bersimpuh dengan anggun di depan meja dengan tubuh kaku.


Orang ini benar-benar menakutkan!!


Dia tampaknya tak peduli dan mengeluarkan laptop dari tas nya. Beberapa detik kemudian dia sudah sibuk mengetik- ngetik sesuatu di laptop. Aku hanya memandanginya, kemudian beralih pada makanan yang di berikannya padaku.


Mungkin ini bukan pertama kalinya aku makan makanan seperti ini. Tapi isinya benar-benar membuatku hampir meneteskan liur. Nasi bento, dengan lauk dan sayuran lengkap dihiasi sosis berbentuk gurita lucu. Ditambah dengan ayam katsu dan teh ocha berbau harum. Belum lagi ada ayam panggang dan juga susu botolan.


Perutku berbunyi kembali, tapi aku menahan diri. Aku merasa tak pantas mendapatkan ini semua dan kembali menatapnya,


"A-anda yakin memberi saya ini? E-ehm... Isinya terlalu banyak..."


"Itu porsi biasanya. Kalau nggak habis taruh saja di dapur."


"Tapi--"


Tek--


Dia berhenti mengetik dan melirik ke arahku dengan mata menatap tajam.


"Apa aku perlu menyuapimu seperti bayi supaya kamu mau makan?"


Aku langsung menggeleng dan memilih membuka kotak bentoku. Dasar pemarah sekali! Wajar kan bagiku kalau merasa nggak enak hati dalam posisi seperti ini? Apa lagi dia memberiku cuma-cuma dan menyuruhku makan sendirian...


Tapi-- astaga ini enak sekali! Aku pernah makan yang seperti ini sih walaupun jarang, tapi rasanya jauh berbeda. Nasi bentonya enak dan masih hangat. Sayurnya juga enak. Dan yang lebih ku sukai adalah ayamnya yang benar-benar empuk dan crispi. Aku merasa seperti ingin menangis setiap kali menyuap. Aku bahkan nggak memberi jeda dan terus menyuap sampai mulutku penuh.


Jarang aku bisa makan enak seperti ini...


Tiba-tiba aku merasa malu dan melirik ke arah pria itu. Dia tampak masih sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya dan kini telah mengenakan kacamata. Rambutnya diikat satu asal kebelakang dan rokok menyala terselip di celah bibirnya. Sesekali dia akan menyesap rokok kemudian menghembuskannya dengan nikmat dan membuang abu nya pada asbak. Dasinya sudah menghilang entah kemana dan lengan kemeja putihnya di gulung hingga ke siku. Wajahnya serius sekali, aku jadi merasa seperti mengganggunya hanya dengan makan di dekatnya.


Dia tampak seperti seorang pekerja kantoran alih-alih paranormal... Apa mungkin aku salah mengenai dirinya?


"Ada apa?"


Aku tergagap ketika dia tiba-tiba bersuara, "A-anu-- Anda sudah makan?" Tanyaku.


"Sudah."


"Ehm... Kapan?"


"Tadi."


Jawaban yang singkat, padat, dan jelas.


Uhh.. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku tanyakan. Tapi aku takut untuk bertanya. Dia tampak sedang sibuk dan aku bahkan nggak tahu harus mulai bertanya dari mana. Yang ku lakukan hanya menyuap nasi dan sesekali melirik ke arahnya.


Kulihat jemarinya mengetik enter dan gerakannya terhenti. Dia menarik kecamatanya dan meletakkannya di samping laptop.


"Kamu nggak perlu khawatir soal identitas. Aku sudah mengurus semuanya dan itu akan jadi dalam beberapa hari lagi."


Aku sedikit terkejut ketika dia mulai bicara, "Be-begitukah? Syukurlah... Te-terima kasih..."


"Untuk sementara lebih baik kamu bersembunyi paling tidak sampai kasus Kebakaran itu mereda."


Aku menundukkan kepalaku, "Ya, saya mengerti. Kalau saya keluar dalam kondisi seperti sekarang, orang-orang akan menganggap saya buronan."


Dia hanya bergumam dan menyesap rokoknya kembali. Dia sedikit mengubah posisi duduknya dan menatap ke arahku, "Kamu bisa bicara jika ada hal lain yang ingin kamu tanyakan."


Aku mendadak gugup dan meletakkan sendokku. "I-itu... Jika anda sudah nggak sibuk, ada banyak hal yang ingin saya tanyakan..."


"Tanyakan saja kalau begitu."


"Kalau begitu, maukah anda berjanji pada saya kalau anda akan menjawab semua pertanyaan saya?"


Aku tahu permintaanku agak aneh dan mungkin berlebihan-- terlihat dari sebelah alisnya yang terangkat heran itu. Aku sudah siap jika saja dia akan menyemburkan sindiran, namun tanpa kuduga dia menjawab dengan satu kata persetujuan,


"Baiklah."


Mungkin ini adalah kesempatanku untuk mengetahui semua yang menimpaku selama ini. Jadi aku pun mulai bertanya padanya,


"Sebelumnya, bolehkah saya tahu siapa sebenarnya anda?"


Dia tampak menyeringai kecil kearahku. "Jadi kamu lebih penasaran padaku dari pada apa yang terjadi pada dirimu huh?"


"Bukan begitu! Saya hanya... Hanya ingin tahu. Mungkin anda tidak ingat, tapi saya ada di studio xx pada tanggal 22. Waktu itu anda tiba-tiba muncul dan menghentikan si Host yang kerasukan. Saya melihat semuanya sampai anda pergi dari studio."


"Ah, jadi kamu bocah waktu itu ya?" Ujarnya, tampak mulai mengingatku. Aku mengangguk mantap, "Ya. Saya sempat mengajak bicara anda karena... Saya pikir anda bisa membantu saya. Saya telah melihat anda mengusir hantu hitam itu. Lalu saat di restoran, anda bahkan membantu saya untuk kembali tenang ketika melihat kecelakaan waktu itu. Jadi saya pikir anda adalah seorang pengusir setan yang hebat..."


Dia membuang abu rokok ke asbak,


"Sepertinya kamu salah paham nak." Ujarnya, aku mengernyit, "Maksudnya?"


Dia pun mulai mengungkap jati dirinya yang selama ini terus menjadi misteri bagiku,


"Namaku Razark Shiryuu. Dan aku bukanlah seorang paranormal atau exorcist seperti yang kamu pikirkan."


"Eh? Bukan... Paranormal dan exorcist? La-lalu...?"


Dia menyeringai dengan rokok terselip di celah bibirnya. "Aku seorang Penjarah Makam."


"Aku seorang Penjarah Makam."


Aku berkedip dua kali.


"...... Eh--"


"Eehhh?! Serius?!" Kalimat itu langsung terlontar dari mulutku tepat setelah mendengar perkataannya. Tersadar dengan tindakanku, aku lantas menutup mulutku dengan kedua tangan dan menjadi pucat.


Bodoh banget! Kenapa aku teriak begitu padanya duh! Ta-tapi aku benar-benar kaget astaga! Penjarah makam katanya? Maksudnya kayak Tomb Raider gitu?


Dia tampak tak peduli dan mematikan rokok pada asbak. Aku kembali bertanya, "A-anda benar-benar penjarah makam? Bukan.. Paranormal atau Exorcist?"


"Bukan."


"Kalau anda penjarah makam, lalu apa yang anda lakukan di studio malam itu? Dan bahkan... Waktu itu anda juga menembak sesuatu berwarna hitam yang--"


"Apa kamu pikir penjarah makam itu hanya berkeliling di sekitar Makam kuno dan mencuri harta peninggalan milik orang mati?"


Aku tak dapat mengelak bahwa itulah yang terlintas di pikiranku. Dia mendengkus.


"Kamu nggak perlu tahu detilnya, tapi alasan kenapa aku bisa ada di studio waktu itu masih berkaitan dengan pekerjaanku. Dan soal makhluk menjijikkan yang kutembak waktu itu-- yang berwarna hitam menggelikan-- orang-orang biasa menyebutnya setan, hantu, atau iblis. Tapi dalam duniaku, makhluk itu biasa disebut 'Unliving'."


"Yang... Tak hidup?"


"Ya. Makhluk yang tak hidup. Berasal dari dasar kegelapan dunia lain. Makhluk yang nggak seharusnya muncul di dunia ini. Eksistensinya lebih dari hantu atau Ghoul, tapi tak sebanding dengan para Vampire Sosok hitam itu hanyalah budak yang diperintah oleh seorang Necromancer. Kamu bisa menyebutnya Nazgulez."


Aku cengo. Ghoul? Vampire? Terus Nazu-- apa tadi?


"Kamu nggak perlu mengingatnya untuk sekarang." Katanya. Aku lantas menunduk karena malu. Dia mengeluarkan rokok kedua dari saku celana dan menyulutnya. "Intinya makhluk hitam itu adalah musuh yang harus dimusnahkan. Kalau nggak bakal nyusahin misi nantinya."


"Ehm lalu... Apakah anda juga memiliki kemampuan untuk melakukan semacam Exorcisme?"


"Anggap saja begitu."


"Kalau begitu... Maukah anda membantu saya?"


Dia terdiam. Aku melanjutkan dengan perasaan berdebar-debar.


"Seperti yang anda tahu, ini mengenai j


Kejadian di restoran waktu itu. Saya mungkin salah mengira bahwa anda seorang paranormal, tapi anda bahkan bisa melakukan hal seperti pengusiran. Anda juga tahu bahwa waktu itu saya ketakutan sampai nggak bisa bergerak. Sejak saat itu, saya mencoba mencari anda untuk meminta bantuan." Ujarku. "Aku... Adalah anak Indigo. Aku bisa melihat hantu, merasakan mereka, berkomunikasi dengan mereka, bahkan lebih jauh lagi-- aku bisa menyentuh mereka." Aku berhenti sejenak, melihat respons yang mungkin akan dikatakan oleh pria itu. Namun tanpa kuduga dia diam dan menyimak ceritaku. Jadi aku merasa bahwa aku bisa menceritakan semuanya padanya.


"Aku sudah memiliki kemampuan ini sejak aku bisa mengingat untuk pertama kali. Dan gara-gara itu, aku mengalami banyak kesulitan. Aku benci hantu dan makhluk-makhluk mengerikan yang sering kali kulihat. Dan lebih dari itu... Aku membenci diriku yang tak bisa lepas dari kemampuan mengerikan ini."


"Karena sering di ganggu, aku jadi penakut hingga sekarang. Tapi tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya terus berlari dan bersembunyi. Aku benci jika harus hidup seperti ini terus."


"Jadi kamu ingin memintaku untuk menghapus kemampuanmu itu?". Tanya pria itu dengan wajah serius. Bibirku bergetar.


Ini... Keputusanku.


"Tidak."


"Lalu?"


"Bisakah anda mengajariku untuk melawan mereka?"


"Apa?"


Aku sedikit terkejut. Untuk pertama kakinya kulihat ada perubahan ekspresi di wajah pria itu. Rokoknya bahkan nyaris terjatuh,


"Ehmm... Apa nggak mungkin? Bahkan.. Kalaupun nggak mungkin, paling tidak saya ingin minta saran agar bisa bertahan ketika melihat mereka. Supaya saya nggak lari waktu bertatap muka dengan makhluk-makhluk menyeramkan itu."


"Pfftt--bwahahaha!!" Aku terlonjak, tak mengira bahwa pria itu akan tertawa tiba-tiba seperti itu.


Apa aku sudah salah bicara?


"Seorang bocah penakut yang sudah lari dari kehidupan selama 19 tahun, kini akhirnya memilih untuk menerjang badai kehidupannya, huh?". Ada nada mengejek yang dapat kudengar, tapi yang dia katakan adalah kebenaran.


"Saya hanya berpikir tak ingin menyia-nyiakankehidupan kedua yang telah anda berikan ini." Balasku.


Tawanya mereda dan tiba-tiba dia menatapku dengan aneh. "Kmu serius ingin berjuang? Bahkan dengan semua hal mengerikan yang kamu lalui selama ini?"


"Ya. Saya ingin berjuang. Untuk saya sendiri dan orang-orang yang telah direnggut kehidupannya secara paksa. Bukankah anda sendiri yang bilang bahwa saya harus tetap hidup demi mengungkap semua kebenaran tentang insiden kebakaran waktu itu?"


Pria itu terdiam sebentar dan mematikan rokoknya lagi. Kini wajahnya benar-benar menjadi serius.


"Hey nak, ini sebuah peringatan. Setelah kamu mengetahui kebenaran-kebenaran ini dan mulai masuk ke duniaku, hidupmu akan benar-benar berubah. Kamu nggak akan bisa hidup dengan normal lagi."


"Dunia ini bagaikan tempat yang tercipta hanya untuk menyiksaku. Sejak awal aku memang tak bisa hidup dengan normal. Karena kemampuan ini-- aku sangat membencinya! Tapi--" Aku memperbaiki posisiku dan duduk bersimpuh di depannya, "Sekarang saya tak bisa terus mengutuk diri sendiri. Karena itu, saya mohon tolong ajari saya agar bisa hidup tanpa merasa takut pada dunia ini."


Inilah keputusanku. Jika dunia ini tetap sama, aku yang harus berubah. Untuk mengungkap kebenaran dan mengangkat fitnah yg diberikan padaku. Untuk nyawa orang-orang yang telah direnggut tanpa tahu apapun.


Hanya aku yang bisa melakukannya.


Matanya terpejam dan aku menunggu jawaban dengan harap-harap cemas, sebelum akhirnya dia berkata,


"Baiklah."


"Anda mau mengajari saya?"


Dia mengangguk. Aku bagai baru saja mendapat sebuah medali saking senangnya.


"Sebelum itu, aku ingin bertanya." Ujarnya, "Apa rencanamu setelah ini?"


"... Rencana?"


"Rencana hidupmu." Terangnya. Aku termenung mendengar pertanyaannya kemudian menjawab dengan lirih, "Saya belum merancang planning hidup untuk saat ini. Mu-mungkin besok setelah identitas baruku jadi seperti yang anda katakan. Karena bakal banyak hal yang harus saya beli untuk kebutuhan, ja-jadi... Untuk sementara jika tak keberatan maukah anda... Meminjamkan saya sedikit uang?"


Dia mengernyit, "Kenapa kamu meminta uang padaku?"


"Saya sama sekali nggak memiliki apapun saat ini. Saya perlu tempat tinggal dan uang untuk makan juga beberapa kebutuhan sekunder. La-lalu... Saya juga harus mencari pekerjaan untuk membayar hutang pada anda..."


Raut wajahnya berubah menjadi tak mengenakkan. Aku buru-buru melanjutkan kalimatku, "A-anda nggak perlu khawatir. Saya akan mengembalikan uang anda dan juga hutang dari hidup saya ini. Saya nggak akan lari kok! Saya pasti akan melunasi semuanya! U-untuk latihannya juga saya akan berkunjung setiap anda ada waktu."


Tak ada respons, dan aku mulai berkeringat dingin. Aku merasa Pria ini seperti koin yang memiliki dua sisi. Dia bisa tiba-tiba santai, tapi kemudian berubah menjadi menakutkan seperti sekarang ini.


"Tetaplah disini."


Aku mengangkat kepalaku, "...eh?"


"Kamu bisa tinggal disini."


Aku tentu saja terkejut mendengar perkataannya. "Ta-tapi nanti saya merepotkan Anda--"


"Kamu pikir mudah untuk memulai semuanya dari nol tanpa bantuan sedikitpun? Hidupmu ini bukan hanya milikmu, aku juga bertanggung jawab atas itu. Kamu juga butuh banyak latihan untuk mengatasi kemampuanmu itu, jadi akan lebih efektif dan hemat jika kamu tinggal disini."


Aku sungguh tak menyangka dengan tawaran darinya. Namun aku sungguh tak ingin merepotkannya terlalu banyak.


"Saya benar-benar bersyukur karena anda telah memberi saya kehidupan kedua. Anda bahkan memperbolehkan saya tidur di salah satu kamar anda dan memberi saya makanan yang enak. Anda juga mengurus berkas saya sebelumnya. Saya merasa nggak berhak mendapat lebih banyak bantuan dari anda. Semua ini-- saya bahkan nggak yakin akan bisa membalasnya dengan setimpal."


"Kamu ini penganut 'Give and Take' huh?"


Aku jadi merasa makin nggak enak, "Bukan begitu, hanya--"


"Begini saja. Kau-- bekerjalah padaku."


Aku mengangkat kepala dengan mulut terbuka, "...hah?"


Dia duduk sembari memangku sebelah kakinya, "Aku akan membayarmu sesuai pekerjaanmu dan kamu bisa mendapat fasilitas seluruh rumah ini selain lantai dua. Aku juga akan memberikan makan tiga kali sehari Dengan begini 'Give and Take' tetap akan berjalan kan?"


Aku sungguh tergoda dengan tawarannya itu. Tapi aku merasa malu untuk menerimanya,


"Bukankah anda... tetap dirugikan?"


"Kubilang aku akan membayarmu sesuai pekerjaanmu. Jadi aku nggak akan rugi."


"Benarkah... Tidak apa-apa?"


Dia menyeringai, "Aku hanya perlu melatihmu dan mempekerjakanmu sampai setengah mati."


Benar juga. Gara-gara dia bersikap baik sejenak, aku sampai lupa bahwa orang ini sebenarnya adalah seorang psikopat sinting yang sebelumnya sempat menyekapku di ruang bawah tanah dan mencekikku hingga merasa setengah mati.


Ku tarik rasa kagumku tadi.


"Jika anda tak keberatan.... Saya setuju. Mungkin saya akan lebih merepotkan anda."


"Nggak masalah. Justru ini lebih baik. " Tiba-tiba perasaanku jadi nggak enak ketika dia menyeringai makin lebar. "Kalau begitu sekalian saja akan kuajari cara menggunakan kemampuan itu dan mengubahnya menjadi 'Kekuatan Psikis'.


[BERSAMBUNG]