
"Khe--"
Pria itu menahan tawa. Menatap layar laptop yang menyala di pangkuannya. Menampilkan gambar sosok anak muda yang terjatuh dan masuk ke dalam ruang kelas gelap berkabut. Tangan bergerak menyesap rokok yang tersemat di antara jari telunjuk dan jari tengah. Membiarkan kepulan asapnya membumbung keluar lewat kaca pintu mobil yang terbuka.
Suara 'bang' lirih terdengar ketika mobil yang dinaikinya bergoyang pelan.
"Anda tampak senang, Razark no Danna*." Cetus seseorang, namun hanya suaranya saja yang terdengar. Penampakannya tak terlihat karena tersembunyi dalam kegelapan. Razark Shiryuu mendengkus, "Ini cukup menghibur. Kamu menempatkan kamera di sudut-sudut yang terbaik."
(*Danna : Tuan)
"Apakah anda tak akan membantunya? Sepertinya hantu-hantu mengisolasi lantai tiga sehingga anak itu terjerat 'Looping'."
"Justru ini jadi lebih menarik."
Tak ada sahutan. Tapi seringai kecil yang terbentuk di bibir pria itu cukup untuk memastikan sesuatu.
"Anda pasti tengah merencanakan sesuatu."
Suara kikikan terdengar. Pria itu meraih sesuatu dari kantung saku nya dan menyematkannya di telinga. Tepat ketika pemuda yang tersorot pada layar laptop masuk ke dalam sebuah loker, ia berkata,
"Waktunya membangunkan si anak kucing."
...............
...~Duniaku dan duniamu sekarang menjadi satu~...
...THE SEEKERS 7 : Ujian Dimulai (2)...
"Hentikan... Tolong jangan bunuh aku..."
Zraaassh--
Darah memercik ketika leher seorang gadis tersayat oleh pisau bergerigi.
"KYAAKKHH--Ohokk--"
ZLEBB--
Seorang anak laki-laki ditikam tepat di ulu hati
"Ampun... Biarkan aku pergi--kyakhhh--"
Kepala di jebleskan ke lantai hingga terdengar bunyi retakan.
"Gihihi GYAHAHA--"
Seseorang tertawa riang di tengah-tengah tumpukan mayat dengan wajah dipenuhi raut kegilaan.
Sakit. Sakit. Sakit.
Sedih. Sedih. Sedih.
Putus asa. Hampa.
Amarah. Amarah. Benci. Benci.
DENDAM.
Bermacan emosi negatif menghantam ku tak tanggung. Membuat kepalaku sakit bertubi-tubi Seakan-akan semua luapan emosi itu menyebabkan bengkak di dalam rongga kepala dan ditusuk oleh puluhan pisau dapur. Tanganku mendingin, kaku, meremat rambut hingga tercabut beberapa helaiannya.
Visi itu masih terus berkelebat. Kepalaku terasa ingin pecah. Semua berputar sampai terasa ingin muntah.
"Berhenti..." Isakku. Mulai menangis menatap sosok gila yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Darah segar keluar dari mulut tatkala melihat sesuatu berkelebat. Aku menunduk, melihat ke arah dada yang sudah tertikam oleh pisau berkarat berlumuran darah.
"Ohokk--"
Aku jatuh ke lantai dengan segala rasa sakit yang menghancurkan kewarasan.
Begitu menyakitkan. Begitu menyedihkan. Aku merasa terbakar. Aku murka-- aku marah. Aku membencinya--
Mati.mati.mati.mati
Mati.mati.mati.MATI--
Aku mengutuknya. Aku akan terus mengutuknya hingga ke dasar neraka.
Bajingan itu--
"GYAAAHHKK--"
Hentikan. Semua ku mohon hentikan.
Kepalaku sakit. Aku akan membunuhnya. Kewarasanku terkikis. Aku akan membunuhnya. Aku akan menjadi gila--
"Dia-Aku harus mati--"
"Bangun, nak."
DEG!!
Visiku bergetar. Merabun dan menjadi tak karuan.
"Kamu mendengarku kan? Kubilang cepat bangun."
DEG!
"Hakkhh--"
Aku tersentak. Visi mengerikan sebelumnya akhirnya menghilang. Kewarasanku yang bagaikan hilang sesaat perlahan mulai kembali. Kini aku kembali melihat pintu loker gelap yang tertutup dan menyadari bahwa diriku tengah meringkuk dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Napasku tersenggal-senggal dengan buruk dan aku gemetar.
Barusab itu-- apa--?
Ketika sadar, aku merasa seakan baru saja terpanggil oleh seseorang. Namun aku tak yakin,
"Sir...?"
"Sampai kapan kamu mau meringkuk di dalam loker?"
Aku mulai panik dan seakan berhalusinasi karena baru saja mendengar suara orang itu, "Sir? Sir Razark?! A-apakah itu anda?"
"Saku celana kiri."
Aku segera merogoh saku celana kiri ku dan terhenyak ketika merasakan sesuatu di dalam sana. Ku tarik keluar benda itu keluar dan ku letakkan di atas telapak tanganku. Mataku bergetar,
"Anak bodoh. Sudah ku bilang jangan termakan oleh empati mu. Apa kamu sudah lupa?"
"Sir Razar!" Tak ayal aku merasa begitu gembira. Saking senangnya suaraku bahan bergetar. Suara ini milik Sir Razark! Dia bicara melalui benda yang seperti earphone nirkabel ini!
"Bagaimana ujiannya? Lancar?"
Aku merengut dengan kecut karena ingin menangis. Meluapkan rasa takut dan marah ku secara bersamaan di hadapan eraphone itu "Lancar darimana? Saya dikeroyok hantu-hantu di sekolah ini dan nggak bisa keluar tahu!"
Aku dapat mendengar tawa kecil mengejek dari seberang--jujur membuatku merasa begitu marah dan kesal. Tapi di satu sisi aku merasa perlahan-lahan mulai tenang.
Orang ini bersamaku. Dia nggak meninggalkanku begitu saja di tempat mengerikan ini. Aku begitu lega sampai ingin menangis karena ku pikir dia benar-benar meninggalkanku di sini...
"Cepat keluar. Kamu membuat ujiannya jadi membosankan lama."
"Saya nggak bisa keluar Sir. Mereka berkerumun di sana."
"Kalau begitu lawan mereka."
"Apa?"
"Kamu harus melawan mereka semua."
Aku melotot horor, "A-anda bercanda? Bagaimana bisa saya melawan mereka?! Mereka sangat banyak dan saya bahkan nggak bisa menggunakan Skill seperti anda!"
"Tch, apa kamu nggak memperhatikan bagaimana aku melakukannya sebelumnya?"
Aku baru ingin menjawab, tetapi sesuatu tiba-tiba terjadi,
GRADAKK--
Duniaku berguncang seperti terkena gempa dan aku terguling keluar dari loker. Tubuhku rasanya sakit sekali dan aku baru menyadari bahwa loker tempatku bersembunyi sudah tergeletak dalam posisi miring. Tengkukku tiba-tiba mendingin--
Mati aku--
"Gyahhh!!"
Hantu-hantu telah berkerumun di sekitarku dengan wajah dipenuhi kemarahan mutlak. Udara menjadi begitu berat dan pengap hingga aku kesulitan bernapas.
Mati.mati.mati.mati.
mati.mati.mati.mati
Aku takut.... Aku tak bisa bicara... Mereka terus menghujaniku dengan kata-kata penghakiman yang keji. Sarat akan amarah dan dendam yang begitu kental dan membuat diriku goyah.
Aku bakal mati--
Mataku bergerak ke arah earphone yang tergeletak di sampingku. Aku buru-buru mengambilnya dan mendekatkannya ke wajahku dengan tangan gemetar. Melindungi earphone itu seakan benda itu adalah nyawa yang amat berharga.
"S-sir... Tolong saya... Saya bakal mati..."
Tak ada jawaban segera dan ku pikir dia meninggalkanku karena aku nggak berusaha lebih keras dalam ujian yang dia berikan ini. Hingga aku merasa ingin menangis karena begitu putus asa.
"Tenanglah."
Bibirku bergetar. Suara gemerisik itu masih terdengar dan aku berinisatif memasangkan earphone itu ke telinga.
"Sir... Anda nggak akan meninggalkan saya?"
"Aku akan menuntunmu. Jadi berhentilah gemetar dan ketakutan." Ujarnya, "Kuatkan dirimu dan fokus. Jangan biarkan mereka menggunakan ketakutanmu untuk menekanmu. Rasakan keberadaanmu, rasakan gejolak yang berada di dalam dirimu. Yakin lah bahwa kamu bisa mengendalikan mereka semua dan membentengi dirimu dengan hawa keberadaanmu sendiri. Ingat, sumber dari kekuatanmu tidaklah kecil."
Aku menjawab dengan gemetar dan nada pesimis pasif, "Tapi saya nggak cukup kuat.. Saya nggak seperti anda, Sir Razark."
"Nak.." Kali ini aku dapat merasakan bahwa nada bicaranya menjadi lebih halus dan lembut, "Percayalah pada potensimu. Kamu pasti bisa."
Mungkin karena kata-katanya, atau mungkin karena aku tahu bahwa aku tak sendirian. Ketakutanku perlahan berkurang. Ada sesuatu yang meletup-letup di dalam dadaku dan aku menjadi lebih tenang.
Seakan orang itu ada di sisiku saat ini.
Kepala yang semula tertunduk terangkat perlahan. Mataku yang merabun mulai membiasakan diri pada kegelapan di sekitar. Rasa takut sempat kembali mencekikku kala melihat kerumunan hantu yang bagai berlomba-lomba memeras sisa keberanianku. Namun aku mengingat kata-katanya. Semua yang ia katakan. Dia percaya bahwa aku bisa. Jadi... Aku harus mencobanya.
"Aku... Aku nggak boleh takut..."
Kaki yang terasa bagai lilin cair ku gerakkan dengan kaku, menopang tubuh yang sempoyongan. Sempat gemetar dan berpegangan pada tembok kusam di belakang. Bibir yang bergetar dan seakan ingin mengeluarkan isakan ku gigit kuat-kuat. Aku mengepalkan tinjuku.
Mati.mati.mati.mati.mati
Mati.mati.mati.mati.mati
Suara-suara itu masih terus berdenging di sekitarku. Aku menggelengkan kepala. Aku harus merasakan keberadaanku. Merasakan sesuatu yang bergejolak dalam diriku. Hati ini milikku, tubuh ini, dan jiwa ini--
Aku nggak bisa kehilangan diriku di sini oleh mereka!
"Aku melihatmu, nak."
Deg!
"Aku nggak takut." Aku menatap kerumunan hantu dengan mata bergetar namun memaksakan perasaan menyesakkan yang begitu meletup-letup di dalam dadaku. Perasaan yang tak asing, ini... Perasaan tenang dan kuat yang ku rasakan seperti ketika dia menolongku di restoran waktu itu...
Rasakan keberadaanmu. Jangan termakan oleh empatimu.
Mata hitam bagai kelereng kegelapan yang hanya memantulkan kebencian itu--
Seperti Sir Razark, Aku akan melawannya!
"Aku nggak takut."
ZRAATT!!!
"GAAKKK--"
Saat itu, sesuatu tiba-tiba memercik dari dalam diriku dan merebak kuat. Bagaikan arus listrik bertegangan tinggi yang menjalar ke sekelilingku. Seketika membuat Hantu-hantu yang mengerubuti menjerit ngeri dan menjadi kacau. Kebingungan dan tampak panik sehingga memilih mundur hingga ke pojok ruangan. Aku mengedipkan mataku dua kali kemudian melihat ke arah tubuhku,
Lingkaran gelombang kejut barusan--
Ada seseorang mendengkus di seberang.
"S-sir? Apakah yang barusan--"
"Jangan senang dulu nak. Kalau hanya itu takkan cukup untuk menghentikan seluruh penghuni gedung. Mereka sudah bersiap menerkammu."
Benar saja! Baru juga aku merasa ingin bersorak saat hantu-hantu yang semula ketakutan berubah menjadi makin marah dan hendak kembali menyerangku. Aku bergidik dan segera berlari keluar ruangan ketika melihat pintu telah bebas dari penjagaan. Tentu saja mereka semua akan mengejarku dengan kalap.
Hihihihi~ kihihihi~
Kembaliii... Kemariii...
Mati.mati.mati.mati.mati
"GYAAAA!!! SIR RAZAAARRKK!! SA-SAYA HARUS GIMANA LAGIII?!!"
"Berhenti berlari bodoh!"
"Kalau nggak lari mereka bakal menyerang saya tahu!" Aku ngos-ngosan namun tetap ngotot berlari.
"Anak ini-- baru juga kubilang jangan takut! Kendalikan dirimu dasar bodoh! Kamu punya kekuatan psikis, manfaatkan itu!"
"Yang tadi itu cuma kebetulan! Saya nggak tahu gimana lagi supaya itu bisa kelu--GYAAAHH!!" Aku kembali memekik karena jalan ku terhadang. Aku hampir saja menabraknya kalau nggak segera mengerem mendadak. Itu adalah sosok hitam besar yang sebelumnya menghalangi jalan ke tangga bawah!
"SIR--"
"Ikuti perkataanku. Hanya kali ini saja, aku akan memberikan jawabannya."
Aku nggak tahu kenapa, tapi dia tiba-tiba berbicara dengan lebih lirih sehingga aku harus mendengarkannya dengan cermat. Namun kali ini terasa berbeda. Aku bahkan merasakan bahwa jantungku berdebar dengan lebih cepat ketika mendengarkan setiap kata yang keluar darinya. Dalam sesaat merasa begitu kosong hingga kemudian menjadi penuh oleh bermacam gejolak aneh yang tak ku mengerti.
Namun kata-katanya-- kalimatnya... Apa yang dia katakan ini...
Aku dapat dengan mudah memahaminya.
"Sekarang cobalah."
"Saya... Saya masih nggak yakin--"
Aku akhirnya memilih berhenti untuk kabur. Menimbang dengan baik apa yang bisa ku lakukan. Mengabaikan hantu-hantu yang hendak menerjang dengan kalap. Sejenak kupejamkan kedua mataku dan aku fokus merasakan sesuatu yang terasa bergejolak di dalam tubuh. Mengingat apa yang dia katakan padaku dengan setengah berbisik tadi.
Aku.. Akan mencobanya.
Tangan terulur, menyentuh sosok hitam raksasa yang menjulang menghalangi jalanku, kemudian--
ZRAATT!!
"GRAAAGGHHH--" Sosok hitam tiba-tiba melolong keras. Aku sedikit dikejutkan dengan suaranya. Sosok itu akhirnya goyah dan mengingkir dengan gerakan kaku dan membuka jalan menuju ke bawah. Bahkan koridor-koridor yang seakan mengalami looping kini bergejolak dan telah kembali seperti sedia kala.
Ternyata dia yang selama ini membuatku terjebak disini!
Kini tinggal satu masalahku.
Aku berbalik sembari menatap ke arah hantu-hantu dengan sengit. Mereka sudah kembali mengerubungiku, tapi nggak segera menyerangku. Samar, aku dapat merasakan gejolak emosi aneh di sekelilingku.
"Kamu dapat merasakannya bukan? Mereka takut padamu. Dengarkan kegelisahan mereka. Lihatlah mengapa mereka nggak menyerangmu langsung."
Dia benar. Gejolak emosi aneh ini karena mereka merasa takut. Mereka... Mereka gemetar. Menatapku nyalang dengan mata sekelam malam yang tampak waswas. Menggerutu di sela-sela makian kejam.
"Hentikan semuanya! Aku sudah nggak takut lagi dengan kalian!"
Bwooshhh~
Sesuatu seakan terlepas dari diriku dan merebak dengan perlahan. Hantu-hantu berhenti serempak sebelum berhasil menerjangku ketika terpapar dengan tekanan udara yang terasa berbeda.
"Aku sudah capek lari-lari sejak beberapa jam lalu, dan aku nggak ada niatan untuk tetap terjebak di sini! Jadi berhenti mengejarku! Biarkan aku keluar dari sini! Aku nggak mau mengganggu kalian jadi jangan ganggu aku lagi!"
Suaraku masih bergetar, namun ternyata cukup ampuh untuk mengusir hantu-hantu di sekitarku. Mereka gelisah dan mundur makin jauh sebelum akhurnya menghilang. Aku memberanikan diri untuk mendekat.
Mendekat ke arah hantu-hantu anak sekolahan.
"Oi bocah, apa yang mau kamu lakukan?"
"Saya.. Ingin bicara dengan mereka..."
"Hah?"
Aku berhenti tepat di depan hantu seorang gadis berambut sebahu yang gemetar melihatku.
"Hey," Panggilku, "Aku tahu kenapa kamu menyerangku. Aku tahu apa yang terjadi di tempat ini. Kalian semua... Dibunuh oleh seorang Napi pelarian di sini kan?"
Dapat kurasakan kembali gejolak kebencian yang mereka keluarkan. Namun di samping itu, ada suatu perasaan pilu yang membuat dadaku sesak.
Mereka... Mereka ketakutan dan menangis... Juga putus asa...
"Aku bukanlah dia." Ucapku. Menatap mereka semua dengan mata berdenyar dan memegangi serat pakaian, "Aku memang mantan Napi, tapi aku bukanlah orang yang membunuh kalian. Aku tahu kalian begitu membenciku, tapi maaf aku nggak bisa mati disini." Aku memaksakan senyum yang begitu kaku namun sarat akan perasaan tulusku yang terasa pedih melihat mereka,
"Aku harus tetap hidup. Karena kalau aku mati, aku nggak bisa mengungkap kebenaran dari orang-orang yang tak bisa terselamatkan bersamaku."
Wushhh~ bagaikan sebuah sihir, perlahan-lahan hantu-hantu itu menghilang satu persatu. Seakan terbawa oleh aliran udara yang tiba-tiba berhembus dan terbang keluar ruangan. Menyisakan asap-asap tipis yang mengelilingiku dengan begitu lembut. Tangan dingin terasa seakan menyentuh wajahku dan bayangan gadis sebelumnya muncul melalui asap,
"Tolong lihatlah..."
Visiku memburam dan aku melihat sesuatu bagaikan tayangan video-video amatir. Berkelebat secara acak di kepalaku.
Mereka... Memberitahukan kebenaran ini padaku.
"Maafkan kami..."
Air mataku turun perlahan dan aku terdiam dalam kesunyian. Menundukkan kepala sembari menggenggam sisa-sisa asap tipis yang memudar dan memeluknya hingga menghilang
"Sir... Saya tahu kenapa anda nggak menyukai manusia..."
"Kamu sudah melihatnya?"
"Ya..." Ujarku lirih. "Apakah manusia memang sebusuk itu...?"
"Semua manusia punya kebusukan di dalam dirinya. Jadi jangan pernah terlalu percaya pada siapapun."
Aku diam. Kini yang ku pikirkan bukan lagi ketakutanku melainkan perasaan sedih dan pilu yang begitu menusuk.
Jika waktu itu aku mati, apakah aku akan berakhir seperti mereka? Bergentayangan, menaruh dendam kesumat pada orang tak menentu. Menjadi hantu penasaran yang masih terus mencari-cari siapa yang harus bertanggung jawab atas kematian mereka.
Kalau memikirkannya, aku jadi merasa beruntung karena waktu itu aku berhasil selamat dari insiden kebakaran. Bahkan Sir Razark juga datang memberikan bantuan padaku.
"Hey, Ujiannya belum selesai. Cepat keluar dari sana."
Ah, benar juga. Aku hampir lupa kalau sedang diuji oleh Pria ini.
"Sir, apakah ini berarti saya lulus ujian?"
"Kamu belum lulus jika belum keluar."
Aku merengut, "Tapi kan saya sudah mulai bisa menggunakan Skill Psikis. Anda pasti nggak akan percaya karena nggak melihatnya langsung!" Balasku, kemudian aku berjengit ketika dia mulai memberi perintah sinis,
"I-iya-iya aku tahu kok! Aku akan segera turun!"
Sebenarnya aku masih merasa takut karena hantu-hantu lainnya masih tetap mengawasiku walaupun mereka nggak berani mendekat. Tapi aku memutuskan untuk tetap turun mumpung mereka sedang diam begitu.a
Deg!
Langkahku terhenti.
Tiba-tiba aku merasakan perasaan waswas yang aneh. Mungkin karena kini aku sudah mulai bisa menggunakan skill psikis, seluruh indera dan tubuhku seakan menjadi lebih tajam. Aku mendengar suara langkah kaki yang tak biasa dari arah tangga yang ku tuju dan perasaan tak mengenakkan itu semakin menjadi. Lalu sesuatu muncul dari sana.
Seesshhh~
Sosok bertubuh hitam yang bahkan lebih pekat dari kegelapan malam. Tingginya lebih dari dua meter dan tubuhnya begitu ramping. Kakinya panjang seperti kaki belalang dan dia... Memiliki mata merah menyala seperti laser.
Seketika kulitku meremang hingga mati rasa. Mata membulat, membelalak horor dengan tak percaya ketika melihat sosok yang telah menjulang di hadapanku itu. Kenangan buruk yang sangat ingin ku kubur dalam-dalam bagaikan di gali kembali. Mengingatkanku akan malam mengerikan yang di penuhi kobaran api.
"Sir... Razark--"
"Ah, Satpam nya datang juga."
"Apa maksud anda?"
"Lari."
Tubuhku kaku mendingin. Terpaku dengan perintah yang keluar dari earphone di telingaku.
"Dia bukan hantu. Dia adalah salah satu Unliving Tingkat 3."
"Ti-tingkat tiga?"
"Ya. Kamu yang sekarang nggak bisa menghadapinya."
Seketika rasa takutku semakin menjadi. Wajahku pucat pasi. Apa yang orang ini katakan? Sosok hitam itu--
"Tapi-- tapi dia adalah sosok yang ku lihat saat kebakaran waktu itu!"
Tap.. Tap.. Tap...
Leher yang kaku bergerak dengan pelan. Mata memandang horor pada sosok hitam pekat yang bagaikan diselumuti kobaran api hitam. Mata merah bagaikan laser menatapku, memaku pada sosokku yang membeku bagai patung es. Perasaan waswas yang ku rasakan sejak tadi seakan menjadi alarm akan datangnya bahaya besar.
Aku jelas nggak mungkin bisa melawannya. Bahkan kalaupun aku sudah bisa menggunakan skill psikis seperti tadi--
"Karena itu larilah." Suara itu masih terdengar lewat earphone. "Dia akan membunuhmu."
DEG!!
"Ap--"
KYAAAKKK!!
ZRAATT--
"Hieeee!!" Aku memekik nyaring dan segera melemparkan diri ke samping hingga menabrak tembok ketika sosok itu melompat ke arahku sembari mengarahkan cakarnya. Wajahku memucat. Melihat cakar yang menggores lantai hingga menimbulkan bekas cakaran yang dalam dan menembus ke lantai di bawahnya.
Yang benar saja. YANG BENAR SAJA!! SEBERAPA TAJAM CAKARNYA ITU?!
"Gyaaaaahhh!!" Aku memekik kembali ketika dia mendesis nyaring di belakangku. Tanpa babibu aku lantas berlari ke arah tangga ke bawah. Namun tanpa ku duga--
DEG!
Kikikikik~
Satu ekor lagi muncul dari tangga yang sama.
Mataku membelalak tak percaya. Lututku gemetar hingga terasa bagai adonan cair.
Sosok hitam itu ada dua...
KYAAKKK!!
Aku melindungi kepalaku dan merunduk untuk menghindari cakarnya. Beberapa helai rambutku tertebas dan terbang di sekitarku. Namun aku tak memiliki waktu untuk hanya terpaku dan ketakutan.
Karena aku harus lari. Lari. LARI!
"TOLOOONGGG!!"
Aku memaksakan diriku untuk bangkit dan berlari dari dua sosok hitam itu. Baru juga tiga langkah, cakar hitam tajam telah menyapaku. Aku berusaha mengelak dengan berkelit ke samping.
"Ukhh--"
Aku dapat merasakan sesuatu merobek kulitku, namun ku abaikan rasa sakit dan panas itu dengan terus berlari.
"Sir! Sir Razark!" Panggilku, mencoba meminta bantuan padanya. Namun tak ada sahutan sama sekali.
"Sir Razark! Anda mendengar saya?! Sir!!" Masih tak ada jawaban. Aku berkelit kembali ketika salah satu dari mereka mulai melemoarkan bangku-bangku dan memecahkan jendela yang ada. Menbuat kekacauan di dalam gedung angker berpenghuni roh halus.
Namun kini bahkan hantu-hantu itu nggak nampak sama sekali.
Aku mulai semakin panik dan ketakutan.
"Sir Razark, tolong jangan main-main! Ini nggak lucu sama sekali! Tolong saya..." Suaraku melirih karena rasa mencekam yang membuatku begitu putus asa.
Dia bilang kalau aku harus lari, tapi sampai kapan? Napasku sudah teramat sesak dan tenagaku sudah terkuras karena dikejar-kejar hantu sebelumnya. Dan sekarang aku harus kembali berlari dari mereka berdua! Sedangkan Sir Razark sama sekali nggak menjawab panggilanku atau memberikan arahan lagi!
Apakah dia meninggalkanku? Apakah dia akan membiarkanku mati disini?
Sial! Sial! Sial!
Kyaakk!!
"Ohokk!" Salah satu sosok terbang dan menyundul punggungku. Aku jatuh dan berguling masuk ke dalam sebuah ruang kelas yang kosong. Aku mendesis dan memojokkan diriku hingga ke tepi jendela ketika kedua sosok itu masuk sembari terkikik-kikik gila.
"Sir Ra--" Jantungku mencelos.
Earphone nya-- dimana earphone nya--
Kreekk--
Mataku membelalak syok.
Earphone itu terinjak oleh salah satu sosok hitam di depan pintu. Aku melihatnya dengan wajah penuh putus asa.
"Tidak..."
Satu-satunya benda yang membuatku terhubung dengan Sir Razark... Benda itu sudah hancur. Aku tak bisa meminta bantuan. Padahal dia satu-satunya yang bisa menolongku saat ini...
"Hiee!!" Mataku membelalak horor. Melihat dua makhluk hitam mendekat sembari mengangkat cakar. Tubuhku gemetar. Ini berbeda. Ini benar-benar berbeda dengan hantu-hantu sebelumnya. Tekanan mengerikan yang berasal dari mereka juga hasrat kejam yang dapat ku rasakan ini--
Ini benar-benar bukan hal yang bisa ku tangani! Ini hasrat membunuh asli yang bahkan nggak bisa ku tekan dengan kemampuanku saat ini.
GRAARR!!
Dan ketika kedua makhluk itu mulai menerjang ke arahku, aku hanya bisa memejamkan mata dengan pasrah.
Aku bakalan mati--
DOR! DOR!
KYAKKKK!!
Bunyi senjata api terdengar keras. Mataku seketika terbuka. Membelalak, terkejut ketika melihat dua makhluk hitam tadi terhenti di tempatnya dengan dada berlubang sebesar bola voli. Menggeram-geram seperti kesakitan sembari menatap luka yang memberikan bekas seperti bara api dan mengepulkan asap tipis.
"Anak bodoh, kamu tersesat atau bagaimana sampai kembali ke ruangan ini lagi."
Jantungku seakan mencelos dari tempatnya dan aku mendongakkan kepala keelakang dengan penuh keterkejutan. Suatu perasaan sesak memenuhi dadaku. Aku sungguh nggak tahu harus menangis bagaimana lagi ketika melihat sosoknya di sana.
Sir Razark, dengan pistol terulur dan mengepulkan asap halus telah duduk di kerangka jendela yang terbuka lebar tepat di belakangku. Rambutnya yang acak-acakan membuat matanya tak terlihat. Rokok tersulut di celah bibirnya yang menunjukkan seringai mengejek.
Sejak kapan dia disana? Bagaimana bisa dia ada di sana?
Apakah... Dia bergegas kemari setelah menyuruhku untuk lari?
"Sir..." Panggilku lemah dengan suara bergetar. Menggigit kecil bibir dengan perasaan campur aduk. Suatu persaan lega yang tak dapat ku ungkapkan tertahan di ujung lidah.
Aku sungguh takut... Aku sangat takut...
Ku kira aku akan mati...
Pria itu menatapku dengan begitu santai, namun aku merasa begitu tenang ketika tangan besarnya menyentuh kepalaku.
"Kamu nggak perlu takut. Aku sudah disini."
Dia melompat turun dari kerangka jendela dan berdiri memunggungiku. Menyesap rokok sebentar sebelum akhirnya di jatuhkan begitu saja ke lantai. Dia memainkan sebuah pistol berwarna silver metalic yang tampak memantulkan sinar bulan dari jendela yang terbuka lebar.
KYAAKK!!
Sosok-sosok hitam tampak murka dan berteriak ke arah kami. Aku meneguk ludah dengan kasar karena merasakan tekanan amarah yang mereka tujukan. Namun yang membuatku heran, Sir Razark sama sekali nggak terlihat gentar atau takut. Dia tetap tenang dan santai seakan tak memiliki rasa takut sedikitpun.
Sebenarnya... Perasaan tenang macam apa ini?
"Mumpung satpam nya datang, sekalian saja kita lanjut ke bab dua. Perhatikan baik-baik."
Dia menyeringai senang.
"Yang akan kuajarkan adalah cara memusnahkan Unliving Tingkat 3 dengan menggunakan Skill Psikis Aktive."
[BERSAMBUNG]