
~Kalimat dingin dan menyakitkan itu menjadi pisau bermata dua yang menyelamatkan hidupku~
THE SEEKERS 4 : Harga dari Kebebasan
Aku terduduk kaku dengan tengkuk sedingin es. Pikiran sesaat kosong setelah mendengar apa yang baru saja pria itu katakan.
"...kenapa...?" Satu kata terucap mewakili segala rasa syok yang menghantam benak.
Pria ini-- kenapa dia ingin membunuhku? Apakah dia ditugaskan untuk mengeksekusiku karena jadwal vonisku dipercepat? Ataukah dia ditugaskan seseorang yang menaruh dendam untuk membunuhku?
Dalam posisi tak berdaya dengan tangan terborgol dan mata tertutup, aku jelas akan mati dengan sangat mudah. Tanpa bisa bertahan ataupun mengelak. Perasaanku di penuhi hal mencekam dan bayangan-bayangan kematian menyakitkan. Mungkin saja dia telah menyiapkan senjata tajam atau bahkan pistol untuk membunuhku langsung di sini. Telingaku seakan menjadi lebih sensitif oleh bermacam suara di sekutarku. Kulitku meremang ketika mendengar derit kursi yang bergesekan dengan lantai, kemudian suatu logam dingin menyentuh telingaku.
Aku bergidik.
"Apa kamu masih bisa hidup dengan segala aib mu ini?"
Suara irisan terdengar, kain yang menutupi penglihatanku terjatuh dengan dramatis. Aku membuka mata perlahan, terdiam sunyi kala bertemu tatap dengan sepasang kelereng hitam yang menyorot dingin dan kejam.
"Katakan. Kenapa kamu masih ingin hidup."
Pria itu membungkuk di hadapanku. Rambutnya yang panjang tampak berantakan karena tak diikat. Suaranya begitu rendah, serak dan berat, membawa getaran hingga ke dada. Menimbulkan perasaanl tak mengenakkan karena terintimidasi oleh kehadirannya.
Aku merasa seperti dicekik kembali.
Sesuatu diletakkan di pangkuanku. Sebuah koran yang menampilkan berita kebakaran di bagian depannya. Gelanyar memuakkan itu datang. Membuat perutku mual karena rasa sesak di dalam dada.
"Seorang anak 19 tahun telah melakukan pembakaran yang mengakibatkan korban jiwa belasan orang. Membunuh pemilik kos dan membohongi publik. Pengadilan telah menetapkan bahwa kamu adalah si pelaku dan menjatuhkan vonis hukuman mati. Apa kamu pikir kriminal sepertimu akan diterima oleh masyarakat?"
"Tapi bukan aku pelakunya! Aku bahkan juga salah satu korban dari kebakaran itu!"
"Waktu itu aku tak begitu ingat kenapa-- tapi aku diikat oleh seseorang dan ditinggalkan di kamar. Ketika sadar semuanya sudah terbakar. Aku bisa selamat karena melompat dari lantai tiga."
Dia tampak tak peduli dan malah duduk di kursi kayu yang berada di hadapanku. Mengeluarkan rokok bermerk dari sakunya. Menyematkan di celah bibir dan menyulutnya dengan korek api. Menyesap rasa nikotin itu kemudian menghembuskannya dengan kurang ajar ke arahku.
"Apa kamu pikir akan ada yang mempercayaimu?"
Aku sempat terbatuk karena asap rokok merebak ke wajahku, "Tapi itu kenyataannya! Dan waktu itu-- ah! Waktu itu ada seorang anak kecil bersamaku. Aku melompat bersamanya. Dia juga salah satu korban yang selamat! Anda bisa bertanya padanya."
"Anak kecil? Korban selamat? Kamu sedang membual?"
Aku menggertakkan gigiku. Merasa kesal dan ingin menghantam wajah yang terus saja menatapku dengan remeh itu, "Siapa yang membual?! Dia ada bersamaku ketika kami melompat! Dia bisa menjadi saksi--"
Pluk
Sebuah boneka kucing sebesar dua jengkal orang dewasa baru saja dilempar ke arahku. Aku berkedip dua kali, tak paham kenapa pria itu melemparkan boneka, sebelum akhirnya mengernyit.
Boneka ini... Kenapa tampak tak asing?
"Kupikir kamu sudah tahu, tapi ternyata tidak huh?" Dia menatapku dengan serius, "Semua penghuni tempat itu mati, kecuali kamu."
Seketika mataku membola.
"Ja-jangan bercanda! Aku bersamanya waktu itu! Anak perempuan berkucir dua yang tengah memeluk boneka kucing! Boneka yang mirip dengan--" Dadaku berdebar tak mengenakkan. Boneka kucing... Boneka kucing ini--
".... Apa yang sudah kamu lakukan dengannya?"
Dia menaikkan alis, rahangku mengeras. "Jawab aku! Apa yang kamu lakukan dengan anak itu?! Apa kamu membunuhnya?!"
"Hey, apa tidak tertukar? Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu padamu?"
Aku ingin sekali berteriak dan memukulnya, tapi dia keburu memotongku, "Apa kamu yakin bahwa itu adalah sosoknya yang masih hidup?"
Pandanganku kosong, "..eh...?"
"Kenapa tuduhan yang diberikan kepadamu begitu kuat? Salah satu alasannya karena hanya kamu satu-satunya yang selamat dari kebakaran itu. Waktu itu seluruh penghuni kamar kos berada di tempatnya. Sebanyak 17 orang, termasuk kamu dan pemilik kos. Tapi 16 orang meninggal termasuk bocah itu. Hanya kamu yang berhasil keluar dari bangunan itu setelah melompat dari lantai tiga sembari memeluk boneka kucing itu."
"Apa...?"
Dia kembali melemparkan sesuatu. Kali ini beberapa buah foto. Foto-foto itu bersebaran di sekitar kakiku dan aku harus menunduk agar dapat melihatnya. Foto-foto yang memuat gambar dari tempat kos yang terbakar dan beberapa korban yang tubuhnya telah menghitam seluruhnya karena mati terpanggang. Di salah satu fotonya, aku melihat tubuh seorang anak kecil yang separuh tubuhnya tertimpa reruntuhan. Kemudian foto satunya--
Wajahku memucat.
Fotoku. Dalam balutan jas abu-abu kebesaran yang separuhnya sudah gosong dan tengah memeluk sebuah boneka kucing yang tampak usang.
Aku mengangkat kepala. Menatap syok pria itu dengan tengkuk meremang hebat, "Apa maksudnya ini...?"
"Gadis itu mati terpanggang bersama ibunya di dalam kamar. Sosok yang kamu lihat waktu itu hanyalah delusi. Dia 'tidaklah hidup'."
"HAH?!"
Aku berteriak tak percaya. Menatap nyalang pria di hadapanku yang begitu tampak memuakkan.
"Dia disana! Apa anda pikir saya gila karena berdelusi tentang anak itu?!"
"Bukankah selama ini kamu masih kesulitan membedakan mana yang hidup dan mereka yang mati?"
"GAAAAHHH!!!!!"
Aku berteriak. Berteriak penuh frustasi seperti orang gila. Menatap lantai dengan kosong dan mengalirkan air mata hingga membasahi foto dan koran. Aku sungguh tak percaya dengan semua yang kudengar ini. Tak percaya dengan kenyataan kejam yang begitu mempermainkanku ini. Aku ingin memukul kepalaku yang telah mengalami gangguan layaknya orang idiot.
Jadi waktu itu aku melompat sendirian? Aku tak bersama gadis kecil itu? Lalu yang waktu itu ada bersamaku--
"Dia nggak mungkin sudah mati... Dia bahkan di sana ketika makhluk hitam itu menyerang! Dia di sana ketika kami berdua melompat dari lantai tiga! Dia sungguh di sana!"
"Lalu menurutmu untuk apa media melakukan kebohongan tentang kematian seorang bocah empat tahun?"
Pikiranku kosong seketika.
"Gadis itu sudah mati dan kamu adalah kriminal yang menyebabkan kematiannya yang tragis."
Gila. Semua keyataan ini gila!
"Memikirkan bahwa kamu bisa bebas di luar sana, apakah menurutmu masyarakat akan diam saja? Apa mereka masih akan mengabaikanmu ketika kamu muncul di hadapan mereka? Apa kamu mengingat wajah seperti apa yang mereka pasang ketika keluar dari tempat persidangan?"
Jantungku tiba-tiba berdebar dengan menyakitkan. Mengingat kembali kejadian yang sungguh ingin kuhapus dari ingatan. Menenggelamkan wajah-wajah yang menatapku dengan jijik dan penuh amarah. Bersembunyi sejauh dan sedalam mungkin di kegelapan yang tak seorang pun dapat melihatku.
Aku takut.
Aku takut pada manusia.
"Apa yang bisa kamu lakukan dengan namamu yang sudah tercemar itu? Tak akan ada yang mau mempercayai perkataanmu."
Aku dapat merasakan ada sesuatu yang hancur berkeping-keping di dalam diriku.
Hening. Aku tak dapat mengelak sama sekali dari pertanyaan yang lebih kepada pernyataan akan kenyataan yang menimpaku. Begitu memuakkan, begitu menyakitkan.
Kepala menunduk, menatap lantai kosong di bawah.
Tak ada keadilan di dunia ini untukku.
Sekarang aku paham apa maksudnya.
"Apakah Anda bisa membebaskan saya dari kehidupan menyakitkan ini?"
Kalimat itu terucap tanpa emosi. Kegilaan tadi telah menghilang dan aku merasa seperti gelas yang kosong. Seakan seluruh perasaanku telah mati karena retak di dasar hati. Aku sudah terlalu lelah dengan semua perkara dan alur kehidupanku ini. Terlalu penat dengan bermacam cobaan yang terus membuatku terjatuh hingga kini tak bisa bangkit lagi.
Aku sudah terlalu muak dengan kehidupanku.
"Anda benar. Sudah tak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini-- ah, bahkan sejak awal aku nggak seharusnya hidup. Tanpa tujuan jelas dan hanya terus bersembunyi hingga berakhir begini. Takkan ada yang peduli padaku."
"Ya. Miris bukan?"
Aku menggigit bibir.
"Jadi apa jawabanmu?" Tanyanya. Aku mengangkat kepala, menyadari bahwa sosoknya telah menjulang di hadapanku, kemudian menjawab tanpa keraguan dengan setetes air mata menuruni pipi,
"Tolong bunuh aku."
Saat itu, secara samar dia meyeringai senang. Aku menggigit bibir yang gemetar, kemudian memejamkan mata kala sebuah pistol diarahkan ke dahiku. Merasakan benda itu seakan memahami keinginanku yang telah lelah berada di dunia ini.
Ketika bunyi benda logam terdengar nyaring dalam kesunyian. Ketika bunyi pelatuk yang dilepaskan terdengar begitu dramatis.
Aku yakin. Aku akan terbebas dari kehidupan kejam ini.
Akhirnya, aku akan mati.
"Akan kukabulkan."
DOORR!!
......
.................
"......."
"......?"
"...ya, dia sudah mati. Buat pernyataan seperti itu. Hm? Ambil saja kembaliannya, aku nggak butuh uang receh."
Aku masih diam. Sedikit bertanya-tanya dalam benak. Namun semuanya begitu mengejutkan ketika aku membuka mata.
Aku masih di tempatku. Terduduk pada kursi kayu keras menyakitkan. Pria itu masih di sana, tengah berbicara pada seseorang lewat handphone. Kulihat sebelah tangannya tengah memasukkan sebuah pistol berwarna metalik ke kantung sabuk.
"Anda tak jadi membunuhku?"
"Sudah." Jawabnya pendek setelah mematikan telfon. "Dirimu yang dulu. Aku sudah membunuhnya."
Apa orang ini mempermainkanku?!
"Anda bilang akan membunuh saya, tapi saya belum mati. Dan apa yang sebenarnya anda maksud? Tolong jangan permainkan saya." Aku berusaha tetap tenang dan menahan amarahku. Tapi dia sama sekali nggak mendengarkanku dan malah berjalan mendekat. Meletakkan sebuah laptop di pangkuanku dan berkata,
"Baca pelan-pelan. Resapi, dan jangan lewatkan satu poin pun."
Melirik ke arahnya dengan sengit namun berakhir memilih mengikuti perkataannya. Membaca deretan tulisan sebanyak tiga halaman yang terpampang di layar laptop baik-baik. Tangan yang masih terborgol kesulitan untuk menekan kursor kebawah.
Setiap kalimat, setiap kata, bahkan hingga nomor poin tak ku lewatkan sedikitpun. Wajah kesalku perlahan-lahan melunak, dan kini aku dibuat kebingungan dan bertanya-tanya. Tepat ketika kalimat terakhir tereja, aku segera menatap pria itu dengan wajah yang tak bisa dijelaskan.
"I-ini... Apa maksudnya? Kenapa isinya--"
"Aku membelimu."
"HAH?"
Dia bersedekap di hadapanku dengan wajah sombong. "Aku sudah membelimu. Jadi sekarang kamu terikat denganku."
"Ta-tapi-- bagaimana bisa..? Kenapa dibeli..? Lalu bagaimana dengan membunuh--"
"Aku nggak berminat membunuh bocah yang bahkan sudah 'mati' sepertimu."
Saat itu, segala amarahku seakan meledak-ledak di kepala. Aku berteriak marah kepadanya dan meluapkan seluruh kekesalanku yang menumpuk padanya,
"JANGAN BERCANDA!"
Aku bangkit dari tempat dudukku, menjatuhkan laptop di pangkuanku begitu saja. Sesaat lupa bahwa kedua kakiku masih terikat menjadi satu dan berakhir terjatuh dengan wajah mencium lantai keramik hitam.
"Ugh!!" Aku menggigit bibir. Mengabaikan rasa sakit di wajah dan tubuh kemudian mengangkat kepala. Menatap sengit pria sinting yang baru saja mengatakan hal-hal gila yang sanggup membuat darahku mendidih.
"Anda bilang akan membunuhku! Anda bilang bawah aku tak dapat hidup lagi dengan semua perkara ini! Hidupku ini sudah nggak ada harganya! Cepat bunuh aku!"
Dia hanya diam sembari menyesap rokoknya yang tinggal separuh. Aku terus bicara dengan suara lebih keras hingga nyaris serak, "Apa sebenarnya maumu?! Apa anda hanya ingin mempermainkanku?! Berhenti bermain-main dan bunuh aku sialan!"
Dia tertawa.
Ya. Tertawa! Tertawa keras seakan baru saja mendengar sebuah lawakan kacangan. Tertawa lepas tanpa beban seakan kata-kataku hanyalah lelucon!
Dia benar-benar mempermainkanku!
Aku baru saja ingin memaki ketika pria itu menjatuhkan rokok dan menginjaknya. Maju selangkah lalu berjongkok dengan angkuh dihadapanku. Dia kemudian berkata, "Bukankah seharusnya kamu berterima kasih padaku karena sudah membebaskanmu?"
Psikopat brengsek!
"Persetan dengan itu! Aku hanya ingin mati! Jadi aku akan mati seperti yang ku inginkan! Anda nggak memiliki hak untuk melarangku! Berikan pistol mu atau pisau atau apapun itu! Aku akan membunuh diriku sendiri jika Anda tak bisa melakukannya!"
BRAAKK!!
Tiba-tiba saja tubuhku ditarik dan dihempaskan ke kursi kembali. Rasa sakit di punggungku makin menjadi. Segala cacian ingin kulontarkan, namun protesku terbungkam ketika pria itu telah lebih dulu mendekat. Mengunci pergerakanku dengan memegangi kedua lengan kursi kayu. Memerangkapku dengan sepasang lengannya. Ada tekanan yang begitu menakutkan, begitu mengancam hingga membuatku kesulitan bernapas. Kala sepasang kelereng yang begitu dingin dan sunyi itu memaku padaku, mengurung segala fokusku hanya kepadanya.
"Dengarkan aku, anak bodoh."
Jantungku hampir melompat dari tempatnya.
"Apa kamu masih nggak memahaminya? Kubilang aku 'membelimu' bukannya 'mempermainkanmu'. Dan aku juga bilang bahwa kamu yang dulu itu sudah 'mati'. Kenapa kamu begitu keras kepala?"
"Ap--"
"Aku akan membantumu." Dia memotong dengan tegas. Bibirku lantas terbungkam. "Kamu hanya harus hidup dengan dirimu yang baru. Aku membunuh dirimu yang dulu, tapi aku juga memberi kehidupan untukmu yang sekarang. Jadi hiduplah mulai dari nol. Jalanin kehidupan ini bahkan walaupun begitu menyakitkan. Berhentilah berputus asa. Bukankah masih ada hal yang ingin kamu cari? Tujuanmu?"
Bibirku sempat bergetar, kemudian membuang muka dengan lemah, "Nggak ada. Tujuanku sudah nggak berharga."
"Itu masih berharga. "
Aku menoleh kembali ketika dia mendekatkan boneka kucing kepadaku.
"Gadis kecil itu berterimakasih padamu. Dia bilang senang karena ada yang mau menjaganya, bahkan walaupun dia telah mati. Dia juga berterimakasih karena kamu sudah menyelamatkan. Dia meninggalkan boneka ini untukmu."
Boneka kucing berwarna belang tadi di tekan ke pangkuanku, dan seketika dadaku terasa sesak.
"Kamu sudah menyelamatkannya. Tapi apa kamu puas hanya dengan hal ini? Apa kamu nggak mau membersihkan namamu dan membantu gadis itu dengan mengungkap kebenarannya?"
"Tapi--"
"Tetaplah hidup."
Mataku bergetar. Dua kata. Hanya dengan dua kata itu, segala kekacauan di dalam hatiku bagaikan runtuh seketika.
"Hidupmu ini berharga, nak. Hanya kamu yang tahu kebenarannya. Hanya kamu yang bisa mengungkap semuanya. Hidup lah untukmu dan untuk bagiannya juga."
Air mata mengalir tanpa bisa kubendung. Berlinang dengan amat deras hingga sesenggukan.
Aku menangis.
Begitu menyesakkan. Begitu mengesalkan. Perasaanku kacau karena bermacam emosi menumpuk yang terus ku tahan selama ini. Segalanya begitu rumit, begitu sulit, membuatku berada dalam keraguan dan nyaris hilang akal. Kegilaan seakan menyertai, kematian begitu menggoda untuk ku lalui.
Sial... Ini sangat menyakitkan...
Dia melepaskan borgol yang mengikatku dan aku lantas menutup wajahku dengan telapak tangan. Merasa teramat kacau dan malu di saat bersamaan.
Kenapa aku hampir melupakannya? Bahkan jika selama ini aku hidup tanpa tujuan yang pasti, setidaknya sekarang bukankah aku sudah memilikinya?
Aku masih tetap hidup. Aku ingin tetap hidup. Dan aku harus tetap hidup.
Tak hanya untukku, tapi juga untuk mereka ber-16 yang mati tanpa tahu kenyataan sesungguhnya. Untuk gadis kecil itu yang tak tahu apapun dan menitipkan benda berharganya untukku. Dan untuk diriku sendiri yang harus menanggung beban yang tak seharusnya.
Bahkan walaupun tak benar-benar mengenal mereka, harus ada seseorang yang mengungkap kebenaran ini. Seseorang yang terlibat langsung dengan insiden itu. Untuk memberikan keadilan bagi mereka yang mati dengan sia-sia dan tak mengetahui apa-apa. Untuk gadis kecil yang bahkan tak tahu bahwa dirinya telah tiada.
Dan untuk diriku yang telah 'mati' karena tuduhan palsu itu.
Aku harus melakukan sesuatu.
"Aku ingin hidup..."
Suaraku lirih, serak, dan terdengar seperti rengekan anak kecil. Memohon pada pria itu dengan segala rasa sesal yang tak tertahan. Aku mengangkat kepalaku dan dengan wajah memalukan kembali memohon padanya,
"Tolong... Jangan bunuh aku..."
Sebuah telapak tangan menyentuh kepalaku. Dia menatap ku dengan mata dingin namun memantulkan keyakinan,
"Jawabanmu akan menjadi keputusanku juga. Jadi, apa kamu masih ingin hidup?"
Aku menundukkan kepala, dan mengangguk pelan.
"Jawab aku. Kamu nggak bisu kan?"
"A-aku mau..."
"Hmm? Kamu mau mati?"
"Kubilang aku mau hidup, sialan!" Teriakku. Persetan dengan etika, pria ini benar-benar menyebalkan! Dia terkikik setelah mendengar. Menyeringai dengan sombong kemudian berkata,
"Anak pintar."
Aku benar-benar dibuat malu ketika tangan besar itu bergerak mengacak rambutku sejenak sebelum ditarik kembali. Sekarang aku sudah memikirkan pilihanku dengan baik.
Aku memilih untuk tetap hidup dengan semua tanggungjawab ini
"Terima kasih karena sudah membiarkanku tetap hidup. Saya berjanji akan membalas kebaikan anda. "
"Oh, tentu saja harus dibalas. Kamu pikir kebaikan ku ini gratis?"
Aku mengangkat kepala dengan bingung. Pria itu menyeringai dengan licik, "Kamu harus mengembalikan semua harga dari kehidupan keduamu ini."
"Eh?"
Dia mengeluarkan kertas dari sakunya. Kertas yang dilipat beberapa kali. Aku membukanya, dan seketika melotot ketika membaca apa yang tertera di dalamnya. Terutama di bagian nominal yang nol nya terlampau banyak.
Mengangkat kepala dengan gagap, aku bertanya padanya dengan doa agar apa yang ku pikirkan tidaklah benar.
"A-anu, jangan bilang--"
"Ya. Itu biaya untuk 'kebangkitanmu'. Kamu berhutang sebanyak ********* padaku."
Rahangku melorot. Syok tentu saja.
Ku tarik kata-kataku tadi. Pria ini benar-benar orang yang BRENGSEK!
...................
[BERSAMBUNG]