
...CHAPTER 9 : THE BEAST INSIDE...
"GAHHKK--"
Razark Shiryuu terkejut. Bocah yang sebelumnya begitu diam itu tiba-tiba menggigit perpotongan bahunya.
"Brengsek--" Lengan kuat mendorong tubuh kecil itu menjauh. Razark segera memegangi pundaknya yang berdenyut-denyut sakit penuh nyeri. Menatap sengit ke arah bocah yang baru saja menggigitnya seperti orang sinting. Mendapati bekas gigitan mengeluarkan darah yang memberi warna kemerahan pada kemeja yang ia kenakan.
"... Shit, bocah ini--"
Sepasang hazel itu memicing tajam. Sosok di hadapannya itu tampak asik menjilati jemari yang terlumur oleh darah. Senyum manis yang menyirat kengerian terpasang di wajah polos yang tak pernah ia lihat. Membersihkan sisa darah yang tertinggal di sudut bibirnya dengan lidah. Kepala terangkat, mata menyorot ke arahnya. Mata berbeda warna yang memantulkan ancaman dan kengerian di saat bersamaan--kanan emas dan kiri merah delima.
Bocah yang begitu pendiam, pemalu, dan penakut itu tiba-tiba jadi seperti ini.
Ada sesuatu yang salah. Ada perasaan tak menyenangkan yang datang dari bocah itu.
"Hei paman~"
Panggilan mengalun dari sepasang bibir yang terus mengukir senyum. Berjalan mendekat dan naik ke atas ranjang yang berderit. Mencondongkan tubuh yang jauh lebih kecil ke arah Razark yang diam di tempatnya. Tangan kurus bergerak menyentuh wajah berahang tegas dan mengunci tatapan mereka.
Mata yang begitu indah namun menyimpan kesan kematian. Tak ada lagi pantulan dari sosok lembut yang begitu lemah sebelumnya. Yang ada hanyalah kedalaman dari rasa yang sarat akan misteri.
Sosok ini jelas bukanlah "Langa".
"Benarkah kamu bisa mambantuku?"
Sepasang heterochrome itu berkilat seram. Tampak begitu tertarik pada Razark yang memasang wajah mengeras. Tubuh kekarnya didorong pelan. Jemari yang masih terbalut cairan merah mulai bergerilya di sekitar pundak dan dada yang berdebar. Membuka secara sengaja dua kancing teratas kemeja. Menodai kemeja putih dengan warna merah yang kentara. Lalu dengan berani mengusap bekas luka sayatan di sudut bibir Razark yang kasar.
"Apakah bantuanmu bisa kubayar dengan ini?"
Napas merebak di perpotongan leher. Wajah di tarik mendekat, membuka celah bibir kasar dengan ibu jari yang dingin. Bibir yang mengukir senyum mendekat, menjulurkan lidah--
Seketika tubuh kecil itu didorong dan dijatuhkan ke atas ranjang. Tangan kekar dengan cekatan mengunci pergelangan tangan di atas kepala dan menekannya sedemikian rupa hingga tak bergeming. Mengurung sosok itu di bawah tekanan yang lebih mendominasi. Bibir kasar itu mengukir senyum sinis. Sepasang hazel memandang penuh minat pada pemuda di bawahnya yang tampak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi,
"Pantas saja kamu langsung berlari kepadaku hari itu. Ternyata 'masalahmu' jauh lebih merepotkan dari yang kuduga."
"Bagaima--ummpphh!!" Kalimat protes terbungkam ketika Razark dengan segera melesakkan dua buah jarinya ke dalam mulut si bocah. Membuat sosok itu nyaris tersedak dan tak bisa berkata apa-apa.
"Kamu pikir bisa melakukan hal seenaknya begitu?" Jari yang melesak ke dalam mulut itu menekan lidah dengan kuat. "Keluar dari tubuhnya."
Jemari di dalam mulut menggosok lidah. Tubuh kecil di bawah menggelinjang. Di tekan sedemikian rupa agar tidak bergerak dan terlepas dari cengkeramannya. Namun sebelum sempat melakukan tujuannya, sebuah guncangan besar terjadi bagai meruntuhkan seluruh dunianya. Razark limbung, merasakan sesuatu yang tak kasat mata menghantamnya.
"Khhkk--"
BRAKK!!
Tubuh kekar Razark terdorong kuat hingga menabrak dinding. Menambah rasa sakit pada bahu yang tergigit. Ketika sadar sosok Langa sudah menghilang dari hadapannya.
"Sialan!"
Razark berlari keluar dari kamar dan mengabsen ruang tengah yang hanya berisi furniture. Mecari-cari keberadaan bocah itu sebelum akhirnya menemukan sosok itu di luar. Sepasang kaki dengan santai berjalan-jalan mengikuti lebar dari pagar beranda yang berbatasan langsung dengan udara bebas. Udara masih terasa dingin dan matahari belum menyorot dengan terik. Sosok itu sempat melompat dengan maksud bermain-main. Seakan tak memiliki rasa takut jika saja kakinya terpeleset atau tubuh kurusnya terhempas oleh angin.
"Kyaah~ sudah lama nggak melihat cahaya matahari langsung. Kangen sekali rasanya." Dia bermonolog, "Dunia sudah sangat berubah sampai aku pangling. Melihatnya secara nyata seperti ini memang berbeda.."
Tiba-tiba tangan kurus itu di tarik paksa dan jatuh menabrak tubuh yang jauh lebih kekar. Razark memasang wajah kesal dan menatapnya penuh iritasi, "Berhenti membuatnya dalam bahaya."
"Ah, Kenapa Paman ngotot sekali sih denganku?"
Deg!
"Jahat..."
ZUNGG--
Suatu aura tak mengenakkan tiba-tiba memenuhi ruangan. Bagaikan debu pekat yang menyebar dan menyesakkan. Razark sempat terkejut bagai tersengat aliran listrik statis. Mendapati dirinya tertekan oleh aura mencekam yang berasal dari bocah itu. Aura yang sangat tak mengenakkan dan mengancam yang berputar-putar di sekelilingnya.
"Padahal sebelumnya Paman lembut sekali padaku. Kenapa sekarang kamu malah ingin menyakitiku?"
"Khk--"
PRANGG!!
Jendela pecah berkeping-keping ketika Razark tiba-tiba terpental dan jatuh ke lantai. Terdorong oleh suatu dinding tak kasat mata yang bagai menghantamnya dengan kuat kembali. Rasa sakit terasa di bagian punggung. Razark berusaha bangkit namun tanpa di duga tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Seakan ada gravitasi super kuat yang memakunya ke lantai. Sosok bocah dalam balutan kemeja putih kebesaran melangkah melewati pecahan-pecahan kaca dan berhenti di hadapan Razark. Mengangkat tangannya dan seketika tubuh Razark ikut terangkat begitu saja. Jemari lentik kemudian bergerak ke arah pundak dengan bekas luka gigitan, "Hey paman, jawablah. Kenapa kamu jadi kasar padaku?"
"Kamu bukan Langa. Jangan bicara seakan kamu itu dirinya."
"Kenapa Paman berkata seperti itu?" Balas Langa dengan sengaja memanyunkan bibirnya. Mefengek seperti bocah 10 tahun. Kini Razark yang terkikik. Menatap sosok di hadapannya dengan wajah jijik penuh kesan merendahkan, "Bocah itu nggak memiliki sifat dan aura busuk sepertimu. Kamu hanyalah parasit yang menempel di tubuhnya."
Tiba-tiba suasana menjadi dingin. Dingin mencekam yang bagaikan mencekik leher. Bocah itu terkikik geli sembari mencengkeram perutnya dengan keras.
"Dasar bajingan ini..." Mata itu kembali ke arahnya, namun kini diselimuti kemarahan besar, "Sebanyak apa yang kamu ketahui?"
Mata indah nan mematikan itu memantulkan sosok Razark.
Bocah itu telah dirasuki oleh 'Monster'.
Tak ada rasa gentar ketika Razark membalasnya, "Bagaimana kalau kalian menebaknya?"
Senyum keji luntur. Kini wajah datar dan menegang itu jauh terasa lebih menakutkan. Bagaikan menyorotkan kematian ke arah Razark yang tak menyurutkan seringainya. Ada kemarahan. Kebencian. Keingintahuan. Dan bermacam emosi negatif yang terpantul dari sepasang heterochrome itu.
"Kamu terlalu percaya diri. Kamu nggak sebanding dengan kami." Tangan itu bergerak, menyentuh wajah Razark dan mencengkeramnya. Mata melotot tajam, "Aku akan meledakkan otakmu jika kamu tahu terlalu banyak."
ZRTTT--
"Guhkk--"
Mata heterochrome memaku sosok Razark. Menyorot bagaikan laser berbeda warna. Razark tersentak. Saat itu isi kepalanya bagaikan di obrak abrik. Ia merasa pusing dan ingin muntah secara bersamaan. Migrain hebat dan bagaikan di keruk oleh sesuatu. Pikirannya di buka satu persatu. Rentetan gambar bagaikan photobox seakan melintas di kepalanya. Tersedot ke dalam sebuah alat penghisap debu yang bagaikan melenyapkan ingatannya.
ZRTT--
Tangan kecik terdistorsi sesaat kemudian ditangkis menjauh. Si bocah melomoat mundur sembari memegangi pergelangan tangannya yang sakit bagai tersengat listrik. Razaek terlepas dari kekang yang menahannya dan kembali berdiri dengan angkuh.
"Aww... Gila... Kamu mendorongku?" Wajah itu tampak begitu senang seperti orang sinting, "Hebat. HEBAT SEKALI!" dia memekik kegirangan dan berniat mendekat, "Ah... Aku sungguh menginginkanmu!"
Wajah itu dipenuhi kegilaan. Menerjang ke arah Razark dengan kecepatan luar biasa. Razark berusaha menghindari setiap serangannya dan menahan pukulan beruntun yang mengarah padanya. Hantaman dari kepalan tangan kecil itu entah bagaimana terasa begitu kuat dan keras.
"Hey ayolah, apa kamu hanya akan terus bertahan? Kamu pikir aku hanya main-main?"
Bocah itu menjentikkan jarinya yang masih terbalur oleh darah, kemudian mengatakan sesuatu dengan lirih,
"Blood Purification: Red Whip."
Razark Shiryuu terlonjak kerika lecutan cambuk merah menyasar lehernya. Melompat mundur dengan lincah untuk menghindarinya. Namun cambuk membelah menjadi empat bagian dan menerjang tampa henti. Menghancurkan sofa dan furniture di ruang tengah dan menggores lantai. Razark menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh demi menghindari lecutan cambuk merah yang mengarah kembali.
CTASSH--
Cambuk menyayat lengan kemeja dan mengalirkan darah segar. Razark Shiryuu terdorong mundur hingga ke tembok. Mata itu kini berubah semakin tajam, memantulkan sosok bocah dengan senyum mengerikan yang bermain-main dengan cambuk yang terbuat dari darah. Tekanan di sekitarnya sama sekali tak menyurut. Makin mengerikan ketika dia mulai terkikik-kikik seperti seorang psikopat
"Bajingan ini-- dia bahkan bisa menggunakan Skill Manipulsi darah..."
"Ada apa, Paman? Apa kamu terkejut dengan kemampuanku?"
Razark mendecih, kemudian memberikan jawaban menyinggung, "Aku terkejut karena ternyata suaramu buruk sekali."
Bagaikan api yang disiram minyak, kemarahan meledak dari sosok Langa.
"Dasar Pria bermulut kotor! Akan kubungkam dirimu" Serangan kembali di lancarkan, namun kini Razark akhirnya merilis kekuatan yang susah ia tahan sejak tadi.
BWOSHH!!
Tekanan yang jauh lebih kuat merebak cepat dan menangkis serangan dari cambuk darah. Menghancurkan cambuk kecil itu dan mengubahnya menjadi percikan darah kembali.
"Apa?!"
Tak terima, bocah itu kembali membuat segel darah, namun tanpa di duga tangan telah dicengkeram lebih dahulu oleh Razark. Mengucap suatu kalimat perintah destruktif yang mengguncang dari dalam, "Diam dan keluar dari tubuhnya, b*tch."
Tubuh kecil itu gemetar oleh suaranya. Menatap sosok yang tampak begitu besar dengan mata berdenyar takut namun penuh suka cita, "Kamu... bahkan bisa menggunakan 'Titah Kuasa', bakat yang luar biasa..."
Tak ada senyuman di wajah Razark ketika sosok itu mulai mengoceh, "Wahai Pencari Kebenaran generasi kedua, mengapa kamu tunduk kepada para Noblesse dan menjalankan perintah seperti anjing pelacak?" Dia menyeringai, "Bukankah kamu hanya menyia-nyiakan bakatmu? Kamu bisa lebih dari ini."
"Diam."
"Apakah kamu marah ketika aku mengintip 'masa lalumu'?
Mulut itu lantas dicengkeram oleh tangan besarnya, "Aku akan benar-benar menghancurkan jiwamu jika bicara yang nggak perlu."
"Apa kamu pikir itu akan cukup untuk menghentikanku? Kihihi... Dasar bodoh~ kalau aku mati, bocah ini juga akan mati lho" Ujarnya dengan seringai penuh kemenangan, "Jadi ku peringatkan--" Mata menajam penuh intimidasi, "--jangan lagi ikut campur dengan urusan bocah ini."
Kali ini Razark tertawa. Ia mengeratkan cengkeramannya dan seketika sosok itu terlonjak ketika merasakan sakit yang mengejutkan. Seakan ada aliran-aliran listrik yang menuju ke arahnya tanpa henti.
"Kenapa-- kenapa aku kesakitan...?"
"Kamu meremehkanku?" Ujar Razark. Dengan suara dingin dan nada penuh ancaman. "Bahkan jika kalian semua hadir aku masih sanggup menahan sisa-sisa 'Utusan yang dilupakan' seperti kalian."
Kali ini sosok itu menjadi sangat marah, "Bajingan kecil... Berhenti bersikap sok hebat sebelum ku hancurkan seluruh pembuluh darahmu!"
ZUNGG--
"GAHK--" Sosok itu membola kaget. Batuk berdarah secara tiba-tiba ketika merasakan tekanan kekuatan mengerikan yang mencengkeram sekujur tubuhnya. Seakan tubuhnya diremas dan diledakkan kecil-kecil dari dalam.
Mata dingin yang menyorot itu berdenyar dan tiba-tiba berkilat keemasan, "Kamu terlalu banyak bicara. Sekarang kembalikan Bocah itu dan Enyahlah, Generasi Tua."
"GUAKKHH!!"
Sosok di dalam tubuh Langa melolong keras ketika Razark mencengkeram jantungnya dan menyalurkan aliran-aliran kehitaman tak beraturan yang kemudian masuk ke dalam tubuh itu. Menggelinjang hebat dan berusaha melepaskan diri dari Razark dengan mencakar tangannya,
"Brengsek kamu, Razark Shiryuu! Kami akan membunuhmu dan membinasakan jiwamu!"
Menahan rasa sakit dari cakaran di tangannya, Razark tak bergeming, "Berisik. Tidur balik sana. Belum saatnya kalian muncul di dunia ini."
"Terkutuk kamu! Son of b*tch! Kamu nggak akan bisa mendapatkan 'mereka semua'!"
Ada seringai kecil di bibir Razark ketika mendengarnya sebelum ia berkata, "Nggak perlu khawatir. Selama peta dan kamus nya ada padaku, aku akan tetap bisa menemukannya."
Kemarahan melejit naik. Suara teriakan tak lagi terdengar seperti suara manusia. Darah di dalam tubuh bagaikan mendidih dan terasa melelehkan seluruh otot dan tulang belulang. Lalu terdengar suara yang berasal dari banyak orang ketika bocah itu membuka mulutnya,
"Bocah itu adalah milik kami! Kamu nggak akan bisa menggunakannya! Semua usahamu akan sia-sia!"
"Kalau begitu kalian nilai dan lihat saja dari dasar jurang jiwa."
GYAAKKHHH!!!
Lengkingan kesakitan terdengar panjang. Suatu letupan dari listrik hitam yang bercampur dengan cahaya putih masuk ke dalam tubuh Langa dan menghilang. Udara di sekitar berputar-putar dengan hebat hingga memporak-porandakan ruang tengah yang damai. Terjatuh, pecah, berserakan, mengguncang ruangan dengan kuasa tak masuk akal yang menggemparkan. Tepat ketika lengkingannya terhenti, udara pekat di sekitar mereda. Mata heterochrome menyeramkan sebelumnya perlahan menghilang dan berubah menjadi sepasang kelereng hitam yang menatap sayu,
"...Sir... Razark..."
Ia hilang kesadaran dan limbung ke arah Razark. Razark menangkap tubuhnya dan lantas mengusap helaian hitam yang menempel di dada nya itu. Menghela napas pendek, mata yang tampak lelah itu menatap ke sekeliling ruangan yang berubah menjadi berantakan.
"Kamu harus membayar Upahku lebih untuk ini, Langa."
...........