THE TRUTH SEEKERS

THE TRUTH SEEKERS
CHAPTER 3 : Vonis Mati



Pip... Pip... Pip...


Rasanya begitu sunyi dan tenang


Pip.. Pip... Pip...


Begitu tentram dan nyaman


Pip... Pip... Pip...


Aku ingin merasakannya selamanya...


Pipppp--


DEG!


Mataku terbuka. Seluruh kegelapan itu runtuh perlahan. Yang tampak di mataku kini adalah langit-langit eternit dari sebuah kamar bernuansa putih terang yang menyakiti mata. Kepalaku terasa berat dan pegal di bagian leher. Ku edarkan pandangan ke sekeliling, mengamati sekitar.


Ranjang sempit dengan seprai putih dan selimut berwarna serupa. Lantai keramik bersih tanpa noda. Kemudian infus yang terpasang di tanganku.


Ah... Benar juga.


Aku berada di rumah sakit...


........


...~Mengapa takdir begitu kejam mempermainkanku? Mengapa duniaku begitu sunyi dan sendirian?~...


...THE SEEKERS 3 : Vonis Mati...


Tubuh yang terasa linu terbaring di atas ranjang sempit sebuah kamar di rumah sakit swasta. Balutan perban rapi tampak di beberapa bagian, menutupi luka-luka yang terasa perih menyakitkan. Tangan yang tertancap jarum infus terasa kebas dan kaku ketika digerakkan.


Semua ini bagaikan sebuah mimpi. Apa yang terjadi sebelumnya-- apa yang ku alami malam itu seperti mimpi buruk ketika aku tertidur. Namun bekas luka bakar yang tertoreh di tubuhku menjadi penanda bahwa aku telah melalui tragedi mengerikan itu.


Bangunan Kos yang terbakar dan hampir membuatku terpanggang hidup-hidup. Kengerian yang ku rasakan ketika mencoba melarikan diri. Semua rasa putus asa dan amarah yang tak tahu harus ku tujukan pada siapa. Kemudian--


Sosok tinggi besar yang berderak bagaikan api hitam.


Semua itu... Nyata...


Menutup mata dengan lelah. Aku bingung apakah harus merasa bersyukur atau tidak. Bersyukur karena masih hidup? Bahkan dengan keadaan kacau seperti ini? Kepala dan sekujur tubuh terbalut perban dan rasa linu yang menjalar seakan seluruh tubuhku diremukkan. Aku bahkan ragu apakah aku akan bisa berjalan dengan benar. Kakiku terasa jauh lebih sakit dan perih di bagian telapaknya.


Rasanya luar biasa aku masih bisa hidup melewati tragedi mengerikan itu. Bahkan setelah melompat dari lantai tiga dengan punggung menghadap tanah.


"Beruntung tulang punggung ku nggak patah. " Gumamku sembari mengusap-usap bagian punggung yang pegal. Mungkin salah satu dari sedikit keberuntungan tengah menghampiriku di saat-saat krisis. Aku patut berbangga diri.


Tapi selanjutnya apa yang harus ku lakukan? Tempat kos yang selama dua tahun ini menjadi tempat tinggalku sudah terbakar. Dan itu artinya aku tak memiliki "rumah" Sekarang. Aku ragu apakah masih ada barang yang dapat diselamatkan dari kebakaran itu karena semuanya sudah terbakar. Pakaian, Laptop, hingga handphone dan uang tabungaku semuanya terlalap api. Tak ada barang-barangku yang tersisa selain tubuhku ini.


Semua lenyap.


Ketika memikirkannya rasanya begitu menyesakkan.


Bagaimana aku harus membiayai hidupku setelah ini? Dimana aku harus tinggal? Bagaikan caraku membayar biaya rumah sakit?


Saat itu pintu kamar tiba-tiba terbuka. Lima orang masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Seorang dokter bersama perawat wanita. Kemudian dua orang pria berseragam polisi dan seorang lagi memakai jas rapih layaknya orang kantoran. Mereka mendekat ke ranjangku dan aku segera mendudukkan diri.


"Kamu bisa tetap tiduran. Nggak perlu bangun kalau masih sakit." Kata Dokter.


"Saya sudah nggak apa." Balasku.


Suster dan dokter segera sibuk mengecek keadaanku dan tampak menyuntikkan sesuatu di infus. Ku lirik tiga sosok tak biasa di dekatku. Si lelaki berjas hitam tampak sibuk memilah-milah kertas di pangkuannya. Seorang polisi tampak mengeluarkan notes kecil dan pena juga semacam recorder (?). Polisi satunya sempat memelototiku, membuatku secara otomatis menundukkan kepala karena merasa terintimidasi.


Kenapa perasaanku jadi nggak enak begini?


"Erlanga, benar?" Pria dalam balutan jas tiba-tiba bertanya. Aku mengangguk kaku.


"Ya, benar pak."


"Namamu pendek sekali, tapi cukup bagus. Lahir di Panti Asuhan Ibu Pertiwi tanggal 2 Oktober tahun xxxx. Yatim piatu huh? Umur 19 tahun. Masih muda ternyata. Sekolah terakhir di SMP Nusantara, melanjut ke SMA Bakti Putra hingga semester 2. Jadi kamu nggak melanjutkan pendidikanmu?"


Entah mengapa ada nada mengejek yang kutangkap ketika dia membaca riwayat hidupku.


"Kenapa kamu nggak melanjut pendidikanmu?"


"Saya miskin pak." Jawabku to the point.


"Bagaimana dengan panti asuhanmu? Kudengar kamu kabur dari sana ketika berusia 14 tahun."


Mataku menyipit sengit.


Sialan. Sampai sejauh mana mereka mengulik informasi tentang diriku?


"Saya hanya pergi karena merasa sudah cukup mampu untuk hidup sendiri. Bukan berarti saya kabur." Jawabku tegas.


Dia mendengkus, "Usia 14 tahun kamu bilang mampu hidup sendiri? Kamu belum dewasa, nak. Masih perlu pengawasan dari orang yang lebih tua. "


Aku membalasnya, "Untuk anak 14 tahun yang bisa bekerja sendiri dan menghasilkan uang untuk hidupnya, saya pikir itu bisa disebut dewasa, pak. Usia dan tubuh nggak menjamin mental dan pikiran berjalan dengan seimbang."


Ada kerutan yang sempat kutangkap di wajahnya yang berminyak. Namun dia dapat dengan cepat menutupinya dengan memasang sikap santai kelewat ramah.


"Kamu ternyata lebih cerdas dari bayanganku. Jadi karena itu akhirnya kamu pergi dan mengontrak di tempat Pak Yuda?"


Aku sedikit tersinggung. Ada apa dengan nada bicaranya yang sarkas ini?


"Mungkin bapak sudah tahu kalau saya sempat berganti tempat tinggal beberapa kali." Balasku, melirik ke arah kertas-kertas yang masih berada di tangannya. Dia memasang tampang terkejut. "Ohh, benar juga. Maaf aku nggak sempat membaca laporannya lebih jauh." Balasnya santai. Aku menjadi makin kesal.


Apa orang ini ingin mempermainkanku? Dia bahkan nggak mengenalkan dirinya dan terus mengoceh soal diriku. Jika tebakanku benar, pria ini adalah seorang penyidik dari kepolisian. Aku dapat melihat lencana yang dia sembunyikan di kantung kemeja nya. Melirik ke arah dua orang berseragam polisi, mereka tampak sibuk mencatat sesuatu di notes.


Jadi aku sedang diselidiki ya?


Pria dalam balutan jas hitam mengubah posisi duduknya dan meletakkan berkas di pangkuannya, "Ah iya, sebelumnya perkenalkan. Namaku Andrew Thomas yang berugas untuk menyelidiki kasus terbakarnya tempak kos milik Bapak Yuda. Jadi mohon kerjasamanya."


Dalam posisi seperti ini, biasanya orang yang memperkenalkan diri akan mengulurkan tangan dan saling berjabatn. Tetapi pria itu tak melakukannya. Alih-alih mengulurkan tangan, dia malah mengeluarkan ponselnya dan tampak mengetikkan sesuatu. Aku hanya memperhatikan nya dengan perasaan tak enak yang sejak tadi menggangguku.


"Pada tanggal 12, tepat dua hari yang lalu, terjadi suatu kebakaran di tempat Kos Bapak Yuda yang mengakibatkan 16 korban jiwa, termasuk pak Yuda sendiri. Api baru bisa dipadamkan selama lima jam dan bahkan sempat memanggil lima mobil pemadam kebakaran."


Aku terdiam. Syok ketika mendengar apa yang dikatakan nya.


Korban jiwanya sebanyak itu? Bahkan Bapak Kos juga turut menjadi korban?


"Sepertinya kamu baru mendengar beritanya. Yah, maklum saja kamu pingsan sejak kejadian hari itu dan baru saja bangun. Tapi bukankah seharusnya kamu sudah bisa menduganya?"


"Apa maksud bapak?"


"Polisi sudah melakukan penyelidikan menyeluruh, dan dikatakan bahwa api berasal dari kebakaran yang disengaja."


"Disengaja?"


Dia tersenyum. Senyum yang begitu memuakkan namun menyimpan maksud lain.


"Api itu berasal dari kamarmu."


Aku tentu saja terkejut.


Apa? Dari kamarku? Bagaimana bisa api itu dari kamarku padahal lantai satu dan dua tampak sudah lebih dulu terlalap api? Siapa yang sudah membakar kamarku? Aku sungguh nggak bisa ingat apapun. Lagi pula waktu itu aku juga dalam keadaan terikat dan pingsan.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi?


"Da-dari kamar saya? Ta-tapi siapa yang melakukannya?" Tanyaku dengan wajah pucat pasi. Namun jawaban yang kudapat justru adalah hal yang terduga.


Jawaban yang memojokkanku.


"Bukankah kamu yang melakukannya, nak Erlanga?"


"... Hah? "


Dia menyeringai, "Kamu lah si pelaku pembakaran itu. "


..........................


TOK! TOK! TOK!


Suara palu yang diketok terdengar menggema hingga ke penghujung ruangan. Hakim telah menetapkan keputusan dengan penuh keyakinan setelah pembacaan terdakwa.


"Dengan ini, Saudara Erlanga dinyatakan bersalah! Vonis hukuman mati akan ditetapkan 15 hari lagi!"


Suara sorakan mengalun keras. Bermacam umpatan dan makian dilemparkan dengan penuh amarah. Aku terduduk kaku dengan wajah pucat pasi. Menatap sosok hakim yang telah menjatuhkan hukuman dengan nanar dan penuh pertanyaan.


"Tapi-- kenapa?! Saya nggak melakukan pembakaran! Saya juga korban pak!"


"Vonis sudah dijatuhkan. Kamu nggak bisa mengelak lagi. "


Aku bangkit dari kursi, "Tapi bukan saya pelakunya! Waktu itu saya bahkan diikat di kursi! Saya--ughh--" Suatu benda tumpul tiba-tiba menghantam kepalaku. Aku limbung dan hampir hilang keseimbangan. Darah mengalir dari kepalaku dan seketika pandanganku jadi berkunang-kunang.


Dari belakang suara orang-orang menyorakiku dengan penuh kemarahan.


"Dasar pembunuh! Nggak usah sok membela diri lagi!"


Aku terhenyak. Suara-suara lain mengikuti.


"Pembunuh biadab! Apa salah Anakku?! Teganya kamu membunuhnya!"


"Tutup mulutmu dan mati sana bocah pembunuh!"


Mataku berdenyar nanar. Bermacam fitnah dilontarkan oleh puluhan orang yang menghadiri pengadilan. Aku masih ingin membela diri. Aku nggak bersalah! Aku bahkan menjadi korban di insiden ini! Tapi mengapa malah aku yang disalahkan?! Mengapa malah aku yang dicap sebagai pelaku pembakaran?!


Namun ketika melihat ke arah orang-orang itu, segala keyakinanku runtuh seketika.


Amarah. Kebencian. Kesedihan mendalam.


Dan dendam.


Hanya dengan melihatnya, aku langsung tahu. Tatapan menjijikkan yang mereka berikan padaku. di saat bersama. Segala makian dan sumpah serapah yang salah mereka luapkan. Menuding dengan geram dan seakan ingin mengutukku.


Sebuah benda tumpul dilemparkan kembali dan mengenai tubuhku. Aku mengangkat wajah dan menemukan seorang ibu-ibu dengan wajah terluka namun diselimuti kebencian membara. Dia berteriak, menyumpah kepadaku dengan penuh amarah,


"ANAK SETAN! KAMU PANTAS MATI! NERAKA MENANTIMU DAN MEMBUSUKLAH DISANA! TAK ADA PENGAMPUNAN UNTUKMU, B*JINGAN!"


Rasa sakit di dalam dadaku menumpuk. Pecah, dan berserakan. Berubah menjadi airmata yang menuruni wajah tanpa bisa terbendung. Tatapanku kosong. Sekosong perasaanku yang telah dibuat hancur adanya. Sekosong kepercayaanku yang telah dibuat remuk dengan segala macam fitnah dan makian yang tak seharusnya ku dapat.


Rasa sakit di kepalaku ini bahkan nggak seberapa dibanding hatiku yang hancur lebur.


Aku akhirnya mengikuti polisi yang menggiringku keluar dari gedung pengadilan dan membawaku ke penjara.


Aku akan mati dalam 15 hari lagi.


.......


Manusia itu makhluk yang bodoh.


Bahkan jika mereka tahu semua itu tidaklah benar, mereka akan tetap mempercayainya. Selama suara mayoritas meneriakkan kebenaran menurut mereka, para minoritas tak memiliki kekuatan untuk menolak dan menyangkalnya.


Dunia yang sungguh busuk.


Ah, sudah berapa lama ya aku berada di penjara ini? Saking putus asanya, aku bahkan lupa menghitung waktu. Oh iya, itu sudah nggak ada gunanya kan? Buat apa aku menghitung waktu kalau kematianku sudah ditetapkan begitu?


Aku akan mati. Mati dan menghilang dari dunia ini. Mati tanpa ada orang yang menungguku. Mati... Tanpa harus merasakan susah lagi.


"Khh--"


Tertawa. Aku tertawa sendirian di dalam bangsal dingin beralas tikar kumuh hingga suaraku serak. Menyakitkan, terbatuk-batuk dan hampir tersedak. Sempat mendapat lirikan sinis dari polisi yang berjaga di tempat ini, dan mendengar bagaimana dia memanggilku,


"Bocah pembunuh sinting."


Ya. Julukan baru yang sungguh indah untuk hari-hari terakhirku. Aku bahkan ingin tertawa terbahak hingga tenggorokanku rusak. Namun suaraku tak bisa keluar lagi. Tenggorokanku telah mengering karena selama beberapa hari berada di penjara ini, aku sempat berteriak-- meneriakkan keadilan untukku. Membela diriku karena aku memang tak bersalah.


Namun tetap saja semua berakhir sia-sia. Bahkan aku sempat dipukuli oleh napi lain dan dicekik oleh mereka. Dipermainkan seperti orang bodoh sampai dijadikan budak dan diperlakukan selayaknya binatang. Sebelum akhirnya sipir memisahkan sel ku karena-- sedikit-- merasa iba.


Kalau mengingat-ingat lagi apa yang selama ini terjadi padaku-- dari sejak aku bisa mengingat hingga detik ini, rasanya semua seperti bualan. Hidup yang seperti drama murahan.


Hidup seperti daun kering yang gugur dan tersapu angin hingga akhirnya terbakar.


Aku menertawakannya. Menertawakan kehidupanku yang begitu menyedihkan.


Hahaha...


Brengsek.


F*CK!


Air mataku mengalir tanpa bisa kubendung.


Kenapa aku harus hidup jika pada akhirnya berakhir seperti ini? Apa gunanya sebenarnya hidupku selama 19 tahun ini?Apakah hanya sebagai tontonan? Atau untuk pelengkap drama dunia? Ataukah aku memang tak seharusnya ada?


Sialan.


Ku pukul jeruji besi dengan sisa tenaga yang kupunya. Menimbulkan lecet yamg sama sekali tak terasa menyakitkan. Bekas luka bakar sebelumnya bahkan belum sepenuhnya mengering, namun kini menjadi mati rasa. Aku sudah tak peduli pada tubuhku yang hingga kini masih terasa linu dan sakit. Tak peduli dengan torehan luka yang bernanah. Menatap kosong dengan pasrah dalam lelehan air mata.


"Aku akan mati, huh?" Gumamku sembari tersenyum lemah. Memeluk lutut yang kaku dan kesakitan.


Akhirnya aku akan mati. Meninggalkan dunia memuakkan ini. Aku takkan tersiksa di dunia ini. Aku nggak harus berpikir membayar sewa rumah. Aku nggak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Dan aku nggak harus terganggu oleh hantu-hantu dan ketakutan setiap harinya.


Karena aku akan mati.


"Kalau mati... Aku bakalan tenang kan?"


Tanganku bergerak menyentuh leher.


"Hidupku sudah nggak ada gunanya. Dari pada nanti sakit... Mending... Mati sekarang.. Kan?"


Genggaman mengerat, kuku tajam menggoreskan luka pada leher jenjang. Mata kosong menatap ke lantai dingin.


"Ayo... Ayo mati saja sekarang--"


Kedua tangan mengerat. Napasku terasa sesak. Seakan ada dorongan untukku melakukan lebih jauh. Menyakiti lebih banyak.


Dan mencekik leherku lebih kuat.


"Khhkk--"


Lanjutkan. Teruskan.


Pikiranku kabur. Yang dapat ku ingat hanyalah rasa menyenangkan ketika rasa sakit mulai menjalar di sekitar leherku. Aku tersenyum,


"...Ayo mati--"


Tep!


"Jangan pikir masalahmu bakal selesai dengan bunuh diri."


Aku berhenti ketika sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku. Napas yang sesaat terhenti kembali mengisi paru-paru. Kesadaranku bagai kembali sepenuhnya. Menoleh pelan, tampak sosok lelaki berambut hitam yang diikat setengah kebelakang tengah menatapku dengan sepasang mata dinginnya.


Aku tertawa. Tertawa keras tanpa suara seakan melihat suatu lawakan garing nan memuakkan.


Kacau. Semuanya kacau balau.


"Kenapa Anda datang disaat Saya nggak membutuhkan Anda..? Padahal sebelumnya anda mengabaikan saya..."


Orang ini. Aku sungguh nggak bisa memahaminya.


Dia muncul bagaikan pahlawan, tapi kemudian menghilang seperti buih lautan. Kehadirannya membawa kesan dingin mengintimidasi, menghantarkan ngeri yang sanggup membuat bergidik. Tetapi di satu sisi, dia juga menghantarkan ketenangan dan rasa aman yang tak terjelaskan.


Sosok yang sebelumnya muncul di restoran waktu itu kini telah berada di seberang jeruji besi kurunganku.


Aku sungguh tak memahaninya


"Kenapa anda bisa berada di sini? Apakah anda ingin menertawakan saya? Atau anda ingin ikut mengutuk saya seperti orang-orang di luar sana?"


Aku mungkin sudah gila. Yah, dengan semua hal yang terjadi dan menimpaku hingga menunggu vonis mati di penjara dingin ini sudah cukup untuk membuatku mengalami gangguan mental.


"Sebentar lagi saya mati sih, jadi anda bisa memaki saya semau anda. Anda bisa mengutuk saya atau mengejek saya. Saya sudah nggak peduli lagi."


Walaupun semua itu hanya bualan belaka. Karena air mataku bahkan lolos dan mengalir menuruni pipiku ketika aku mengatakannya.


"Anak bodoh." Dia melepaskan tangannya, "Apa kamu pikir aku kesini hanya untuk mendengar bualanmu?"


Aku tak menjawab dan hanya menatap lantai dengan linglung. Dia bangkit dengan sikap angkuh, dan aku harus mendongak untuk bisa menatapnya. Mata itu begitu tenang bertemu pandang denganku,


"Cepat angkat bokongmu dari lantai dingin ini. Kita harus segera pergi."


"Apa--" Aku nggak paham dengan apa yang dia katakan. Ketika dia memberi kode dengan tangannya, dua orang polisi tiba-tiba muncul dan membuka kunci sel ku. Aku ditarik keluar dari bangsal ku dengan penuh kebingungan.


"Setelah ini jangan pernah perlihatkan wajahmu lagi." Kata sipir penjara. Aku mengerjap.


Eh?


Bermacam pertanyaan memenuhi diriku, namun sebelum aku tersadar sepenuhnya, aku sudah ditarik lebih dahulu. Pria itu mencengkeram lenganku dengan kuat dan menyeretku bersamanya keluar dari penjara. Aku tentu kebingungan dengan apa yang dilakukannya dan sempat menoleh kebelakang. Bangsal tahananku telah dikunci kembali dan dua orang sipir tadi pergi ke arah yang berlawanan dengan kami.


"E-eh-- kenapa aku dikeluarkan? Apa vonis matiku dipercepat?"


Tak ada jawaban.


"Hey, anda bisa mendengarku kan? Anda mau membawaku kema--gahhkk--"


Dia memukul perutku tepat di ulu hati. Aku merasakan rasa sesak dan sakit secara bersamaan seperti ingin muntah. Sebelum akhirnya aku menjadi sangat lemas dan tak sadarkan diri.


...................


"..ngun..."


"...bangun..."


Aku mengerjap beberapa kali. Merasa pandanganku berkunang-kunang. Uuhh... Leherku sakit sekali deperti dibebani oleh sesuatu yang membuat pegal. Perutku keram...Tubuhku... Tubuhku mati rasa. Rasa pengap membuatku bernapas dengan tak nyaman.


"Kalau nggak bangun, aku bakal melemparmu pada gerombolan setan di luar sana."


Aku lantas membuka mata ketika mendengar ancaman mengerikan itu. Namun aku tak dapat melihat apapun.


Eh? Kenapa mataku ditutup? Lalu tanganku... Tanganku masih terborgol! Kakiku bahkan juga diikat menjadi satu! Sial! Apakah kejadian di kamar kos yang terbakar terulang lagi? Kursi kayu ini bahkan terasa lebih menyakitkan dan tak nyaman!


"Kupikir kamu nggak akan bangun. Aku sudah bersiap melemparmu supaya digerayangi oleh setan-setan menjijikkan di luar sana."


Bulu kuduk ku merinding seketika. Suara ini-- aku mengenalinya!


"A-apa yang anda lakukan pada saya? Kenapa saya diikat dan mata saya ditutup?" Tanyaku pada orang itu.


Ya. Pria yang membawaku keluar dari penjara. Aku akhirnya ingat kalau sebelumnya dia menyeret ku keluar dari bangsal kemudian meninju perutku hingga tak sadarkan diri. Dan sekarang... Aku berakhir seperti ini.


Sialan. Perutku jadi terasa makin nyeri. Aku nggak tahu sebenarnya apa tujuan orang ini. Dia menemuiku di penjara dan membawaku begitu saja tanpa penjelasan apapun. Dan sekarang, aku bahkan diikat seperti ini!


Dan kenapa dia nggak segera menjawab?


"Tolong jawab saya, kenapa anda membawa saya dan mengikat saya seperti ini? Apa sebenarnya tujuan anda?"


Nggak ada jawaban. Aku jadi merasa tak nyaman dengan keheningan yang terjadi tiba-tiba.


"A-anu--"


"Apa kamu nggak mau berterimakasih lebih dulu pada orang yang mengeluarkanmu dari penjara? "


Seandainya mataku nggak ditutup, aku pasti sudah menatap sengit ke arahnya. Apa orang ini sinting? Untuk apa aku berterimakasih pada orang yang membawaku tanpa tujuan yang jelas dan mengikatku seperti ini?! Tapi dengan kegelapan dan ketidak berdayaanku, rasa takutku jadi semakin menjadi. Bahkan suara-suara seperti benda yang disayat dan logam yang beradu terdengar begitu peka.


Dia kembali diam dan keheningan ini makin membuat nyaliku menciut. Dengan segala keberanian yang kupunya, aku melontarkan pertanyaan kembali padanya.


"Apakah... Apakah anda yang sebelumnya mengikatku di--kkhhkk--!" Aku tersentak. Sebuah tangan dingin tiba-tiba mencekik leherku dengan kuat. Kepalaku terantuk leher kursi dan terasa pening seketika.


"Diamlah."


Merinding. Seluruh tubuhku merinding hingga bergetar. Mendengar satu kata bernada rendah yang terasa begitu mengancam. Seakan sebuah perintah mutlak yang membuat seluruh keberanian ku menguap seketika.


Orang ini menakutkan! Aku membencinya. Tekanan yang membuat sekujur tubuhku gemetar, kemudian hawa dingin tak mengenakkan yang membuatku merinding-- ini bahkan nggak jauh beda ketika aku bertemu para hantu.


Tidak. Ini jauh lebih kuat dan mengerikan!


"Lephas--khhann... Apa..--khh Maumu...?"


"Menurutmu?"


Aku mendesis. Brengsek! Orang ini benar-benar membuatku gila!


Ketika dia melepaskan cekikannya, aku lantas menarik napas dengan rakus. Tenggorokan ku sakit sekali hingga aku terbatuk-batuk.


"Hey Nak, aku ingin bertanya. "


Ku rasakan sosok itu mendekat, dan sepertinya dia berdiri tepat di hadapanku. Aku diam masih mengatur napas di tempat sembari mendongakkan kepala ketika dia melontarkan sebuah pertanyaan aneh yang sungguh mengejutkan ku,


"Apa kamu sudah bosan hidup?"


Aku terhenyak.


Apa... Maksudnya ini?


"Me-mengapa anda menanyakannya?"


Mungkin itu adalah pertanyaan yang salah. Atau seharusnya aku tak menanyakannya. Karena ketika kalimat itu selesai terucap, sebuah pernyataan mengejutkan terlontar dari mulutnya,


"Karena aku berpikir untuk membunuhmu."


[BERSAMBUNG]