THE TRUTH SEEKERS

THE TRUTH SEEKERS
CHAPTER 6 : Ujian Dimulai (1)



Cangkir berisi kopi pahit mengepulkan asap halus. Membumbung, merebak ke arah sosok yang memegangnya dengan dua jari. Helaian rambut hitam yang tak tersisir rapih dibiarkan tergerai begitu saja dan bergerak-gerak ketika angin malam berhembus tenang. Udara dingin sama sekali tak membuat sosoknya menggigil atau memiliki niat untuk masuk ke dalam rumah, alih-alih tetap berdiri di balkon hanya dengan balutan kemeja tipis. Mata sayu dengan guratan-guratan lelah itu hanya memandang ke luar udara bebas tanpa memfokuskan pada satu objek pun.


Tangan bergerak, menarik cangkir mendekati bibir dan menyeruputnya. Rasa pahit merebak di dalam mulut, terkecap oleh lidah dan melewati tenggorokan. Helaan napas tampak lebih berat seakan melepas penat dari pekerjaan 'extra' yang harus ia lakukan akhir-akhir ini. Sepasang iris gelap bergerak kala merasakan sesuatu yang familiar mendekat padanya.


"Laporannya, Kuroneko. "


Sesuatu muncul dari kegelapan pekat. Sosok yang terhalang bayang-bayang berlutut di belakangnya.


"Masih sama seperti kemarin. Tak ada tanda-tanda 'Subjek Kegelapan' muncul kembali, namun ada jejak yang ditinggalkan oleh Sang 'Necromancer'. Seperti yang sudah anda duga, tempat itu telah 'ditandai'. "


"Berapa jumlah si Necromancer? "


"Dua atau tiga. Masing-masing dapat menggunakan dark matter dan memanggil Subjek Kegelapan, 'Nazgulez'. "


"Begitu ya... " Ujar Pria itu, setengah bergumam. Tampak memikirkan sesuatu dalam diam. Keheningan yang sesaat menerpa keduanya membuat atmosfer mulai terasa berat.


"Selanjutnya apa yang harus saya lakukan? "


"Untuk sementara coba selidiki langkah si Necromancer dan langsung laporkan jika ada kemunculan dari Nazgulez."


"Dimengerti."


"Tapi sebelum itu," Pria itu berbalik, menghadap pada sosok yang berlutut di kegelapan dan menatapnya, "Aku punya satu tugas lain yang harus diselesaikan. "


.......


...~Aku akan bertahan dengan satu nyawa berharga yang telah kau selamatkan~...


...THE SEEKERS 6 : Ujian Dimulai...


"Maaf Sir, sebenarnya kita mau kemana?"


Aku memberanikan diri bertanya pada pria di sampingku yang tengah mengemudikan mobil. Sudah satu jam lamanya kami berkendara, tapi pria ini bahkan nggak mengatakan apapun. Dia hanya menyulut rokok di celah bibir dan fokus pada jalan yang kami lalui.


"Sekolah." Jawabnya singkat seperti biasa. Aku mengernyitkan dahi.


Kesekolahan? Jam 1 malam begini? Serius?


Mau ngapain coba?!


Orang yang duduk di kursi kemudi, Razark Shiryuu. Paman yang telah membebaskanku dari penjara dengan membuatku berhutang sebanyak hutang negara. Dia membiarkanku tinggal di rumahnya selama beberapa hari belakangan dan bahkan memberikan fasilitas makan sehari 3x dan membelikanku pakaian baru. Aku benar-benar berhutang banyak padanya-- tentu saja karena semua ini bakal dimasukkan ke dalam hutang seumur hidupku.


Karena dia terlihat seperti orang asing, aku memanggilnya "Sir Razark".


Dia sangat misterius dan acuh, seakan nggak ada sesuatu pun di dunia ini yang bisa mengubah ekspresi stoic nya itu. Dia bekerja sebagai seorang "Penjarah Makam", yang-- jujur saja-- aku bahkan nggak memiliki bayangan tentang pekerjaan macam apa itu sebenarnya.


Suaranya yang rendah dan dingin kembali terdengar ketika mobil yang kami kendarai akhirnya berhenti,


"Kita sudah sampai. "


Pria itu memarkirkan mobilnya di jalan sepi di daerah pinggiran kota tua. Dia melepas sabuk pengaman kemudian keluar dari mobil. Aku dengan wajah penuh pertanyaan mengikutinya saja. Suatu perasaan tak enak menggangguku dan aku lantas bertanya,


"Anu, Sir. Jangan bilang Sekolah yang Anda maksud--"


"Ya. Seperti yang kamu pikirkan. "


Rahangku melorot dengan tak elit. Tak percaya mendengar jawaban santai pria ini.


Yang benar saja... MAKSUDNYA SEKOLAH YANG SUDAH DITINGGALKAN DAN TERBENGKALAI INI?!


Di bawah langit hitam tanpa hiasan bintang, sebuah bangunan bertingkat tiga berdiri dalam kesunyian. Seakan terasing dari hiruk pikuk perkotaan, menyendiri di atas lahan kosong seluas satu kompleks tanah. Efek remang-remang dan suara-suara serangga membuat tempat itu memiliki kesan muram dan lebih pada menyeramkan.


Papan usang bertulis Nama Sekolahan masih tergantung di depan. Seekor gagak hinggap di atasnya, bergerak-gerak seakan penasaran pada kedua pendatang asing. Ku tengok sebuah papan lain berukuran cukup besar yang melintang menghalangi jalan masuk ke sekolah. Tulisannya :


"WARNING! DILARANG MASUK! KAWASAN MILIK PEMERINTAH"


"Sir?! " Aku terkejut dan langsung memanggilnya ketika pria yang datang bersamaku melangkah masuk begitu saja. Dia berhenti, "Ada apa?"


"Disini tertulis peringatan kalau kita nggak boleh masuk."


Pria itu menatapku dengan datar, kemudian mengikuti jari telunjuk ku yang mengarah pada papan di depan gerbang. Terdiam sejenak seperti tengah membacanya, sebelum akhirnya--


DUAKK!


--di tendang begitu saja hingga rusak.


Aku melongo. Ingin menghentikannya, tapi dia keburu masuk ke halaman sekolahan.


Orang ini seenaknya sekali!


Akhirnya dengan berat hati aku mengikutinya memasuki bangunan menyeramkan itu.


Kami memasuki lorong di lantai satu setelah melewati pos satpam dan langsung disuguhi pemandangan khas sekolah yang membuatku sedikit bernostalgia. Namun semuanya tertutup oleh kesan horor yang membuat kulitku meremang. Pintu-pintunya masih tertutup dan aku nggak bisa melihat ke dalam dengan jelas karena jendela kacanya tertutup debu tebal. Lampu di luar yang sebagian masih dapat menyala nggak terlalu membantu untuk melihat lebih jelas. Beberapa kali aku tersandung oleh kayu yang telah lapuk atau benda-benda usang yang berserakan dan sudah tak dapat diidentifikasikan. Gundukan tanah di mana-mana, serangga dan tikus berlalu-lalang, kelelawar berkelebat di sana-sini.


Udara pengap dan kotor memasuki hidung, sempat membuatku bersin dan merasa pilek. Mata pedih karena kemasukan debu. Di tambah--


Hihihihi~


Aku berjengit ketika mendengar seseorang tertawa di belakangku. Dengan refleks kuraih mantel abu-abu di depanku dan merapatkan diri.


"Jangan memegang mantelku. "


"A-apa anda nggak dengar suara tadi? "


"Dengar. Jadi cepat menyingkir."


"Ta-tapi aku takut... "


Aku dapat melihat alis tebalnya mulai menukik kesal, "Apa sekarang nyalimu sudah menciut cuma gara-gara ditertawakan makhluk bodoh dengan daster putih di belakang?"


"Gyahhh! Jangan mengatakannya dengan jelas!" Aku menutup mataku rapat-rapat dan mencengkeram mantelnya dengan lebih kuat. Bayangan makhluk berambut awut-awutan dengan terusan putih dan mata sehitam jelaga langsung hinggap di kepalaku. Bulu kudukku meremang hebat ketika suara-suara lainnya turut terdengar. Berbisik-bisik dengan tak biasa  dan membuatku merasa makin ketakutan. Decakan terdengar,


"Nak, mulai sekarang cobalah untuk menyimak baik-baik semua yang kukatakan dan apa yang ku lakukan. Kita akan memulai 'pembelajaran'."


"Pe-pembelajaran?"


"Anggap saja pengenalan akan lingkungan hidup yang akan kamu lalui mulai dari sekarang."


"Kalau begitu... A-apa yang harus saya lakukan?"


"Kamu akan paham jika kupraktekkan secara langsung. Jadi buka lebar-lebar mata dan telingamu. Aku akan mulai dari yang paling dasar."


Ku rasakan udara berat seakan melingkupi sekitarku. Pria itu melangkah kembali dan aku mengekor dengan tetap berpegangan pada mantelnya. Sia mulai membuka suara dan memberikan 'pembelajaran'.


"Unliving, seperti namanya mereka adalah makhluk tak hidup dan tak bernyawa. Unliving dibagi menjadi beberapa tingkatan. Yang paling rendah disebut Roh. Maylings* dan Wraith* juga termasuk ke dalamnya. Mereka bisa cukup mengganggu ketika bergerombol--"


(*Maylings : Jiwa anak-anak yang mati di bunuh atau mati dalam keadaan masih suci)


(*Wraith : Cerminan dari orang yang sekarat)


Suara-suara seperti kerumunan orang di sekitarku terdengar makin keras dan makin jelas,


"Aku sedang menjelaskan, jadi diamlah."


Seketika suasana menjadi sunyi. Aku menoleh kesana kemari dengan takjub. Suara-suara tadi telah menghilang seluruhnya seakan mengikuti perkataan Pria ini!


"Mereka menyebalkan seperti ngengat. Mereka akan terus bicara karena emosi manusia masih tertinggal di dalamnya. Cukup berikan bentakan dengan nada mengancam dan tunjukkan bahwa kamu lebih mendominasi. Mereka akan diam dan menghilang."


"Selanjutnya unliving tingkat 4. Mereka berbeda dengan Roh karena bisa mewujudkan sosoknya. Mereka lebih sering mengganggu manusia walaupun nggak terlihat oleh mata orang biasa. Contohnya Hantu."


Ketika kaki kami melangkah memasuki lantai dua, kurasakan udara dingin merebak menyentuh kulit dan membuat bulu kudukku berdiri. Suara-suara yang jauh lebih sulit dipahami terdengar dari berbagai arah. Sosok-sosok dalam berbagai rupa dan bentuk bermunculan di sekitarku. Sosok bocah berkepala plontos berlarian seakan mengajak bermain, makhluk tinggi besar yang menghalangi separuh lobi, kemudian ada juga sosok berwajah mirip hewan di balik ruangan dan bunyi mendengkus-dengkus. Mereka dengan berani mengikuti kami seakan penasaran dengan apa yang akan kami lakukan. Tanpa sadar aku memegangi mantel dengan kebih kuat.


Ini dia yang sangat aku hindari.


"Mereka muncul karena adanya emosi negatif. Mereka lebih sering mengandalkan insting dan bertindak berdasarkan naluri. Beberapa hantu menjadi agresif dan menyerang manusia ketika dirinya merasa 'terusik'. Untuk orang biasa, mereka cukup berbahaya."


Sesuatu muncul di hadapan kami dan aku otomatis memekik dengan ngeri ketika sosok wanita dalam balutan terusan putih lusuh tiba-tiba muncul dari balik tembok. Kepalanya berputar patah-patah dan merangkak cepat ke arah kami dalam posisi kayang. Aku berjengit,


"S-Sir--"


DUAKKHH--


GYAKKKHH--


Graskk--


"Kalau kesal pukul atau tendang saja mereka."


Aku melongo seperti orang bodoh. Tak percaya karena baru saja melihatnya menendang si hantu kayang layaknya bola sepak hingga hantu itu menggelinding ke arah tangga yang menuju lantai bawah. "Ha-hah? Gi-gimana cara melakukannya?"


"Kamu sudah memiliki kemampuan dasar untuk bersentuhan dengan makhluk tak hidup. Jadi kamu bisa menendangnya."


"Tapi... Itu kan nggak sopan.."


Dia mengernyit, "Memangnya mereka manusia?"


Benar juga sih ...


"Kalau kamu nggak mau bersentuhan dengan mereka. Kamu bisa melakukan ini--"


Zraathh--


Aku tersentak ketika suatu aura kuat tiba-tiba terasa merebak dari tubuhnya. Menggusur udara dingin menyesakkan dan membuatnya menjadi lebih hangat. Suara pekikan dari beberapa entitas tertangkap pendengaran dan sosok-sosok yang semula bermunculan dan mengikuti kami mundur dengan gelisah dan menghilang begitu saja.


Mereka semua kabur seakab ketakutan.


Dan aku sedikitnya tahu apa penyebabnya.


"Gunakan kemampuanmu di dalam dirimu dan tunjukkan dominasimu untuk mengusir mereka dengan perintah kasar. Ini salah satu dari Kemampuan Psikis Pasif."


"Kemampuan... Psikis Pasif?"


"Mendengar, Melihat, Merasakan, Menyentuh, Memerintah. Semua itu termasuk Skill Psikis tipe Pasif. Cukup efektif untuk menekan para Unliving tingkat empat. Tapi nggak akan banyak berpengaruh pada Unliving peringkat tiga keatas."


Aku tak begitu memperhatikan karena masih merasa takjub dengan apa yang dilakukan pria ini barusan.


"Apakah aku bisa melakukan yang begitu juga?"


"Apa kamu ragu dengan kemampuanmu?" Aku menoleh padanya dan dia menatapku, "Kamu pikir kenapa kamu bisa melihat, mendengar, bahkan bersentuhan dengan hantu?"


".... Karena Skill Pasif?"


"Benar. Kemampuan yang kamu anggap seperti kutukan itu bisa memberikan efek seperti ini jika kamu bisa memanfaatkannya dengan baik."


Aku tak berbohong jika saat ini aku tercengang. Kemampuan terkutuk ini... Jika aku bisa mempelajarinya aku bahkan bisa mengusir para hantu seperti yang dia lakukan?!


"Bagaimana dengan Peringkat 3?" Tanyaku mulai penasaran dengan materi pembelajaran yang ia sampaikan. Kakinya berhenti melangkah tepat di depan sebuah ruang kelas yang pintunya tertutup rapat. Tiba-tiba wajahnya menjadi suram.


"Untuk sekarang lebih baik kamu mempelajari sampai sini dulu."


Tengkukku sukses mendingin. Namun aku nggak bertanya lebih lanjut ketika pria itu memandang ke arah pintu coklat yang tertutup. Memegang knop nya dan menariknya.


Namun pintu tak dapat dibuka. Seperti telah dikunci.


"Dasar bocah-bocah nakal." Gumamnya entah pada siapa.


Ku lihat sebuah cahaya berwarna putih kebiruan memercik dari tubuhnya dan bagai tersalur ke tangan kanan yang memegang knop pintu. Cahaya itu berputar membentuk lingkaran di pergelangan tangannya sebelum bergerak terserap ke knop. Aku merasa seperti bermimpi dan mengedipkan mata beberapa kali sebelum akhirnya-


Cklekk--


Pintu berhasil dibuka. Aku menggosok mata ku, setengah tak percaya,


"Nak, apa kamu bersekolah?" Tanya nya secara tiba-tiba.


"Eh, i-iya. Saya sempat bersekolah. "


"Apa yang paling nggak kamu sukai dari sekolah?


"Ehm... ruang kelas yang gelap dan berhantu. "


"Kalau aku paling nggak suka dengan orang-orangnya."


Aku nggak paham apa maksudnya, tapi dia nggak meneruskan dan mulai masuk ke dalam kelas. Namun aku tetap berdiri di ambang pintu. Wajahku memucat ketika melihat apa yang ada di dalam ruangan ini.


Ruangan ini penuh dengan hantu! Benar-benar penuh! Mereka semua seakan berkumpul bersama dan menciptakan sebuah suasana ruang kelas. Hantu-hantu berwajah pucat dengan pakaian seragam OSIS lengkap.


Hantu anak sekolah.


Dan yang membuatku merinding nyaris memekik adalah ketika mereka semua bergerak menatapku dengan mata berwarna sehitam jelaga. Dapat kurasakan bermacam emosi negatif dan mengerikan yang seakan menusuk-nusuk ke dalam diriku. Bisikan-bisikan dan cekikikan membuat kulit meremang hebat. Dan yang lebih parah--


Mereka semua dalam keadaan yang sangat buruk dan bersimbah darah kental.


Aku memegangi gagang pintu dengan tangan berkeringat dingin. Napasku sesak hanya karena tekanan yang kurasakan dari sini. Aku mundur selangkah.


"Kenapa hanya diam? Cepat masuk dan duduklah di bangku manapun yang kamu mau."


Mataku menatap horor. DIA SERIUS MENYURUHKU DUDUK DAN BELAJAR BERSAMA HANTU-HANTU INI?!


"A-Anda serius... Sir?"


"Ya. Karena ujian akan dimulai sebentar lagi.".


" Ujian?"


Dia berjalan dengan santainya melewati hantu-hantu yang berdiri kaku mengikuti setiap pergerakannya. Membuka jendela reyot dan memandang keluar langit gelap.


"Apa kamu tahu mengapa sekolah ini ditutup sepuluh tahun lalu?"


Suasana mencekam tiba-tiba terasa begitu kental. Seakan memicu sebuah lecutan emosi yang paling mengerikan.


Kebencian.


Aku dapat merasakannya dari sosok-sosok yang berada dalam ruangan ini. Sebuah kebencian pekat yang membuat jantungku berdebar tak nyaman.


"Pada tanggal 27 Februari sepuluh tahun lalu, terjadi sebuah pembantaian di sekolah ini. Seorang Napi yang lari dari penjara masuk ke salah satu ruang kelas dan menyekap 20 siswa yang tengah melakukan pelajaran tambahan. Sebanyak 20 Siswa mati oleh kekejaman Napi yang hingga kini masih menjadi buronan Kepolisian." Dia berbalik padaku, "Menurutmu apa yang akan dilakukan oleh 20 siswa itu jika tahu ada mantan napi yang berkeliaran di sekolah ini?"


Aku mengernyitkan dahi. Apa maksudnya mengatakan itu?


Tiba-tiba aku menyadari sesuatu ketika melihat sebuah seringai samar di bibir dengan bekas luka melintang itu.


Jangan bilang--


"Ujian Praktek dimulai! Tugasmu adalah keluar dari gedung ini hidup-hidup sebelum fajar. Kamu bisa melakukan apapun semaumu tapi berhati-hatilah dengan 'penghuni' tempat ini. Lakukan dengan baik, Bocah Mantan NAPI! Aku menunggumu di bawah."


"Sir--OII!!" Aku melotot ketika melihatnya melompat begitu saja dari jendela yang berada di lantai tiga. Aku langsung berlari ke arah jendela itu dan melongok ke bawah.


Bagaimana bisa dia baik-baik saja setelah melompat dari lantai tiga begini?!


"Sir Razark! A-anda nggak serius akan meninggalkan saya kan?!"


Dia melambaikan sebelah tangan dengan santai tanpa berbalik, kemudian berkata, "Semoga lulus! Hati-hati dengan Satpamnya!"


Wajahku memucat dengan super dramatis. Menatap kepergiannya dengan mulut ternganga tak percaya.


DASAR PAK TUA SIALAN! BISA-BISANYA DIA MENINGGALKANKU DI TEMPAT INI SENDIRIAN SETELAH MENGATAKAN SEMUA ITU!


"Sir Razark! Sirr!! Jangan tinggalkan akuuu!!!" Tangisku lemas. Dia benar-benar pergi dari sini!!


PYARR--


"Hiee?!!" Aku memekik dan secara refleks berbalik. Aku langsung menyesali keputusanku itu


"GYAAHH!!" Aku jatuh ke lantai dengan jantung berdebar gila. Amat terkejut karena mendapat jumpscare tak terduga dari para penghuni ruang kelas. Tahu-tahu mereka sudah berdiri di belakangku dengan mata hitam melotot mengerikan. Seluruh persendianku lemas bagaikan karet yang dipanaskan. Menatap horor kerumunan hantu dalam berbagai rupa yang mengerubutiku.


"Tolong... Aku--"


Huks..huksh...


Huksh...huksh...huhuhu...


Huhuhu....huhuhu....


"Gahkk--" Aku tiba-tiba batuk berdarah. Seakan baru saja di hantam benda tumpul di bagian dada. Napasku sesak selama bebarapa saat. Udara menjadi begitu berat, menekan tubuhku hingga lemas. Suara-suara dari gerombolan hantu di sekelilingku terdengar begitu keras. Menyakiti gendang dengan frekuensi tak biasa bagaikan putaran kaset rusak.


Mati.mati.mati


Mati.mati.mati.mati.mati


Tangan gemetar menutup gendang telinga. Mata terpejam kuat dan meringkuk ketakutan dengan tubuh gemetar.


MATIIII!!!


KYAAAKKKKHHH--


"Hakhh-- HENTIKAANN!!"


...............


Bibir dengan bekas luka sayatan menyeringai ketika mendengar suara jeritan seseorang.


"Sudah dimulai." Ujarnya. Menarik seputung rokok dari saku kemeja hitam kemudian menyulutnya dengan tenang. Kaki dalam balutan sepatu hitam melangkah menjauhi gedung tiga lantai yang terbalut aura hutam samar tak mengenakkan.


"Kamu harus segera keluar Nak. Jika tidak..." Tatapan matanya menjadi gelap, "Kamu akan menjadi gila."


................


"Hakhh... Hakhh..."


Aku berlari dengan kalap layaknya orang yang sudah hilang akal. Menatap nanar lorong panjang yang ku lalui. Mengabaikan segala sesuatu yang terinjak dan mengeluarkan bebunyian aneh. Menyeret langkah yang terasa berat sekuat tenaga. Hanya satu tujuanku saat ini.


Kabur.


Aku merasa beruntung karena beberapa saat lalu berhasil kabur dari kerumunan hantu-hantu mengerikan di dalam kelas. Aku nggak tahu apa salahku, tapi mereka semua tampak sangat marah dan seperti ingin mencekikku! Karena itu aku menerobos dengan nekat dan berakhir menjadi buronan seluruh penghuni sekolah terbengkalai!


"Hiehh?!"


Aku memekik kembali dan hampir saja terpeleset ketika sosok hitam besar tiba-tiba muncul di hadapanku. Saking besarnya dia bahkan menutupi lorong hingga menembus langit-langitnya. Aku mundur sembari mendongak dengan ngeri,


Ini... Bahkan hanya kaki saja? Seberapa besar dia?! Sial! Dia membuatku nggak bisa lewat padahal tangga ke bawah tepat berada di seberang!


Huks.. Huks...


"HIYAA!!"


Aku berteriak kencang. Dua sosok gadis dengan kepala tergantung-gantung telah berdiri di belakangku diikuti sosok-sosok berseragam osis lusuh. Mereka menujuk ke arahku dengan garang sembari mengumbar teriakan gila yang membuat telingaku berdenging menyakitkan. Aku berlari kembali ke arah lain untuk menghindar dari mereka.


Ludah yang mengering di teguk dengan cara menyakitkan. Langkahku berhenti seketika. Aku sudah dikepung oleh hantu-hantu berseragam osis lengkap. Ingin berbalik tapi jalan yang ku lalui telah dihadang juga oleh hantu-hantu lokal dengan wujud beraneka ragam. Aku merapatkan punggung pada tembok. Wajahku pucat pasi dan aku bahkan nggak bisa berkedip saking takutnya.


Aku sudah di kepung.


"Uwahh!!" Aku terkejut ketika tubuhku limbung ke belakang dan aku jatuh ke lantai. Aku menatap ke belakang, dan seketika mataku membulat.


Ini.. Bukankah ini ruang kelas yang tadi?!


Kenapa-- kenapa aku bisa kembali ke sini?! Padahal sebelumnya aku sudah berlari ke arah yang berseberangan! Tapi kenapa aku berada di ruangan ini lagi?!


Jangan-jangan--


Bwoshhh--


"Khhkk--"


Tubuhku gemetar. Di tekan oleh kumpulan hantu yang dipenuhi emosi negatif. Udara jadi terasa berat hingga sesak untuk bernapas. Suara tangis dan tawa terdengar padu. Mereka mendekat perlahan dan aku mundur memasuki ruangan sembari merangkak.


Aku harus lari. Lari lari lari--


Saat itu aku melihat sebuah loker tua yang terbuka. Aku berdiri sekuat tenaga dan berjalan ke arah loker itu. Sebelum hantu-hantu menerjang ke arahku, aku menutup pintu loker dan menguncinya.


"KYAAAKKHHH--"


"Ukhh--" Aku menutup telinga dan meringkuk ketakutan. Mereka mulai berteriak dan menggedor-gedor loker dengan kasar. Aku memejamkan mata kuat-kuat saking takutnya.


Sial sial sial! Bagaimana ini?! Aku terjebak di tempat ini dan bahkan nggak bisa keluar dari lantai tiga! Ada sosok besar yang menghalangi tangga ke bawah, bahkan kalaupun mencari jalan lain aku mungkin akan tetap kembali ke ruang kelas ini. Ini seperti yang biasa terjadi di game-game horor.


Looping.


Aku akan selalu kembali ke ruang kelas ini dan hanya akan berputar-putar di lantai tiga tanpa bisa keluar dari sini!


Di tengah-tengah ketakutan, aku mengutuk seseorang yang telah membuatku berada di posisi yang begini sengsara.


"Pak tua sialan--" Geramku.


Kalau tahu bakal begini, lebih baik aku tidur lebih awal tadi alih-alih menunggunya pulang! Aku bahkan nggak memakai hodie ketika dia mengajakku keluar dan hanya memakai sweater lengan panjang begini! Di tambah sekarang aku terjebak di tempat mengerikan penuh hantu yang mengincarku!


Sekarang gimana caranya aku bisa kelua!


Saat itu, aku merasakan sesuatu yang aneh di sekitarku. Udara dingin menjadi berubah panas, dan tiba-tiba bulu kudukku meremang hebat.


Kemudian aku mulai mendengar suara orang berbicara di luar.


"Kenapa... Aku harus mati..."


"Kenapa... Kamu mau membunuh kami..."


"Ampun... Jangan bunuh aku..."


"Tolong... Hiks... Tolong... Mama.."


Deg!


Tangan makin kuat menekan telinga. Mataku berdenyar tak fokus. Sesuatu di dalam dadaku tiba-tiba terasa sakit ketika berdebar.


"Tidak...tidak..."


"Gyaakhh!!"


"Aku... Nggak mau mati..."


"Hentikan--" Ucapku serak.


Sesak. Sesak. Dadaku sesak ketika mendengarnya. Kepalaku sakit ketika memikirkannya. Tatkala mata tanpa sengaja melihat ke arah lubang pada loker yang hanya sebesar ibu jari. Melihat pemandangan mengerikan yang amat sangat berbeda dari suasana penuh hantu tadi. Keringat dingin membasahi kulit.


Aku bagai melihat apa yang terjadi di ruang kelas ini, 10 tahun lalu...


Aku kembali ke masa lalu...


..............


[Bersambung]