THE TRUTH SEEKERS

THE TRUTH SEEKERS
[CHAPTER 1] : The Boy's World



~Dunia ini bagai tempat yang tercipta hanya untuk menyiksaku~


THE SEEKERS 1 : The Boy's World


Kriet... Kriet...


Kresek! Kresek!


Kriet... Kriet....


Kresek! Kresek! Kresek!


Grekkk!


"Hiiee?!!"


Aku memekik, tepat ketika sebuah kereta belanja dorong menabrakku. Mengejutkanku yang tengah terburu memilih beberapa produk mie instan hingga berakhir menjatuhkannya.


"Ada apa sama orang itu?"


Suara keheranan dari beberapa pembeli lain menyadarkanku. Aku menunduk, merasa malu ketika orang-orang melihatku dengan pandangan aneh. Buru-buru ku ambil beberapa bungkus mie yang sempat kujatuhkan dan memasukkannya ke keranjang belanja yang ku bawa.


Rasa waswas masih menyelimuti. Seakan ada seseorang yang terus mengawasi. Sejenak ku tengok ke arah kereta yang menabrakku karena penasaran akan sesuatu. Dan selanjutnya bulu kudukku dibuat berdiri.


Dari balik kacamata tebal yang kukenakan, aku masih dapat melihatnya. Sesosok wanita dengan rambut menjuntai menyapu lantai tengah menatapku. Menunjuk tepat ke arahku dengan jemari kurus berwarna kehitaman bagaikan cakar binatang buas. Melalui sepasang mata yang menunjukkan kegelapan pekat, seakan berniat menenggelamkan seluruh kesadaranku.


"Ini kembalian-- eh mas--" Mengabaikan teriakan dari si kasir, aku bergegas pergi sembari menenteng kantung belanjaan dengan tangan gemetar.


......


Grek!


Pintu kamar kos ku tutup dengan sedikit keras kemudian ku kunci dua kali. Kaki melangkah mundur, menatap pintu bercat coklat mengelupas yang terasa begitu menakutkan. Menunggu reaksi selanjutnya dengan perasaan mencekam.


BANG!!


Ngieeekkk--


Aku jatuh terduduk dengan wajah memucat. Melepas masker yang terasa pengap dan mulai mengatur napas seperti orang sekarat. Suara-suara aneh itu masih terdengar dari luar. Suara tawa yang bercampur geraman binatang buas. Pintu masih digedor, membuat bulu kudukku berdiri, dan kulit meremang dingin. Ku peluk tubuhku yang bergetar pelan, berusaha menenangkan diri.


"Nggak apa... Mereka bakalan pergi... Mereka pasti bakal pergi..." Bisikku pada diri sendiri. Terus mengulanginya untuk mengurangi ketakutanku. Dan tak lama, suara-suara yang terus menggangguku itu berubah menjadi lamat-lamat sebelum akhirnya menghilang seluruhnya.


Mengatur napas yang terasa sesak, ada rasa lega yang perlahan menyebar,


Untunglah.... Untunglah 'mereka' nggak bisa masuk...


Dengan langkah lemah, ku seret kakiku sambil membawa barang belanjaan dalam kantong plastik besar. Meletakkannya begitu saja di samping kompor. Kacamata tebal kulepas, dan seketika pandanganku terasa begitu jelas dan segar. Hodie juga turut kulepas, kuletakkan pada kursi dan berjalan ke arah kompor untuk mempersiapkan makan siang.


Sarden kalengan sudah cukup mewah dalam keadaan begini. Kalau bisa berhemat, mungkin bisa kujadikan lauk hingga dua hari kedepan.


"Eh? Pisaunya dimana?"


Aku mencari satu-satunya pisau dapur yang ku punya. Di atas nakas, dekat kompor, kemudian rak. Tapi aku tak dapat menemukannya. Sebelum akhirnya sesuatu menggelitikku.


Kolong wastafel--


Aku berjongkok kemudian membuka pintu kecil kolong wastafel dengan pelan--


"UWAAAHH!!"


Jantungku hampir melompat dari tempatnya. Amat terkejut ketika melihat sosok anak kecil berkulit seputih susu tengah menatap ke arahku sembari memutar-mutar pisau di lantai. Ku tutup kembali pintu kecil kolong wastafel dan berteriak penuh frustasi,


"Kenapa kamu sembunyi di sana dasar setan sialan!"


Rasa takut berubah menjadi kekesalan. Ku raih pisau dapur yang mencuat keluar, kemudian ku tendang pintunya dengan sedikit keras sembari mengancam,


"Kalau kamu melakukannya lagi, aku bakal benar-benar mendepakmu keluar dari rumahku!"


Ancamanku di balas dengan cekikikan jahil khas anak-anak kecil. Menggema ke sepenjuru ruangan sebelum akhirnya menghilang. Ku pijit pelipisku dengan ibu jari.


Bocah ini... gara-gara dia napsu makanku jadi hilang seluruhnya. Namun kuputuskan untuk tetap mengambil nasi yang sudah mendingin di atas dan sarden yang sebelumnya kupanaskan. Duduk di satu-satunya meja yang berada di ruangan sempit yang di sekat menjadi tiga bagian, kemudian memakannya dalam diam.


Persetan dengan rasanya, asalkan bisa mengganjal perut itu sudah lebih dari cukup.


Tling!


Sebuah notif email muncul pada layar laptop yang terbuka di atas meja. Aku buru-buru membuka nya dan merasa terkejut.


Ini pesan yang kutunggu-tunggu sejak dua bulan lalu!


Aku lantas membuka pesan yang dikirim ke email ku dan membacanya dengan mata penuh binar. Jantung berdebar tak tenang. Namun seiring kalimat yang kubaca, ekespresiku memudar. Semangatku sebelumnya hilang begitu saja.


"Gagal lagi, huh?"


Terduduk dengan lemas sembari membaca kalimat terakhir dalam pesan. Aku memejamkan mata,


Seharusnya aku sudah tahu kalau bakal gagal. Jadi aku nggak perlu berusaha sekeras ini. Semuanya terasa hambar dan sia-sia belaka. Setelah tiga bulan mengejar deadline, naskah yang ku kirimkan itu... ditolak lagi.


Menundukkan kepala. Ku lihat piringku yang masih menyisakan separuh makan siang. Memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang.


Uang untuk biaya kehidupanku sudah menipis. Bahkan untuk belanja hari ini saja aku terpaksa menggunakan uang tabunganku yang berharga. Komik online yang kubuat selama setahun belakangan ini juga masih sepi peminat, dan naskah komik yang kukirim dua bulan lalu juga di tolak oleh penerbit untuk ketiga kalinya.


Untuk bisa terus hidup aku memerlukan uang. Tapi dari mana aku bisa menapatkan uang jika aku bahkan tak memiliki pekerjaan? Apakah ada pabrik atau tempat yang mau mempekerjakan seseorang yang hanya lulusan SMP? Tempat yang mau menampung seorang anak 'bermasalah' sepertiku?


Ketika memikirkannya, rasa frustasi memenuhi pikiranku. Segala sesuatunya jadi makin rumit. Pandemi ini, kebutuhan sehari-hari, hingga pekerjaan yang tak juga kudapatkan karena--


--Karena aku anak indigo dan bisa melihat hantu.


Ya. Aku bisa melihat hal semacam itu.


Aku tak dapat bertingkah dengan normal jika mereka terus saja mengusikku. Orang-orang bilang aku tampak seperti orang sinting yang bicara pada udara kosong atau bergerak-gerak sendiri. Padahal jika mereka bisa melihat, mereka pasti akan paham apa yang sebenarnya ku rasakan.


Bagaimana ketika melihat sosok buruk mereka, aroma menyengat yang bisa membuat mual seketika, suara mengerikan yang bagai meremas-remas jantungmu, juga perasaan merinding hingga dingin menusuk yang membuat napas sesak.


Semua itu yang selalu kurasakan ketika mereka hadir dan mengusikku. Bahkan terakhir kali aku sempat terjatuh dari tangga dan berakhir dengan dikeluarkan dari proyek karena kakiku mengalami memar hingga tak dapat berjalan dengan benar selama dua minggu.


Dan itu juga karena ulah penunggu tempat proyek.


Ku tangkup wajahku dengan kedua tangan. Depresi merasakan alur kehidupan yang tak seperti ini. Pekerjaan offline tak berhasil, bahkan pekerjaan online pun juga tak membuahkan hasil. Kalau begini caranya... Bagaimana aku harus terus memenuhi kebutuhan hidupku?


Kepala menyandar pada leher kursi. Lengan diangkat menutupi mata.


"Aku lelah..."


+Drrrttt... Drrrttt... Drrrttrr..+


Handphone ku berdering. Waktu ku lihat, tak ada nama si penelfon dan nomornya juga asing. Namun aku tetap mengangkatnya,


"Halo?"


"........"


........


"Pesanan untuk meja No.8!"


"Siap!"


Aku bergegas ke arah counter, mengambil nampan berisi makanan dan membawanya. Berjalan pelan ke arah meja no.8 dengan gugup. Tak henti melirik melalui kacamata tebal yang terasa tak nyaman dipakai. Mungkin karena tak terbiasa juga, nampan yang kubawa tampak bergetar-getar seperti mau terjatuh. Kucoba untuk tetap terlihat tenang dan berhati-hati agar tak mengacaukan segalanya. Dua orang yang duduk di meja-- seorang pria paruh baya dan wanita-- mengangguk dan tersenyum ketika aku sampai di hadapan mereka,


"Silahkan pesanannya."


"Ya terima-- ekh hati-hati!"


Aku terkejut karena hampir saja menjatuhkan minuman yang ada di nampan. Beruntung si pria sudah lebih dulu meraihnya dan membantuku menaruh di meja.


"Ma-maafkan saya--"


"Iya nggak apa. Lain kali hati-hati ya."


Menundukkan kepala dengan malu, aku memilih melanjutkan pekerjaanku. Membersihkan meja yang telah kosong dan membawa piring-piring kotor ke dapur. Karena kesulitan membawa dengan kedua tangan, aku membuka pintu dengan kakiku. Namun tanpa kuduga seseorang muncul tepat di depanku dan kami hampir bertabrakan,


"Whoa! Hati-hati dong buka pintunya!" Semburnya. Aku buru-buru meminta maaf dengan kepala tertunduk.Dia mendengkus dan aku buru-buru masuk. Kuletakkan piring kotor di wastafel yang sudah penuh dan mulai mencucinya dengan hati-hati. Ku pikir aku sudah melakukannya dengan benar, namun tanpa bisa kucegah sebuah piring lolos dari tanganku,


PYARR!!


Wajahku memucat, menyadari kesalahan yang baru saja kulakukan.


Mati aku.


"Ada apa ini?!"


Menoleh kaku, kurasakan tekanan kuat bagai menghantamku. Sosok Kepala Koki kini tengah melotot ke arahku dengan tampang garang tak terelakkan. Mata melirik ke arah pecahan piring yang tersebar di lantai dan segera menyemburkan amarahnya,


"Kenapa piringnya bisa pecah begitu?! Kamu bisa mencuci apa enggak sih?!"


"Ma-maaf pak. Sa-saya nggak sengaja menjatuhkan..." Terangku ketakutan. Dia makin melotot,


"Nggak sengajamu itu bikin rugi restoran tahu! Kenapa pekerjaan begini saja kamu nggak bisa melakukannya dengan benar?!"


Aku makin menunduk, tak berani menyahut karena nyali menciut. Dia berdecak,


"Sudah cepat bersin pecahannya dan berjaga saja di luar sana! Nanti malah piring lainnya pecah juga!"


Aku hanya mengangguk dan segera memunguti pecahan-pecahan piring yang berserakan dengan lesu. Chief Kepala sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya dan seseorang telah menggantikanku untuk mencuci sisa piring yang ada. Sempat terdengar beberapa gunjingan lirih yang cukup untuk tertangkap oleh pendengaranku,


"Liet tuh si bocah baru, kena marah Pak Adam lagi."


"Kok bisa sih Bos ngebiarin anak kayak dia buat kerja disini? Kerjaannya nggak pernah bener padahal."


"Udah nggak usah diurusin. Palingan habis ini dia bakal resign dari sini. Lulusan SMP doang memang nggak bisa diandalkan."


Aku membisu. Memilih berpura-pura tuli dan berjalan ke belakang untuk membuang pecahan piring.


Grek--


Pintu belakang ku tutup, punggung menyandar pada tembok bata. Menatap jalanan sepi yang ada di belakang restoran dan melamun sejenak. Mencari udara segar untuk menjernihkan pikiran yang sejak tadi amat tertekan.


Ini baru lima hari semenjak aku mulai bekerja di restoran ini. Mungkin ada sedikit keberuntungan yang terselip karena aku bisa diterima bekerja di tempat ini hanya dengan modal ijazah SMP ku saja. Karena itu aku berusaha melakukan pekerjaanku sebaik mungkin karena untuk mendapatkan pekerjaan yang seperti ini saja bagiku amatlah sulit.


Tapi hal baik nggak pernah menyertaiku. Pekerjaanku--semuanya sangatlah payah. Kena marah Chief sampai melakukan kesalahan fatal seperti tadi. Bahkan para senior yang bekerja di tempat ini juga tak menyukaiku dan terus mengeluh soal pekerjaanku.


Menggigit bibir. Ku tatap langit biru terlampau cerah yang seakan mengejekku saat ini,


Apa aku harus resign dari pekerjaan ini?


Tapi aku sangat membutuhkan uang saat ini. Aku harus melunasi uang kontrakan untuk bulan ini dan bulan depan atau Paman itu bakal mendepakku keluar dan membuatku jadi gelandangan. Uang tabunganku sudah menipis dan aku bahkan tak dapat makan dengan layak belakangan ini.


"Aku harus bertahan. Paling enggak dua atau tiga bulan sampai aku punya cukup uang buat bayar kontrakan kedepan..." Gumamku lirih, menguatkan diri. Aku nggak boleh berputus asa dan menyerah secepat ini. Pokoknya aku harus mencobanya dulu dan bertahan sebisa mungkin!


"Erlanga!"


Aku lantas tersadar kalau tak bisa berlama-lama berada di luar begini dan masuk kembali ke dalam. Ku lihat Kepala Chief dan beberapa orang yang membantunya sebagai koki tampak tengah ribut-ribut di dapur.


"Anak ini-- dari mana saja kamu?! Ikut aku cepat! Ambil meja dorong di belakang dan bawa makanan-makanan ini segera ke ruang khusus! Jangan sampai bikin kesalahan mengerti?!"


"E-eh s-siap pak!"


Aku mengambil meja dorong di belakang. Para senior membantuku meletakkan deretan makanan di meja dorong dengan wajah kelewat serius.


"Makanannya biar dibawa Arman, kamu tolong bawakan minuman ini saja." Sosok Barista memanggil dari counter. Aku mendekat,


"Ini untuk meja nomor berapa?"


"Ruang VIP. Bawa dengan hati-hati bareng Arman ya."


"Ruang VIP? Aku belum pernah masuk sana-- apa ada tamu khusus?"


Senior Barista mengangguk, "Iya. Pemilik restoran datang berkunjung sama temen-temennya."


Ohh... Pantas saja Chief kelihatan bawel dan-- tak bisa kupungkiri-- tampak semangat sekali ketika memasak tadi. Ternyata pemilik Restoran ini datang berkunjung.


Berarti aku bakal bertemu dengan bos ku dong?


Aku jadi tambah gugup ketika harus membawa nampan berisi tiga cangkir kopi berbeda varian ini. Di dampingi oleh rekan kerja yang sebelumnya membantu Chief memasak dan tengah membawa meja dorong berisi menu-menu khusus eksklusif langsung masakan Chief Senior.


Ngomong-ngomong soal ruang VIP, ini pertama kalinya aku diminta untuk ikut masuk kesana. Sejak awal bekerja disini, Chief sudah melarangku masuk kesana. Hanya beberapa staf yang diperbolehkan masuk dan Chief sendiri yang memegang kunci ruangan itu. Letakknya masuk ke dalam-- terpisah dengan area pelanggan biasa dan di pintu nya tulisan "VIP" Terpampang dengan sangat jelas.


"Kamu baru pertama kesini kan? Jangan sampai melakukan kesalahan lho." Kata senior yang membawa meja dorong.


Mau berapa kali mereka memperingatiku seperti ini?


Pintu diketuk pelan, suara tarikan gagang dari seberang terdengar dan pintu terbuka. Chief sendiri yang membukakannya untuk kami.


"Hati-hati bawanya." Aku mengikuti chief dan senior  masuk ke dalam ruang VIP dengan jantung berdebar-debar. Seketika aku terkagum.


Ruang VIP ini seperti ruang santai di dalam rumah minimalis. Ukurannya tidak begitu besar, tapi fasilitas di dalamnya sangatlah lengkap. Tak hanya ada AC, bahkan televisi dan sofa juga ada. Tiga pasang sepatu tertata rapi pada rak  di dekat pintu. Ku lihat beberapa orang tengah duduk santai pada sofa di depan sebuah meja persegi panjang yang ditengahnya terdapat vas berisi bunga hidup. Chief berdiri di sana dan tampak bertingkah seperti seorang Chief bintang lima yang tengah menarik perhatian pelanggan dengan nada ramah yang sudah pasti dibuat-buat.


"Ah, Pak Chen. Maaf menunggu lama karena restoran juga sedang ramai."


"Ya. Terima kasih sudah bekerja dengan baik."


"Tentu saja pak! Untuk Anda, saya sendiri yang memasak semuanya. Jadi Anda dan  tak perlu khawatir dengan rasanya. Nama saya adalah jaminannya."


Aku ingin sekali mencibir omongan Chief ini sembari memperhatikan sosok yang tengah diajak bicara.


Kupikir pemilik restoran ini adalah om-om berkepala pitak dengan perut membuncit dan dandanan super mewah. Namun ternyata sosoknya sangatlah jauh dari bayanganku.


Pemilik restoran ini-- dia tampak masih sangat muda. Seorang pria muda dengan aksen oriental--chinesse. Bertubuh ramping dalam balutan jas biru bergaris dan inner hitam berkerah tinggi. Rambutnya yang hitam legam tersisir rapih kebelakang. Kulitnya putih dan dia memiliki alis hitam tebal yang menukik sehingga membuatnya tampak sangat serius. Sepasang mata sipit di balik kacamata itu sama sekali tak goyah dan tetap fokus pada kumpulan kertas di tangannya. Bahkan ia tetap seperti itu ketika Chief mengajaknya bicara.


Kharismanya luar biasa sekali. Hanya dengan melihatnya sebentar saja, aku langsung yakin dia adalah seorang lelaki yang sukses di usia yang sangat muda.


Mataku beralih. Di samping Si Pemilik restoran ada seorang gadis bule dengan rambut pirang pucat sebahu. Memakai pakaian formal kantoran dan rok plisket setengah paha sembari duduk menopang kaki.


Aku buru-buru mengalihkan pandanganku karena malu.


Kemudian di seberang, ada seorang pria dalam balutan jas formal hitam dan-- ehm.. Sulit menjelaskannya. Tapi gayanya... Agak sedikit... Tradisional? Atau mungkin karena dia juga bukan orang sini ya? Inggris mungkin atau Jerman? Dari wajahnya-- hidung bangir dan kulit putihnya yang pucat seakan tak tersentuh sinar matahari. Tangan dalam balutan sarung tangan kulit tengah memegang semacam dokumen dan membalik-balik halamannya. Lalu--apa dia mengecat rambutnya sampai bisa berwarna putih begitu ya? Soalnya kelihatan asli sekali seperti bukan wig.


Kemudian yang terakhir, seorang pria juga. Aku nggak bisa melihatnya dengan jelas karena dia berada di seberang yang agak jauh dari ketiga orang ini. Duduk-- tiduran lebih tepatnya-- dengan gaya kelewat santai di sofa panjang. Sebuah buku-- aku mengenalinya sebagai komik bergenre shounen terbuka dan menutupi wajahnya.


Diaaat semuanya serius begini, kenapa hanya dia yang santai-santai begitu? Padahal pemilik tempat ini saja duduk dengan penuh wibawa dan kharisma bersama dua orang lainnya.


Chief memberi gestur agar aku maju. Aku mengerti dan dengan segera meletakkan tiga cangkir kopi yang ku bawa pada nampan dan meletakkannya di atas meja persegi panjang.


"S-silahkan minumannya." Ujarku sebagai formalitas. Sedikit mengutuk karena harus tergagap begitu. Namun tiba-tiba sesuatu terasa menggelitik benakku. Menatap sejenak ke arah meja, kemudian beralih pada Chief,


"Anu Chief, minumannya benar cuma tiga?"


Gerakan kertas yang dibalik terhenti di udara. Cangkir berdenting ketika bersentuhan dengan tatakan. Aku mengerjap heran ketika masing-masing sosok melirik lewat sudut mata dengan tatapan aneh. Mulutku terbuka, namun tak segera bersuara.


Apa aku sudah salah bertanya?


Chief telah lebih dulu menarikku ke belakang dan berbisik dengan mata melotot marah, "Sudah jelas cuma tiga nggak usah ditanya lagi kan?!"


Aku berjengit dan mengangguk-angguk cepat. Tak ingin kena marah lebih jauh dan berakhir mendapat ceramah panjang. Chief mendorongku dan memberikan gestur mengusir. Aku menurut tanpa banyak mengeluh dan keluar dari ruang VIP dengan perasaan tak nyaman. Masih dapat kudengar suara Chief yang meminta maaf dengan nada ramah dibuat-buat hingga pintu ruang itu tertutup.


"Padahal aku cuma bertanya. Apa mungkin orang yang tiduran di sofa itu memang nggak memesan minuman ya?"


Aku mengendikkan bahu dan memilih kembali ke pekerjaan yang menyiksaku.


Yang kumaksud adalah mereka, para hantu.


Inilah penderitaan anak indigo.


Bahkan kacamata tebal yang kukenakan ini masih tak cukup untuk menghalau 'penglihatan' ku. Wujud mereka masih tampak begini jelas ketika tertangkap oleh mataku. Sembari menahan diri agar tak gemetar, aku menyapa pelanggan yang memasuki restoran dengan nada seramah mungkin sembari terus berusaha menghindar dari sosok-sosok itu. Sosok-sosok mengerikan yang 'tanpa sengaja' dibawa oleh para pelanggan. Bagaikan parasit, menempel tanpa disadari dan terbawa kemana-mana. Namun tentu saja mereka sama sekali tak menyadari bahwa sudah 'ditempeli' seperti itu.


Hanya aku yang menyadarinya. Hanya aku yang dapat melihatnya. Sosok-sosok dengan rupa yang begitu buruk dan berbentuk aneh. Dalam keadaan begitu mengenaskan hingga kehilangan anggota tubuh. Sosok anak kecil di kolong meja, nenek-nenek yang duduk di samping seorang laki-laki, hingga sosok berwujud seperti kera namun sebesar tubuh anak-anak yang bergelayutan di punggung seseorang. Yang lainnya bahkan tak dapat ku deskripsikan karena bentuk dan rupa mereka yang aneh dan tak lazim. Ketika mereka menoleh ke arahku, aku harus berpura-pura tak melihat mereka dan tetap mengantar pesanan-pesanan. Bahkan ketika salah satunya tiba-tiba nemplok di punggungku dan menatapku kelewat dekat, aku tak mungkin berteriak. Aku hanya bisa mengaburkan pandangan dan berdoa di dalam hati agar mereka segera menyingkir dariku.


Entah sampai kapan aku akan bertahan jika seperti ini. Menghadapi pelanggan yang terkadang rewel, di tengah jam sibuk dan padatnya pesanan aku juga harus berhadapan dengan para hantu....


Setidaknya aku tidak harus tersiksa seharian full. Karena pada pukul empat sore, aku sudah bisa beristirahat dari siksaan mental ini. Beruntung aku bisa tetap mendapat jatah shift pagi, sehingga aku tak perlu bekerja hingga larut malam yang dimana di malam hari... Akan jauh lebih menyiksaku.


Karena hantu-hantu akan makin aktif di malam hari.


Aku jadi sedikit bersemangat ketika sudah mendekati waktu pergantian shift. Aku memilih berjaga di dekat pintu dan menyapa pelanggan. Ketika itu, seorang pelanggan hendak meninggalkan restoran dan aku membungkuk padanya.


Dia si pria berambut putih yang ku lihat di ruang VIP.


Kenapa dia keluar sendiri saja? Dan-- ada apa dengan lirikannya itu?


BRAKK!!


BUOOMMM!!!


KYAAAHHH!!


"OI ADA APA ITU?!"


Aku tersentak. Tiba-tiba suara yang begitu memekakkan terdengar dari luar restoran. Saking kerasnya hingga bergema di dalam. Orang-orang yang sebelumnya duduk santai sembari menikmati makanan mereka mulai ribut dan keluar untuk mencari-cari penyebabnya. Aku membuka pintu restoran dan seketika mataku membulat.


Di jalan raya telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan dua mobil dan satu minibus. Suara klakson menderu dengan keras.


"Ada kecelakaan! Astaga mobilnya sampai renyek begitu!"


"Ayo kesana! Kayaknya parah banget tuh!"


"Telfon polisi sama Ambulans!"


"Kyahh!! Ada yang terlindas! Itu di bawah mobil astaga--"


Jalanan menjadi macet mendadak dan orang-orang berbondong-bondong mendekat. Berteriak panik untuk menolong korban atau hanya sekedar penasaran dan ingin melihat saja. Para pelanggan di dalam restoran berbondong-bondong keluar. Aku yang masih berdiri di tengah-tengah lantas terdorong oleh arus. Kepalaku tersenggol dan tanpa sengaja kacamata yang kukenakan terlepas hingga terjatuh di lantai.


"Ah-- kacamata--"


Kreekk!


Mataku membola seketika.


Ti-tidak.... Kacamataku--


DUAAARR!!!


Perhatianku teralihkan oleh suara ledakan barusan. Kobaran api bergerak liar dari tempat kecelakaan terjadi. Membakar sebuah mobil keluarga berwarna putih metalik dan mulai merembet ke mobil satunya. Korban yang masih terjebak dan tergencet berteriak nyaring meminta pertolongan. Namun semua itu sudah terlambat. Api telah melalap kendaraan mereka dengan cepat dan memanggang tubuh mereka hidup-hidup.


Lolongan nyaring terdengar mengiris batin. Mengerikan dan begitu menyakitkan. Merinding. Kala tangan dan wajah yang menyembul bergerak-gerak dengan penuh kegilaan karena rasa sakit yang diterima.


Kemudian di sisi lainnya. Sisi yang tak dapat dilihat oleh manusia biasa... Jauh lebih mengguncangku.


"GWAAKHH--" Aku memekik dan jatuh terduduk dengan kaki lemas. Memandang horor apa yang tampak di depan mataku.


Mengerikan. Sangat mengerikan hingga membuat tubuhku bergetar hebat. Pertama kali dalam hidupku aku melihat secara langsung kematian yang begini menyakitkan. Hingga jiwa-jiwa itu menjerit pilu dan melolong seperti binatang yang gila. Diantara sadar dan tak sadar, jiwa-jiwa itu bagai menatapku dengan penuh putus asa. Seakan meminta pertolongan padaku.


Namun apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa kulakukan? Melihatnya saja sudah membuatku begini ketakutan. Dada terasa sesak bagai dihantam benda berat. Air mata keluar tanpa bisa kubendung. Aku kesulitan bernapas hingga sakit di dalam dada. Perutku mual karena bermacam aroma memuakkan yang tiba-tiba memenuhi udara. Atmosfernya berubah menjadi berat dan mencekam.


Tangan-tangan hitam keluar, sosok-sosok itu merayap dengan beragam rupa tak mengenakkan. Menatap kenarahku dengan penuh raut kesakitan dan berteriak dengan suara bagaikan kaset yang rusak,


"Tolong... Tolong aku..."


Mataku tak bisa berpaling. Tubuhku tak dapat digerakkan. Dingin menyebar hingga menusuk tulang belakang.


"Hakhh-- Hakhh--"


Sesak. Sesak dan menyakitkan.


Tolong... Tolong hentikan... Tolong jangan menatapku seperti itu--


Grep--


"Kalau memang nggak mau melihatnya ya jangan dilihat."


Deg!


Aku terkejut ketika pandanganku menjadi gelap. Aku kehilangan kata dan hanya membuka mulut karena berusaha mengimbangi rasa sesak di dalam dada.


Seseorang... Ada seseorang di belakangku--


Tangan yang menutup mataku terasa mengerat. Ku rasakan punggungku menabrak tubuh seseorang. Deru napas merebak menyentuh daun telingaku. Suara bernada rendah dan serak menghantarkan getaran aneh yang menggelitik hingga ke dalam dada ketika dia mulai membisikkan kata-kata dengan begitu tenang.


"Bernapaslah dengan perlahan. Jangan biarkan ketakutan menjeratmu. Kalau kamu bisa menenangkan diri, tubuhmu nggak akan gemetar. Abaikan suara yang kamu dengar-- tutup telingamu rapat-rapat jika perlu. Rasakan kembali kehadiranmu sendiri."


Perlahan...  bagaikan sebuah mantera sihir, ketenangan mulai menghampiriku. Napas yang sebelumnya terasa sesak kini mulai kembali teratur. Rasa mual dan merinding yang melingkupi menghilang. Tekanan mengerikan yang menjeratku tersingkir sedikit demi sedikit. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk mengurangi rasa sesak di dalam dadaku.


"Bocah pintar. Sekarang lihatlah dengan lebih santai. Jangan sampai rasa empati menggerogotimu dan membuatmu 'kerasukan'."


Tangan yang menutup mata menjauh perlahan. Ku rasakan sosok di belakang juga turut menjauh, dan selanjutnya sesuatu dijatuhkan ke atas kepalaku. Aku menyentuhnya pelan


Sebuah jas?


Suara sepatu yang beradu dengan lantai mengalihkan perhatianku. Mengangkat sedikit leher jas yang menutupi wajah, aku kini dapat melihat sosoknya.


Seorang lelaki. Dengan tubuh setinggi besar lebih dari 180 cm. Memakai kemeja putih dan celana kain hitam. Rambutnya hitam melebihi bahu dan diikat setengah kebelakang. Dia berdiri memunggungiku sembari mengantongi sebelah tangannya yang memakai jam tangan hitam.


Ketika dia menoleh dan melirikku, jantungku bagai melompat dari tempatnya.


DEG!


Luka sayatan di dekat sudut bibir. Kelereng hitam sedingin es yang melirik lewat sudut mata. Dan seringai sombong penuh percaya diri itu--


Nggak mungkin.... Aku nggak mungkin salah mengenalinya.... Saking terkejutnya aku bahkan hanya bisa terdiam di depan pintu dengan mata berdenyar.


Orang ini... Dia pria yang kutemui di studio malam itu...


[BERSAMBUNG]