
Lianjun dan Fanchen mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Dahi Lianjun sedikit berkerut. Ia merasa sedikit bingung, di mana ia berada saat ini?
Lianjun kemudian bangkit dari duduknya, kemudian menepuk nepuk pelan bajunya yang kotor terkena tanah. Ia melirik Fanchen yang sedang fokus menatap sekelilingnya. Lianjun kemudian mengalihkan pandangannya.
Ggrr,,
Samar samar, terdengar suara seekor hewan. Lianjun yang mendengar geraman hewan, langsung memasang sikap waspada. Ia memperhatikan sekelilingnya, menemukan semak semak yang bergoyang.
Lianjun kemudian menarik lengan Fanchen untuk berdiri. Ia kemudian merogoh sesuatu dari balik bajunya.
Bruuk,,
Seekor harimau bertubuh besar melompat dari semak semak ke hadapan Lianjun dan Fanchen. Fanchen yang melihat harimau itu menarik lengan bajunya, bersiap menyerang harimau itu.
Sok jagoan aa
Lianjun yang melihat kelakuan adiknya menggeram kesal di batinnya. 'Pria ini, apa tidak bisa melihat situasi? 'Batin Lianjun kesal.
Lianjun kemudian melemparkan bola kecil berwarna putih ke udara, yang tadi ia ambil dari balik pakaiannya. Bola itu kemudian meledak, menutupi penglihatan 3 makhluk yang ada di sana, karena menjadi kabut.
Lianjun dan Fanchen kemudian menghilang dari tempatnya tadi..
••••••••••••••••••
Lanhua menyeka dahinya yang meneteskan keringat. Ia menghela nafas pelan kemudian membaringkan tubuhnya di atas tanah. Yuna kemudian berlari ke arah Lanhua yang sedang berbaring, memberikan air minum kepadanya.
"Terima kasih" ucap Lanhua pelan. Tangannya kemudian meraih gelas yang berisi air di tangan Yuna, kemudian meneguknya hingga habis.
"Terima kasih kembali"balas Yuna dengan senyuman manis. Yuna kemudian ikut mmebaringkan tubuhnya di atas tanah.
Sudah 10 hari Lanhua berada di ruang hampa, melatih kekuatan fisiknya. Cukup memuaskan bagi Yuna, karena Lanhua berlatih dengan tanpa paksaan.
Setelah Lanhua menyelesaikan latihannya selama beberapa hari, Yuna berniat melatihnya menggunakan pedang, dan mempelajari jurus jurus beladiri.
Yuna menghela nafas pelan. Ia menatap langit ruang hampa. Sekilas, ia melihat wajah Luna di langit itu, membuatnya tertegun.
Mata Yuna menerawang jauh. Ia merasa hatinya merindukan saudara perempuannya. Mata Luna, begitu mirip dengan saudara perempuan Yuna. Yuna kemudian menutup matanya.
Lanhua memutar kepalanya, menatap Yuna yang sedang menutup matanya. Lanhua menggoyangkan tubuh Yuna pelan, membuat Yuna membuka matanya.
"Ayo pergi ke rumah"ajak Lanhua sambil mengelus kepala Yuna. Rumah yang Lanhua maksud adalah tempat tinggal mereka di ruang hampa ini. Yuna hanya mengangguk. Keduanya kemudian pergi menuju rumah.
••••••••••••
Lianjun dan Fanchen berada di sebuah hutan, entah di mana. Lianjun mendengus kesal, merasa di permainkan oleh bola kecil itu. Sedangkan Fanchen, kini menatap kakaknya dengan tatapan sulit di artikan.
"Kak, bagaimana kau bisa memiliki bola itu? "Tanya Fanchen penasaran. "Nanti kau akan tahu. Tapi tidak sekarang. Bola itu benar benar mengesalkan. Sekarang, ayo kita bangun gubuk di sini. Tidak mungkin jika kita akan terus tidur di atas pohon"balas Lianjun membuat Fanchen menatap kakaknya.
Fanchen hendak mengatakan sesuatu, mulutnya terbuka. Namun belum sampai suaranya keluar, Lianjun sudah pergi meninggalkan dirinya. Fanchen hanya menghembuskan nafas pelan, kemudian menyusul sang kakak.
Lianjun dan Fanchen kemudian memotong dahan dahan pohon untuk di jadikan rumah. Fanchen tidak tahu bagaimana kakaknya bisa mendapatkan dua pedanh tajam, padahal ia sama sekali tidak melihat adanya pedang di sekitarnya. Fanchen mengabaikan rasa penasaran di hatinya, kemudian membantu kakaknya memotong dahan dahan pohon untuk di jadikan rumah.
Selesai memotong dahan dahan pohon, Lianjun dan Fanchen kemudian membangun rumah di sana. Keduanya sibuk ke sana kemari mengangkat dahan pohon yang cukup berat untuk mereka berdua.
Hingga malam hari, pekerjaan yang Lianjun dan Fanchen lakukan sudah hampir selesai. Lianjun belum berniat tidur di rumah itu, kemudian memanjat pohon dan tidur di atas pohon. Fanchen hanya mengikuti kelakuan kakaknya, seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
••••••••••••••••••••
Lanhua keluar dari ruang hampa. Sebelumnya, Luna memberi tahu melalui telepati, jika ia di panggil oleh raja Ming, ayahanda putri Yanhua. Lanhua kemudian bergegas mengganti pakaiannya dan memakai cadar. Ia belum berniat memberitahu wajah barunya, mungkin ia akan memberikan kejutan pada semua orang. Lanhua kemudian pergi mencari Luna.
"Putri, silahkan ikuti nubi"ucap Luna dengan sopan. "Oh, tentu saja. Bawakan tandu untukku dan camilan. Aku malas berjalan"balas Lanhua dengan nada memerintah nan angkuh. "Hahahaha.. "Tawa keduanya pecah melihat drama yang mereka lakukan.
Lanhua mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata karena terlalu lama tertawa. "Sudah, hentikan. Baiklah, di mana jalannya? Tunjukkan padaku"ucap Lanhua serius. Luna tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Mereka berdua kemudian pergi menjauh dari Paviliun Mawar, kediaman milik Lanhua.
Sampai di depan aula istana, Lanhua di suguhkan oleh gedung berwarna merah agak kecoklatan. Yap, warna ini adalah warna khas Kerajaan Api.
"Putri mahkota Yanhua memasuki aula"teriak sang kasim kencang. Lanhua langsung melangkahkan kakinya memasuki aula.
Di dalam aula, ia menjadi pusat perhatian para menteri yang rupanya juga sedang di undang oleh sang raja. Lanhua langsung melangkahkan kakinya ke tengah-tengah aula.
"Ada apa? "Tanya Lanhua tanpa memberi salam pada sang raja, membuat semua orang yang berada di sana langsung menatapnya.
"Putri, di mana sopan santunmu? "Sebuah suara lembut memecah keheningan di aula istana. Iris mata Lanhua bergerak ke sumber suara.
Di lihatnya seorang wanita dengan baju berwarna merah sedang duduk di dekat raja. "Siapa kau? "Tanya Lanhua dengan alis terangkat. Pertanyaan yang Lanhua berikan membuat semua orang dilanda kebingungan.
"Putri, apa kau tidak mengingatku? Aku adalah ibundamu"ucap wanita itu dengan tatapan sayang kepada Lanhua. Namun, tatapan mata itu berbeda dari sudut pandang Lanhua. Tatapan itu, terlihat ingin menyiksa dan membunuh dirinya.
"Bukankan ibunda putri Yanhua sudah wafat? Kenapa dia mengaku ibunda putri? "Gumam Lanhua pelan.
"Putri, bagaimana anda bisa melupakan Selir Agung? Beliau yang selalu merawat anda dengan sepenuh hati. Apa anda tidak memiliki balas budi? "Seorang pria paruh baya dari golongan menteri menatap Lanhua penuh cibiran.
Lanhua hanya melirik pria paruh baya itu tanpa membalas ucapannya. Lanhua kemudian kembali menatap pria yang duduk di atas singgasana, raja api.
"Jadi, ada masalah apa? "Tanya Lanhua tak sabar. Raja yang berada di atas singgasana tak bisa menahan amarahnya lagi.
"Apa kau tidak di ajarkan sopan santun? Dimana tata kramamu? Setelah kau menyakiti putri kesayanganku, perilakumu malah semakin menjadi jadi! Apa kau meminta hukuman?! "Teriak sang raja keras, suaranya menggelegat di dalam aula istana.
"Hanya orang bodoh dan mudah putus asa yang meminta hukuman. Lagipula, aku memang tak pernah di ajarkan tata krama. Masalah sopan santun, aku hanya bisa menghormati orang yang menghormati orang lain"balas Lanhua lantang. Entah mengapa hatinya tidak ada rasa iba ataupun kasihan kepada orang lain, kecuali yang membutuhkan.
"Yang mulia, apa anda tidak punya rasa hormat pada raja? Yang mulia, anda sebagai seorang putri seharusnya bisa menghormati raja"pria tadi kembali mencibir Lanhua.
'Pria itu, sebenarnya ada masalah apa dengan putri Yanhua? Benar benar mengganggu' batin Lanhua kesal. Lanhua membalikkan badannya menatap pria paruh baya tadi.
"Aku heran, dari pandanganku, kau hanyalah seorang menteri. Tapi, kenapa kau berani sekali menilai diriku, yang lebih tinggi kastanya dari pada dirimu pak tua? "Ucap Lanhua dengan alis bertaut. Jujur saja, Lanhua sama sekali tidak tahu siapa pria itu. Apakah menteri, atau malah seorang jenderal. Tapi dari caranya berbicara, Lanhua menyimpulkan jika pria itu adalah seorang menteri.
Suara pria paruh baya itu tercekat di tenggorokannya. 'Sampah itu, darimana keberaniannya? ' batin pria paruh baya itu kesal, hingga wajahnya nampak memerah.
"Anakku, putriku. Kau salah paham dengan apa yang ayahanda maksud. Ayahanda hanya ingin kau merubah sikapmu, Nak" wanita yang duduk di dekat singgasana raja kembali berkata. Lanhua menaikkan salah satu alisnya.
'Oh, jadi mereka ibu dan anak? Pantas saja mereka sama sama memojokkanku. Satu kubu rupanya.. ' batin Lanhua dengan kepala terangguk pelan.
"Cukup. Jangan bicara lagi. Yanhua, apa kau lupa dengan apa yang aku katakan? Aku memintamu untuk meminta maaf pada Chi'er. Apa kau lupa?! "Kata raja dengan nada tinggi. "Memangnya, kapan kau berkata demikian? "Balas Lanhua tanpa ragu.
"Putri Yan, anda benar benar keterlaluan! Kami di sini menyaksikan apa yang anda perbuat putri. Dimana sopan santun anda? Jangan permalukan kerajaan ini, karena putri tidak memiliki sopan santun! Chi'er, dia terluka karena putri. Apa anda, putri yang terhormat tidak ingat?! "Pria paruh baya itu kembali berkata dengan nada yang menggebu-gebu.
Sudut bibir Lanhua sedikit terangkat, membentuk senyum miring. "Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Memangnya di sini ada raja dari kerajaan tetangga? Kaisar? Dewa? Malaikat? "Balas Lanhua beruntun.
"Tidak ada sama sekali. Di sini hanya ada para menteri dari Kerajaan Api. Tidak ada duta, ataupun kaisar di sini. Lantas, bagaimana bisa putri ini mempermalukan kerajaan? Kecuali jika ada yang sengaja menyebarkan gosip penuh tipu ke seluruh dunia. Masalah ingat tidaknya diriku menyelakai Rou Chi, salahkan pada raja kalian yang terhormat. Aku melupakan semuanya karena dia" balas Lanhua lantang. Dagunya mengarah kepada raja yang sepertinya tengah bersiap atau malah sudah mengumpati dirinya.
"Putri, jaga ucapanmu" masih dengan wanita yang sama, ia kembali berucap dengan nada tegas, namun lembut.
'Iyuuh, sok baik. Hatimu busuk, sekali. Berpura pura baik, nyatanya lebih jahat dari penjahat. Hadeeh, kenapa juga aku bisa tersesat disini' gumam Lanhua dalam batinnya. Lanhua kemudian mengangkat dagunya.
"Ya,, ya,, terserah. Aku ingin pergi. Terimakasih sudah mengganggu waktuku"ucap Lanhua kemudian meninggalkan aula yang sedang diliputi keheningan.
^^^^^^^^^^^^^^^
Di jalan menuju paviliunnya, Lanhua tak henti-hentinya menggerutu. Suaranya seakan habis karena sedari tadi ia bercicit terus menerus. Aah, sudahlah. Tak ada gunanya memikirkan hal tadi. Sebaiknya aku segera menemui Yin, eh ralat, Luna, pikirnya.
Lanhua kemudian melanjutkan langkah kakinya.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***TBC
typo** BERTEBARAN
Saran dan komentar di butuhkan 🙏🙏*