The Queen's Destiny

The Queen's Destiny
2. Sadar



Mata yang awalnya terpejam, kini perlahan terbuka. Hal yang pertama ia lihat adalah, warna biru. Gadis itu sedikit mengerutkan dahinya.


'Bukannya tadi aku kecelakaan? Kenapa aku melihat langit? ' batinnya bingung. Yah, dia adalah Putri Lienhua dengan jiwa yang berbeda. Jiwa Wei Lanhua dari dunia modern.


Saat Lanhua menggerakkan tubuhnya untuk duduk, ia merasakan punggungnya di rayapi rasa sakit yang amat sangat. Ia meringis sedikit sambil mengelus pelan punggungnya.


'Kenapa sakit sekali? Aah, iya. Aku kan kecelakaan ' batinnya sambil mengangguk anggukan kepalanya.


"Putri,, huuhuu,, putri. Maafkan nubi yang tidak bisa menjaga putri, huuuhuu"suara tangis seorang gadis membuat Lanhua mengalihkan pandangannya. Di lihatnya, seorang gadis sedang menangis tersedu sambil membenturkan dahinya ke tanah. Lanhua mengernyit bingung.


"Siapa kau? "Tanya Lanhua pelan. Gadis di sampingnya kemudian menatap Lanhua dengan tatapan tak percaya.


"P-putri. Anda tidak mengenalku? "Tanya gadis itu sedih. Air matanya menetes dari matanya. Lanhua mengangkat salah satu alisnya.


'Issh, sebenarnya ini dimana? Hhm, nubi. Nubi adalah cara pelayan menyebut dirinya sendiri. Tapi, di dunia modern, aku tak pernah tahu ada yang menggunakan kata kata itu. Dan, dia memanggilku putri. Aku merasa berada di zaman kerajaan' batin Lanhua.


Lanhua kemudian mengalihkan pandangannya ke samping. Di lihatnya, sebuah bangunan besar khas kerajaan China kuno berdiri dengan kokohnya. Lanhua mengerutkan keningnya dengan mata sedikit melebar.


'Ini.. Ahahahah aku pasti bermimpikan? Iya aku bermimpi. Tidak mungkin itu adalah istana' batin Lanhua dengan tawa hambar. Saat ia mengamati bangunan itu lagi, mata Lanhua melebar.


'I-ini.. Aah tidak-tidak' Lanhua kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Yin.


"In-ini di mana? "Tanya Lanhua tergagap. Gadis di sampingnya menatap Lanhua bingung. "Tentu saja ini di Kerajaan Api, tuan putri. Ada apa? "Tanyanya bingung.


Mulut Lanhua terbuka karena terkejut. "Siapa rajanya? "Tanya Lanhua pelan. Gadis di depannya tampak terkejut dengan apa yang Lanhua tanyakan.


"Putri,, apa anda melupakan sesuatu? "Tanya gadis itu lagi. Lanhua menatap gadis itu bingung. Tiba tiba gadis itu meneteskan air mata sambil bersujud, membuat Lanhua ikut terkejut.


"Putri,, apakah anda lupa ingatan? "Tanya gadis itu sedih. Lanhua hanya menatap bingung tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.


"Khemm.. Putri, sebaiknya kita kembali ke Pavilium Mawar dulu. Nubi akan menceritakan semuanya di sana. Mari putri, nubi bantu"ucap gadis itu sembari memapah Lanhua. Lanhua yang kebingungan hanya mengangguk menurut saja.


Sampai di sebuah tempat yang.. terlihat menyedohkan, Lanhua mengerutkan keningnya heran. Gadis di sebelahnya yang melihat reaksi Lanhua hanya tersenyum sedih. Gadis itu kemudian menuntun Lanhua masuk ke dalam tempat tersebut.


Setelah masuk ke dalam ruangan, mata Lanhua menyipit, karena sedang menilai ruangan itu. Ia menganggukkan kepalanya singkat menilai kebersihan ruangan yang sedang ia tempati.


Gadis yang tadi memapah Lanhua kemudian membantu Lanhua membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk. Lanhua hanya menuruti saja karena ia merasa bingung.


Gadis tadi pergi meninggalkan Lanhua yang kebingungan. Lanhua mengangkat alisnya heran menatap kepergian sang gadis tadi.


Tak lama kemudian, gadis tadi datang ke ruangan yang Lanhua tempati. Gadis tadi kemudian berlutut di dekat kasur yang Lanhua tempati, kemudian dengan perlahan mengolesi luka cambuk di punggung Lanhua dengan salep yang ia bawa.


Lanhua meringis merasakan sakit pada punggungnya. Gadis yang mengolesi salep tadi meneteskan air matanya tanpa suara. Lanhua yang melihat hal itu menghilangkan ekspresi sakit dari wajahnya.


"Putri, apakah anda tidak mengenal hamba? "Tanya gadis itu dengan nada bergetar. Lanhua hanya menggelengkan kepalanya pelan. Gadis menghela nafas lagi.


"Perkenalkan, nama yang rendah ini adalah Yin. Nubi sudah melayani putri sejak kecil, saat putri di asingkan oleh raja. Permaisuri, ibunda putri, wafat saat terjadi kebakaran ketika beliau melahirkan putri.


Dahulu, raja sangat menyayangi permaisurinya, ibunda putri. Suatu ketika, raja menikah dengan Selir Agung Ruo Li. Permaisuri kemudian mendiamkan raja selama beberapa bulan. Bukan karena marah ataupun cemburu. Permaisuri hanya ingin mengetahui siapa yang lebih raja cintai.


Namun, karena Selir Ruo Li begitu licik, ia menghasut raja kala itu. Hingga suatu ketika, permaisuri di fitnah Selir Ruo hingga raja menghukum permaisuri di istana dingin selama 1 tahun.


Pada bulan keempat permaisuri di istana dingin, permaisuri di kabarkan kabur dan menghilang. Raja memerintahkan seluruh prajuritnya mencari permaisuri. Setelah beberapa hari para prajurit mencari permaisuri, permaisuri di temukan....


Dalam kondisi mengandung" Yin menghela nafasnya panjang.


"Raja yang mendengar hal itu merasa senang karena permaisurinya mengandung. Sayangnya, Selir Ruo menghasut raja. Raja percaya pada Selir Ruo, karena memang setelah raja menikah dengan Selir Ruo, beliau belum menyentuh sang ratu.


Raja kemudian mendiankan sang permaisuri, yang pada saat itu terlihat seperti orang bingung. Beberapa bulan kemudian, permaisuri melahirkan putri. Saat permaisuri melahirkan putri, terjadi kebakaran di tempat permaisuri melahirkan. Permisuri, kemudian wafat disana "Yin mengakhiri ceritanya.


Lanhua merapatkan mulutnya yang terbuka akibat mengantuk. Cerita Yin, sangat panjang bak dongeng. Lanhua kemudian menghela nafas.


"Apakah aku punya saudara? Siapa namanya? Apa statusku di sini? "Tanya Lanhua beruntun. "Putri memiliki 3 saudara kandung. Pangeran Yanjun, Yanchen dan Yantian. Putri sendiri bernama Yanhua. Adik tiri putri, adalah Rou Chi, putri kesayangan raja.


Kesimpulannya, putri adalah putri mahkota kerajaan api "balas Yin panjang lebar. Lanhua sedikit melihat gelagat aneh dari Yin kemudian menjadi penasaran.


"Ada apa? Apakah masih ada yang harus kau katakan? "Tanya Lanhua penasaran. Yin menunfukkan pandangannya. "Putri tak bisa berkultivasi, dan di anggap sampah oleh para penduduk kerajaan. Putri di rumorkan buruk rupa dan bodoh. Semua ini karena selir itu"balas Yin sedih. Lanhua hanya menahan nafas, betapa buruknya tubuh yang ia tempati, pikirnya.


Ya, Lanhua sudah sedikit paham dan menerima, jika ia hidup kembali, di dunia yang berbeda. Di sejarah China, tak ada Kerajaan Api seperti yang Yin ucapkan tadi.


Lanhua kemudian meminta Yin memberikan cermin tembaga yang ada di kamarnya. Peralatan merias wajah Putri Yanhua tidak ada yang bagus, semuanya hanya berkualitas rendah.


Yin kemudian memberikan cermin tembaga berwarna kuning kepada Lanhua. Lanhua menatap pantulan wajah barunya di cermin. Bulu mata lentik, hidung kecil mancung, bibir tipis berwarna baby pink, wajahnya putih, alis tersusun rapi. Sepasang mata yang Lanhua lihat di cermin itu tampak berkilau kekuningan, namun ia acuhkan karena ia menganggap jika itu karena warna tembaga kuning yang ia gunakan sebagai cermin.


Wajahnya cantik. Sayangnya, di daerah dahi dan hidungnya terdapat jerawat dan komedo. Tidak terlalu parah. Tapi tetap saja, bagi Lanhua itu mengganggu kecantikan wajahnya.


Lanhua kemudian meletakkan kembali cermin itu. Ia menatap Yin tanpa emosi. "Baiklah, terimakasih sudah menceritakan semuanya padaku. Sekarang, istirahatlah. Aku juga ingin beristirahat "ucap Lanhua tenang. Setelah berpamitan, Yin kemudian keluar dari pavilium yang Lanhua tempati.


Sebelum itu, ia memberikan gelang peninggalan sang permaisuri. Lanhua menerima gelang itu dengan perasaan campur aduk, antara sedih, senang, terkejut, bingung dan lainnya.


Gelang itu, begitu mirip dengan gelang pemberian ibunda tercintanya di dunia modern, yang sudah wafat ketika ia berumur 16 tahun. Ia tersenyum kecil sembari menatap gelang itu. Lanhua kemudian memasang gelang tersebut di tangannya, kemudian beranjak tidur.


Yin yang berada di luar kamar tersenyum kecil setelah memberikan gelang itu kepada Lanhua. Ia kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan pavilium milik Putri Yanhua.