
Wei Lanhua, seorang dokter sekaligus peneliti di sebuah rumah sakit di China. Ia dan kedua kakaknya -yang merupakan anak blasteran Indo-China- memilih tinggal di China.
Setelah beberapa tahun menempuh karir, Lanhua beserta kedua kakaknya pergi ke Indonesia, untuk kembali menuntut ilmu sekaligus menjenguk keadaan kerabat mereka di Indonesia.
Di sana, Lanhua dan kedua kakaknya malah bertemu Han Yaozhan -tunangan Lanhua- yang sebelum mereka pergi sedang berada di Paris.
Bersama dengan kedua kakak beserta tunangannya, mereka kemudian pergi ke Pulau Jawa.
Di sana, Lanhua belajar mengenai obat obatan tradisional tanah Jawa, dan mengenal aksara jawa. Lanhua cukup tertarik mengunjungi berbagai tempat sejarah, maka dari itu ia juga ikut tertarik dengan aksara Jawa.
Oh, Lanhua juga belajar huruf latin, atau biasa di sebut huruf tegak bersambung. Awalnya ia tak tertarik. Tapi ketika ia melihat salah satu keponakannya menulis huruf tegak bersambung, ia jadi tertarik dan minta di ajarkan bersama sang tunangan, Han Yaozhan yang juga tertarik dengan aksara jawa dan huruf tegak bersambung.
Lain halnya dengan Fanchen. Ia memilih belajar ilmu-ilmu bela diri di negri yang dilalui oleh Garis Khatulistiwa ini. Setiap negara memiliki ciri khas masing-masing, Fanchen tertarik dengan silat di Indonesia ini.
Lianjun memilih belajar cara menjadi pengusaha yang baik. Jika di nilai dari sikap, sikapnya itu kaku untuk orang lain, tapi sangat ramah kepada keluarganya. Ia melihat jika orang-orang Indonesia ini ramah. Jadilah ia memutuskan untuk belajar bersikap ramah, agar tidak terlalu kaku jika ada pembeli masuk ke dalam bisnisnya.
----------•••----------
Hari ini, adalah jadwal Lanhua, Lianjun, Fanchen dan Yaozhan kembali ke negara tempat kelahiran mereka. Setelah mempersiapkan apa yang mereka butuhkan, mereka kemudian pergi menuju bandar di antar oleh paman dan keluarga lainnya menggunakan mobil.
--------------------------
Sampai di bandara, Lanhua dan yang lainnya langsung turun dari mobil. Mereka menunggu keberangkatan mereka sekitar 1 jam lagi.
"Nduk ¹, apa ada masalah? Pulangnya cepat sekali "tanya si bibi Lanhua bernama Wulan. "Méishénme, bi. Cidak ada masalah"balas Lanhua dengan bahasa campuran. Yah, meskipun dia suda tinggal di Indonesia dua tahun, ucapannya belum begitu fasih. Malahan, terkadang Lanhua tidak tahu ucapan untuk menjawab pertanyaan mudah dari bibinya, entah karena gugup atau apalah itu.
Padahalkan mudah saja. 'Tidak ada' lantas kenapa sulit sekali mengucapkannya? Entahlah, hanya Lanhua yang tahu.
Wulan yang sedikit paham dengan bahasa China hanya mengangguk paham. Mereka berempat kemudian tampak menuju ke salah satu pesawat -yang merupakan pesawat yang akan mereka tumpangi- karena keberangkatan di percepat.
Setelah beralam-salaman dan mengucapkan kata-kata perpisahan, Lanhua, Lianjun, Fanchen dan Yaozhan kemudian memasuki pesawat.
-----------------------------
Setelah sampai di China, keempat orang itu segera pulang ke rumahnya masing masing, untuk beristirahat.
••••••••••••••••••
Dua pekan kemudian...
Lanhua dan kedua kakaknya berencana mengadakan pertemuan di sebuah taman. Oh, bukan Lanhua. Tapi Fanchen yang mengadakan pertemuan.
Dia bilang ingin memberitahukan sosok wanita yang meluluhkan hatinya. Lanhua di perintahkan Fanchen untuk datang lebih awal, karena gadisnya ia perintahkan agar berangkat pagi juga.
---------------------
Sampai di taman, Lanhua langsung mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi pesanan sang kakak. Ia kemudian membuka poselnya dan bermain hp cukup lama.
Sampai pukul 08.30 wanita yang diucapkan sang kakak tak kunjung datang, membuat ia jadi pajangan para pengunjung, meskipun ia sudah berpura pura memesan minuman.
"Sebenarnya ini jadi ketemuan gak sih? Aku kan malu jadi pajangan"gumamnya pelan. Tangannya kemudian meraih ponselnya yang berada di atas meja. Jari-jarinya beberapa kali menyentuh layar ponsel, mencari nomor ponsel sang kakak.
Tuuuut,, tuuuut
"Errr, ini kenapa gak di angkat? Ish, jangan bilang kalau gak jadi. Aku kan udah ambil cuti"gumam Lanhua kesal. Ia kemudian menyentuh layar ponsel-nya lagi, mencari nomor ponsel sang kakak pertama, Lianjun.
Tuuut, tuuut,
Mohon maaf, nomor yang anda tuju, sedang tidak ak-
"Isshh, terus aku jadi pajangan gitu? Kalau gini sih, mending aku pulang"gerutunya pelan. Lanhua kemudian meletakkan ponselnya di meja, kemudian mengaduk-aduk minuman yang ia pesan.
Drrt,,,
Fanfan
Jangan pulang dulu. Sebentar lagi sampai, jangan ngomel terus. Tunggu yaah😘😘
Tulis pesan yang Fanchen sampaikan. Lanhua mendecakkan lidahnya kesal. Ia kemudian beranjak dari duduknya, sambil membawa tas yang ia bawa.
"Kelamaan. Pergi ke mall aah" gumamnya bersemangat. Ia kemudian pergi ke kasir untuk membayar minuman yang ia beli, kemudian langsung menuju ke mall menggunakan mobilnya.
Di tengah jalan, Lanhua menerima pesan dari Lianjun. Di bukanya pesan itu oleh Lanhua.
Jujun
Kakak udah di taman, kamu di mana?
Tanya-nya dari pesan. Lanhua memutar bola matanya. 'Ngeselin banget sih, tadi di telfon gak diangkat, sekarang malah nanya dimana. Gak, aku gak mau balik. Harus ke mall dulu' batin Lanhua.
Lagi ke mall. Tunggu aja
Balas Lanhua di ponselnya. Saat asyik membaca balasan dari sang kakak, Lanhua tidak menyadari jika di depannya ada sebuah mobil truk.
Tiii,, tiin,,
Lanhua menoleh ke depan. Di lihatnya truk sedang melaju cepat ke arah mobilnya. Lanhua yang panik, justru membanting stir mobilnya ke arah kanan, di mana ada jurang yang curam di sana.
Mobil Lanhua menggelinding memasuki jurang tersebut. Lanhua entah sudah beberapa kali terbentur mobilnya. Hampir semua kaca di mobilnya pecah.
Setelah mobilnya berhenti, Lanhua menghela nafas lega. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya, untuk mencari ponselnya.
Blaaaar,,
Mobil Lanhua meledak. Lanhua sendiri sudah kehilangan kesadarannya. Sebuah cahaya berwarna putih kemudian melingkupi mobil Lanhua yang meledak, kemudian menghilang.
∆°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°∆
Hening, dan.. Gelap.
Itulah yang Lanhua rasakan sekarang. Ia memandang ke sekitarnya yang hanya ada warna hitam. Tiba tiba, sebuah cahaya datang di hadapan Lanhua, membentuk siluet gadis cantik.
"Lanhua"panggilnya pelan. Suaranya begitu lembut dan menenangkan. "Kau mengenalku? "Tanya Lanhua terkejut. "Ya. Sekarang sudah saatnya kau kembali ke tempat asalmu. Carilah jati dirimu yang sebenarnya. Balaskan dendamku kepada semua orang itu"balasnya cepat.
Siluet gadis cantik itu kemudian menghilang dari hadapan Lanhua, tanpa memberinya kesempatan berbicara. Kegelapan kemudian menjemput Lanhua.
-------------------
Di sisi lain, seorang pria paruh baya sedang mencambuki seorang gadis yang sedang bersimpuh di tanah. Pria itu adalah Raja Ming, raja dari Kerajaan Api. Sedangkan gadis yang bersimpuh di tanah adalah Ming Yanhua, putri mahkota Kerajaan Api.
Ia di fitnah oleh adiknya, Rou Chi, anak dari Selir Agung Ruo Li. Rou Chi memfitnah dirinya jika ia menampar adiknya. Hingga akhirnya sang raja sebagai -ayahnya- menghukum Lienhua, di cambuk.
"Dasar sampah! Anak tak tahu diri! Beraninya kau menampar putri kesayanganku! "Teriak sang raa penuh amarah. Putri Yanhua yang bersimpuh di tanah hanya menangis menahan sakit di punggungnya.
"Ayahanda, ak-aku tidak menyakiti adik. Adik menjebakku"ucap Putri Yanhua dengan tangis sesengukan. Raja kemudian membuang cambuknya, kemudian menendang sang putri dengan tenaga dalamnya. Putri Yanhua yang tak bisa berkultivasi terpental jauh akibat tendangan sang ayah, hingga menghembuskan nafas terakhirnya.
Raja dan selir agung beserta putrinya kemudian meninggalkan Putri Yanhua yang terkapar di atas tanah. Yin, pelayan setianya kemudian menghampiri sang tuan yang tak sadarkan diri dengan air mata bercucuran.
--------------
Yeuy, prolognya gak bagus hiii😭😭
Aku sedih. Berikan komentar, kritik dan saran kalian yaaa👋👋