The Queen's Destiny

The Queen's Destiny
6. Kebenaran



Lanhua membuka matanya yang merasa silau. Yin sudah datang dan membuka kelambu di kamar miliknya. Dengan malas ia kemudian mendudukkan tubuhnya di atas kasur yang empuk ini.


Yin kemudian menghadap ke arah Lanhua yang sedang mengucek-ucek matanya. "Ingin makan atau berendam dulu? "Tanya Yin dengan senyumannya.


Lanhua memutar kepalanya untuk menatap Yin. "Makan dulu. Aku merasa lapar"balas Lanhua sambil mengusap-usap perutnya. Yin terkekeh pelan, kemudian meninggalkan Lanhua untuk mengambil makanan untuk sang junjunganya makan.


Iris mata Lanhua mengikuti arah Yin pergi. Ia kemudian menghembuskan nafasnya gusar.


'Apakah aku akan memberitahu ini pada Yin? Tapi, apa dia percaya? Jika tidak, dia akan melaporkan pada raja, kemudian aku akan di penggal? Aah,, sudahlah. Aku akan memberitahunya. Meskipun ini terlalu cepat, tapi aku tidak mau jika Yin merasa di bohongi. Dia adalah gadis yang baik' batin Lanhua dengan tatapan kosong menatap lurus ke depannya.


"Putri" Yin berteriak sembari menepuk pundak Lanhua. Lanhua tersentak kaget kemudian menatap kesal ke arah Yin.


"Aiisshh, kenapa kau suka mengagetkanku ha? "Ucap Lanhua kesal sembari mengelus dadanya. Yin hanya tersenyum menahan tawa.


Lanhua kemudian beranjak dari kasurnya menuju ruang makan. Lanhua kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi kayu yang ada di sana.


Yin mengikuti junjunganya duduk di kursi. Jika ia tidak segera duduk di kursi, Lanhua pasti akan marah marah, seperti kemarin.


Yin dan Lanhua kemudian makan dengan khidmat. Suasana di sana tampak tenang, hanya ada dentingan sendok yang berbenturan dengan piring.


Lanhua mengelap bibirnya dengan sapu tangan yang sudah di sediakan. Ia kemudian menarik nafas sembari meremas remas sapu tangan yang tadi ia gunakan untuk mengurangi rasa gugupnya, karena ingin berbicara sesuatu.


"Yin, aku ingin bicara sesuatu"ucapnya gugup. Yin yang mendengar ucapan junjunganya kemudian menatap Lanhua. "Ada apa putri? "Tanya Yin dengan alis kiri terangkat.


"Itu,, aku, sebenarnya bukanlah Yanhua"ucap Lanhua gugup. Ia menghentikan aktifitasnya untuk melihat reaksi Yin. Yin hanya diam dengan tatapan datar ke arah Lanhua.


"Aku adalah Lanhua, seorang dokter sekaligus peneliti dari masa depan, abad 21. Aku tidak tahu kenapa aku bisa terdampar ke sini. Tapi, sebelum aku berada di sini, aku mengalami kecelakaan. Dan akhirnya,, aku membuka mata di tempat ini" lanjut Lanhua dengan tangan menopang dagunya.


Yin hanya tersenyum mendengar cerita Lanhua. Lanhua menatap bingung ke arah Yin yang tidak memberikan reaksi apapun, hanya tersenyum. Hal itu membuat Lanhua sedikit bingung.


"Kau, tidak marah padaku? "Tanya Lanhua ragu. Yin menganggukkan kepalanya pelan, masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Karena kau sudah memberitahuku, aku juga akan memberitahumu sesuatu"Yin kemudian berdiri dari duduknya.


Ia merogoh saku yang berada di belakang pakaiannya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana. Yin kemudian mengulurkan tangannya ke arah Lanhua yang kebingungan.


Rasa bingung dan terkejut Lanhua semakin bertambah ketika melihat kalung peninggalan ibunya berada di tangan Yin. "Ini... "Lanhua sulit mengeluarkan kata kata lagi. Lanhua menatap Yin seolah meminta penjelasan.


Yin mengangkat tangannya ke udara. Tubuh Yin di tutupi oleh kabut berwarna biru. Setelah kabut itu menghilang, Lanhua takjub akan kecantikan Yin yang bertambah dari sebelumnya.


"Kau... "Dahi Lanhua berkerut. Yin tersenyum ke arah Lanhua. "Sebenarnya, aku seumuran denganmu. Aku adalah gadis yang di pilih ibu kandungmu secara langsung untuk menjagamu. Saat ini, kau sudah mengungkapkan kebenarannya. Maka aku juga akan mengungkapkan sebagian kecil kebenaran"ucap Yin dengan senyumannya.


Lanhua mengerutkan dahinya tak paham dengan maksud gadis cantik di depannya ini. "Jangan terlalu di fikirkan. Pakailah kalung itu"ucap Yin sembari menunjuk kalung yang tadi ia berikan pada Lanhua. Tangan Lanhua kemudian bergerak pelan untuk mengambil kalung tadi.


Lanhua kemudian memakaikan kalung itu di lehernya. Sebuah cahaya muncul dari kalung yang Lanhua pakai, kemudian timbul sebuah tanda di leher Lanhua, membuatnya mengaduh kesakitan. Lanhua kemudian menyentuh lehernya yang terasa panas, seolah terbakar.


Yin tersenyum, kemudian berjalan pelan ke arah Lanhua yang memegangi lehernya. Yin kemudian menurunkan paksa tangan Lanhua, kemudian menyentuh tanda di leher Lanhua. Lanhua merasa nyaman dengan sentuhan tangan Yin. Ia menikmatinya sambil menutup mata.


"Kau tahu kenapa lehermu sakit? "Tanya Yin kepada Lanhua yang sedang menutup matanya. Lanhua membuka matanya cepat. "Tidak"balasnya dengan gelengan pelan.


"Di sini, organ tubuh seseorang yang menjadi pusat kekuatan ataupun kelemahan seseorang di sebut titik lemah. Titik lemahmu berada di leher. Oleh karena itu, sebisa mungkin kau harus menjaganya"ucap Yin santai. Namun Lanhua tak paham.


"Maksudmu? "Tanya Lanhua tak paham. "Mungkin di duniamu dulu, leher adalah titik yang berbahaya. Mungkin seperti tengkuk dan daerah lain, dapat menyebabkan kematian apabila terbentur sesuatu. Tapi di sini berbeda. Titik lemah seseorang dengan lainnya berbeda. Mungkin titik lemahmu di leher, mungkin titik lemahku di perut. Jika perutku di serang, aku bisa menjadi sampah, lumpuh atau bahkan bisa mendapat kematian"ucap Yin menjelaskan.


Lanhua mengangguk-anggukkan kepalanya. Tunggu, ia merasa ada yang aneh. Bagaimana Yin tahu sesuatu tentang dunianya? Iris mata Lanhua bergerak ke arah kanan, melirik Yin yang sedang menatap lurus ke depan.


Sedikit yang ia ketahui, di sini Lanhua sedikit paham jika dunia ini tidak mengetahui tentang titik titik syaraf yang berbahaya bagi tubuh. Dan untuk titik lemah ini, ia belum mengetahui.


Lanhua menatap Yin intens. Ia merasa jika Yin memiliki kekuatan yang sama besar, atau malah lebih besar darinya. "Siapa kau? "Pertanyaan itu langsung terlontar begitu saja dari bibir Lanhua. "Namaku, adalah Luna"balas Yin membuat Lanhua kaget.


"B-bukannya kau Yin? "Tanya Lanhua terkejut. Gadis di depannya tampak tertawa kecil. "Benar. Nama Yin hanyalah nama samaran. Sekarang, kau bisa memanggilku Luna"balas Luna a.k.a Yin.


"Luna"gumam Lanhua pelan. Ia kemudian menatap Luna dengan tatapan sulit di artikan. "Lalu, apa yang harus aku lakukan? "Tanya Lanhua dengan mengalihkan pandangannya. "Kau sudah punya energi qi? "Tanya Luna tanpa melihat Lanhua. Lanhua hanya menganggukkan kepala.


"Ayo kita pergi. Di sini kau harus mencari sebuah kebenaran. Bagaimana jika kita mulai dari hutan? Maksudku, mungkin kita bisa menjelajahi hutan"ucap Luna dengan antusias. Lanhua menaikkan salah satu alisnya, merasa bingung dengan sifat Luna.


"Tidak. Aku ingin memperkuat diri dahulu. Aku ingin agar tidak terlalu bergantung pada tenaga dalam di tubuhku"ucap Lanhua tegas. Luna menggebrak meja makan dengan keras, membuat Lanhua tersentak kaget.


Braaakk,,


"Bagus, kau memilih sesuatu yang benar. Ayo kita berlatih. Dimana kita berlatih? "Ucap Luna dengan tampang tak bersalah, membuat Lanhua merasa ingin mencakarnya. "Ikut aku"Lanhua kemudian menggandeng tangan Luna, kemudian menghilang dari dunia nyata.


ruang hampa..


Langkah kaki Lanhua kemudian berhenti ketika melihat Yuna sedang berjalan ke arahnya dengan sebuah apel di tangannya. "Kakak, sudah berencana latihan? "Tanya Yuna dengan suara khasnya. "Eum. Aku membawa Luna. Ia akan ikut berlatih bersamaku "ucap Lanhua sambil memutar kepalanya untuk menatap sosok Luna yang sedang menatap Yuna.


Yuna mengalihkan pandangannya ke arah Luna. Tatapan mereka saling bertabrakan, menciptakan suasana hening di ruang hampa. Tatapan mata Luna dan Yuna beradu lama. Tak ada yang ingin memutus kontak mata di antara mereka.


Lanhua merasa kebingungan hanya diam di tempat sambil menatap polos ke arah dua gadis yang tengah beradu tatapan. Tampak kedua mata Luna dan Yuna berkaca kaca. Hal itu membuat Lanhua semakin bingung dengan situasi yang terjadi.


Menyadari tatapan mata mereka terlalu lama, Luna dan Yuna memutus kontak mata mereka.


"Ada apa? Tanya Lanhua heran. Kedua gadis itu tampak menggelengkan kepalanya pelan. Lanhua hanya mengedikkan bahunya.


"Baiklah ayo, berlatih. Aku ingin menjadi kuat"ucap Lanhua dengan semangat. Kedua gadis di sekitarnya ikut tertawa. "Ayo, kita berlatih"Yuna menganggukkan kepalanya.


Ketiga gadis itu kemudian berjalan ke sebuah lapangan luas. Di sekitarnya di tumbuhi banyak pepohonan, membuat suasana menjdai asri. Lanhua kemudian berlari ke tengah tengah lapangan.


Ia kemudian melakukan pemanasan untuk mengawali kegiatan olah raganya hari ini.


Selesai pemanasan, Lanhua kemudian berlari mengitari lapangan. Sebelumnya, pakaiannya sudah ia ganti menjadi lebih ringan dan rambutnya ia ikat tinggi.


Setelah berlari mengitari lapangan yang luas, Lanhua juga melakukan sit up, pull up, push up dan masih banyak lagi. Gerakan gerakan yang Lanhua lakukan membuat Luna dan Yuna kebingungan. Lanhua tahu itu, tapi ia memilih mengabaikannya. Tujuannya saat ini, adalah bertambah kuat agar ia bisa melaksanakan tugasnya.


Berbicara soal tugas, Lanhua menghentikan aktivitasnya dan memikirkan apa yang mengganjal di hatinya. Ia menelusuri tiap memori yang tersimpan ketika bersama Yun Rui.


Lanhua menepuk dahinya. Baiklah , sekarang ia sedang merasa payah pada dirinya sendiri. Ia lupa menanyakan 'bagaimana caranya? '


Bukan lupa bertanya, tapi sepertinya Yun Rui memang tidak menjawab pertanyaannya waktu itu. 'Ah sudahlah. Sebaiknya aku memperkuat diri terlebih dahulu' batin Lanhua kemudian melakukan kegiatannya lagi.


••••••••••••••••••••••••••••


Di sebuah hutan lebat, terlihat dua pemuda tengah tergeletak di atas tanah. Pakaiannya di basahi oleh noda darah yang berada di mana-mana.


Salah satu pemuda kemudian membuka matanya. Ia berusaha bangkit dari posisi tidurnya, namun rasa sakit segera menyerang ke kepalanya. Dalam kepalanya, sebuah ingatan ingatan bermunculan menyerbu kepalanya.


Ia menikmati rasa sakit itu dengan menutup matanya. Setelah semua ingatan itu menghilang tanpa jejak, segera sebuah senyuman terlukis di bibir pemuda itu. Kini, ia sudah mengetahui siapa dirinya.


Pemuda itu memutar kepalanya, menatap pemuda lainnya yang merupakan adiknya. Ia menggoyangkan tubuh adiknya itu pelan, hingga sang adik terbangun dari tidurnya.


"Kakak, di mana ini? "Tanya sang adik pelan. Tak lama kemudian, sang adik mengalami hal yang sama dengan apa yang kakaknya alami.


Ia kemudian menatap kakaknya dengan tatapan menyelidik. "Apakah kau, Lianjun? "Tanya sang adik di angguki oleh kakaknya.


Sang adik menghela nafas lega. Mereka berdua, adalah kakak laki laki Lanhua dari dunia modern, yang saat ini berada di tubuh adik perempuan tubuh yang mereka tempati.


'Aku tidak tahu, apakah ini keberuntungan atau kebetulan. Ku kira aku harus keliling ke seluruh dunia untuk mencari Lan'er' batin Lianjun. Fanchen kemudian menatap kakaknya.


"Kak, sebenarnya kita berada di mana? Dan, pakaian kita di penuhi noda darah "ucap Fanchen pelan. Lianjun tidak menjawab perkataan adiknya.


Sebelum Lianjun dan Fanchen masuk ke dalam tubuh Yanjun dan Yanchen, kedua penghuni asli tubuh ini di culik oleh seorang pembunuh bayaran, suruhan adik dan kakak mereka, Yantian.


Yantian merupakan pangeran kedua Kerajaan Api. Wajahnya tampan, ia juga memiliki banyak pendukung untuk naik tahta. Sangat berbeda jauh dengan Yanjun yang lemah, dan tidak memiliki pendukung.


Yanjun -si putra mahkota- sebenarnya tidak ingin menjadi raja. Namun sang adik, Lanhua menginginkan kakaknya menjadi raja. Lianjun patuh pada adiknya, dan berusaha menjadi rajanya.


Nyatanya tidak demikian. Yanhua, dihasut Selir Agung dan putrinya -Rou Chi- bahwa Yanjun sebenarnya ingin menjadi raja. Namun, Yanjun tidak berusaha menjadi raja karena Yanhua. Hingga perasaan bersalah menghampiri Yanhua, ia memutuskan untuk mendukung Yanjun menjadi raja.


Yanjun sendiri tidak berniat menjadi seorang raja sejak awal. Ia sudah di ancam adiknya -Yantian- jika ia masih ingin menjadi raja, Yanhua akan mendapat akibatnya. Yanjun mengatakan pada Yantian jika memang dirinya tidak ingin menjadi raja.


Namun, adik perempuannya -Yanhua- ingin ia menjadi raja. Ia berfikir, jika ia berhasil menjadi raja, ia bisa mendepak keluar dua hama yang selalu mengganggu ketentraman adiknya, Selir Agung dan putrinya.


Akhirnya, Yanjun memilih berusaha menjadi raja. Bermodalkan putra pertama istri sah raja, ia perlahan memulai usahanya. Sayang, takdir tidak terlalu memihak dirinya. Yantian jauh lebih tinggi dari dirinya. Baik dari segi ketampanan, kekuatan, kepintaran, semua di menangkan Yantian. Yanjun tak putus asa berusaha agar bisa menjadi raja kelak.


Meskipun ia putra mahkota, tetap saja pendukung Yantian lebih banyak dari Yanjun. Jika ia berhasil menjadi raja, kemungkinan besar Yantian bisa mengambil alih tahtanya.


Puncaknya kemarin lusa. Yanjun dan Yanchen di culik oleh pembunuh bayaran suruhan Yantian, untuk membunuh mereka berdua. Setelah jiwa asli Yanjun dan Yanchen benar benar sudah tidak ada di raga, masuklah jiwa Lianjun dan Fanchen...


-----------------------------------------------


TBC


typo bertebaran


Saran,dan komentar di butuhkan🙏🙏